No Regrets

No Regrets
Bab 14


__ADS_3

Ayah dan ibu Dhanny saling menatap ketika Dhanny mengatakan akan menikahi Shalimar.


"Apa kau sedang bercanda?" Tanya ayah Dhanny dengan wajah yang begitu tegas dan terkejut.


Ayah Dhanny berusia sekitar 60 tahunan namun tidak memiliki uban sama sekali dan juga bertubuh tegap.


Ibu Dhanny memejamkan mata sejenak berusaha menenangkan diri dari apa yang di utarakan Dhanny kepadanya.


"Kau sudah menyelesaikan masalah yang kau buat dengan Eva dan keluarganya?" Tanya ibu Dhanny.


"Kau mengetahui masalah ini?" Ayah Dhanny memandang tajam kearah istrinya.


"Orangtua Eva sudah menghubungiku tentang hal ini , mereka tidak ingin keluarga kita berhubungan lagi dengan mereka." Jawab ibu Dhanny dengan bijak , tidak mengungkit apa yang ia ketahui sebelum orangtua Eva memutuskan hubungan antara Eva dan Dhanny.


"Kau tidak memberitahukan hal sepenting ini kepadaku? Dan aku harus mengetahui hal sepenting ini dengan hal yang baru?" Protes ayah Dhanny.


"Aku hendak memberitahukannya kepadamu. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini." Ibu Dhanny berusaha menenangkan suaminya dan ingin menetralkan situasi.


"Kenapa situasinya jadi begini? Bukankah sebelumnya situasinya baik-baik saja? Semuanya berjalan lancar. Kenapa sekarang menjadi seperti ini?" Tanya ayah Dhanny dengan bingung sambil melihat kearah istrinya dan juga Dhanny.


"Sejak awal aku tidak ingin menikahi Eva, Pa. Keadaan yang membuat aku harus menyetujui untuk menikahinya. Aku ingin pernikahanku menjadi sekali seumur hidupku. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan itu bukan Eva." Jawab Dhanny dengan memberanikan diri dihadapan ayahnya.


"Lalu siapa yang akan kau nikahi? Apa aku mengenalnya? Apa dia berasal dari keluarga yang berada dan juga bagaimana asal usulnya? Apa statusnya? Apa dia belum pernah menikah atau seorang janda?" Tanya ayah Dhanny merasa ingin mengetahui latar belakang wanita yang menjadi pilihan putranya.


"Dia hanyalah wanita biasa yang aku cintai sejak dulu. Kami baru bertemu kembali. Dia tidak memiliki latar belakang yang sama dengan kita. Dan aku mohon agar papa dan mama merestui pernikahanku dan dia." Kata Dhanny sambil berharap ayah dan ibunya akan merestui pernikahannya dengan Shalimar , Dhanny juga tidak mengungkapkan status Shalimar didepan kedua orangtuanya.


"Dhan , dengarkan papa. Kamu harus mengetahui latar belakang seseorang yang akan kamu nikahi. Pernikahan bukanlah suatu permainan, pernikahan tidak sama dengan berpacaran. Kalau dia tidak berasal dari keluarga yang baik , dia tidak akan bisa menjadi pendamping hidup yang baik untukmu nantinya. Bisa saja dia hanya memanfaatkanmu setelah mengetahui latar belakangmu dan keluargamu." Kata ayah Dhanny berusaha untuk meyakinkan Dhanny akan pilihan yang sudah Dhanny buat.


"Aku tidak akan salah memilih , Pa. Aku mencintainya sejak lama . Aku mendapatkannya dengan susah payah kali ini. Aku tidak akan melepaskannya." Balas Dhanny dengan tatapan mata yang tegas akan keputusannya.


"Bagaimana jika kami tidak menyetujuinya?" Tanya ayah Dhanny sambil menyilangkan kakinya.


"Aku akan tetap menikahinya. Dan aku akan terus memohon restu dari papa dan mama sampai papa dan mama merestui kami berdua." Jawab Dhanny tanpa ragu.


Lama ayah dan ibu Dhanny terdiam. Ayah Dhanny berdeham memecahkan kesunyian yang tercipta.


"Aku tidak menyetujuinya." Kata ayah Dhanny singkat.


Dhanny membelalakkan matanya , seharusnya ia bisa menyangka jika ayahnya tidak akan semudah itu menyetujui pernikahan yang ia inginkan setelah pernikahannya dengan Eva sudah dalam hitungan bulan.


"Pa.."


"Aku akan menyetujuinya jika kau mau merelakan semua yang kamu miliki selama ini dan menyerahkan semuanya kepadaku. Harta, jabatan , dan juga seluruh inventaris yang kamu miliki selama ini. Semuanya berasal dariku , dari perusahaan yang aku dirikan. Jika kamu merelakan semuanya dan bisa hidup mandiri dengan wanita yang kau cintai , aku akan menyetujui pernikahanmu." Kata ayah Dhanny memotong protes yang hendak Dhanny lontarkan.


"Apa?" Tanya Dhanny merasa bingung dengan apa yang ayahnya katakan.


"Jika kau bisa memenuhi syarat itu , kau bisa mendapatkan ijinku dan juga ibumu untuk menikahi wanita yang sudah kau pilih." Jawab ayah Dhanny sambil menatap lurus kearah Dhanny seakan memberikan Dhanny tantangan yang harus Dhanny ambil jika dirinya ingin mendapatkan restu demi menikah dengan Shalimar.


Dhanny berpikir sejenak. Dhanny tahu apa yang dipikirkan oleh ayahnya. Namun Dhanny tidak tahu apa yang akan Shalimar lakukan jika Shalimar mengetahui ia tidak memiliki apapun ketika mereka menikah nantinya. Shalimar mungkin saja akan meninggalkan dirinya , namun mungkin juga tidak. Shalimar tidak pernah memandang dirinya dari segi harta. Dhanny sedang bertaruh kali ini dan Dhanny harus memutuskan hal ini dengan cepat. Dhanny sangat memahami ayahnya yang begitu cepat dan sigap dalam segala tindakan.


"Baiklah." Jawab Dhanny pada akhirnya dengan meyakinkan dirinya sendiri.


"Tapi , rumah yang aku tempati adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku tidak akan menyerahkan rumah itu pada papa." Lanjut Dhanny mencoba untuk bernegosiasi dengan ayahnya.


"Jika kalian menikah , kalian akan tinggal bersama kami." Kata ayah Dhanny tidak menerima negosiasi dari Dhanny.


"Aku tidak ingin istriku berada dibawah tekanan keluarga barunya. Aku tidak ingin dia merasa tertekan dan tidak bahagia. Aku menikahinya untuk membuatnya bahagia , bukan untuk memberikannya beban baru dalam hidupnya." Tolak Dhanny dengan tegas.


Dhanny tidak ingin mengulang kesalahan yang dilakukan oleh Rendy terhadap Shalimar. Dhanny sudah menjanjikan hal itu pada Shalimar dan ibu Shalimar. Dhanny tidak akan mengingkarinya.


"Baiklah." Kata ayah Dhanny sambil menghela napas melihat betapa teguh Dhanny akan keputusan yang sudah ia ambil kali ini.


"Rumah itu tetap milikmu. Selebihnya adalah milikku. Dan kau tidak memiliki hak untuk memintanya kembali." Lanjut ayah Dhanny dengan serius.


Dhanny mengangguk dengan yakin. Ayah Dhanny melihat istrinya dari sudut matanya.


"Kapan kau akan membawa calon pengantinmu kepada kami?" Tanya ayah Dhanny.


"Besok." Jawab Dhanny dengan senyuman yang terukir begitu saja diwajahnya.


"Aku ingin papa dan mama datang berkunjung kerumah orangtua Shally untuk mengadakan lamaran resmi."


"Apa? Kau sudah gila? Besok? Kami harus datang dan melamar wanita yang ingin kau nikahi? Kami saja belum mengenal seperti apa wanita yang akan menikah denganmu." Protes ayah Dhanny.


"Aku ingin pernikahan kami segera diadakan , aku tidak ingin calon istriku mendapatkan fitnah dari apa yang sudah aku putuskan kali ini." Kata Dhanny mencoba memberikan alasannya kepada ayah dan ibunya.


"Fitnah apa yang akan terjadi jika kau tidak mempercepat pernikahanmu dengannya?" Tanya ibu Dhanny kali ini.


"Mama tahu bagaimana sifat Eva , dia sudah pasti akan berbuat ulah. Aku tidak ingin calon istriku mendapatkan fitnah akan apa yang nantinya dilakukan oleh Eva." Jawab Dhanny kepada ibunya.


Ibu Dhanny mengerti bagaimana sifat Eva , apalagi setelah Dhanny memutuskan hubungannya dengan Eva secara sepihak. Ibu Dhanny bisa melihat kesungguhan Dhanny kepada wanita yang dicintai oleh Dhanny. Dhanny anak yang tertutup akan kehidupan pribadinya , namun ibu Dhanny pernah mengetahui jika putranya itu jatuh hati dan patah hati begitu dalam dengan seorang wanita , dan wanita itu yang ia temui ketika ia datang kerumah Dhanny karena ajakan Eva.


"Aku tidak hanya ingin papa dan mama merestui kami . Aku ingin melangsungkan pernikahan kami secepatnya. Aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya." Pinta Dhanny dengan mata memohon yang ia tidak bisa kendalikan.


Ayah dan ibu Dhanny sempat terkejut melihat putra mereka harus melakukan hal seperti ini demi seseorang. Ini kali pertama mereka melihat Dhanny memohon sampai rela memberikan apa yang ia miliki.


"Kami akan menemui orangtua calon istrimu , tapi tidak besok. Kami juga akan menyiapkan beberapa hal yang pantas untuk acara lamaran yang akan kita lakukan. Bagaimanapun juga kau akan mengambil alih putri mereka dan akan bertanggungjawab penuh atas hidupnya setelah kalian menikah. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan." Kata ayah Dhanny kali ini melihat kearah lain selain Dhanny.


"Aku akan menunggu kabar dari papa dan mama." Kata Dhanny sambil tersenyum lebar.


"Terimakasih Pa, Ma ." Lanjut Dhanny tanpa mengurangi senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Siapa namanya?" Tanya ayah Dhanny dengan enggan.


"Shalimar." Jawab Dhanny dengan wajah yang berseri-seri.


"Bawalah dia kemari besok. Bagaimanapun kami juga ingin mengenal orang yang akan menikah denganmu." Lanjut ayah Dhanny.


"Baik , Pa. Aku akan membawa Shally kemari besok." Jawab Dhanny tanpa berpikir panjang.


Yang paling penting adalah orangtunya menyetujui pernikahannya dengan Shalimar. Itu sudah cukup untuk Dhanny.


Dhanny berpamitan kepada kedua orangtuanya setelah mereka memberikan restu untuk pernikahannya dengan Shalimar.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan hal itu kepada putra kita sendiri. Dia putra kita satu-satunya. Kau tega mengambil semua dari putra kita." Protes ibu Dhanny kepada ayah Dhanny setelah Dhanny pergi dari kediaman mereka.


"Aku harus tahu bagaimana wanita itu mencintai putra kesayangan kita. Dhanny bahkan rela memberikan semua yang ia miliki , lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa dia masih mau menerima Dhanny bahkan jika Dhanny tidak memiliki apapun saat ini , kecuali rumah yang Dhanny miliki saat ini. Kita harus melihat bagaimana dia mencintai Dhanny kita? Dhanny sungguh-sungguh mencintai wanita ini bahkan begitu buta akan semuanya hanya demi bisa menikah dengan wanita ini." Jawab ayah Dhanny dengan bijak.


"Dhanny putra kita, tapi dia juga seorang pria yang harus bertanggungjawab akan putri oranglain setelah menikahinya. Jika ia bersih keras untuk menikahinya bahkan harus memutuskan untuk menyelesaikan hubungannya dengan keluarga Eva , kita harus melihat bagaimana dia bisa meyakinkan kita tentang wanita yang ia pilih untuk menjadi istrinya."


Ibu Dhanny menganggukkan kepalanya , mulai memahami apa maksud dari suaminya kepada Dhanny.


"Dhanny , anak yang baik. Dia benar-benar mencintai wanita itu. Semoga saja wanita itu juga mencintai Dhanny dengan tulus." Gumam ibu Dhanny yang terdengar oleh suaminya.


Ayah Dhanny merangkul pundak ibu Dhanny dengan hangat sambil menghela napas panjang.


-------------


Mei terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Shalimar kepadanya. Shalimar akan menikah dengan Dhanny. Hal itu seharusnya tidak mengejutkan untuk Mei , namun Mei merasa jika hal ini terjadi begitu cepat. Mei harus mengakui kemampuan Dhanny dalam mengejar Shalimar patut diacungi jempol. Langkah yang diambil Dhanny benar-benar diluar dugaan Mei.


Dhanny akan menikah dengan Shalimar dalam waktu dekat ini. Dan Rendy juga mengetahui hal itu. Mei takut jika Rendy akhirnya mengacaukan pernikahan Shalimar dan Dhanny.


"Mei? Apa kau mendengarkanku?" Tanya Shalimar ketika Mei tidak memberikan jawabannya kepada Shalimar lewat telepon.


"Iya , aku mendengarkanmu." Jawab Mei dengan sedikit terbata-bata.


"Lalu , bagaimana denganmu? Apa kau juga ingin menikah dengan Dhanny?" Tanya Mei mencoba meyakinkan Shalimar.


"Apa aku harus mengakuinya? Sejujurnya aku menyukainya sejak awal kami bertemu sewaktu dia bersama Eva. Kau tentunya sudah mengetahui hal itu. Aku juga merasa ragu akan perasaanku sendiri dan juga statusnya sebagai klien istimewaku saat itu. Tapi dia menghancurkan setiap keraguanku kepadanya. Setiap kali aku merasa ragu , dia selalu memiliki cara tersendiri untuk menjelaskan kepadaku bahkan tanpa perkataan. Aku hanya takut jika aku bersandar padanya, aku akan merasa kecewa lagi. Aku juga tidak tahu pendapat keluarganya tentangku. Mamaku juga mengatakan kepada Dhanny agar merahasiakan statusku untuk sementara kepada orangtua Dhanny. Begitupun juga tentang Aabid. Lalu aku harus bagaimana, Mei?" Tanya Shalimar terdengar begitu bingung akan apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Mungkin itu memang yang terbaik untukmu saat ini , Shally. Kau harus meraih kebahagiaanmu sendiri untuk saat ini. Rendy dan keluarganya tidak akan semudah itu memberikan hak asuh Aabid kepadamu. Jangan menantikan hal yang belum pasti. Kau sudah cukup menunggu. Atau mungkin kau masih mencintai Rendy?" Balas Mei dengan bijak.


"Aku tidak akan mengingkarinya. Tidak semudah itu melupakan cintaku kepada Rendy. Kami sudah bersama selama beberapa tahun ini. Kami juga memiliki Aabid. Tidak semudah itu menghilangkan perasaanku kepada Rendy. Hanya saja mungkin tingkatnya berbeda daripada dulu. Apa aku sudah gila mencintai dua pria dalam hidupku?" Entah mengapa kali ini Shalimar berkata yang sejujurnya kepada Mei.


"Tidak ada yang salah dengan hal itu, kau sudah lama tidak merasakan Rendy disampingmu seperti sebelum kalian menikah. Kemudian kau bertemu dengan Dhanny dan kau jatuh cinta dengan Dhanny dan semua perlakuannya kepadamu. Wajar saja jika kau akhirnya memiliki perasaan yang lebih untuk Dhanny , perasaan nyaman yang kau miliki ketika bersama dengan Rendy dulu. Dhanny tidak sedang merebutmu dari Rendy dan kau juga tidak sedang berpaling dari Rendy . Tapi Rendy yang meninggalkanmu terlebih dahulu." Jawab Mei dengan tenang namun meyakinkan.


"Rendy mengatakan jika dia memiliki alasannya sendiri ketika dia berusaha menjaga jarak denganku. Dia berusaha menebus kesalahannya selama ini , tapi mengapa aku tidak bisa menerima hal itu? Seharusnya aku bisa menerimanya dan menunggunya sebentar lagi seperti yang ia janjikan. Tapi aku merasa seperti aku mengkhianati Dhanny. Rend bahkan mengatakan tidak akan pernah menceraikanku , dia mengatakan hal itu juga jelas didepan mamaku." Kata Shalimar sambil berusaha menemukan jawaban didalam hatinya.


"Kapan kau akan membuka hatimu dengan jujur? Kapan kau akan melepaskan hatimu dari ikatan yang kau buat sendiri dan tersiksa sendiri karenanya?" Mei merasa dirinya harus mendorong Shalimar agar segera menikah dengan Dhanny.


"Aku.. Aku hanya tidak percaya kepada diriku sendiri. Bisakah aku menerima Dhanny dan bahagia? Tanpa Aabid? Dan menutupi statusku kepada orangtua Dhanny?" Shalimar menanyakan hal itu seakan bukan untuk Mei melainkan untuk dirinya sendiri.


"Dhanny tidak akan mengecewakanmu. Aku juga mengetahui hal itu sedari dulu. Ia sudah menyukaimu dan mengerti akan apa yang kau inginkan meskipun kau sama sekali tidak melihat kepadanya. Dan ia masih mencintaimu bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. Mungkin saat ini dia tidak bisa menerima Aabid , tapi aku yakin suatu saat ia akan bisa menerima Aabid. Dia tidak akan membiarkanmu bersedih. Dan seharusnya kau bisa memilih dengan tepat kali ini. Jarang ada lelaki seperti Dhanny." Jawab Mei dengan sedikit memprovokasi Shalimar.


Shalimar terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Mei. Mungkin dirinya tidak seharusnya menyia-nyiakan Dhanny. Betapa banyak yang Dhanny korbankan untuknya selama ini. Walau tanpa Dhanny menjelaskan kepada dirinya , segala yang Dhanny lakukan sudah cukup banyak membuktikan hal itu kepada Shalimar. Dhanny tidak pernah menjelaskan apapun kepada Shalimar , namun segala yang terjadi sudah membuktikan hal itu.


"Mungkin kau benar , Mei. Mungkin aku memang harus menerima Dhanny dan membuka hatiku untuknya , mempercayakan semua kepada Dhanny."Kata Shalimar pada akhirnya.


Kali ini Shalimar bukan menyerah tapi mencoba untuk percaya kepada dirinya sendiri dan juga menghargai apa yang sudah Dhanny lakukan untuknya. Ibu Shalimar juga sudah menyetujui pernikahan mereka. Sekarang tinggal orangtua Dhanny yang harus menyetujui pernikahan mereka. Jika orangtua Dhanny tidak menyetujui pernikahan mereka , maka Shalimar akan mundur dengan segera.


--------------


Dhanny menemui Shalimar ketika pagi menjelang dan Shalimar hendak berangkat bekerja . Shalimar sempat terkejut ketika membuka pintu dan mendapati Dhanny berdiri disana.


"Kau .. Kenapa datang pagi-pagi sekali?" Tanya Shalimar secara spontan ketika melihat Dhanny berada disana.


"Aku ingin bertemu dengan ibumu." Jawab Dhanny dengan wajah yang terlihat tegang dan sangat serius.


"Tidak. Aku ingat ibumu sedang berada di rumah sakit. Aku ingin kita datang kesana bersama-sama. Ada yang ingin aku katakan kepada ibumu dan juga dirimu." Kata Dhanny dengan wajah yang begitu serius.


"Baiklah. Aku akan bersiap sebentar lagi. Apa kau tidak keberatan untuk menunggu?" Tanya Shalimar sambil menunjuk kearah kamarnya , mencoba memberikan isyarat kepada Dhanny untuk menunggunya mengambil beberapa peralatan yang perlu ia bawa hari ini.


Dhanny menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam rumah Shalimar , duduk di kursi ruang tamu dengan ekspresi tidak tenang. Sekilas Shalimar melihat ekspresi di raut wajah Dhanny dan langsung menyimpulkan pendapat orangtua Dhanny tentangnya juga pernikahan yang diinginkan oleh Dhanny.


Setelah Shalimar mengambil tas dari kamar , dengan cepat Dhanny berdiri dari duduknya.


"Kita berangkat sekarang." Kata Dhanny kemudian berjalan mendahului Shalimar keluar dari rumah Shalilmar.


Shalimar sama sekali tidak mengungkit tentang rencana pernikahan mereka. Shalimar tidak menyangka jika akan menjadi secanggung ini keadaannya.


"Ayah dan ibuku menyetujui pernikahan kita." Kata Dhanny membuka pembicaraan seakan tahu apa yang di pikirkan oleh Shalimar saat ini.


Mendengarkan perkataan Dhanny , Shalimar langsung melihat kearah Dhanny. Sebuah pernyataan yang tidak terduga , diluar pikiran Shalimar semenjak tadi.


"Benarkah?" Tanya Shalimar berusaha untuk meyakinkan dirinya.


"Benar." Jawab Dhanny sambil mengangguk singkat.


"Dengan syarat." Lanjut Dhanny dengan wajah tegang,


Dalam hati Dhanny benar-benar berharap Shalimar tidak akan meninggalkannya sekalipun ia tidak memiliki apa-apa lagi setelah mereka menikah.


"Syarat apa ?" Shalimar merasa frustasi akan Dhanny yang tidak langsung bicara pada intinya.


Apakah orangtua Dhanny mengetahui status Shalimar yang sebenarnya atau orangtua Dhanny menginginkan sesuatu dari Shalimar. Shalimar benar-benar hanya memikirkan dua hal itu saat ini. Apa dirinya akan mengalami kehidupan pernikahan seperti dengan Rendy dulu?


"Orangtuaku menyetujui pernikahan kita dengan syarat ... Aku harus melepaskan semua yang aku miliki selama ini. Perusahaan juga aset-aset yang aku miliki ." Jawab Dhanny tanpa melihat kearah Shalimar.


Lama Shalimar memandang diam kearah Dhanny. Dhanny merasa tidak nyaman dengan reaksi Shalimar. Kali ini sekalipun Shalimar hendak meninggalkannya , Dhanny akan bersihkeras untuk bertahan. Dhanny menepikan mobil yang ia kendarai dan berhenti di pinggir jalan.


"Shally , aku akan berusaha keras meskipun aku akan memulainya dari nol lagi. " Dhanny berusaha meyakinkan Shalimar sambil menyentuh tangan Shalimar.


"Apa hanya itu?" Tanya Shalimar dengan tatapan yang tidak bisa dipahami oleh Dhanny.


"Tidak , aku akan sukses walaupun tanpa perusahaan milik orangtuaku."


"Bukan.. Bukan itu maksudku." Kata Shalimar sambil mengernyitkan keningnya.


Kali ini Dhanny yang tidak memahami maksud Shalimar.


"Apa hanya itu persyaratan dari orangtuamu?" Tanya Shalimar kepada Dhanny yang masih bingung dengan arah pembicaraan Shalimar.


Dhanny menganggukkan kepalanya , mengiyakan pertanyaan Shalimar. Karena memang hanya itu persyaratan yang diinginkan oleh orangtua Dhanny untuk merestui pernikahan mereka.


Shalimar tersenyum lebar mengetahui hanya itu persyaratan dari orangtua Dhanny.


"Aku kira apa persyaratannya." Kata Shalimar sambil tertawa kecil yang lolos dari senyuman lebarnya.

__ADS_1


"Kau.. Tidak keberatan?" Tanya Dhanny sambil menggenggam erat tangan Shalimar.


"Kenapa aku keberatan dengan itu? Apa kau pikir aku wanita yang seperti itu? Seperti itukah kau melihatku?" Balas Shalimar menarik tangannya dari genggaman Dhanny.


"Bukan , tidak .. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kau akan tidak nyaman dengan kondisiku yang tidak lagi sama seperti saat ini." Dhanny merasa bersalah akan apa yang ia pikirkan tentang Shalimar.


"Itu artinya kau berpikir aku adalah seseorang yang seperti itu." Timpal Shalimar sambil menaikkan alisnya.


"Bukan begitu.." Dhanny menghela napasnya antara lega dan juga mencoba meluruskan perdebatan barunya dengan Shalimar.


"Sudahlah. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini." Kata Shalimar dengan ringan sambil menarik napas panjang.


"Kau marah?" Tanya Dhanny dengan lembut.


"Tidak." Jawab Shalimar singkat sambil melihat kearah keluar jendela yang ada disampingnya.


"Baiklah, kau marah." Gumam Dhanny kemudian mulai memindahkan persneling mobilnya dan mulai nginjak gas dan mulai melajukan kembali mobilnya menuju kerumah sakit tempat ibu Shalimar dirawat.


"Aku tidak marah." Balas Shalimar yang mendengarkan gumaman Dhanny sambil memandang tajam kearah Dhanny.


"Kau jelas-jelas marah." Balas Dhanny ringan , kali ini Dhanny terlihat lebih santai daripada sebelum Dhanny mengatakan persyaratan dari orangtuanya kepada Shalimar.


"Dhan , hentikan. Aku tidak marah. Kalau kau mengatakan hal ini terus , aku benar-benar marah." Kata Shalimar mulai merasakan emosinya tersulut oleh Dhanny.


"Baiklah , kau marah." Gumam Dhanny lagi sambil tersenyum.


Entah mengapa Dhanny menikmati perdebatannya dengan Shalimar pagi ini. Sesuatu yang ia inginkan , selama ini hubungan mereka sangat platonis dan kaku , tidak seperti pasangan pada umumnya. Perdebatan kecil ini sungguh membuatnya menjadi dekat dan sedikit membuka hati Shalimar untuknya.


-----------------


Ibu Shalimar menyambut dengan begitu antusias akan berita yang disampaikan oleh Dhanny kepadanya. Reaksi ibu Shalimar pun sama seperti Shalimar tentang persyaratan yang diminta oleh kedua orangtua Dhanny.


Dhanny juga mengatakan kepada ibu Shalimar jika kedua orangtuanya akan segera menemui ibu Shalimar untuk membicarakan tentang pernikahan dirinya dan Shalimar. Dhanny juga mengatakan jika semua persiapan yang perlu disiapkan oleh ibu Shalimar sudah Dhanny siapkan. Ibu Shalimar hanya perlu menunggu kedua orangtua Dhanny datang melamar Shalimar. Kemungkinan besar kedua orangtua Dhanny akan mengunjungi ibu Shalimar setelah ibu Shalimar dinyatakan benar-benar sehat dan keluar dari rumah sakit.


Shalimar tanpa sadar melihat kearah Dhanny semenjak Dhanny berbicara dengan ibunya. Entah mengapa Shalimar merasa Dhanny begitu berbeda kali ini dimatanya. Dhanny begitu ingin bersama dengannya , ia rela memberikan semua kemewahan yang ia miliki kepada kedua orangtuanya hanya untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Dhanny juga mau bersabar menunggu hingga kesehatan ibu Shalimar pulih kemudian mengadakan acara lamaran resmi Dhanny untuknya.


Shalimar juga bisa merasakan jika dirinya mulai bisa membuka sedikit pintu hatinya untuk Dhanny . Merasakan bisa memberikan kepercayaan kepada Dhanny. Mungkin memang benar dirinya harus membuka hatinya kali ini dengan lelaki yang tepat , seperti Dhanny. Mungkin Shalimar juga harus lebih berani menunjukkan perasaan yang ia miliki pada Dhanny.


----------------


Rendy tidak mau menyerah akan Shalimar. Dengan mengesampingkan egonya , Rendy mencoba menemui Mei untuk bisa membujuk Shalimar agar tidak menikah dengan Dhanny.


Rendy sengaja datang kerumah Mei dan membuat Mei terdiam ,terpaku akan kedatangan Rendy yang begitu tiba-tiba.


"Mei." Kata Rendy ketika Mei hanya melihat kearahnya saat membuka pintu rumahnya.


"Ada apa ? Kenapa kamu datang kemari? Shally tidak berada disini." Jawab Mei sebelum Rendy mengatakan maksud kedatangannya kerumah Mei.


"Aku tahu. Aku ingin bicara denganmu." Kata Rendy dengan ragu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Mei tanpa mempersilahkan Rendy masuk kedalam rumahnya.


"Apa kita bisa membicarakannya didalam?" Tanya Rendy dengan tatapan memohon kepada Mei.


Mei menghela napas panjang dan mundur dari tempatnya berdiri, memberikan ruang bagi Rendy untuk masuk kedalam rumahnya yang mungil.


"Baiklah. Katakan apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Tanya Mei setelah dirinya menutup pintu dibalik tubuhnya.


"Kau pasti sudah mengetahui tentang Shally, dia akan menikah dengan Dhanny." Kata Rendy langsung kepada inti permasalahan yang ingin ia bicarakan.


"Kau ingin aku membujuk Shalimar agar membatalkan pernikahannya dengan Dhanny." Balas Mei dengan cepat.


"Ya." Sahut Rendy sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku menolaknya." Balas Mei dengan cepat.


"Aku tidak ingin orang yang aku sayangi tidak bahagia. Shally menemukan kebahagiaannya kali ini dengan Dhanny. Dan kau ingin aku mengacaukannya. Jangan bermimpi."


"Shally bisa bahagia denganku dan Aabid. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mewujudkan hal itu. Dhanny hanyalah pelarian bagi Shally , ia hanya ingin aku memperhatikannya lebih daripada sebelumnya. Katakan pada Shally , aku bisa mewujudkan apa yang sudah aku janjikan kepadanya dulu. Dhanny tidak akan bisa membahagiakan Shally sepertiku." Kata Rendy mencoba memberikan alasannya kepada Mei.


"Apa kau juga memikirkan hal itu dulu ketika meninggalkanku dan memilih bersama dengan Shally , sahabatku sendiri? Didepan mataku kau memutuskan untuk memilih Shally , aku mencoba merelakannya . Aku berharap kau dan Shally bisa bahagia. Aku merelakannya walaupun itu menyakitkan. Dan seperti apa kau mencoba menjauhkanku dari Shally karena kau takut kehilangan Shally. Namun akhirnya kau hanya membuat Shally menderita sendirian oleh perlakuanmu dan keluargamu. Kau berkata jika kau yang bisa membahagiakan Shally? Apa kau sudah berkaca sebelum mengatakan hal itu didepanku?" Tanya Mei membalas perkataan Rendy.


Mei sengaja membahas masalalu yang pernah terjadi diantara mereka untuk membuat sadar Rendy akan apa yang sudah Rendy lakukan selama ini kepadanya dan juga Shalimar.


"Lalu apakah kau juga tulus menyayangi Shally? Kau tidak memiliki maksud lain untuk Shally selama ini? Kau diam dan menunggu. Kau masih mengharapkanku untuk kembali kepadamu. Kau menunggu saat seperti ini, saat dimana aku dan Shally berpisah. Apa kau kira aku tidak mengetahui hal ini? Kau sengaja mendekatkan Dhanny dengan Shally , kau bersekongkol dengan Dhanny , kau juga tahu bagaimana Dhanny begitu menyukai Shally dulu. Lalu apa Shally sudah mengetahui bagaimana dirimu yang sebenarnya?" Senyuman sinis muncul diwajah Rendy kali ini.


Mei bagaikan tertampar dengan perkataan Rendy.


"Aku mengakui hal itu , aku memang menunggu saat dimana aku bisa mendapatkan hatimu lagi. Aku masih menyimpan perasaan cintaku padamu. Sejujurnya aku juga tidak mengerti akan diriku sendiri ,kenapa aku harus mencintai lelaki sepertimu. Perasaanku untuk Shally juga tulus , terserah kau menganggapnya aku berbohong atau tidak. Aku benar-benar menyayangi Shally seperti saudaraku sendiri. Sampai aku harus merelakanmu untuknya. Dhanny benar-benar mencintai Shally dan dia bisa membuktikan hal itu pada Shally. Bukan hanya sekedar janji yang tidak pernah kau tepati." Wajah Mei sarat akan emosi ketika memberikan jawabannya kepada Rendy.


"Kau mengakuinya." Tawa mengejek terdengar dari mulut Rendy .


Hal itu membuat hati Mei terasa sakit. Seharusnya sejak awal ia tidak merelakan Rendy bersama dengan Shalimar. Seharusnya sejak awal Dhanny lah yang bersama dengan Shalimar.


"Baiklah jika kau tidak ingin membantuku untuk membujuk Shally , aku sendiri yang akan melakukan hal itu." Kata Rendy sambil berdiri dari duduknya.


Rendy berjalan melewati Mei ,


"Pertahankan topengmu itu dihadapan Shally . Setidaknya hal itu bisa membuat Shally merasa memiliki seseorang yang begitu ia percayai selama ini sampai nanti ia mengetahui siapa sebenarnya dirimu." Bisik Rendy kemudian berjalan kearah pintu rumah Mei.


Rendy membuka dan menutup pintu rumah Mei dengan tenang . Namun perasaan Mei tidak tenang sama sekali dengan hal itu. Rendy sudah pasti merencanakan sesuatu sebelum datang kerumahnya. Seharusnya Mei bisa waspada sebelum mengatakan hal itu dihadapan Rendy.


Menyadari ada hal yang tidak benar dengan kedatangan Rendy kali ini , Mei langsung menghubungi Dhanny dengan ponselnya.


"Dhan?" Kata Mei setelah Dhanny menerima panggilan darinya.


"Jangan pernah biarkan Shally sendirian ataupun menerima pesan atau panggilan dari Rendy. Kurasa Rendy akan bergerak mendekati Shally dan mempengaruhi Shally."


"Apa Rendy menemuimu?" Tanya Dhanny dari seberang sana.


"Dia baru saja datang kerumahku . Awalnya dia hanya ingin aku membujuk shally untuk membatalkan pernikahannya denganmu , tapi kemudian ia mulai memancingku untuk hal yang lain. Nanti aku akan menemuimu untuk menceritakan lebih jelasnya. Yang jelas saat ini kau jaga Shallly dengan baik. Firasatku tidak enak tentang hal ini." Jawab Mei dengan penuh kekhawatiran.


"Aku mengerti. Aku juga tidak ingin pernikahanku dengan Shally batal. Aku tidak ingin kehilangan Shally lagi." Balas Dhanny.

__ADS_1


----------------


__ADS_2