
Rendy sedang menunggu kepulangan Shalimar di ruang tamu rumah Shalimar seperti biasanya. Rendy bisa mendengar mobil Shalimar berhenti didepan rumah dan Shalimar keluar dari dalam mobilnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shalimar yang terkejut melihat Rendy yang tiba-tiba membukakan pintu untuk dirinya.
"Aku menunggumu pulang." Jawab Rendy dengan cepat.
Jawaban Rendy benar-benar diluar prediksi Shalimar. Membuat Shalimar langsung melihat kearah Rendy dengan tatapan terkejut.
"Untuk apa kau menungguku pulang?" Tanya Shalimar secara otomatis dan langsung berjalan melewati Rendy.
"Apa kau bertemu dengan Dhanny lagi?" Tanya Rendy dengan nada tidak senang yang begitu ketara.
"Kenapa jika aku bertemu dengan dia? Apa itu akan menganggu reputasimu?" Tanya Shalimar sambil tersenyum sinis kepada Rendy .
"Aku bersama dengan pria lain bukan hanya kali ini saja. Kenapa kau harus begitu penasaran?"
"Ada yang ingin aku katakan kepadamu." Rendy tidak menjawab pertanyaan Shalimar .
Rendy menggenggam tangan Shalimar dan menatap Shalimar dengan sungguh-sungguh.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu hari ini. Hari ini aku sudah cukup lelah dan aku tidak ingin menambahkan beban di otakku lagi. Jika memang apa yang ingin kau sampaikan padaku adalah hal yang begitu penting , cepat katakan . Aku ingin segera beristirahat." Kata Shalimar tanpa menarik tangannya dari Rendy seakan tenaganya sudah habis terkuras hari ini.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini ." Kata Rendy sambil melihat kebelakang , berjaga jikalau ibu Shalimar keluar dari kamarnya.
Shalimar tidak ingin menambahkan masalah untuk ibunya. Melihat apa yang akan dilakukan oleh Rendy , mungkin Rendy ingin mengatakan hal yang tidak boleh ibu Shalimar dengar.
"Kita bicara di luar saja." Kata Shalimar.
"Didalam mobilku." Balas Rendy dengan cepat.
Rendy berjalan keluar rumah Shalimar dan masuk kedalam mobil miliknya dan disusul oleh Shalimar.
"Katakan apa yang ingin kau katakan." Ujar Shalimar setelah dirinya dan Rendy berada didalam mobil Rendy.
"Apa kau benar-benar bersama Dhanny?" Tanya Rendy dengan raut wajah yang begitu serius kepada Shalimar.
Shalimar tertawa mendesis sinis sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
"Hanya itu yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"Apa kau tidak memikirkan Aabid lagi?"
"Kau menggunakan Aabid disaat seperti ini? Kenapa hal itu tidak mengejutkan aku?" Balas Shalimar sambil melihat lurus kearah Rendy.
"Apa kau benar-benar telah memilihnya dan melepaskan hubungan kita?" Mata Rendy terlihat putus asa kali ini.
"Hubungan apa yang kita miliki?" Tanya Shalimar tidak kalah putus asanya dengan Rendy.
"Aku bahkan tidak memiliki hak atas dirimu dan juga Aabid. Aku juga tidak pernah tahu sebagai apa aku ketika kita bersama."
Rendy menahan dirinya untuk mengatakan yang sesungguhnya. Ego dalam diri Rendy benar-benar mengalahkan logikanya saat ini.
Shalimar masih mengharapkan Rendy untuk mempertahankan dirinya , namun sepertinya hal itu tidak mungkin dengan sikap diam yang Rendy tunjukan padanya saat ini. Dan kali ini Shalimar harus membuat keputusannya sendiri. Tidak mungkin selamanya dirinya harus menanti Rendy dan hubungan yang tidak pernah ada ujung pangkalnya seperti ini.
"Aku melepaskanmu." Kata Shalimar pada akhirnya yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rendy.
"Walau kau tidak pernah mengatakan kau akan menceraikan aku , aku yang akan memutuskannya. Kau juga tidak memiliki kewajiban apapun untukku setelah ini , kau juga tidak memiliki hak apapun. Aku membebaskanmu."
Rendy menengadahkan kepalanya dengan begitu terkejut, ia tidak pernah berharap jika Shalimar sungguh-sungguh akan ucapannya kali ini. Namun Rendy hanya melihat kesungguhan dimata Shalimar ketika mengucapkan hal itu dihadapannya.
"Kau benar-benar akan melepaskan Aabid?" Tanya Rendy sekali lagi kepada Shalimar.
"Aku akan mengambil Aabid. Aku memiliki hak untuk mengasuh Aabid." Jawab Shalimar setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya kali ini , meskipun dirinya merasa seperti kosong ketika mengucapkan hal itu dihadapan Rendy.
"Tidak bisakah kau menunggu sedikit lagi? Aku hanya membutuhkan sedikit waktu lagi darimu." Rendy meraih tangan Shalimar dan menggenggamnya dengan erat.
"Kau sudah kehabisan waktu , Rendy." Balas Shalimar tanpa menarik tangannya dari Rendy.
Shalimar telah memberikan keputusannya kepada Rendy dan ia bersungguh - sungguh kali ini. Mungkin memang lebih baik jika Shalimar melepaskan Rendy dan memulai kehidupannya sendiri.
Rendy tidak melihat kebohongan di mata Shalimar dan hanya ada kesungguhan di mata Shalimar kali ini.
"Aku tidak akan melepaskan Aabid. Jika kau masih ingin bertemu dengan Aabid , kau harus tetap bersamaku." Kata Rendy dengan nada yang mulai meninggi.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku juga memiliki batasanku sendiri. Aku sudah menunggu selama empat tahun , Ren. Dan kau tidak pernah ada untukku." Kata Shalimar mengingat apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Rendy selama ini.
"Dan batasanmu sudah habis ketika kau memilih bersama dengan Dhanny? Apa kau yakin Dhanny benar-benar mencintaimu? Apa kau yakin Dhanny akan menerima Aabid jika kalian benar-benar bersama? Apa kau tahu apa yang sebenarnya ada didalam pikiran Dhanny?" Nada bicara Rendy meninggi, ia sudah tidak bisa menahan kendali atas dirinya kali ini.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rendy membuat Shalimar berpikir tentang apa yang sebenarnya Dhanny rasakan untuknya dan juga perlakuan Dhanny kepadanya. Shalimar mungkin bisa menerka tentang perasaan Dhanny kepada dirinya tapi Shalimar tidak tahu apa Dhanny juga akan menyayangi Aabid.
"Sekalipun aku tidak memilih bersama Dhanny , aku tetap akan mengambil hak asuh akan Aabid." Kata Shalimar pada akhirnya.
"Kau sangat ingin memutuskan hubungan kita?" Tanya Rendy dengan tatapan putus asa tanpa melepaskan genggamannya dari Shalimar , masih mengharapkan Shalimar bertahan sedikit lagi untuknya.
"Aku sudah tidak ingin berada di posisi ini selamanya , Ren. Posisi dimana aku tidak dianggap , aku juga tidak memiliki hak atas anakku sendiri. Aku juga ingin menjalani kehidupanku sendiri. Kau juga. Apa kau tidak merasa lelah kita terus seperti ini?" Balas Shalimar kali ini sambil berusaha menarik tangannya dari Rendy namun tanpa hasil , genggaman Rendy lebih kuat daripada tenaga Shalimar saat ini.
"Jika bukan karena Dhanny , apakah berarti aku masih memiliki kesempatan?" Rendy menatap lurus kearah Shalimar.
Sebuah tatapan yang Shalimar sukai dari Rendy dulu yang lama tidak pernah Shalimar lihat semenjak mereka menikah. Bahkan tanpa Shalimar inginkan , jantung Shalimar berdebar kencang karena tatapan itu.
"Jika memang bukan karena kau ingin bersama dengan pria lain , maka aku masih memiliki kesempatan untuk membuatmu bertahan sebentar lagi di sampingku? Aku hanya butuh sedikit waktu lagi untuk kita bisa bersama seperti keluarga kecil lainnya." Kata Rendy berusaha meyakinkan Shalimar akan apa yang sudah ia rencanakan selama ini.
"Aku ... " Sejenak Shalimar ragu akan apa yang ia rasakan dan Rendy katakan untuknya saat ini.
"Aku sudah memberimu cukup waktu. Lebih dari cukup. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi , aku tidak ingin lebih kecewa lagi untuk mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi."
"Kali ini aku berjanji , tunggulah sebentar lagi." Rendy mengangkat kedua alisnya untuk meyakinkan Shalimar dengan mata yang benar-benar terlihat tulus bagi Shalimar.
Ketulusan Rendy bahkan hampir merobohkan tembok pertahanan Shalimar. Tapi mengapa disaat Rendy seperti apa yang ia nantikan selama ini , Shalimar merasa tidak bahagia sekalipun jantungnya berdegup kencang. Perasaan bersalah yang kini bersarang di hati Shalimar.
"Aku ..."
"Aku benar-benar akan menepati janjiku dan menebus semua kesalahanku kepadamu selama ini." Rendy menarik tangan Shalimar dan menempelkan tangan Shalimar di dadanya.
Secara spontan Shalimar menarik tangannya dari Rendy kemudian menyisirkan rambutnya ke belakang dengan gugup.
"Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini kepadaku?" Tanya Shalimar tanpa berani memandang kearah mata Rendy.
"Aku tidak akan melepaskanmu , sekalipun kau memiliki oranglain dihatimu." Kata Rendy kali ini dengan tiba-tiba memeluk Shalimar dengan erat.
__ADS_1
Shalimar bukannya merasa senang ketika Rendy memeluknya , ia merasa sangat tidak nyaman akan apa yang Rendy lakukan kepadanya namun juga tidak bisa menolaknya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan kepadaku selama ini , tapi aku juga tahu kau bertahan selama ini juga karena kau masih memiliki perasaan cintamu padaku. Aku hanya memintamu untuk bertahan sebentar lagi. Aku akan menciptakan keluarga yang bahagia untukmu dan juga Aabid. Jangan tanyakan aku alasan aku melakukan semua ini . Aku hanya perlu membuktikan kepadamu semua yang aku lakukan adalah untukmu dan juga Aabid." Bisik Rendy di telinga Shalimar.
Kalimat itu seharusnya yang paling diimpikan oleh Shalimar. Tapi ada yang mengganjal di hati Shalimar saat ini.
"Jika memang seperti apa yang kau katakan. Buktikan padaku sekarang." Balas Shalimar tanpa tahu apa yang sedang ia ucapkan sendiri , kalimat itu seakan meluncur dengan sendirinya.
"Beri aku waktu satu bulan. Aku berjanji padamu." Kata Rendy dengan semangat yang penuh kegembiraan ketika Shalimar memberikan kesempatan kepadanya.
Rendy melepaskan pelukannya dari Shalimar namun tetap menyentuh kedua pundak Shalimar dengan tangannya. Rendy tidak melihat sinar kebahagiaan di mata Shalimar.
"Aku akan mengembalikan sinar dimatamu lagi seperti dulu." Janji Rendy pada dirinya sendiri dalam hati.
Rendy menyentuh wajah Shalimar dengan lembut dan mendekatkan wajahnya pada Shalimar. Shalimar tahu jika Rendy hendak menciumnya namun secara mendadak Shalimar memalingkan wajahnya dari Rendy dan langsung membuka pintu mobil Rendy.
"Maaf .. Aku ... Ada yang harus aku kerjakan. Aku harus mengirim data ke kantor. Taufan sudah menunggu laporan untuk ia pelajari." Kata Shalimar dengan terbata-bata sambil beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari mobil Rendy.
"Hati-hati dijalan." Lanjut Shalimar kemudian menutup pintu mobil Rendy dan langsung berjalan dengan cepat masuk kedalam rumahnya.
Rendy hanya memandang kearah Shalimar hingga Shalimar masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah.
"Aku akan mendapatkan hatimu lagi jika memang hatimu sudah tidak seperti dulu lagi. Aku masih memiliki Aabid yang tidak akan mungkin bisa kau tinggalkan. Dan aku akan memberikanmu keluarga yang kau impikan selama ini. Kita sudah bertahan selama ini , kalau hanya dalam waktu satu bulan kau tidak bisa bertahan , maka aku yang akan mengejarmu." Kata Rendy dalam hati ketika Rendy merasakan jarak yang diciptakan oleh Shalimar untuknya.
---------------------------
"Shally.." Suara Taufan mengejutkan Shalimar ditengah lamunannya sendiri.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau seperti orang yang kehilangan nyawamu sendiri saja." Komentar Taufan ketika Shalimar sudah memfokuskan pandangannya kearah Taufan.
"Oh. Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Shalimar dengan cepat ketika dia juga menyadari jika dirinya tengah melamun tadi.
"Apa hubunganmu dengan Dhanny sedang menghadapi hambatan?" Tanya Taufan mencoba menerka apa yang sedang Shalimar pikirkan.
"Aku berharap seperti itu." Gumam Shalimar dengan suara yang hampir tidak bisa didengarkan oleh Taufan.
"Oh iya, aku baru ingat." Seru Shalimar seketika ketika Taufan menyebutkan nama Dhanny.
"Apa? Apa benar ada masalah? Apa Eva sudah mengetahui hubungan kalian? Apa Eva akan menuntut perusahaan? Atau keluarga mereka akan datang kemari?" Reaksi Taufan bahkan terlalu berlebihan bagi Shalimar tapi terdengar masuk akal.
"Mungkin." Jawab Shalimar singkat dengan perasaan bersalah yang begitu terlihat kepada Taufan.
"Mungkin apa? Mungkin eva mengetahui hubungan kalian atau mungkin akan menuntut kepada kita?" Tanya Taufan yang terlihat begitu frustasi akan jawaban Shalimar yang tidak jelas kepadanya.
"Entahlah , Fan. Aku juga sedang bingung sekarang. Yang jelas Eva sudah mengetahui tentangku dan juga Dhanny. Dan juga .... " Shalimar menahan dirinya untuk tidak menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan juga Rendy.
"Intinya adalah aku akan mengkondisikan agar Eva tidak menuntut apapun dari perusahaan kita." Lanjut Shalimar berusaha menenangkan Taufan.
"Menuntut mungkin masih bisa kau kondisikan , tapi bagaimana dengan bahan perbincangan? Kau tahu , hal itu lebih berbahaya daripada sebuah tuntutan . Banyak perusahaan yang hancur jika harus menerima pembicaraan yang negatif tentang perusahaannya." Kata Taufan dengan frustasi.
Apa yang dikatakan oleh Taufan ada benarnya dan Shalimar baru saja menyadari hal itu. Tidak menutup kemungkinan bagi Eva untuk menyebarkan berita negatif tentang perusahaan tempatnya bekerja saat ini jika Eva membenci dirinya saat ini. Dengan temperamen Eva yang seperti itu sangat tidak menutup kemungkinan jika apa yang di takutkan oleh Taufan akan terjadi.
"Aku akan menghubungi Dhanny." Kata Shalimar ketika sebuah kemungkinan besar itu mulai terbayang didalam otaknya.
Shalimar meraih ponsel miliknya kemudian meletakkannya kembali.
"Apa itu penting? Kau harus mengesampingkan egomu dan harus memikirkan bagaimana nasib perusahaanku." Teriak Taufan yang terlihat gemas akan apa yang dilakukan oleh Shalimar.
"Baiklah ... Baiklah. Aku akan mengesampingkan ego ku kali ini." Kata Shalimar sambil meraih ponselnya lagi dengan perasaan kesal dan membuka tombol kunci ponselnya.
Saat Shalimar hendak menekan nomor ponsel Dhanny , Shalimar melihat kearah Taufan lagi.
"Benarkah aku harus menghubunginya terlebih dahulu?" Tanya Shalimar lagi kepada Taufan dengan tatapan memohon.
"Shally." Taufan mengatupkan rahangnya mencoba menahan emosinya dengan senyuman yang ia paksakan.
"Aku sudah menekannya." Kata Shalimar langsung menekan nomor ponsel Dhanny di ponselnya.
Nada menghubungkan tidak berlangsung lama , Dhanny langsung menjawab panggilan dari Shalimar dengan seketika.
"Apa kau baik-baik saja? Aku menghubungimu semalam dan nomormu tidak aktif setelah kau membalas pesan dariku." Dhanny terdengar khawatir dari seberang sana.
"Aaa.. Dhan , ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Shalimar berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Entah mengapa Shalimar merasa senang mendengar suara Dhanny walau hanya via telepon saja.
"Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu." Balas Dhanny dengan napas yang sedikit terdengar memburu.
"Baiklah. Kita akan bertemu dimana?" Tanya Shalimar menahan dirinya untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Dhanny sehingga napas Dhanny terdengar tidak teratur.
"Sekarang." Jawab Dhanny dengan cepat.
"Aku sudah berada didepan kantormu." Lanjut Dhanny , bahkan tanpa melihat Dhanny secara langsung , Shalimar bisa melihat seperti apa ekspresi Dhanny saat ini.
Dengan spontan Shalimar berdiri dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar tempatnya bekerja.
"Shally , apa yang dia katakan? Hei .. Apa kau mendengarkanku?" Tanya Taufan ketika Shalimar bernajak begitu saja dari tempatnya.
"Sebenarnya dia mendengarkanku atau tidak?" Tanya Taufan kepada dirinya sendiri.
Shalimar berjalan dengan cepat sambil tetap menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Langkahnya terhenti ketika Dhanny membuka pintu masuk tempat kerja Shalimar.
"Seperti itu. Tepat seperti itu , kau yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan dan juga hatiku." Kata Shalimar dalam hati ketika melihat Dhanny mulai melangkah masuk kedalam tempat Shalimar bekerja.
Wajah Dhanny terlihat lega dan senyuman yang terukir di wajah Dhanny sampai membuat Shalimar ikut tersenyum melihatnya.
"Apa kau tidak bekerja?" Tanya Shalimar ketika Dhanny semakin mendekatinya.
Dhanny tidak menjawab pertanyaan Shalimar , tapi langsung memeluk Shalimar. Pelukan itu terasa hangat dan nyaman untuk Shalimar. Berbeda dengan yang ia rasakan ketika bersama Rendy.
"Shally , sadarkan dirimu. Kau sudah menolaknya kemarin . Dan kau akan menolaknya lagi hari ini. Jangan terlena oleh perasaanmu yang belum pasti." Kata Shalimar dalam hati.
"Apa kau tahu aku begitu khawatir kepadamu? Aku pikir kau akan marah dan menghilang begitu saja dariku." Kata Dhanny tanpa melepaskan pelukannya dari Shalimar.
Setelah Shalimar menemui Rendy , Dhanny menghubunginya berulang kali namun Shalimar tidak menghiraukannya , Shalimar hanya mengirim pesan kepada Dhanny jika dirinya ingin beristirahat malam itu. Setelah itu Shalimar me-non aktifkan ponselnya. Shalimar ingin mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir jernih. Namun otaknya semakin kosong dan hatinya semakin bimbang.
Seharusnya Shalimar memilih Rendy dalam kondisi saat ini. Dia tidak akan menempatkan perusahaannya dalam kondisi seperti sekarang. Tidak ada hati yang akan tersakiti dan juga bersama Rendy adalah apa yang ia inginkan selama ini. Tapi tubuh dan hati Shalimar mengatakan hal yang diluar logikanya. Mereka memilih merasa nyaman ketika dirinya bersama Dhanny.
"Dhan , ini kantorku. Banyak orang disini." Kata Shalimar sambil dengan enggan mendorong tubuh Dhanny menjauh darinya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli." Balas Dhanny dengan acuh.
"Lainkali jika kau melakukan ini padaku , aku bahkan akan melakukan hal yang lebih daripada ini." Bisik Dhanny di telinga Shalimar.
Sebuah kata rayuan yang biasa Shalimar dengar namun kali ini membuat wajah Shalimar memerah dan jantunya berdebar tidak beraturan.
"Baiklah. Bisa kau lepaskan pelukanmu sekarang? Aku sudah merasa malu disini." Shalimar menutp kedua matanya ketika melihat beberapa rekan kerjanya melihat kearah dirinya dan Dhanny.
Dhanny melepaskan pelukannya dari Shalimar dan memandang Shalimar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Rasa khawatir bahkan tidak tersembunyi dari raut wajah Dhanny. Melihat hal itu saja sudah membuat Shalimar ingin mengurungkan niatnya untuk menolak Dhanny lagi.
"Kenapa kau harus seperti ini kepadaku?" Tanya Shalimar dalam hati.
"Aku baik-baik saja , Dhan." Kata Shalimar dengan dingin berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan dalam hati sambil melepaskan tangan Dhanny dari tubuhnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Lanjut Shalimar sambil memberi isyarat kepada Dhanny untuk keluar dari tempat kerja Shalimar.
"Kita bicara di cafe sebelah saja." Balas Dhanny sambil melihat kearah Shalimar dan mencoba untuk tetap pada ketenangannya walaupun wajah Shalimar jelas terlihat ingin dirinya menyerah akan Shalimar.
Dhanny berjalan mendahului Shalimar untuk membuka pintu tempat Shalimar bekerja dan membiarkan Shalimar berjalan mendahuluinya keluar dari tempat itu.
Shalimar bahkan tidak bisa menolak perlakuan manis dari Dhanny , mulai dari Dhanny berjalan disampingnya hingga sampai ke cafe tempat mereka akan membicarakan hal yang hendak di sampaikan oleh Shalimar , menarik kursi untuk Shalimar hingga dengan sabar menunggu Shalimar memesan minuman.
"Bagaimana aku menolaknya lagi ketika dia begitu manis dihadapanku saat ini?" Tanya Shalimar dalam hati.
Setelah pelayan cafe pergi meninggalkan mereka berdua , Shalimar merasa ini saat yang tepat bagi Shalimar untuk mengatakan apa yang akan ia sampaikan kepada Dhanny sebelum pertahanan hatinya mulai runtuh.
"Dhan , aku ingin kita ..."
"Ah , iya kau melupakan sesuatu kemarin." Dhanny langsung memotong perkataan Shalimar dan berdiri dari duduknya sambil merogoh saku celana miliknya , mengeluarkan sesuatu dari sana.
Dhanny berjalan kearah Shalimar dan berdiri tepat dibelakang Shalimar.
"Kau melupakan pemberianku kemarin." Kata Dhanny sambil mengenakan kalung yang ia berikan kepada Shalimar sewaktu Shalimar berada di rumah Dhanny.
Shalimar tidak menolak ketika Dhanny mengenakan kalung di lehernya . Napas Dhanny bahkan terasa menyapu leher Shalimar , membuat Shalimar menahan napasnya untuk beberapa detik.
Dhanny menyembunyikan senyumanannya ketika melihat reaksi Shalimar. Dhanny berjalan ke tempat duduknya lagi dan tersenyum melihat kalung itu berada di tubuh Shalimar.
"Kalung itu sudah menemukan tempat yang seharusnya." Kata Dhanny sambil tersenyum kepada Shalimar.
"Baiklah apa yang akan kau katakan kepadaku?" Tanya Dhanny dengan lembut kepada Shalimar.
Shalimar sempat terdiam sesaat melihat senyuman Dhanny yang begitu hangat untuknya. Shalimar menghela napas panjang dan mulai memfokuskan pikirannya saat ini. Shalimar harus bisa tegas kali ini demi perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Shalimar tidak boleh hanya memikirkan egonya sendiri.
"Aku ingin hubungan kita berakhir." Kata Shalimar pada akhirnya.
Tidak ada reaksi pada ekspresi Dhanny ketika Shalimar mengatakan hal itu.
"Kenapa?" Tanya Dhanny dengan santai sambil memainkan gelas minuman di depannya.
"Karena ... Kita tidak ... Bukan . Karena aku tidak ingin hubungan ini merugikan banyak pihak." Shalimar masih merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Dhanny.
"Siapa yang dirugikan?" Tanya Dhanny lagi masih dengan santai namun kali ini memandang kearah Shalimar.
"Eva tentu saja. Aku juga tidak ingin ada kemungkinan Eva akan menyebarkan berita yang merugikan tempatku bekerja saat ini." Jawab Shalimar berusaha memberikan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Aku mengenal Eva sejak dia masih kecil. Kami tumbuh bersama , aku bisa memahami karakter Eva lebih baik daripada dirimu. Eva tidak akan melakukan hal itu jika dia tahu kau berada disampingku. Dalam hal ini tidak ada yang dirugikan selain Eva. Dan aku pikir seiring berjalannya waktu , Eva pasti akan menerima semua ini dengan lapang dada." Balas Dhanny dengan tenang kepada Shalimar.
"Tetap saja , aku seperti merebut milik oranglain untuk menjadi milikku. Aku tidak menyukainya." Kata Shalimar tetap pada alasan yang menjadi andalan Shalimar agar Dhanny menerima penolakan darinya.
"Apa kau tidak memiliki alasan yang lain?"
"Tidak." Balas Shalimar dengan cepat.
Dhanny menghela napas panjang dan mengaitkan jemarinya di atas meja makan yang ada di hadapannya.
"Kau tidak merebut siapapun , aku yang mendatangimu sendiri." Kata Dhanny dengan tenang.
"Apa kau masih mengharapkan Rendy akan kembali padamu?"
Pertanyaan Dhanny membuat Shalimar seperti dilempar anak panah dalam jarak dekat.
"Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan Rendy." Jawab Shalimar tanpa memandang kearah Dhanny.
Jawaban Shalimar seakan menguatkan apa yang ada dalam pikiran Dhanny semenjak Shalimar ingin mengajaknya bicara empat mata.
"Apa dia berniat untuk kembali padamu?" Tanya Dhanny kali ini ketenangan itu hilang dalam nada suara Dhanny.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu. Hal ini tidak ada kaitannya dengan Rendy." Shalimar masih berusaha mengelak dengan begitu meyakinkan.
Semakin Shalimar mengelak semakin hal itu membenarkan apa yang ditakutkan oleh Dhanny.
"Sekalipun ia ingin kembali padamu , aku tidak akan tinggal diam." Kata Dhanny dengan sungguh-sungguh.
"Kau tidak memiliki hak untuk itu." Balas Shalimar kali ini memandang kearah Dhanny yang kini wajahnya sudah berubah menjadi dingin.
"Aku memiliki hak. Kau adalah kekasihku , aku tidak akan melepaskanmu." Dhanny mengatupkan rahangnya menahan emosi yang ia rasakan saat ini.
"Kau ... Kita hanya sepasang kekasih , tidak ada ikatan apapun antara aku dan dirimu yang memberimu hak atas apa yang akan aku lakukan untuk hidupku." Shalimar juga tidak ingin mengalah dengan Dhanny kali ini.
Dhanny hendak membalas apayang dikatakan Shalimar , namun menahannya sambil memejamkan mata. Dhanny terdiam untuk beberapa saat.
"Aku tidak memiliki pilihan lain." Kata Dhanny ketika membuka matanya dan menatap tajam kearah Shalimar.
"Kau harus menikah denganku atau kau yang menanggung apa yang akan terjadi dengan perusahaan temanmu. "
"Kau mengancamku saat ini?" Tanya Shalimar seakan tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Dhanny kepadanya.
"Jika itu bisa membuatku memiliki hak atas dirimu , tidak peduli jika kau berpikir aku ini licik , aku akan lakukan." Balas Dhanny dengan dingin.
"Apa kau sudah tidak mempunyai harga diri sebagai seorang laki-laki. Aku bahkan tidak ingin menjalin hubungan denganmu. Aku menolak apapun yang kau tawarkan kepadaku." Shalimar mendengus kesal dan menatap Dhanny dengan pandangan sinis.
"Aku tidak memiliki harga diri itu. Aku tidak ingin kehilangan satu kesempatan yang sudah pernah aku lepaskan dulu." Kata Dhanny tidak bergeming akan apa ang dikatakan oleh Shalimar kepadanya.
"Kita menikah secepatnya." Lanjut Dhanny tanpa memberikan opsi lain untuk Shalimar.
-------------------
__ADS_1