
Shalimar tidak bisa memahami apa yang sebenarnya tengah ia rasakan ketika Dhanny menjemput dirinya sore itu. Ada perasaan senang , gelisah dan ragu bercampur menjadi satu dalam hati Shalimar.
Dhanny yang ada dihadapannya saat ini , seorang pria yang mengejar dirinya dan mampu membuat jantungya berdebar setiap kali mata Shalimar bertemu dengan mata Dhanny atau hanya sekedar mencium aroma parfum Dhanny. Shalimar merasa ingin memaki dirinya sendiri yang tidak bisa menolak daya tarik Dhanny yang semakin membuat dirinya semakin memupuk perasaan yang ia miliki untuk Dhanny.
Dhanny meraih tangan Shalimar dengan lembut sambil tersenyum hangat kearah Shalimar.
"Apa aku terlambat menjemputmu ?" Tanya Dhanny dengan lembut kepada Shalimar.
Shalimar menggeleng dengan cepat dan melihat kearah tangannya yang di genggam oleh Dhanny.
"Tidak. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini." Shalimar kemudian memandang kearah Dhanny yang tidak melepaskan pandangannya pada Shalimar.
"Apa kau akan memberikan kunci mobil kepadaku atau kau akan mengantarkan aku pulang?" Tanya Shalimar sambil berusaha untuk tidak terlihat gugup di hadapan Dhanny.
"Kau yang mengantarkan aku pulang." Jawab Dhanny kemudian menarik tangan Shalimar dan berjalan kearah mobil Shalimar diparkirkan. ''
Shalimar memandang kearah Dhanny setelah dirinya dan Dhanny berada didalam mobil Shalimar.
"Apa kau akan memperlakukan aku seperti ini setiap hari?" Tanya Shalimar yang ingin mencari jawaban atas keingintahuannya.
"Memperlakukan apa?" Balas Dhanny atas pertanyaan yang diajukan oleh Shalimar kepadanya.
"Tidak kah kau merasa jika kau memperlakukan aku dengan terlalu baik? Aku bisa menjadi salah paham nantinya dan akan mengharapkan lebih." Jawab Shalimar kemudian mengalihkan pandangannya kearah setir mobil miliknya.
"Tentu saja aku akan memperlakukanmu seperti ini hingga seterusnya." Balas Dhanny lalu menyentuh dagu Shalimar hingga wajah Shalimar menghadap kearah Dhanny dan mata mereka kembali bertemu.
"Jika kau merasa salah paham akan apa yang aku lakukan kepadamu maka aku ingin kesalahpahaman itu terjadi setiap kau bersamaku. Dan aku juga ingin kau mengharapkan hal yang lebih kepadaku." Lanjut Dhanny dengan tatapan yang lembut dan dalam .
Bahkan Shalimar pasti akan mengingkari hatinya jika memang dimata Dhanny ada sebuah kebohongan akan apa yang Dhanny katakan kepada Shalimar saat Shalimar melihat betapa hangat tatapan itu untuknya.
Wajah Shalimar sudah serasa akan hangus terbakar karena debaran jantungnya yang semakin menjadi ketika tangan Dhanny menyentuh dagunya.
"Kau ingin aku antar kemana?" Tanya Shalimar mengalihkan pembicaraan dan langsung menjauhkan tangan Dhanny dari wajahnya.
"Jika kau menghindar , aku akan tetap mengejar hingga kau tidak akan menghindari perasaanmu sendiri lagi." Kata Dhanny sambil memasang sabuk pengaman miliknya.
"Kita lihat saja siapa yang akan bertahan?" Shalimar langsung menyalakan mobil miliknya .
"Kau ingin aku antar kemana?" Tanya Shalimar sambil memindahkan persneling mobilnya tanpa melihat kearah Dhanny.
"Antarkan aku kembali kerumahku." Jawab Dhanny sambil tersenyum akan sikap Shalimar yang tidak mengakui perasaannya untuk Dhanny.
"Kemana? Kerumahmu?" Shalimar menoleh dengan terkejut mendengarkan jawaban Dhanny yang membuat Shalimar memikirkan hal yang seharusnya tidak seharusnya ia pikirkan.
Wajah Shalimar kembali menjadi merah karena pemikirannya sendiri.
"Aku sudah lelah hari ini karena banyaknya pertemuan dengan banyak klien maka dari itu aku ingin pulang dan beristirahat dirumah. Apa kau memikirkan hal lain?" Goda Dhanny saat melihat wajah Shalimar yang tiba-tiba memerah itu.
"Tidak , hanya saja aku tidak tahu dimana rumahmu." Shalimar mencoba mengalihkan perhatiannya dari Dhanny dan juga pikirannya sendiri yang tadi melayang entah kemana.
"Kau beritahukan saja arah jalan menuju rumahmu." Lanjut Shalimar kemudian mulai menginjak pedal gas mobilnya.
Dhanny memberikan arahan menuju kerumah miliknya dan sesekali memandangi Shalimar yang tidak mau memandangnya sama sekali . Shalimar juga terkesan menghindari bertatap mata dengan Dhanny.
Sesampainya didepan rumah Dhanny , Dhanny langsung melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya dan melihat kearah Shalimar.
"Masuklah sebentar ada sesuatu yang aku ingin berikan kepadamu." Kata Dhanny kemudian membuka pintu mobil dan turun dari mobil Shalimar.
Dan secara spontan Shalimar mematikan mesin mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.
"Kenapa aku menuruti apa yang ia katakan?" Gerutu Shalimar dalam hati sambil dengan kesal membuka pintu mobilnya dan menyusul Dhanny yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam rumah milik Dhanny.
"Apa yang ingin kamu berikan kepadaku ?" Tanya Shalimar saat berdiri diambang pintu masuk rumah Dhanny.
"Duduklah dulu, aku akan mengambilnya di kamarku." Kata Dhanny sambil menunjukkan kearah sofa yang ada diruang tamu miliknya.
Setelah Dhanny berjalan menghilang dari ruang tamu , Shalimar mengamati seluruh sudut kediaman Dhanny. Rumah Dhanny memiliki model modern minimalis berlantai dua dengan cat berwarna hampir semuanya putih dan warna hitam di beberapa sudut rumah. Untuk ukuran seorang lelaki yang hidup sendiri , rumah Dhanny benar-benar bersih tak tercela bahkan lebih bersih dibandingkan dengan rumah Shalimar. Tidak ada foto apapun yang tertata di dinding rumah Dhanny. Bahkan lukisan juga tidak ada di dinding ruang tamu milik Dhanny. Yang ada hanya beberapa motif sederhana wallpaper yang ada disana .
Shalimar bisa mendengarkan langkah kaki Dhanny yang menuruni tangga rumahnya. Dhanny berjalan mendekati Shalimar yang tengah duduk di sofa ruang tamu miliknya.
Dhanny memberikan sebuah kotak kecil kepada Shalimar. Shalimar menerima kotak kecil yang terlihat sudah tersimpan lama karena warna biru muda pada kotak itu terlihat agak memudar , kemudian Shalimar menatap penuh tanya kearah Dhanny.
"Apa ini?" Tanya Shalimar.
"Aku hendak memberikannya dulu kepadamu tapi ternyata kau lebih memilih oranglain saat itu." Jawab Dhanny dengan nada yang datar.
"Kenapa aku merasa hal itu terjadi karena kesalahanku?" Tanya Shalimar yang merasa jika dirinya membuat kesalahan ketika dirinya pertama kali bertemu dan jatuh cinta pada Rendy yang ternyata juga mematahkan hati Dhanny saat itu.
Shalimar membuka kotak kecil itu dan melihat sebuah kalung emas putih dan memiliki hiasan bola kristal kecil yang didalamnya terdapat miniatur mawar merah yang cantik.
"Ini untukku?" Tanya Shalimar sambil tersenyum melihat kalung yang diberikan oleh Dhanny kepadanya.
Dhanny hanya tersenyum dan mengangguk.
Kalung itu adalah apa yang benar-benar diinginkan oleh Shalimar ketika itu. Shalimar bahkan menabung untuk membeli versi tiruannya , namun selalu saja gagal . Kali ini benda yang ia inginkan dulu sudah ada ditangannya . Seperti bernostalgia kemudian kembali kepada apa yang sudah terjadi selama waktu itu terus berputar.
__ADS_1
Senyuman di mata Shalimar pun juga turut pudar seperti senyuman di bibirnya.
"Dulu , betapa aku menginginkan kalung ini . Sampai aku harus berusaha keras menabung hanya untuk membeli versi tiruannya saja. Sekarang aku memiliki yang asli di tanganku. Tapi mengapa rasanya seperti menyentuh yang bukan milikku." Kata Shalimar tanpa sadar sambil memandangi kalung yang masih berada didalam kotak kecil itu .
"Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Eva." Kata Dhanny tiba-tiba hingga membuat Shalimar membeku dari apa yang hendak ia lakukan.
"Aku tidak akan beralasan , aku juga tidak menginginkan rasa bersalahmu setiap kita bersama. Aku benar- benar ingin hubungan kita menjadi nyata dan kau menerimaku juga perasaanmu kepadaku."
"Apa kau sudah tidak waras?" Tanya Shalimar dengan suara yang lirih hingga lebih menyerupai bisikan daripada sebuah kata-kata yang jelas di telinga Dhanny.
"Aku tidak ingin kau meragukan apa yang sudah aku lakukan untukmu dan apa yang aku putuskan untuk mulai menjalin hubungan denganmu. Aku tidak main-main dengan perasaanku kepadamu." Jawab Dhanny dengan sungguh-sungguh.
"Aku ... " Shalimar hendak membalas kata-kata Dhanny namun tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili apa yang ia rasakan saat ini.
"Aku tidak ingin menjalin hubungan serius saat ini dengan siapapun." Kata Shalimar pada akhirnya.
"Kau hanya takut dirimu terluka lagi." Dhanny langsung membalas dan tepat sasaran.
"Kau hanya menolak untuk menerima kenyataan bahwa kau juga merasakan hal yang sama denganku dengan alasan kau tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapapun. Kau hanya takut dirimu kembali terluka dan hanya menghindarinya seperti seorang pengecut yang bersembunyi dari ketakutannya sendiri."
"Apa kau sedang membalas penolakanku sekarang ini?" Shalimar mulai merasa terpancing emosinya saat Dhanny mengatakan yang sebenarnya dirasakan oleh Shalimar.
"Apa kau selalu jatuh cinta kepada setiap pria yang berkencan denganmu selama ini?"
"Tidak." Jawab Shalimar secara spontan.
"Apa kau juga tidak menyukaiku?"
"Tidak." Kali ini Shalimar menggenggam erat kotak kecil yang berada di tangannya.
"Maka aku memiliki kesempatan yang dulu sudah aku lepaskan. Aku tidak main-main dengan apa yang akan aku lakukan untuk hubungan ini. Kau bukan seorang perebut pasangan oranglain. Kau sudah merampas hatiku jauh sebelum kita bertemu lagi. Aku memang tidak waras jika aku melepaskan kesempatan mendapatkanmu lagi. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan kau menerima perasaanku dan mengakui perasaanmu kepadaku. Aku tidak akan memberikan luka kepadamu seperti yang kau rasakan saat ini." Kata Dhanny berusaha untuk meyakinkan Shalimar.
"Semuanya akan mengatakan hal yang sama. Seperti mudah melakukannya , tapi kenyataannya tidak seperti itu. Pada akhirnya kau akan menyerah dan kalimat yang kau ucapkan saat ini hanyalah sebuah kalimat pembuka yang tidak akan kau ingat lagi. Jangankan kepada oranglain , aku bahkan tidak mempercayai diriku sendiri. Aku memang tidak berani menghadapi perasaanku sendiri , aku juga takut jika aku terluka. Apa itu salah?" Shalimar membalas tatapan Dhanny kali ini.
Dhanny bisa melihat luka dimata Shalimar.
"Aku hanya ingin menjaga diriku agar tidak terluka lagi dan juga aku tidak ingin melukai oranglain karena pemikiranku sendiri. Aku berusaha tidak mengharapkan lebih dari oranglain untukku. Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri. Aku hanya ingin memiliki harapan untuk diriku sendiri."
"Tapi kau malah melukai dirimu sendiri , kau tidak mengakuinya , menolaknya dan membuat lukamu semakin dalam dan tak akan terobati. Kau tidak sedang berusaha menggapai bahagiamu sendiri , kau hanya berusaha membunuh hatimu sendiri secara perlahan. Kau ingin membunuh dirimu sendiri karena cinta yang tidak bisa kau dapatkan kembali." Kata-kata Dhanny seakan menjadi sebuah tamparan untuk Shalimar karena memang seperti itu yang terjadi pada diri Shalimar selama dirinya merasa tidak mendapatkan cinta dari orang yang ia cintai.
"Kau yang mengatakan untuk tidak akan menyakitiku , tapi yang kau katakan benar-benar menyakitiku. Bahkan belum ada satu hari kau mengucapkan hal itu kepadaku." Kata Shalimar sambil menahan genangan airmata yang sudah memburamkan padangannya.
"Kau terluka karena kenyataan yang aku coba ucapkan kepadamu saat ini. Bukan karenaku , kau akan terus menolak perasaanmu sendiri dengan alasan kau berada dalam posisi merebut pasangan oranglain , kau berusaha untuk menyalahkan dirimu sendiri tanpa melihat aku juga terluka disini dengan perasaanku yang coba kau abaikan berkali - kali. Aku juga terluka setiap melihatmu seperti ini." Dhanny ingin menenangkan Shalimar tapi dirinya sudah tidak bisa menahan apa yang ia pendam selama ini.
"Tidak.. Hubungan kita tidak akan berhasil. Kita hanya akan saling melukai pada akhirnya." Shalimar meletakkan kotak kecil itu diatas meja kaca yang berada disamping kakinya .
"Kita pasti akan sering bertengkar hanya karena hal-hal seperti ini. Ataupun hal sepele lainnya. Aku yang akan melukaimu pada akhirnya."
"Kita pasti akan bertengkar, tidak ada hubungan yang berjalan begitu mulus dan baik-baik saja. Aku yang akan mengalah jika hal itu terjadi." Kali ini Dhanny menggenggam kedua tangan Shalimar dan memandang mata Shalimar yang terlihat begitu ragu itu.
"Apa yang sedang kau lakukan , Dhan?" Tanya seorang wanita di ambang pintu masuk rumah Dhanny membuat Dhanny dan Shalimar melihat kearah sumber suara yang baru saja hadir disana.
"Ma?" Dhanny terkejut melihat kedatangan ibunya sendiri dirumahnya.
Dibelakang ibunya , Dhanny melihat Eva yang seperti bernaung di sebuah benteng kuat untuk melawan Dhanny. Dhanny bisa merasakan Shalimar hendak melepaskan tangannya dari Dhanny dengan gemetar. Dhanny menahan tangan Shalimar tetap berada dalam genggamannya.
"Kau sudah akan menikah dengan Eva , kenapa kau melakukan hal ini kepada Eva?" Ibu Dhanny nampak begitu marah melihat Dhanny dan Shalimar bersama dirumah Dhanny.
"Anda sepertinya sa..." Shalimar berusaha menjelaskan keberadaannya dan juga berusaha untuk tidak menjadi sumber permasalahan disini , namun Dhanny tidak membiarkan Shalimar melanjutkan kalimatnya. Dhanny menarik tangan Shalimar sehingga membuat Shalimar terhuyung kesamping dan berada dalam pelukan Dhanny.
"Tidak ada kesalahpahaman disini. Aku mencintainya , bukan Eva." Kata Dhanny dengan tegas kepada ibunya dan menatap tajam kearah Eva.
"Sejak awal aku menganggapmu sebagai adikku sendiri , aku tidak pernah menganggap lebih , jika bukan karena kau melakukan percobaan bunuh diri itu , aku tidak akan menyanggupi ingin menikah denganmu. Tadinya aku merasa tidak tega untuk membatalkan pernikahan denganmu , tapi ternyata kau sudah mengetahui hal ini sejak lama dan ingin menyudutkanku dan juga Shally didepan mamaku , aku sudah benar-benar salah menilaimu." Kata Dhanny kepada Eva.
Wajah Eva terlihat merah dan tidak terima akan apa yang di ucapkan oleh Dhanny.
"Kau yang saat ini sedang kedapatan berselingkuh kenapa kau menjatuhkan kemarahanmu kepadaku?" Tanya Eva dengan wajah seperti seorang korban yang tidak bersalah di hadapan ibu Dhanny.
Shalimar melangkahkan kakinya satu langkah kebelakang ketika mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Eva . Dhanny yang menyadari hal itu makin erat menggenggam tangan Shalimar agar Shalimar tetap berdiri di tempatnya.
"Tidak ada yang berselingkuh disini. Aku tidak menginginkan pernikahan ini sedari awal dan aku benar-benar tidak mencintaimu. Aku sudah berulangkali imengatakan hal ini kepadamu , hanya saja kau yang tidak mengindahkan apa yang aku ucapkan. Aku juga hanya merasa kasihan kepadamu selama ini , tapi melihat apa yang lakukan dengan membawa orangtuaku kemari , aku tidak memiliki rasa kasihan itu lagi kepadamu." Kata Dhanny dengan senyuman sinis tersungging di bibirnya.
"Terlepas dari kau mencintai Eva atau tidak , kau sudah memiliki komitment untuk menikah dengan Eva. Dan seharusnya kau memiliki tanggung jawab untuk hal itu. Mama tidak mendidikmu untuk menjadi orang yang melepaskan tanggungjawab begitu saja." Kata Ibu Dhanny sambil melihat kearah Dhanny dan juga Eva secara bergantian.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat, Ma. Aku akan menemui orangtua Eva , aku akan membatalkan pernikahan ini secara baik-baik. Aku hanya menikah sekali seumur hidupku , aku tidak mau menyesalinya dikemudian hari , Ma." Dhanny mencoba meyakinkan ibunya tentang apa yang akan ia lakukan kepada Eva dan juga pernikahannya kelak.
Mata Dhanny benar-benar menatap lurus kepada ibunya dan begitu teguh akan keputusannya.
Ibu Dhanny menghela napas panjang dan melihat Dhanny kemudian melihat Shalimar yang hanya tertunduk semenjak dirinya datang kerumah Dhanny.
"Mama akan menghargai apapun keputusanmu. Tapi mama ingin semuanya diselesaikan dengan kekeluargaan dan mama tidak ingin ada yang dirugikan disini." Kata ibu Dhanny lalu berbalik dan hendak meninggalkan rumah Dhanny .
Tangan Eva menahan ibu Dhanny dengan mata penuh memohon.
"Ma, Mama tidak bisa pergi begitu saja. Aku tidak ingin pernikahanku batal. Aku akan tetap menikah dengan Dhanny , aku tidak ingin ini berakhir." Kata Eva dengan mata berkaca-kaca kearah ibu Dhanny.
__ADS_1
Ibu Dhanny menyentuh tangan Eva dengan lembut dan hangat,
"Mama tidak bisa memaksakan kehendak Dhanny. Kelak yang menjalani pernikahan adalah kalian sendiri , kami orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak kami bukan memaksanya."
"Tapi mama sudah melihat sendiri bagaimana putra mama melakukan hal ini kepadaku." Protes Eva.
"Aku ingin mama mempercepat pernikahanku dengan Dhanny."
Ibu Dhanny menoleh kearah Dhanny dan Shalimar,
"Kau membawaku kemari hanya untuk mendapati Dhanny sedang bersama dengan wanita lain dan mempercepat pernikahan kalian dengan memojokkan Dhanny?" Tanya Ibu Dhanny kepada Eva.
"Jika mama diposisi mu saat ini dan melihat Dhanny berselingkuh saat ini , mama akan membatalkan pernikahan mama bukannya mempercepatnya." Lanjut ibu Dhanny lalu melepaskan tangan Eva dari lengannya.
Ibu Dhanny berjalan keluar dari rumah Dhanny dengan langkah yang tegap dan pasti tanpa melihat kearah belakang lagi.
Shalimar seperti baru bisa bernapas ketika ibu Dhanny pergi dari rumah Dhanny, Dhanny tidak main-main dengan ucapannya. Dhanny benar-benar membatalkan pernikahan dengan Eva. Hal yang melegakan sekaligus membuat Eva gemetar karena ketakutannya sendiri. Tangan Dhanny yang hangat menggenggam tangannya , membuat Shalimar masih bisa berdiri saat ini .
Satu hal yang disadari Shalimar saat ini adalah Dhanny tidak berdiam diri ketika Shalimar berhadapan dengan orangtuanya sendiri tanpa mengurangi rasa hormat Dhanny kepada Ibunya.
Shalimar bahkan tidak berani melihat kearah Eva karena merasa dirinya dalam posisi orang yang bersalah saat ini .
"Kau ingin membatalkan pernikahan kita? Karena dia?" Tanya Eva setelah ibu Dhanny pergi sambil menunjuk kearah Shalimar.
"Sejak awal aku sudah mengatakan aku tidak mencintaimu, aku tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang adik." Kata Dhanny yang memindahkan posisi tubuhnya untuk menutupi Shalimar dari jari Eva yang menunjuk kearah Shalimar dengan penuh amarah itu.
"Tidak mungkin kau tidak memiliki perasaan sayang kepadaku walau hanya sedikit saja. Jika saja kau tidak bertemu dengan wanita itu , maka pernikahan kita akan berjalan seperti apa yang aku inginkan." Teriak Eva dengan putus asa dihadapan Dhanny dan juga Shalimar.
Rasa bersalah semakin menaungi hati Shalimar ,
"Aku akan kembali , kalian bicara berdua saja dulu." Kata Shalimar dengan lirih.
"Tidak ada yang ingin aku katakan lagi kepadanya." Kata Dhanny sambil menahan tangan Shalimar agar Shalimar tetap berada disisinya.
"Aku akan berkunjung kerumahmu dan membatalkan pernikahan kita secara resmi." Lanjut Dhanny sambil melihat kearah Eva.
"Kau kira aku akan diam saja pernikahanku akan kau hancurkan?" Wajah Eva bahkan berbeda dari apa yang Dhanny kenal selama ini.
"Jika aku hancur , aku tidak akan hancur sendiri. Jika kau tidak menjadi milikku maka dia juga tidak bisa memilikimu." Senyuman licik penuh luka terukir di bibir Eva.
"Dan kau.." Kata Eva , matanya tertuju pada Shalimar yang masih tidak mau menatap kearah Eva.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu." Kata Eva kemudian pergi meninggalkan rumah Dhanny.
Setelah Eva pergi , Shalimar langsung terduduk dengan lemas di sofa seperti selembar tisu yang jatuh dihempaskan angin kencang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Dhanny yang baru melihat wajah Shalimar yang pucat dan lemas itu.
"Kau sudah gila. Kau benar-benar gila. Apa kau tahu masalah yang kau timbulkan ini?" Shalimar bahkan tidak memiliki tenaga untuk marah kepada Dhanny.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Jawab Dhanny sambil berjongkok di depan Shalimar.
Dhanny menatap lurus kemata Shalimar yang bergetar karena rasa terkejutnya.
"Aku tidak akan lari dari tanggungjawabku, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Eva. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku."
"Tidak perlu kau mengulangi kalimat itu, aku sudah mendengarnya tadi berkali-kali dan rasanya kalimat itu seperti menggema di otakku." Balas Shalimar sambil memejamkan matanya.
"Sekarang Eva sudah mengetahui hubungan kita.. Hubungan yang kau paksakan , dan sudah pasti dia akan mengacau di tempatku bekerja nantinya." Kali ini Shalimar berusaha mengumpulkan tenaganya untuk menghadapi Dhanny.
Dhanny tersenyum melihat reaksi Shalimar,
"Kau akan aman , perusahaanmu juga akan aman , selama kau berada disampingku."
"Apa kau masih ingin aku berada disampingmu setelah kekacauan ini? Apa kau tidak memikirkan dengan benar ingin bersamaku dan membatalkan pernikahanmu? Apa kau masih waras? Apa kau pernah memikirkan posisiku?" Tanya Shalimar dengan frustasi.
"Lalu apa kau pernah memikirkan perasaanku dan juga posisiku? Aku bahkan rela melakukan semua ini untukmu , aku hanya ingin kau mengetahui betapa aku benar-benar mencintaimu selama ini. Dan kau tidak memberikan sedikit kesempatan untukku? Aku tidak ingin hanya menunggumu datang kepadaku kali ini. Aku akan menjemputmu dan membawamu untuk berada disisiku. Aku tidak sedang bermain-main dengan hidupmu ataupun hidupku. Sekalipun kau memiliki seseorang dihatimu , aku tidak akan memperdulikannya asalkan kau bersedia berada disisiku." Balas Dhanny dengan keyakinannya kepada Shalimar.
Shalimar tidak bisa menemukan kebohongan di mata Dhanny tapi ia juga tidak ingin mengakui perasaannya kepada Dhanny , bukan karena ego yang ia miliki tapi Shalimar tidak ingin memiliki cinta yang harus menyakiti pihak lainnya.
"Jangan mengatakan kau tidak memiliki sedikitpun rasa kepadaku. Kau juga merasakan hal yang aku rasakan." Kata Dhanny ketika melihat mata Shalimar yang mulai bergetar karena pemikiran Shalimar sendiri.
"Aku tidak akan mengingkarinya." Kata Shalimar pada akhirnya.
"Tapi aku tidak ingin bersamamu. Juga tidak bersama dengan Rendy. Aku ingin sendiri."
Kata-kata Shalimar adalah sebuah penolakan untuk kesekian kalinya kepada Dhanny. Dhanny melepaskan genggamannya dari Shalimar.
Shalimar berbalik dan hendak berjalan kearah pintu rumah Dhanny untuk keluar dari sana.
"Kau akan kembali kepadaku." Kata Dhanny hingga membuat langkah Shalimar terhenti.
"Ketika kau membutuhkan bantuanku , maka aku akan menganggap kau menerima posisimu untuk menjadi istriku." Lanjut Dhanny sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana hitam miliknya.
"Aku tidak akan meminta bantuanmu." Jawab Shalimar tanpa memandang kearah Dhanny .
__ADS_1
"Dan aku harap ini terakhir kali kita bertemu."
-------------------