
Air hujan membasahi hampir seluruh tanaman yang ada dihadapannya. Terlihat begitu menyegarkan dan berbau rumput dan tanah yang basah. Aroma yang disukai Shalimar. Begitu polos dan tak ternoda. Tidak seperti dirinya yang sangat penuh dosa.
Shalimar memandang keatas langit , menatap segumulan awan mendung berwarna putih sambil duduk di meja tempatnya berteduh.
"Jika aku bisa mengulang waktu , apakah aku akan tidak melakukan banyak hal yang tidak masuk akal ini?" Tanya Shalimar dalam hatinya. Shalimar menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat.
Shalimar memandang cincin yang ia kenakan di jari manisnya, sebuah cincin perak polos pemberian dari Rendy, suaminya. Rendy menikahinya karena kewajiban sebagai seorang laki-laki namun tidak sungguh-sungguh mencintainya. Rendy bahkan tidak mau mengesahkan pernikahan mereka secara negara. Sudah hampir empat tahun Shalimar dan Rendy menikah secara sirih (agama) saja. Mereka menikah juga karena Shalimar mengandung anak Rendy diluar pernikahan.
Awalnya Shalimar mengira jika dirinya akan bahagia dengan Rendy. Rendy pemuda yang sangat hangat dan penyayang. Hingga mereka melampaui norma untuk melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan ketika Shalimar baru saja lulus SMA. Mengetahui kehamilan Shalimar membuat Rendy harus bertanggungjawab untuk menikahi Shalimar. Namun Rendy dan keluarganya hanya setuju jika mereka hanya menikah secara sirih (agama) saja. Kedua orangtua Shalimar menyetujui karena merasa malu jika Shalimar harus membesarkan seorang anak seorang diri.
Shalimar membayangkan pernikahan yang bahagia dengan Rendy , namun pada kenyataannya Rendy berubah ketika mereka menikah. Rendy bahkan tidak sehangat ketika mereka masih pacaran dulu. Ketika Shalimar melahirkan putranya , Aabid , Rendy hanya memperdulikan anaknya saja. Shalimar merasa sangat hampa dan merasa jika Rendy bahkan tidak memandangnya lagi. Meskipun begitu menyayangi Aabid , Rendy masih tidak ingin mengesahkan pernikahan mereka secara negara. Rendy juga tidak memperdulikan Shalimar sekalipun Shalimar memohon kepada Rendy untuk segera mengesahkan pernikahan mereka agar Aabid memiliki akta kelahiran yang jelas. Alasan Rendy adalah ia sedang ingin memantapkan hatinya jika harus benar-benar menjadi suami Shalimar.
Seiring berjalannya waktu Shalimar baru menyadari jika Rendy tidak pernah mencintainya seperti dirinya mencintai Rendy. Pernikahan mereka juga hanya karena kehadiran Aabid saja. Merasa lelah akan kehidupan yang ia jalani , Shalimar sering melakukan hal-hal yang diluar kendalinya. Shalimar sering keluar bersama teman-temannya , Shalimar juga sering melakukan hal-hal yang memancing kemarahan Rendy yang sesungguhnya ia lakukan hanya untuk mencari perhatian Rendy saja. Namun semuanya tidak berguna dan malah menjauhkan Rendy dari dirinya , Shalimar juga menjadi jauh dari Aabid karena orangtua Rendy lebih sering mengasuh Aabid daripada Shalimar.
Sekarang Shalimar memutuskan untuk bekerja di sebuah wedding organizer , sebuah tempat yang mengatur pernikahan untuk pasangan yang hendak menikah. Shalimar merasa bahagia bekerja disana . Pekerjaannya saat ini adalah melihat oranglain bahagia menikah dengan pasangannya. Sebuah pemandangan yang ia inginkan namun tidak bisa ia jalani. Setidaknya melihat sebuah pernikahan yang berjalan begitu lancar dan bahagia membuat Shalimar merasa ikut bahagia seperti membayangkan jika dirinya yang menjalani prosesi itu. Sebuah kebahagiaan semu yang membuatnya bisa bertahan untuk melangkah kedepan.
"Shally." Panggil seorang wanita muda yang menepuk pundak Shalimar dari belakang , dia adalah Mei , sahabat baik Shalimar sejak SMA.
"Hai, Mei." Shalimar tersenyum lebar melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Sedang melamun ? Apa yang kau pikirkan?" Tanya Mei sambil duduk disamping Shalimar.
"Sedang menikmati aroma hujan yang baru jatuh." Jawab Shalimar sambil melihat kearah luar.
Mei tersenyum simpul kearah sahabatnya itu kemudian membelai punggung Shalimar.
"Semua yang terjadi biarlah terjadi , Shally. Kalaupun kau menyesalinya tidak akan ada habisnya. Yang terpenting adalah bagaimana kau akan melanjutkan kehidupanmu di hari esok." Kata Mei dengan lembut.
"Aku tidak memikirkan hal itu." Shalimar mencoba berkilah , ia tidak menyukai ketika Mei mengerti apa yang ada dalam pikirannya.
"Kau masih belum menyerah dengan mempertahankan pernikahanmu. Aabid hanyalah alasanmu untuk tetap berada disisi Rendy. Rendy bahkan tidak pernah memperdulikanmu , dia hanya memperdulikan Aabid saja. Sudah empat tahun , Shally. Sampai kapan kau akan bertahan seperti ini? Kau menyiksa dirimu sendiri." Kata Mei dengan tegas.
Mei mengetahui kisah kasih antara Rendy dan Shalimar sejak awal mereka bertemu dan sangat mengetahui tentang kondisi yang Shalimar alami hingga saat ini. Mei tidak menyukai Rendy yang berubah kepada Shalimar setelah mereka menikah. Shalimar juga menjadi berubah setelah melahirkan Aabid. Ia menjadi wanita yang memberontak dan juga bergaya hidup bebas hanya untuk mencari perhatian suaminya sendiri. Bahkan ketika ayah Shalimar meninggal dunia , Rendy juga tidak begitu memperdulikan Shalimar. Rendy hanya sibuk bekerja . Rendy sangat bertanggungjawab terhadap Aabid , namun tidak kepada Shalimar dan keluarga Shalimar. Setelah kepergian ayah Shalimar , Shalimar harus menjadi tulang punggung dikeluarganya , ia harus menghidupi ibunya dan juga adiknya yang masih bersekolah. Belum lagi gaya hidup ibu Shalimar yang begitu tinggi.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya ,Mei." Balas Shalimar dengan lelah sambil melihat kearah Mei.
"Kau selalu begitu. Apa kau tahu ketika kita sekolah dulu? Kamu sangat menyukai hujan. Kamu pernah berkata jika hujan membuatmu tenang dan terasa begitu menyejukkan. Bahkan ketika orangtuamu sedang bertengkar , suasana hatimu akan mereda jika ada hujan. Sampai saat inipun kamu masih sama. Kamu selalu melihat air hujan yang jatuh dan menghirup aroma rumput dan tanah yang basah." Mei menatap Shalimar dengan seksama dan penuh perhatian.
"Lepaskan saja Rendy. Jalanilah kehidupanmu sendiri. Asuhlah Aabid. Dia juga butuh kasih sayang ibunya. Jangan terus menghindari hal ini. Sekalipun kau tidak mau mengakuinya , kau sangat tersiksa , Shally. Kau menjauhi Aabid juga karena kau tidak ingin hatimu terlalu mencintainya , tapi dia putramu. Jangan membencinya karena Rendy hanya mencintai Aabid saja." Lanjut Mei dengan tetap hangat kepada Shalimar walaupun ia tahu Shalimar tidak menyukai hal itu.
"Aku tidak membenci Aabid. Aku hanya merasa Aabid lebih bahagia bersama orangtua Rendy. Dan aku tidak pantas menjadi ibu untuk Aabid, seperti kata ibu Rendy." Jawab Shalimar dengan mata sendu lalu Shalimar mengerjapkan matanya beberapakali. Ia tidak mau terlihat begitu sedih dan putus asa meskipun itu didepan sahabat karibnya sendiri.
"Seorang ibu ya tetap seorang ibu. Mau yang seperti apa kriteria ibu untuk mertuamu itu? Kalau kau tidak pantas untuk menjadi ibu Aabid, kenapa kau masih mempertahankan pernikahanmu yang tidak jelas arah tujuannya ini? Kau bahkan seperti orang asing dengan Rendy. Kau terlalu mencintai lelaki idamanmu yang bahkan tidak mencintaimu. Dan kau sendiri yang menggunakan tameng Aabid untuk bertahan selama ini dengan pernikahan dengan Rendy." Kesabaran Mei seakan menipis kali ini.
Shalimar selalu berputar-putar jika Mei mulai menasehatinya tentang pernikahan tidak bahagia miliknya. Rendy tidak pernah kedapatan berselingkuh ataupun memiliki wanita lain , Rendy sungguh sangat bersih dalam menjadi kepala rumah tangga, ia juga sangat menyayangi putranya , namun sangat dingin sebagai suami Shalimar. Shalimar yang sering kedapatan tengah bersama lelaki lain yang sengaja Shalimar dekati hanya untuk memancing perhatian Rendy dan mendapatkan predikat menantu yang gagal oleh kedua orangtua Rendy. Berapa banyak lelaki yang mendekati Shalimar dan Shalimar juga tidak menjaga jarak dengan mereka namun hati Shalimar hanya tertuju pada suaminya. Cinta yang tidak terbalaskan yang sangat menyakitkan dimata Mei yang selama ini melihat sendiri apa yang dilalui Shalimar selama ini.
"Kita membicarakan hal lain saja. Aku ingin bertemu denganmu karena sesuatu." Kata Shalimar mengalihkan pembicaraan mereka.
Mei mendengarkan Shalimar dengan seksama. Raut wajah Shalimar juga sudah berubah , Shalimar sangat pandai merubah suasana hatinya sendiri dan juga pandai menutupi apa yang ia rasakan.
"Kantorku akan mengadakan exhibition akhir bulan nanti. Kebetulan kami butuh beberapa model untuk pengantin adat. Aku ingin kau membantuku seperti tahun lalu." Pinta Shalimar dengan penuh harap kepada Mei.
"Lagi?" Tanya Mei sambil memutar bola matanya.
"Kali ini aku sendiri yang akan memberikan upah yang besar untukmu. Hanya ada beberapa adat saja , Mei." Shalimar mulai merajuk dan memegang kedua tangan Mei dengan penuh harapan.
Mei menghela napas panjang dan melirik kearah Shalimar.
"Shally , aku sudah dua kali menjadi model pengantin dalam acara kantormu. Aku ini belum menikah , aku curiga ini karena aku selalu menjadi model pengantin dikantormu , aku semacam terkena kutukan perawan tua." Keluh Mei dengan kesal sambil melepaskan tangan Shalimar dari tangannya.
"Stt... Kau tidak boleh berkata seperti itu, itu tidak baik. Tidak ada hubungannya kau menjadi model pengantin untuk exhibition kantorku dengan pernikahanmu yang sebenarnya. Aku berjanji nanti kalau kamu menikah , aku yang akan mengurus segala sesuatunya untukmu. Bagaimana?" Shalimar mencoba bernegosiasi dengan Mei. Mei mengernyitkan keningnya.
"Apa semuanya gratis?" Tanya Mei dengan sedikit menggoda Shalimar.
"Diskon lima puluh persen." Jawab Shalimar dengan cepat dengan mata berbinar-binar.
Mei tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Baiklah. Satu kali ini saja. Kalau kantormu mengadakan exhibition lagi ,aku tidak mau menjadi modelnya lagi. Memangnya tidak ada model lain yang mau?" Protes Mei .
"Tidak ada yang secantik dirimu Mei." Rayu Shalimar kepada Mei.
"Dusta." Balas Mei sambil memicingkan matanya kearah Shalimar.
Shalimar menyandarkan kepalanya di pundak Mei dengan manja.
"Meimei ku memang yang paling baik." Kata Shalimar sambil memeluk Mei.
Didunianya yang suram dan penuh kepura-puraan , Shalimar memiliki Mei yang selalu setia berada disampingnya. Shalimar selalu mensyukuri hal itu dan berharap selamanya mereka tetap bisa bersama.
----------------------------------------
Suasana kantor terlihat begitu sibuk ketika Shalimar baru saja kembali setelah menemui Mei.
"Bagaimana? Kau sudah menemui temanmu si Mei itu ? Dia mau kan menjadi model pengantin busana adat untuk pemotretan di acara exhibition bulan depan kita?" Tanya Taufan, pemimpin kantor tempat Shalimar bekerja.
"Sudah. Dan dia setuju. Tapi kali ini yang terakhir." Jawab Shalimar sambil meletakkan tas yang ia bawa diatas meja kerjanya.
"Bagus." Ucap Taufan sambil menepuk tangannya dengan penuh semangat. Shalimar menggelengkan kepalanya tanpa melihat kearah Taufan.
"Kali ini yang terakhir , Fan. Dia sudah tidak mau lagi , katanya mempengaruhi pernikahan pada kehidupan nyatanya." Kata Shalimar yang memandang kearah layar monitor komputernya.
"Mei percaya jika dia menjadi model pengantin dengan statusnya yang belum menikah akan memperngaruhi jodoh sejatinya." Lanjut Shalimar kali ini sambil memandang kearah Taufan.
__ADS_1
"Itukan hanya mitos." Bantah Taufan dengan cepat sambil berjalan kearah meja kerja Shalimar.
"Sebagian orang percaya akan hal itu , Fan. Dan aku menghargai apapun pendapat Mei. Lagipula kenapa kau begitu terobsesi dengan Mei? Kita juga punya banyak kandidat untuk menjadi model foto pengantin." Shalimar menyipitkan matanya memandang curiga kearah Taufan.
"Dia cantik , tubuhnya ideal dan yang terpenting dia memiliki wajah blasteran. Ketika dia menjadi model foto pengantin wanita hasilnya benar-benar memuaskan. Tahun lalu saja klien kita bertambah pesat karena foto Mei." Jawab Taufan sambil duduk di tepi meja kerja Shalimar dan melipat tangan didepan dadanya.
"Hanya itu? Aku curiga ada hal lain disini." Shalimar masih merasa janggal dengan jawaban Taufan.
"Hanya itu , Shally. Memangnya aku ada niat terselubung dengan Mei?" Taufan mencoba menyangkal apa yang ada dalam pikiran Shalimar.
"Aku tidak percaya padamu." Jawab Shalimar sambil menggoyangkan jari telunjuknya kearah Taufan.
"Kamu tidak bisa dipercaya. Yang penting aku akan menjaga jarakmu dengan Mei. Aku tidak mau temanku memiliki pasangan mesum sepertimu."
"Aku? Mesum? Yang benar saja. Aku ini pria terbaik yang pernah ada , Shally." Balas Taufan sambil merentangkan tangannya keudara. Shalimar tertawa mengejek sambil mulai membuka program di komputernya.
"Ha ha . Andai saja oranglain mengetahui pimpinan wedding organizer ini adalah seorang duda tiga kali..."
"Stt.. pelankan suaramu. Kau bisa merusak pasaran." Kata Taufan seketika sambil melihat seluruh ruangan kantor kecil mereka saat Shalimar mengatakan tentang status Taufan.
"Kali ini berikan bayaran yang tinggi untuk Mei. Tahun lalu kau terlalu pelit ketika meminta pertolongannya." Kata Shalimar sambil melipat tangan didepan dada.
"Dan.. Jangan macam-macam dengan Mei. Aku tidak suka jika sampai kau memiliki maksud lain terhadap Mei." Tambah Shalimar memberi peringatan kepada Taufan.
Taufan menghela napas dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku tidak akan berani." Jawab Taufan dengan enggan lalu melirik kearah komputer Shalimar.
"Kau sedang mengerrjakan apa?" Tanya Taufan .
"Klien baru yang datang satu minggu lalu, dia benar-benar cerewet tentang berbagai hal. Bahkan hal-hal kecil saja mereka sangat memperhatikan. Terutama calon mempelai wanitanya. Aku sudah susah payah mencari souvenir sesuai keinginannya ,hanya karena perbedaan warna yang memiliki satu tingkat dibawahnya saja sudah menjadi perdebatan dan dia membatalkan secara sepihak. Acara mereka digelar tiga bulan lagi , tapi persiapannya sungguh membuatku frustasi." Keluh Shalimar dengan frustasi.
"Klien adalah raja. Kau bersabarlah. Kita sudah menemui banyak klien seperti mereka. Kenapa kau mengeluh sekarang?" Taufan duduk ditepian meja kerja Shalimar.
"Fan, kau belum bertemu calon mempelai wanita ini. Dia benar-benar perfectionis ... Tidak , dia gila. Psikopat. Amarahnya mudah sekali meledak. Aku bahkan harus menanggung malu ketika harus berhadapan dengan orang-orang dari bengkel souvenir dan juga catering. Dia ingin turun tangan sendiri memantau apa saja yang kita siapkan. Ini sangat tidak nyaman dan sangat menjengkelkan." Kata Shalimar mendesis kesal.
"Lalu mempelai prianya?"
"Aku tidak pernah bertemu dengannya. Sepertinya dia sudah menyerahkan semuanya kepada calon istrinya untuk mengurus segalanya. Dan aku membenci mempelai wanita ini. Aku tidak pernah membenci calon mempelai seperti ini." Jawab Shalimar dengan kesal kearah Taufan.
"Bersabarlah , Shally. Mereka membayar dengan harga fantastis kepada kita. Mereka bahkan sudah membayar penuh didepan. Anggaplah kesabaranmu adalah bagian dari bonus pelayanan kita." Kata Taufan berusaha meredakan emosi Shalimar.
"Kau hanya memperdulikan omset pendapatan saja , kau tidak pernah memperdulikanku. Pergilah jauh-jauh dariku. Aku akan mengerjakan laporanku dan nanti sore juga aku harus bersama dengan calon mempelai wanita yang cerewet itu." Shalimar mengibaskan tangannya kearah Taufan.
Taufan tersenyum dan berdiri tegak sambil mengantungi tangan di saku celananya.
"Bekerjalah dengan giat pekerjaku yang paling bisa aku andalkan. Hasilkanlah pundi-pundi yang banyak untuk perusahaan kecil kita ini." Kata Taufan lalu kembali ke meja kerjanya.
---------------------------------------
Tidak terasa sudah tiba saatnya bagi Shalimar untuk bertemu dengan klien istimewanya yang satu itu. Mereka janji bertemu di salah satu pusat souvenir di pusat kota. Kali ini kliennya terlambat lima belas menit dari jam yang sudah dijanjikan . Shalimar menunggu dengan gelisah didepan toko sambil berkali-kali memandangi jam ditangannya. Saat Shalimar hendak menghubungi kliennya , ia melihat mobil kliennya sudah mendekat kearah parkiran didepan toko souvenir. Sambil mengantongi kembali ponselnya Shalimar melihat kearah mobil kliennya , memandang mobil yang sudah sangat familiar dimatanya selama hampir satu bulan ini .
"Kenapa setiap melihat mobil itu membuatku merasakan firasat-firasat buruk." Gumam Shalimar pada dirinya sendiri.
Seorang wanita cantik keluar dari pintu penumpang yang berada didepan. Shalimar sempat merasa heran akan hal itu, karena selama ini kliennya selalu datang sendirian. Kali ini kliennya diantarkan oleh seseorang. Mungkin itu adalah calon mempelai prianya , pikir Shalimar dengan singkat. Akhirnya dia bisa bertemu dengan calon mempelai pria yang ia harap bisa sedikit membantu dirinya dalam menghadapi calon mempelai wanita yang begitu pilih-pilih dan sangat menyebalkan untuk Shalimar.
Klien wanita itu melambaikan tangan kearah Shalimar sambil tersenyum lebar. Shalimar membalas lambaian tangan itu dengan hal yang sama. Kalau saja kliennya itu tidak cantik dan kaya , sudah pasti Salimar akan menyerah akan hal ini. Dari pintu pengemudi keluar seorang pria dengan perawakan tinggi dan badan yang proposional juga bahu yang tegap , ia mengenakan pakaian santai dan mengenakan kacamata hitam , namun terlihat menggoda dimata Shalimar. Shalimar mengenal banyak pria dalam hidupnya , dan dalam benaknya Shalimar bisa mengetahui jika pria itu mempesona baginya diawal jumpa. Shalimar memejamkan matanya .
"Shally , ingat dia klienmu. Jangan tergoda." Batin Shalimar dengan tegas. Kemudian Shalimar membuka matanya lagi. Kedua kliennya sudah berjalan mendekatinya.
"Shally , kenalkan ini calon suamiku. Namanya Dhanny." Kata Eva , sang klien wanita cantik itu.
"Sayang , ini Shally , dia yang bertanggungjawab untuk pesta pernikahan kita nantinya." Lanjut Eva sambil melihat kearah Dhanny.
Shalimar tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dhanny. Dhanny meraih tangan Shalimar dan menjabatnya dengan dingin dan cepat bahkan tanpa tersenyum.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini? Aku akan ada pekerjaan setelah ini." Kata Dhanny dengan enggan kearah Eva.
"Kita akan memilih souvenir untuk acara pernikahan kita nantinya. Aku sudah menjelajahi banyak sekali rumah produksi souvenir dan tidak ada yang cocok denganku. Jika kamu juga ikut , mungkin kamu bisa membantuku untuk memilihnya. Lagipula bukannya hari ini kamu tidak ada pekerjaan? Makanya aku mengajakmu untuk melihat-lihat juga." Eva berkata sambil tersenyum canggung kearah Shalimar.
Sikap mempelai prianya malah lebih buruk daripada mempelai wanitanya. Melihat hal itu saja sudah membuat Shalimar langsung mendapatkan beban yang sangat berat dipundaknya. Shalimar tersenyum menenangkan kearah Eva.
"Apa kita langsung melihat kedalam saja. Untuk lebih menghemat waktu." Kata Shalimar mencoba menengahi situasi yang terasa canggung ini.
Eva tersenyum oleh pengertian dari Shalimar. Shalimar berjalan mendahului kedua kliennya untuk masuk kedalam toko kemudian diikuti oleh kedua kliennya. Didalam toko , Shalimar sudah disambut oleh pemilik toko.
"Hai , Shally. Kau sudah datang?" Kata seorang pria bertubuh jangkung mengenakan kaos polos berwarna hitam dan celana sepanjang bawah lutut. Pria itu menyambut Shalimar dan mengecup pipi kanan dan kiri Shalimar .
"Oh iya Bam. Ini klienku , Eva dan Dhanny. Mereka yang akan melihat souvenir-souvenir yang kau miliki." Shalimar memperkenalkan kedua kliennya pada Bam.
Bam tersenyum kepada kedua klien Shalimar.
"Anda bisa melihat-lihat dulu untuk referensi souvenirnya. Anda juga bisa memesan souvenir yang anda inginkan. Kami akan membuatkannya sesuai dengan keinginan anda. Dan juga kami memberikan garansi untuk souvenir yang tidak sesuai ataupun rusak." Kata Bam dengan ramah dan khas kata-kata penjual souvenir.
"Tentu, kami akan melihat-lihat dulu." Jawab Eva dengan tersenyum lebar kearah Bam. Eva menarik tangan Dhanny yang sedari tadi hanya diam saja kearah kotak kaca contoh souvenir yang sudah tersedia.
"Apa mereka sedang bertengkar? Kenapa calon suaminya begitu tidak menyenangkan?" Tanya Bam ketika Eva dan Dhanny sudah jauh dari mereka.
Shalimar menaikkan kedua bahunya dengan lelah sambil menghela napas melihat kedua kliennya.
"Entahlah. Menghadapi mempelai wanitanya saja sudah membuatku frustasi. Sekarang aku bertemu mempelai prianya malah membuatku akan terkena vertigo." Jawab Shalimar dengan putus asa.
"Sabarlah , Shally. Tenang saja , aku akan pastikan mereka memesan souvenir disini agar pekerjaanmu juga cepat selesai dan aku juga mendapatkan pemasukan." Bisik Bam menyemangati Shalimar.
__ADS_1
Shalimar melirik kearah Bam dengan tajam.
"Kau tidak juah berbeda dengan Taufan. Awalnya manis untuk memberi semangat kepadaku , tapi pada akhirnya kalian hanya memikirkan tentang pemasukan kalian." Keluh Shalimar dengan sinis kepada Bam. Bam tersenyum mendengar hal itu dari Shalimar.
"Tenang saja, aku akan memberikan komisi juga kepadamu jika mereka memesan souvenir dariku." Bisik Bam lagi dengan nada menggoda kearah Shalimar.
Shalimar tertawa kecil akan godaan dari Bam sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.
"Aku akan menagihnya. Jangan lupakan kata-katamu." Kata Shalimar sambil menepuk bahu Bam yang hampir sama dengan tinggi kepalanya. Kata-kata Shalimar disambut acungan jempol oleh Bam.
Tidak lama kedua klien Shalimar sudah kembali ketempat Bam dan Shalimar berdiri menunggu keduanya.
Bam menatap dengan penuh harap. Wajah Eva tampaknya tidak menunjukkan kecocokan dan wajah Dhanny , Shalimar bahkan tidak bisa menebaknya. Sepertinya Shalimar harus menyerah kali ini dan membiarkan Taufan saja yang mengurusnya jika mereka tidak memilih souvenirnya kali ini.
"Aku belum menemukan yang cocok dengan keinginanku." Kata Eva dengan sedikit kecewa.
"Lalu souvenir seperti apa yang anda inginkan?" Tanya Bam dengan ramah dan sabar sambil tersenyum kepada Eva.
"Aku ingin sesuatu yang elegan , sesuai dengan tema pernikahanku dan juga terlihat mahal." Jawab Eva dengan cepat.
"Apa tema pesta pernikahan anda?" Tanya Bam merasa penasaran kira-kira apa yang diinginkan oleh klien Shalimar kali ini.
"Garden party. Dengan nuansa eropa." Jawab Eva sambil tersenyum dengan lebar dan bahagia.
Bam berpikir sejenak.
"Sebentar. Aku memiliki beberapa contoh gambar untuk souvenir yang lain. Mungkin anda akan tertarik." Kata Bam lalu pergi mengambil laptopnya yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Bam membuka laptopnya dan dan membuka folder gambar contoh dari souvenir karyanya. Kemudian Bam menunjukkan contoh-contoh gambar itu kepada Eva dan Dhanny . Shalimar juga ikut melihat kearah layar laptop Bam. Dan mata Shalimar langsung tertuju pada souvenir dalam bentuk kotak musik kaca dengan hiasan bunga-bunga kecil berupa ukiran kaca berwarna emas dibagian tepian tutup kotak musiknya. Warna kaca transparannya juga indah dengan sedikit warna yang senada memperlihatkan ornamen didalam kotak musik itu.
"Apa yang kau pilih?" Tanya Dhanny tiba-tiba.
Suara Dhanny yang tiba-tiba didekat Shalimar hampir membuat jantung Shalimar terlempar keluar dari rotasinya. Dia bahkan sempat mengira jika pertanyaan itu adalah untuknya. Shalimar melihat kearah Dhanny. Dhanny tidak melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan meskipun ia sudah memasuki toko , Shalimar tidak bisa melihat kearah mana Dhanny saat ini memandang.
"Aku belum menemukan yang cocok." Jawab Eva sambil terus memandangi gambar-gambar yang ada di layar laptop Bam.
"Bukan kamu." Kata Dhanny dengan dingin lalu kepalanya menengadah kearah Shalimar.
Shalimar sempat menahan napasnya sejenak. Pertanyaan Dhanny memang untuknya. Dan ia merasa berdebar-debar akan hal itu. Dengan gugup Shalimar berdehem satu kali.
"Sayang, yang akan menikah kan kita kenapa kau menanyakan hal itu padanya?" Tanya Eva dengan senyuman yang tidak nyaman.
"Aku sudah meluangkan waktu cukup banyak. Jika kamu yang memilihnya maka akan memakan waktu yang lebih panjang lagi. Dan aku rasa juga souvenir disini punya kualitas yang bagus dan tidak mengecewakan." Jawab Dhanny dengan dingin.
"Apa yang kau piilih? Kau kan yang menangani semuanya disini mulai dari dekorasi , makanan , undangan, gaun dan yang lainnya. Aku kira kau yang lebih memahami tentang souvenir yang cocok dengan tema pernikahannya." Kata Dhanny melihat kearah Shalimar yang saat ini sudah merasa salah tingkah harus berada di situasi yang kembali menjadi canggung.
"Aku merasa jika souvenir kotak musik ini cocok dengan tema pernikahan kalian." Jawab Shalimar mencoba menstabilkan nada bicaranya sambil menunjuk kearah gambar kotak musik yang ia lihat sedari tadi di layar laptop Bam.
"Kotak musik? Tapi itu terlihat terlalu sederhana dan juga belum tentu para tamu undanganku akan menyukainya." Kata Eva dengan sedikit kesal entah kesal kepada Shalimar ataupun Dhanny.
"Jika kamu berpikri untuk menyenangkan para tamu undanganmu satu persatu kenapa tidak kau survey saja apa yang mereka sukai satu persatu? Kita sudah berminggu-minggu ini berkeliling ke hampir semua toko souvenir di kota ini dan kau mengatakan semuanya tidak cocok." Batin Shalimar dengan menahan emosinya.
"Aku akan mengambil pesanan itu untuk souvenirnya." Kata Dhanny dengan tegas kearah Bam.
"Tentukan jumlahnya sesuai dengan jumlah tamu undangan yang akan hadir. Lebihkan 100 item ." Lanjut Dhanny sambil melihat kearah Shalimar.
"Sayang, aku belum menentukan apa yang akan aku pilih." Kata Eva sambil menatap memohon kearah Dhanny dengan manja .
"Kalau memang semua sesuai keinginanmu kenapa kau harus susah payah mengajakku kemari bersamamu?" Tanya Dhanny sambil tersenyum sinis.
Shalimar yang bukan pasangannya saja merasa tidak nyaman dengan senyuman Dhanny. Shalimar tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh Eva.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin kau juga ikut memilih dengan hal-hal yang bersangkutan dengan acara pernikahan kita nanti." Jawab Eva dengan gugup.
"Kalau begitu itu pilihanku. Jika kau tidak menyukainya , kau bisa memilihnya sendiri nanti." Kata Dhanny lalu melihat kearah Shalimar lagi.
"Tetapkan saja sesuai kata-kataku tadi." Kata Dhanny kepada Shalimar lalu ia berbalik berjalan meninggalkan toko souvenir milik Bam itu.
Eva menatap kesal kepada Shalimar .
"Aku akan menghubungimu lagi nanti." Kata Eva lalu berlari mengikuti Dhanny.
Setelah kedua kliennya pergi , Shalimar menatap kearah Bam.
"Sebenarnya dia membantu pekerjaanku atau malah membunuhku?" Tanya Shalimar kepada Bam.
"Dia membantuku mendapatkan pekerjaan dan juga menambah pemasukanku." Jawab Bam sambil tersenyum kepada Shalimar.
"Kau ini bagaimana? Kalau si Eva itu membatalkan menggunakan WO ku , maka kau juga tidak akan mendapatkan pesananmu." Balas Shalimar sambil melipat tangan didepan dadanya.
"Kalau begitu kau harus bisa menyakinkan klienmu." Bam mengedipkan sebelah matanya kearah Shalimar.
"Mudahnya kau bicara seperti itu. Aku sudah mau bunuh diri rasanya." Kata Shalimar sambil menhentakkan kakinya ke lantai toko Bam dengan kesal.
"Mungkin akan lebih baik jika kau mencoba bernegosiasi dengan mempelai pria nya . Dia sepertinya lebih mudah untuk ditangani." Bam memberikan sarannya kepada Shalimar. Bam mendapatkan lirikan mematikan dari Shalimar.
"Kau tidak tahu bagaimana cara dia berbicara. Seperti diktator. Dia mungkin akan lebih susah untuk ditangani daripada calon istrinya." Kata Shalimar dengan kesal sambil menunjuk kearah pintu keluar toko Bam.
"Tapi aku kira malah tidak. Dia lebih sederhana daripada calon istrinya. Hal yang kau bilang sangat memusingkan ketika melayani calon istrinya saja dengan cepat bisa ia selesaikan. Mungkin lebih baik jika kau bernegosiasi langsung dengan calon mempelai prianya. Kau juga harus mempertahankan agar mereka tetap menggunakan WO mu untuk pernikahan mereka." Jawab Bam dengan logis.
Shalimar memikirkan kata-kata Bam dan memang ada benarnya . Mungkin dia harus bernegosiasi dengan Dhanny daripada dengan Eva. Dia juga tidak ingin kehilangan peluang untuk mengerjakan proyek mahal yang diistimewakan oleh Taufan. Namun Shalimar juga merasa tidak nyaman jika harus berhadapan langsung dengan Dhanny.
---------------------------
__ADS_1