No Regrets

No Regrets
Bab 16


__ADS_3

"Hai , Dhan." Sapa Eva ketika Dhanny baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Dhanny tidak begitu terkejut akan kedatangan Eva dikantornya ,hal ini sudah ia perkirakan. Namun Dhanny tetap mempersiapkan diri akan apa yang akan dilakukan oleh Eva.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Dhanny dengan acuh.


"Kau tidak ingin mempersilahkan aku masuk? Atau kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya tentang calon istrimu dihadapan banyak orang?" Bisik Eva dengan senyuman yang begitu lebar.


"Kita bicara didalam." Jawab Dhanny membuka kembali ruang kerja nya dan mempersilahkan Eva untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Eva dengan penuh kemenangan berjalan masuk kedalam ruang kerja Dhanny. Setelah Eva masuk kedalam ruang kerjanya , Dhanny juga ikut masuk dan kemudian menutup pintu ruang kerjanya.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Dhanny dengan perasaan yang mulai tidak enak akan kedatangan Eva kali ini.


"Kenapa kau nampak tidak sabar seperti ini? Seperti bukan dirimu saja." Balas Eva dengan santai.


Dhanny tidak membalas kata-kata Eva , dia hanya memandang dingin kearah Eva.


"Baiklah. Aku akan mulai pada intinya." Kata Eva sambil mengangguk dan mendekati Dhanny.


"Apa kau tahu jika Shally tidak sepolos apa yang kau percayai?" Tanya Eva sambil menghela napas seakan prihatin akan apa yang Dhanny alami saat ini.


"Dia sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak. Dan menurut sumber yang aku percaya , dia juga memiliki banyak skandal dengan pria-pria yang tidak terhitung jumlahnya. Hidupnya sangat berantakan."


Eva tidak melihat reaksi yang mengejutkan dari Dhanny.


"Kau sudah mengetahuinya?" Kali ini Eva yang terkejut.


"Aku sudah mengetahuinya." Jawab Dhanny dengan singkat.


"Dan kau masih ingin menikahinya?"


Dhanny menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Eva.


Eva tertawa sinis kepada Dhanny.


"Apa kau sudah dibawah pengaruh mantra-mantra darinya , Dhan? Kau sudah tidak waras. Dan apa orangtuamu menyetujui pernikahanmu dengan dia?" Eva merasa tidak terima dengan Dhanny yang menerima Shalimar dengan begitu mudahnya.


"Aku sedang dalam keadaan normal dan tidak dalam pengaruh mantra - mantra. Aku sungguh-sungguh mencintai Shally , apa adanya dirinya , aku tidak perduli dengan puluhan bahkan ratusan pria yang pernah bersama dengan dia sebelumnya. Setelah ini , dia hanya milikku. Aku juga tahu tentang apa yang sudah terjadi padanya sebelum kami bertemu kembali. Orangtuaku juga sudah memberikan restunya kepada kami. Pernikahan kami juga akan terjadi beberapa hari lagi. " Kata Dhanny dengan tegas.


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Tanya Dhanny kali ini kepada Eva dengan senyuman yang lebar.


"Tidak mungkin." Eva menggelengkan kepalanya , tidak mempercayai jika Dhanny sudah mengetahui semua tentang Shalimar dan tetap akan menikahinya.


"Dia tidak mungkin mencintaimu dengan tulus. Dia hanya memanfaatkanmu , Dhan." Kata Eva sambil menarik tangan Dhanny dan menggenggamnya erat.


"Sekalipun dia tidak mencintaiku sepertiku mencintainya , aku tetap mencintainya , aku tidak akan kehilangannya dan aku akan membahagiakannya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Dan jika kau melakukan hal yang membuatnya bersedih ataupun terluka , aku tidak akan memandang hubungan baik kita selama ini." Balas Dhanny sambil melepaskan tangan Eva dengan kasar.


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan ?" Tanya Dhanny dengan santai.


"Jika tidak ada , silahkan kau pergi , aku juga masih ada rapat penting hari ini." Lanjut Dhanny sambil menunjukkan pintu ruang kerja miliknya kepada Eva.


"Kau.. Kau akan menyesali keputusanmu , Dhan. Dan aku tidak akan membiarkan pernikahanmu berjalan dengan tenang." Kata Eva kemudian berjalan melewati Dhanny dan membuka pintu ruang kerja Dhanny dengan perasaan marah.


"Coba saja kau kacaukan pernikahan kami , maka kau tidak akan mendapatkan apapun untuk mengacaukannya." Batin Dhanny ketika Eva meninggalkan ruang kerja Dhanny.


Namun Dhanny tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan dilakukan oleh Eva nantinya . Dan tetap bertaruh kepada ketetapan hati Shalimar jika seandainya apa yang akan ia lakukan kelak untuk mempertahankan Shalimar disisinya.


Dhanny melihat kearah ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya, ponsel itu hanya menyala tanpa getar dan suara karena Dhanny sedang sibuk seharian ini. Dhanny melihat siapa yang menghubunginya. Dan ia melihat jika Mei yang berusaha menghubungi dirinya. Dengan cepat Dhanny menghubungi Mei kembali.


"Kemana saja kau ? Aku sudah berusaha menghubungimu sedari tadi." Protes Mei ketika Dhanny sudah berhasil menghubungi Mei.


"Ada apa?" Tanya Dhanny dengan khawatir , perasaannya tidak enak kali ini .


"Rendy menjebakku .. intinya dia mengirimkan sesuatu kepada Shalimar. Sebuah rekaman. Shalimar mengetahui segala sesuatu tentang kita saat ini , di bahkan tidak mendengarkan aku untuk menjelaskan semuanya. Saat ini ia akan menemuimu dan mengatakan akan membatalkan pernikahan kalian." Jawab Mei berusaha mempersingkat inti dari apa yang ia alami baru saja.


"Sudah berapa lama Shally pergi?" Tanya Dhanny sambil seketika berjalan keluar ruang kerjanya.


"Sudah satu jam yang lalu." Jawab Mei berusaha mengingat berapa lama Shally pergi dari hadapannya.


Dhanny berjalan keluar ruang kerjanya , matanya menyapu seluruh area tempatnya bekerja. Namun tidak menemukan sosok Shalimar.


"Aku akan mencarinya. Aku akan menghubungimu lagi." Kata Dhanny kepada Mei kemudian menutup pembicaraan mereka.


Dhanny berjalan kearah loby utama kantornya dengan jantung yang berdebar kencang. Keringat dingin keluar dari tubuhnya , pikirannya begitu kacau . Dhanny juga berusaha menghubungi Shalimar namun ponsel Shalimar tidak aktif.


Dhanny menunggu kedatangan Shalimar di loby utama perusahaannya. Namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Shalimar disana. Dhanny juga menghubungi ibunya , bertanya basa basi jika saja Shalimar menemui ibu Dhanny dan berusaha untuk membatalkan pernikahan mereka melalui ibu Dhanny , namun ibu Dhanny juga tidak bertemu dengan Shalimar.


Dhanny bisa merasakan jantungnya seperti diremas-remas. Mengapa hal ini terjadi sebelum pernikahannya dengan Shalimar terjadi. Dhanny bahkan tidak mengetahui keberadaan Shalimar saat ini. Akan lebih baik jika dirinya bertemu dengan Shalimar saat ini . Akan lebih baik jika Shalimar melampiaskan kemarahannya kepada Dhanny. Namun saat ini Shalimar hilang bagaikan di telan bumi. Membuat Dhanny seperti kehilangan roh dari raganya.


----------------


Shalimar mengemudi dengan kencang menuju ke perusahaan Dhanny , Ingin rasanya Shalimar mencaci maki Dhanny dan menumpahkan segala kemarahan yang ia rasakan saat ini .


Shalimar sedang berjalan dengan penuh amarah saat melihat Eva masuk kedalam ruang kerja Dhanny. Awalnya Shalimar tidak peduli akan kedatangan Eva disana , hal itu semakin membuatnya memiliki alasan kuat untuk memutuskan pernikahan mereka. Sebelum Shalimar membuka pintu ruang kerja Dhanny , Shalimar mendengarkan semua percakapan antara Dhanny dan Eva.


Entah mengapa Shalimar tidak membuka pintu itu , mengurungkan niatnya menumpahkan kemarahannya pada Dhanny. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mei. Dhanny benar-benar tulus mencintainya. Hanya saja Dhanny menggunakan cara yang salah untuk mengikat dirinya dan mendapatkan kepercayaan Shalimar.


Dengan perasaan yang bercampur jadi satu , Shalimar berjalan meninggalkan perusahaan Dhanny dan mengemudi tanpa arah yang jelas. Shalimar berusaha untuk berpikir jernih , menikah bukanlah keputusan yang main-main. Dirinya pernah gagal satu kali dalam pernikahan.


Kali ini pernikahannya disaksikan oleh banyak pihak dan juga ia benar-benar mengharapkan hal yang berbeda dari pernikahan yang pernah ia alami bersama dengan Rendy.


Shalimar tidak mungkin menceritakan hal ini kepada ibunya , ia juga tidak bisa berlari kepada Mei . Mei juga sudah mengkhianati kepercayaan yang ia miliki selama ini. Shalimar juga tidak akan mendatangi Rendy. Shalimar tidak tahu ia harus berterimakasih kepada Rendy atau malah memaki Rendy yang sudah memberikan rekaman itu kepada dirinya.

__ADS_1


Ditengah kekalutan yang ia alami , akhirnya Shalimar memikirkan seseorang untuknya bernaung untuk saat ini. Dengan cepat Shalimar memutar haluan menuju orang yang ada dalam pikirannya kali ini.


"Apa kau sudah mendapatkan kabar dari Shally?" Tanya Dhanny kepada Mei lewat telepon.


"Belum. Aku juga sedang mencari Shally saat ini. Shally tidak memiliki banyak tempat untuk bersembunyi. Aku juga sudah mendatangi beberapa mantan kekasihnya. Namun mereka tidak pernah berhubungan dengan Shally lagi , mereka tidak mengetahui keberadaan Shally. Nihil." Balas Mei dengan putus asa.


"Kabari aku jika kau mengetahui tentang keberadaannya." Kata Dhanny kemudian menutup pembicaraan mereka dan berkonsentrasi melihat ke sepanjang jalan yang ia lalui.


Hampir seharian Dhanny mengelilingi kota hanya mencari Shalimar. Namun tidak menemukan hasil apapun. Shalimar tidak berada di bar favoritnya , tidak pula berada di tempat ia bekerja. Dhanny benar-benar merasa frustasi akan hal ini.


"Shally , kau dimana?" Tanya Dhanny dalam hati sembari melawan terangnya lampu diantara gelapnya jalanan yang ia lewati.


"Seharusnya kau datang kepadaku , marah kepadaku , tumpahkan semuanya saja kepadaku , jangan menghilang tanpa jejak seperti ini. Aku harus bagaimana sekarang? Jika memang kau tidak ingin menikah denganku karena kemarahanmu , aku akan berusaha menerima hal itu , tapi aku mohon ... Jangan menghilang seperti ini."


Saat ini sudah hampir tengah malam , Dan Shalimar juga belum diketahui keberadaannya. Dhanny merasa seperti tidak bisa menapakkan kakinya lagi diatas tanah. Ketika ponselnya berdering , dengan cepat Dhanny menjawab panggilan tanpa melihat layar ponselnya.


"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Dhanny yang menyangka jika itu adalah panggilan dari Mei.


"Siapa yang kau cari?" Suara Shalimar terdengar seperti air yang mengaliri padang pasir.


"Shally? Kau ada dimana? Apa kau tahu aku sudah gila selama seharian ini mencarimu?" Tanpa sadar Dhanny berteriak ketika menanyakan hal itu kepada Shalimar.


"Kenapa kau mencariku? Apa kau sudah gila? Oh ..Bukan , aku yang sudah gila. Kenapa aku tidak bisa membencimu. Aku benci diriku sendiri." Kata Shalimar dengan tidak beraturan .


Shalimar sedang mabuk saat ini. Dhanny tahu dari cara Shalimar bicara. Tapi dimana dia saat ini . Dhanny melihat ke layar ponselnya. Shalimar menghubunginya menggunakan nomor lain.


"Kau ada dimana? Aku akan menjemputmu sekarang." Kata Dhanny dengan lembut kali ini walaupun dalam hatinya berkecambuk perasaan khawatir dan juga marah.


Shalimar sedang tidak berada di sebuah bar atau tempat umum. Dhanny tidak mendengar suara apapun di sekitar Shally. Dimana Shally saat ini? Di rumah seorang pria? Di sebuah hotel?


Berbagai macam kemungkinan membuat Dhanny semakin tidak tenang.


"Aku? Kenapa kau harus mencariku? Kenapa kau begitu menginginkanku? Apa kau tidak lelah harus mencintaiku dan berkorban begitu banyak kepadaku ? Memberikan banyak kebohongan di belakangku? Kau tahu semakin kau melakukan banyak hal untukku , semakin aku merasa bersalah kepadamu. Mungkin lebih baik jika kita tidak bertemu lagi, akan lebih baik kita berada dihari kita belum bertemu kembali. Kau juga tidak akan kehilangan apa yang kau miliki saat ini." Kata Shalimar mulai mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kau ada dimana? Shally , apa kau mendengarkanku?" Tanya Dhanny berusaha menahan keinginannya untuk segera menemukan Shalimar dan mengguncang tubuh Shalimar agar mengatakan dimana ia berada saat ini.


"Maaf , mungkin kau bisa menjemputnya sekarang. Saat ini Shally sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dia mabuk parah." Kata seorang pria kepada Dhanny saat ia mengambil alih ponselnya dari Shalimar.


Mendengarkan suara pria disamping Shalimar langsung membuat Dhanny sulit mengontrol emosinya.


"Siapa kau?" Tanya Dhanny dengan tegas dan sangat dingin seakan siap menerkam pria yang ada disamping Shalimar.


"Ini aku , Dhan. Taufan. Apa kau lupa dengan suaraku? Aku pimpinan Shally." Jawab Taufan sambil menahan tawanya mendengarkan reaksi Dhanny.


"Dimana kalian saat ini? Aku akan menjemput Shally sekarang." Kata Dhanny sambil menghembuskan napas lega.


"Shally datang ke apartementku , aku akan mengirimkan lokasiku kepadamu. Cepat jemput dia sebelum pacarku datang kemari dan salahpaham dengan situasi ini." Balas Taufan kemudian memutuskan pembicaraan mereka.


Dhanny langsung mendapatkan pesan dari Taufan dan dengan cepat melajukan mobilnya sesuai dengan petunjuk yang Taufan kirimkan kepadanya.


"Sabarlah sebentar , Kawan." Kata Taufan saat membukakan pintu untuk Dhanny.


Tanpa menunggu Taufan mempersilahkannya masuk , Dhanny langsung masuk kedalam apartement Taufan dan langsung mencari sosok Shalimar. Shalimar sedang tertidur di sofa ruang tamu milik Taufan.


"Cepat sekali kau menemukan tempat ini?" Tanya Taufan ketika dirinya berada di belakang Dhanny.


Dhanny tidak mendengarkan pertanyaan Taufan dan sibuk dengan Shalimar.


"Shally? Shally , apa kau mendengarkanku?" Tanya Dhanny dengan lembut sambil membelai wajah Shalimar.


Shallimar tidak menjawab dan hanya menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.


"Minuman apa yang kau berikan kepadanya? Berapa banyak dia minum?" Tanya Dhanny kepada Taufan dengan garang.


"Dia meminum minuman yang ia bawa sendiri dan mulai menceritakan hal-hal yang tidak jelas kepadaku , dia marah dengan tidak jelas dan menangis setelahnya." Jawab Taufan sambil menunjuk kearah botol yang berada diatas meja , di samping Dhanny.


"Kenapa kalian ini seperti tidak pernah mendengarkan aku dan langsung mengatakan apa yang ingin kalian katakan lalu mengabaikanku lagi?" Gumam Taufan sambil mengernyitkan keningnya dan melihat kearah Dhanny dan Shalimar.


Dhanny menggendong tubuh Shalimar dengan mudahnya dan berdiri dihadapan Taufan.


"Lainkali jangan pernah membiarkan dia mabuk seperti ini di rumahmu. Aku akan memberikan toleransi kali ini. Tapi tidak lainkali." Kata Dhanny sambil berjalan keluar dari rumah apartement Taufan.


"Shally sendiri yang datang kemari dan mabuk dengan sendirinya , aku juga harus mendengarkan cerita darinya sepanjang hari ini. Aku juga yang meminjamkan ponselku dan membuatmu bisa menjemputnya , kenapa aku seperti orang yang bersalah disini?" Protes Taufan namun tidak dihiraukan oleh Dhanny.


"Kau yang harusnya menjaga Shally agar tidak datang ketempatku lagi. Apa kau tahu jika dia sangat menyusahkan ketika mabuk seperti ini." Teriak Taufan saat Dhanny sudah melewati pintu rumah apartement Taufan.


Dhanny menghubungi Mei dan mengatakan jika dia sudah bersama dengan Shalimar saat ini dan meminta Mei agar memberikan alasan kepada ibu Shalimar agar ibu Shalimar tidak merasa khawatir akan Shalimar.


Dhanny membawa Shalimar kerumahnya. Shalimar begitu tenang kali ini. Mungkin Shalimar benar-benar tidak bisa sadar karena banyaknya alkhohol yang ia konsumsi tadi.


Saat meletakkan Shalimar di tempat tidur miliknya , dengan sabar Dhanny melepaskan sepatu yang dikenakan oleh Shallimar . Dhanny merapikan pakaian Shalimar dan menyelimuti Shalimar dengan lembut.


Shalimar menggumam dengan tidak jelas dan merasa tidak nyaman.


"Shally , apa kau ingin minum air putih?" Tanya Dhanny sambil duduk di tepi tempat tidur.


Shalimar menggelengkan kepalanya dan terduduk seketika.


"Kau ingin muntah?" Tanya Dhanny sambil membelai punggung Shalimar .


Shalimar mengangguk kemudian turun dari tempat tidur dengan cepat. Dengan keadaan setengah sadar , Dhanny dengan cepat membantu Shalimar berjalan kearah kamar mandi .


Sesampainya dikamar mandi , Shalimar mendorong Dhanny untuk menjauh dan berjalan sendiri kearah kloset untuk memuntahkan isi perutnya. Dhanny hanya berdiri dibelakang Shalimar dan tetap mengawasi Shalimar , berjaga-jaga jikalau Shalimar membutuhkan pertolongannya.

__ADS_1


Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya , dengan susah payah Shalimar berdiri dan berjalan kearah wastafel. Shalimar membuka kran wastafel dan mulai membersihkan mulutnya dan berkumur .


Tanpa mengatakan apapun , Dhanny membantu Shalimar untuk berdiri dengan benar dan berjalan kembali ke tempat tidur.


"Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Dhanny sambil merapikan rambut Shalimar yang berantakan.


Shallimar melihat kearah Dhanny sambil menyipitkan matanya , berusaha untuk berkonsentrasi dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Calon suamiku." Kata Shalimar sambil tersenyum lebar dan menangkup wajah Dhanny dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau begitu baik kepadaku , kau membuatku menjadi semakin bimbang , aku semakin tidak ingin melepaskanmu. Aku harus bagaimana?"


"Jangan lepaskan." Jawab Dhanny sambil tersenyum dan menyentuh tangan Shalimar yang berada diwajahnya.


"Tapi aku takut. Aku takut akan terluka lagi , aku takut kau juga akan meninggalkanku pada akhirnya. Dari awal kau memiliki kebohongan kepadaku, kenapa aku tidak membencimu? Aku membenci diriku sendiri karena hal itu." Kata Shalimar dengan tatapan yang tidak fokus.


"Aku tidak akan meninggalkanmu.Tidak akan pernah." Balas Dhanny dengan lembut.


"Kenapa kau mau melepaskan semua yang kau miliki? Kenapa kau membuat aku merasa bersalah akan semua yang sudah kau lakukan?" Protes Shalimar.


"Karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah pernah kehilanganmu dulu bahkan belum sempat mengutarakan isi hatiku. Aku hanya memiliki kesempatan ini dan aku tidak akan melewatkannya. Sekalipun aku kehilangan semua yang aku miliki , aku tidak ingin kehilanganmu." Jawab Dhanny sambil mengusap helai rambut Shalimar yang jatuh di dahi Shalimar.


"Kau hanya merasa penasaran saja, kau ... Jika kau sudah memilikiku maka kau akan bosan. Selalu seperti itu pada akhirnya." Shalimar menghela napas pendek dan melepaskan tangannya dari wajah Dhanny.


"Apa aku seperti itu dimatamu?" Tanya Dhanny sambil menggenggam tangan Shalimar.


"Aku tidak tahu. Aku tidak yakin akan apa yang aku pikirkan dan percayai. Aku ingin melepaskanmu , tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu. Aku .. Kenapa aku begitu bodoh dalam hal ini?" Shalimar tertawa mengejek untuk dirinya sendiri.


"Apa yang bisa kulakukan agar kau mempercayai jika aku benar-benar tulus kepadamu? Aku tidak hanya sekedar memiliki perasaan penasaran akan memilikimu?" Tanya Dhanny dengan sabar.


"Apa yang kau pikirkan ketika kau ingin menikahiku?" Shalimar membalas pertanyaan Dhanny dengan pertanyaan yang selama ini ia pendam dalam hatinya.


"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.Membangun keluarga kecil bersama , bertengkar denganmu lalu berbaikan kembali , mendengarkan celotehanmu jika aku pulang terlambat atau kau sedang menginginkan sesuatu tapi aku tidak peka. Jika kita hanya berdua , kita akan menikmati setiap detik dengan saling menyayangi dan bersyukur akan apa yang sudah kita lewati selama ini. Itu yang selalu aku bayangkan selama ini." Jawab Dhanny sambil membelai rambut Shalimar dengan lembut.


Shalimar memandang Dhanny dengan mata yang teduh , jika memang Dhanny mencintainya dengan tulus , Dhanny akan menjaganya sepanjang hidupnya. Jawaban yang diberikan Dhanny membuat Shalimar hilang kendali akan pikirannya sendiri. Shalimar menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata.


"Shally ada apa?" Tanya Dhanny dengan khawatir.


"Menjauhlah dariku , Dhan." Gumam Shalimar dengan lirih sambil mendorong tubuh Dhanny dengan kedua tangannya , dorongan tangan Shalimar sama sekali tidak memiliki tenaga.


"Aku tidak mau." Tandas Dhanny dengan cepat dan menahan siku Shalimar.


"Mundurlah." Kata Shalimar tanpa melihat kearah Dhanny. Namun Dhanny sama sekali tidak bergeming.


"Aku akan lepas kendali jika kau terus begini." Shalimar akhirnya menengadah dan melihat Dhanny.


Matanya bertemu dengan mata Dhanny. Dhanny juga tidak mengalihkan pandangannya dari Shalimar , seakan mata mereka terkunci. Sorot mata Shalimar yang sayu dan hangat membuat Dhanny juga merasakan panas ditubuhnya , jantungnya berdetak dengan kencang.


Shalimar menarik kerah kemeja Dhanny , membuat wajah Dhanny mendekat pada wajahnya. Shalimar mencium bibir Dhanny dengan cepat , Dhanny terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shalimar kepadanya. Shalimar semakin memperdalam ciumannya, membuat Dhanny tidak bisa menolak apa yang diberikan oleh Shalimar. Dhanny membalas ciuman Shalimar dengan sama panasnya.


Dhanny menekan leher belakang Shalimar dengan tangan kanannya. Napas Dhanny makin memburu seirama dengan napas Shalimar. Shalimar meraih kancing baju Dhanny dan berusaha melepaskannya dari tempatnya.


Dhanny sempat kehilangan kendali dan hendak melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Shalimar. Dengan susah payah Dhanny menarik dirinya dari Shalimar. Menolak bibir Shalimar yang hangat dan menggoda. Dhanny menahan bahu Shalimar dengan tangannya ,menjauh dari tubuh Dhanny.


Shalimar memandang sayu kearah Dhanny.


"Kau, tidak menginginkanku? Bukankah kau bilang ingin memilikiku?" Tanya Shalimar sambil menyentuh wajah Dhanny yang terasa panas.


"Tidak seperti ini." Jawab Dhanny tanpa bergerak dari posisinya.


Dhanny memberanikan diri melihat kearah Shalimar.


"Aku ingin memilikimu , bukan hanya tubuhmu . Aku juga ingin hatimu , seluruhnya untukku. Sebelum aku menikahimu , aku tidak akan memanfaatkan keadaan seperti saat ini." Kata Dhanny dengan mata yang memandang tajam kearah Shalimar.


Shalimar tersenyum lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat diantara remang cahaya kamar Dhanny.


"Kenapa kau begini manis?" Tanya Shalimar lalu memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya dipundak Dhanny.


Shalimar tertidur.


Dhanny menghela napas panjang. Memejamkan matanya . Menghitung satu sampai sepuluh , menenangkan pikirannya yang hendak lepas kendali. Dengan tenang Dhanny merebahkan Shalimar dengan posisi yang nyaman di tempat tidur miliknya. Dhanny menarik selimut untuk menutup tubuh Shalimar.


"Aku tidak akan memanfaatkanmu hanya karena aku ingin memilikimu." Kata Dhanny dalam hati sambil membelai rambut Shalimar.


Kemudian Dhanny berdiri dan berjalan meninggalkan kamar tidur dan menutup pintu kamar dengan tenang.


-------------


Shalimar sudah meninggalkan rumah Dhanny ketika Dhanny masih tertidur. Dan meninggalkan sebuah catatan untuk Dhanny jika Shallimar ingin menenangkan dirinya sendiri untuk saat ini dan akan menghubungi Dhanny jika dirinya sudah siap dan tenang.


"Dimana Shally?" Tanya Mei ketika datang kerumah Dhanny untuk menemui Shalimar.


"Dia sudah pergi." Jawab Dhanny dengan tenang.


"Kau membiarkan dia pergi lagi?" Protes Mei kepada Dhanny.


"Dia tidak akan pergi ,dia akan kembali." Jawab Dhanny dengan santai tanpa menunjukkan kekalutan dalam hati yang ia rasakan.


Dhanny berusaha meyakinkan dirinya jika Shalimar akan kembali kepadanya ,hanya saja Shalimar membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya saat ini.


"Bagaimana jika ia tidak kembali? Pernikahan kalian tinggal menunggu besok lusa. Jika Shally tetap tidak memberi kabar , lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Mei sambil duduk dengan frustasi.


"Dia akan datang. Aku akan menunggunya." Dhanny meremas kertas yang ditinggalkan oleh Shalimar.

__ADS_1


Sekarang Dhanny juga harus menenangkan dirinya juga dan mulai mempersiapkan hal-hal buruk yang akan terjadi di acara pernikahannya nanti.


-------------


__ADS_2