NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!
Bab 33


__ADS_3

"Selamat datang Mama mertua,"sapa Anindya dengan senyuman lebarnya.


"Siapa mertua kamu? Panggil Saya Nyonya Wanda,"sinis Wanda dengan mengibas rambut bergelombangnya.


"Lapangkan dadamu Anin, ingat sabar itu berkelas,"batin Anindya menguatkan dirinya.


Senyuman Anindya masih terpatri pada setiap sudut bibirnya. Meskipun hatinya nyeri karena ucapan Wanda, sebisa mungkin Anindya menahannya.


Sementara itu Clarissa yang berada disisi Wanda tampak menyunggingkan senyuman penuh kemenangannya pada Anindya itu.


Kedua mata Wanda mengelilingi seluruh ruangan yang ada di ruang tengah tersebut. Ini adalah kali pertama Wanda bisa masuk ke dalam mansion milik William, dan setelah melihat isi di dalamnya cukup membuat Wanda berdecak kesal karena interior mewah pada setiap sudutnya.


Seorang pelayan mendekati mereka dengan satu nampan berisi minuman di atasnya.


"Terima kasih, Bi,"ucap Anindya pada pelayan tersebut.


"Ck, kenapa harus terima kasih? Kalau sudah kampungan ya tetap saja tingkahnya kampungan. Mereka itu memang tugasnya melayani,"julid Wanda.


"Iya Tante, pakai acara bilang terima kasih segala. Memanglah orang kampung,"saut Clarissa.


Anindya menggelengkan kepalanya mendengar dua wanita julid di depannya itu.


"Nyonya Wanda dan Nona Clarissa, berterima kasih itu bukan berarti dia kampungan. Namun itu pertanda jika pikiran dan hatinya masih berfungsi,"ucap Anindya.


Wanda dan Clarissa menatap tajam Anindya. Mereka kira Anindya tidak akan berani melawan mereka. Ini diluar dugaan keduanya, wajah santai Anindya justru memperlihatkan jika wanita itu sama sekali tidak terintimidasi.


"Kamu mengatakan Tante Wanda dan Aku tidak memiliki hati dan pikiran gitu?"emosi Clarissa.


"Maaf, dari mananya kata Saya mengatakan Nyonya Wanda dan Kamu tidak memiliki hati dan pikiran,"balas Anindya.


Skakmat, dua wanita dengan pakaian sosialita itu diam membeku. Anindya memang tidak mengatakan jika mereka yang dimaksudnya. Dan justru mereka sendirilah yang merasa akan hal itu.


"Ck, sudahlah. Berbicara dengan orang kampung mana bisa nyambung. Saya kesini cuma mau menyuruh kamu bercerai dengan William. Kalian tidak serasi,"sinis Wanda dengan kalimat pedasnya.


"Tadi suaminya, sekarang istrinya. Orang yang kekeuh ingin terus bersama itu anak mereka (William), kenapa disini semuanya menyudutkan Aku,"batin Anindya.


Anindya menundukkan kepalanya, wanita itu tengah memikirkan cara agar kedua wanita di depannya itu gegas meninggalkan mansion.

__ADS_1


"Nyonya Wanda, Maaf Saya tidak bisa melakukan hal itu,"tolak Anindya, dengan tangan mengelus perutnya.


"Kenapa? Kamu mau dibayar berapa? Katakan nominalnya?"


Dan lagi, semuanya kembali pada nominal uang. Sebenarnya Anindya cukup heran dengan jalan pikiran para orang kaya ini. Apa semua yang ada di dunia ini hanya bisa diukur dengan uang. Bahkan sebuah ikatan pernikahan yang sah dimata agama dan negara sekalipun.


"Bukan masalah uang Nyonya, tapi masalahnya ada di Williamnya,"ujar Anindya dengan senyuman lebarnya.


Clarissa menelisik tingkah Anindya dan tertuju pada tangan Anindya yang tengah mengelus perutnya yang datar itu.


Kedua mata Clarissa membola saat praduganya masuk dalam akal pikir gadis itu.


"Kamu hamil? Jangan bilang kamu hamil anak William,"tuduh Clarissa memekik. "Tante, ini tidak bisa dibiarkan. Anak iti harus dimusnahkan,"histerisnya.


Anindya terkejut mendengar tuduhan itu. Dia tidak mengatakan jika tengah berbadan dua. Bahkan rencanya Anindya hanya ingin mengatakan sebuah kebohongan jika William sangat mencintainya dan enggan berpisah dengan dirinya.


"Kamu hamil? Anak siapa itu?"sentak Wanda tak kalah kagetnya menatap tajam perut Anindya. Sontak saja Anindya segera mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Dia tadi tidak ada niatan dengan gerakan tangan di atas perutnya, itu hanya efek karena perut Anindya yang terasa kembung karena sebelumnya ia terlalu banyak minum air putih.


"Emm, sebenarnya Saya tidak mau bercerai itu karena William sendiri yang enggan,"jelas Anindya, yang nyatanya tidak membuahkan hasil sempurna.


Baik Wanda maupun Clarissa sudah terlalu fokus dengan perut Anindya yang terlalu banyak minum itu. Kedua wanita itu beranjak dari posisinya lalu mendekati Anindya dengan sorot mata tajamnya.


"Wah, kalian kok mainnya kroyokan sih. Nyonya Wanda, Nona Clarissa sebaiknya kalian kembali duduk atau keluar dari mansion ini,"ujar Anindya.


"Itu anak siapa? Kamu hamil anak siapa?"celetuk Wanda dengan sinis.


Anindya menggusar wajahnya kasar. Dia tidak hamil dan sekali jika memang tengah mengandung sudah pasti anaknya dengan William. Karena hanya pria itu lah yang menyentuh tubuh Anindya.


"Aduh Nyonya sudah saya bilang berapa kali sih, lagi pula jikapun Saya hamil pastilah anak William lah, Nyonya,"balas Anindya dengan entengnya.


"Tante, jika perempuan ini hamil bagaimana dengan Clarissa?"rengek Clarissa dengan air mata palsunya.


"Kamu harus menceraikan William dan pergi bersama anak sialan itu,"sentak Wanda dengan lantangnya, bahkan wanita dengan riasan bibir merahnya itu semakin mendekati Anindya dan tangan Wanda terangkat hendak menampar Anindya.


"SIAPA YANG HARUS PERGI?"

__ADS_1


Tangan Wanda tertahan di udara karena sentakan suara William yang menggelegar itu.


Nyali Wanda dan Clarissa menciut saat melihat William. Kedua menjauhi tubuh Anindya karena melihat William yang melangkah semakin dekat itu.


Dan tanpa banyak bicara dengan tatapan penuh amarahnya, William menarik tangan Wanda dan Clarissa lalu menyeret keduanya keluar dari mansionnya.


"William, ini sakit, Liam,"rengek Clarissa.


"William, jangan seret Mama seperti ini,"pinta Wanda.


Keduanya merengek dan meringis kesakitan, namun hal itu sia-sia saja karena William telah menulikan pendengarannya. Sementar dibelakang mereka tampak Anindya juga mengejarnya. Wanita itu baru pertama kali melihar amarah seorang William, sehingga Anindya takut terjadi sesuatu padanya.


Sesampainya di depan gerbang mansion, William mendorong kasar tubuh Wanda dan Clarissa sampai membuat keduanya tersungkur di atas tanah.


"William, kamu tidak bisa melakukan ini sama Aku. Perempuan itu tidak baik untuk Kamu,"teriak Clarisa.


"Kunci gerbang, dan jangan sampai keduanya masuk sampai kapan pun dan dengan alasan apapun,"titah William pada Mandala.


Suara teriakan memanggil William masih terus terdengar dari luar gerbang. Sementara William yang tengah emosi tinggi itupun berjalan masuk bahkan ia melewati Anindya begitu saja.


Anindya termangu di posisi dirinya, dia menatap gerbang dan mendengarkan suara teriakan memanggil yang masih terdengar di telinganya itu.


"Anindya, masuk!"utas William tegas.


"Ah, iya. Sebentar."


Anindya berbalik lalu menyusul William. Dia tidak ingin bernasib sama seperti dua perempuan yang tadi diseret William.


Kaki William terus melangkah lebar menuju kamarnya begitu juga dengab Anindya yang sedikit kewalaghan mengejar langkah kaki William.


Sampai akhirnya keduanya telah sampai di dalam kamar mereka, Anindya menutup pintu kamar terlebih dahulu sebelum ia membalik tubuhnya.


Hap.


"Kamu membuatku takut,"gumam William, dalam pelukan yang ia lakukan pada Anindya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2