
Shalimar baru saja membuka pintu rumahnya dan mendapati Rendy ada diruang tamu sedang duduk bersama dengan adik Shalimar , Kevin. Mereka sedang berbincang-bincang santai sebelum Shalimar membuka pintu rumah dan tetap berbincang-bincang bahkan ketika Shalimar sudah membuka pintu dan masuk kedalam rumah.
Hal itu sudah biasa bagi Shalimar. Seperti seseorang yang tidak dianggap kehadirannya. Sudah bertahun-tahun Shalimar terbiasa akan hal ini walaupun pada tahun awalnnya terasa menyakitkan. Shalimar berjalan kearah kamarnya dan bertemu dengan ibunya.
"Shally, kau sudah pulang? Rendy baru saja datang. Katanya menjemputmu untuk pergi kerumah orangtuanya." Kata ibu Shalimar yang tengah membawa minuman hangat untuk Rendy.
"Aku lelah hari ini , Ma. Dia juga tidak memberitahuku tentang hal ini." Jawab Shalimar dengan malas lalu membuka pintu kamar tidurnya.
Sudah dua tahun Shalimar berpisah rumah dengan Rendy. Shalimar tidak kuat jika harus tinggal satu atap dengan keluarga Rendy. Shalimar hanya menjadi sasaran kata-kata yang selalu menyakitkan hatinya oleh keluarga Rendy. Sementara Rendy sama sekali tidak pernah memperdulikannya ataupun membelanya.
Ketika Shalimar hendak berganti pakaian, ia mendengar suara ketukan pintu kamar tidurnya.
"Boleh aku masuk?" Suara Rendy terdengar dari luar kamar tidurnya.
"Aku akan keluar sebentar lagi." Jawab Shalimar dengan enggan.
Rendy tidak mengindahkan jawaban dari Shalimar dan membuka pintu kamar Shalimar.
"Kau tidak pernah mendengarkanku." Kata Shalimar dengan sinis sambil memakai kaos polos yang sudah terlanjur masuk melewati kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Shalimar setelah mengenakan kaos miliknya.
"Aabid ingin bertemu denganmu." Jawab Rendy sambil duduk di kursi depan meja rias Shalimar.
"Ketika aku ingin bertemu anakku sendiri , kau dan keluargamu tidak mengijinkannya . Sekarang kau tidak memberitahuku sebelumnya dan tiba-tiba datang ingin menjemputku dengan alasan Aabid ingin bertemu denganku." Kata Shalimar dengan sinis kepada Rendy.
"Kau sendiri yang keluar dari rumahku dan memilih untuk tinggal bersama dengan keluargamu. Kenapa kau selalu menyalahkanku akan hal ini? Kau juga yang meninggalkan Aabid." Kata Rendy dengan sedikit emosi kepada Shalimar.
"Mamamu yang tidak mengijinkan aku membawa Aabid. Kau juga tidak pernah membelaku ." Balas Shalimar sambil menutup pintu kamarnya , berharap ibunya dan juga adiknya tidak mendengarkan apa yang sedang ia bicarakan dengan Rendy.
"Siapa yang akan membela seorang istri yang memberontak sepertimu? Kau juga tidak pernah menyayangi Aabid seperti layaknya ibu-ibu yang lain." Rendy mulai mengungkit apa yang sudah dilakukan oleh Shalimar selama pernikahan mereka.
"Istri? Ibu?" Shalimar tidak bisa menahan tawa sinisnya.
"Setelah kita menikah , pernahkan kau menyentuhku? Pernahkah kau memperlakukanku sebagai istrimu seperti suami yang lainnya? Setelah aku melahirkan Aabid , aku bahkan hampir tidak pernah menyentuh Aabid. Pernahkah kau memikirkan posisiku sebagai seorang ibu? Pernahkan kau membelaku ketika aku diinjak oleh keluargamu? Pernahkah kau berpikir apa yang aku alami selama ini?" Tanya Shalimar dengan mengatupkan rahangnya menahan emosinya sebisa mungkin .
"Coba kau pikirkan apa yang akan kau ucapkan sebelum kau mengucapkannya kepadaku. Kau bahkan tidak berhak berada disini bersamaku. Kita juga tidak terikat pernikahan secara sah dimata negara." Lanjut Shalimar ketika Rendy tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.
"Aku hanya menghargaimu sebagai seorang wanita." Jawab Rendy dengan suara yang lirih .
"Jangan membuatku tertawa , Rendy. Jika kau menghargaiku sebagai seorang wanita , kau tidak akan membuatku hamil sebelum kita menikah. Memangnya aku bisa hamil karena ciuman saja?" Tawa sinis Shalimar tercipta kembali karena jawaban Rendy yang tidak pernah masuk akal.
"Lalu kita menikah,kau juga tidak menginginkan pernikahan yang sah secara agama. Kita bahkan hanya menikah secara sirih. Selama kita menikah kau juga tidak pernah menyentuhku. Kau menikahiku hanya karena tanggungjawabmu sebagai ayah kandung Aabid. Kau sebut itu menghargaiku sebagai seorang wanita?" Tanya Shalimar kali ini dengan wajah geram.
"Kau tidak akan mengerti apa yang ada dalam pemikiranku." Jawab Rendy sambil menatap tajam kearah Shalimar.
"Kenapa kau tidak menceraikan aku saja? Talak saja aku . Itu lebih baik daripada aku berada dalam posisi yang menggantung seperti ini." Kata Shalimar yang sudah mulai lelah akan statusnya saat ini.
"Aku memiliki suami tapi aku tidak memilikinya. Statusku dalam kartu identitasku juga belum menikah tapi aku memiliki seorang suami yang bahkan tidak pernah memperdulikanku walau hanya sedikit saja." Lanjut Shalimar membalas tatapan Rendy.
"Kau istriku. Kita menikah sah secara agama. Kenapa kau harus menuntut lebih ketika aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai seorang laki-laki? Aku juga bekerja dengan tekun dan memberimu segala kebutuhanmu , tapi kau memilih untuk bekerja sendiri. Aku juga tidak pernah berselingkuh darimu dan kau yang sering berbuat begitu." Balas Rendy dengan nada yang meninggi.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Shalimar dengan pertanyaan yang mengejutkan bagi Rendy.
"Tentu saja. Kalau tidak mengapa aku menikahimu." Jawab Rendy dengan cepat.
"Kau menikah karena cinta dan karena tanggungjawab adalah dua hal yang berbeda , Ren." Kata Shalimar sambil menghela napas panjang .
"Kau ... Tidak pernah mencintaiku. Aku saja yang selalu menganggap kau mencintaiku sama seperti yang aku rasakan selama aku bersamamu. Tapi pada kenyataannya kau tidak pernah mencintaiku. Apa yang terjadi diantara kita hanyalah sebuah kesalahan saja. Kesalahan anak muda yang dibutakan oleh cinta sesaat. Ketahuilah Rendy , jika cintamu tidak pernah ada untukku." Shalimar menatap mata Rendy yang gelap oleh amarah Rendy .
Shalimar tidak tahu amarah dimata Rendy karena apa . Entah karena kebenaran dalam perkataannya atau Rendy memang sebenarnya mencintainya. Jauh dilubuk hati Shalimar , ia mengharapkan Rendy memiliki setidaknya sedikit kasih sayang untuknya. Shalimar merasa begitu bodoh karena masih mencintai Rendy sekalipun ia berulang kali mencoba mengkhianati Rendy.
"Terserah padamu kau akan ikut denganku atau tidak. Aku hanya memberikan kesempatan untukmu bertemu dengan Aabid. Sudah satu bulan kau tidak menemuinya. Dia juga menanyakan tentangmu beberapa hari ini." Kata Rendy yang mulai meredam emosinya sendiri.
Rendy berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan kamar tidur Shalimar.
"Jika kau memiliki hubungan dengan laki-laki lain lagi jangan sampai Aabid melihat dan mengetahuinya. Setidaknya selamatkan reputasimu didepan anakmu." Kata Rendy sambil membuka pintu kamar Shalimar.
"Jatuhkan talakmu padaku." Shalimar mengucapkan hal itu bahkan diluar kesadarannya.
"Aku pergi dulu. Aku akan bilang pada Aabid kalau kau sedang tidak enak badan." Balas Rendy lalu keluar dari kamar Shalimar tanpa memperdulikan ucapan Shalimar yang terakhir padanya.
Shalimar memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya begitu menyesakkan dan melelahkan baginya menjalani kehidupan seperti ini. Shalimar bahkan kadang berharap ketika Rendy mengetahui dirinya bersama dengan oranglain , Rendy akan menjatuhkan talak untuknya. Tidak ada bedanya ketika Shalimar menjadi istri Rendy ataupun oranglain untuk Rendy. Sekalipun mereka adalah suami istri tapi Rendy tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri barang sedikitpun. Benar memang jika Rendy selalu memenuhi kebutuhannya selama ini. Bahkan ketika ia sudah pindah dari rumah orangtua Rendy , Rendy tetap menafkahinya. Namun Shalimar juga membutuhkan perhatian Rendy sebagai seorang suami. Shalimar berpikir jika mereka berpisah itu akan lebih baik untuk semuanya walaupun hal itu pasti akan menyakitinya. Tidak ada yang tahu betapa besar ia mencintai Rendy selama ini walaupun ia mencoba untuk menghilangkan perasaan cintanya dengan lelaki lain.
-----------------------------------
Taufan terlihat begitu kesal ketika Shalimar datang kekantornya pagi ini. Firasat Shalimar mengatakan jika hal ini berhubungan dengan kliennya kemarin.
"Apa ada yang salah disini?" Tanya Shalimar kepada Taufan yang sedang berwajah murung seperti mendung yang berwarna abu-abu. Begitu kelam.
"Kau sudah tahu masalahnya apa , kenapa kau harus bertanya." Balas Taufan dengan kesal.
Dan benar saja dugaan Shalimar. Pasti Eva kesal pada dirinya yang mendapatkan persetujuan oleh calon suaminya untuk memilih tentang souvenir yang akan mereka pilih sebagai pelengkap untuk acara pernikahan mereka.
"Sebenarnya aku juga tidak mau memilih untuk souvenir itu tapi calon mem.."
"Sekarang mempelai laki-lakinya yang akan mengurus semua hal yang belum kita selesaikan untuk persiapan pernikahan mereka." Kata Taufan yang tidak mendengar kalimat yang diucapkan oleh Shalimar dan langsung memotongnya.
Kata-kata Taufan langsung menghentikan kinerja otak Shalimar. Butuh beberapa detik bagi Shalimar untuk mencerna kata-kata Taufan.
__ADS_1
"Apa?" Shalimar merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
"Calon mempelai prianya yang akan ikut mengurusi persiapan kita tentang pernikahan yang akan mereka gelar. Mereka tetap memakai WO kita tapi kali ini mempelai prianya yang akan turun tangan." Jawab Taufan dengan wajah frustasi.
"Bukankah itu bagus. Mereka masih menggunakan jasa kita?" Tanya Shalimar yang heran dengan ekspresi dari Taufan.
Shalimar mengira jika mereka sudah memutuskan untuk tidak menggunakan jasa dari WO nya dan mereka harus mengembalikan pengembalian dana yang begitu besar karena mereka sudah membayar penuh dimuka. Tapi ternyata tidak. Mereka tetap menggunakan WO mereka hanya saja yang ikut turun tangan adalah calon mempelai prianya , Dhanny bukan Eva lagi. Shalimar bingung dirinya harus merasa bahagia atau merasa takut. Dhanny lebih mudah ditangani untuk masalah keputusan , namun Shalimar merasa tidak nyaman berada didekat Dhanny. Dhanny terlalu berbahaya bagi ketentraman hati Shalimar. Begitu banyak lelaki yang sudah bersamanya setelah ia memutuskan untuk mengkhianati Rendy. Tapi baru kali ini jantungnya berdebar begitu kencang saat bertemu dengan Dhanny.
"Masalahnya adalah ketika aku menerima telepon dari mempelai wanita , dia begitu marah akan keputusan mempelai prianya. Dan sepertinya mempelai prianya bersih keras untuk turun tangan sendiri menangani masalah ini. Dengan syarat aku harus mengganti orang yang menangani hal ini." Kata Taufan sambil memandang muram kearah Shalimar.
Separuh hati Shalimar merasa lega mendengar hal itu , namun separuh lagi merasa kecewa. Dia sudah menangani persiapan ini hampir satu bulan lamanya. Namun jika memang dia harus mundur dari tugasnya kali ini , Shalimar bisa menyelamatkan WO nya dari pembatalan.
"Tidak masalah ,Fan . Yang terpenting adalah mereka tetap menggunakan jasa kita." Kata Shalimar dengan lapang dada tersenyum kearah Taufan.
"Kau tidak keberatan?" Tanya Taufan sambil berdiri dari duduknya. Shalimar menggelengkan kepalanya dengan ringan sambil tersenyum.
"Aku mengira kau akan marah dan mengundurkan diri." Lanjut Taufan sambil memutari meja kerjanya dan berjalan kearah Shalimar sambil memegang tangan Shalimar.
"Berhentilah bersikap menjijikkan seperti ini , Fan. Kau seperti bukan dirimu sendiri." Kata Shalimar menghapus senyuman dari wajahnya dan menarik tangannya dari Taufan.
"Kau hanya takut kalau Mei batal menjadi modelmu untuk exhibition tahun ini." Lanjut Shalimar yang mengerti pola pikir Taufan.
"Bukan begitu, kau juga sangat berarti buatku. Kinerjamu sangat bagus selama kau bergabung dalam WO ku." Kata Taufan mencoba menjelaskan bahwa ia tidak seperti yang apa yang dipikirkan oleh Shalimar.
"Sudahlah. Yang terpenting mereka tetap menggunakan jasa kita , tidak masalah siapa yang turun kelapangan nantinya. Aku juga akan memiliki waktu yang luang untuk bersantai sejenak." Kata Shalimar lalu berjalan ke meja kerjanya.
"Ingat , Shally kau masih harus mengurus klien kita yang satu lagi." Teriak Taufan ketika Shalimar berjalan meninggalkan tempatnya tadi. Shalimar hanya membalas dengan acungan jempol tanpa melihat kearah Taufan.
------------------------------------
"Kenapa kau tidak memperbolehkan aku turun tangan untuk mengurus masalah persiapan pernikahan kita?" Tanya Eva dengan emosi kepada Dhanny ketika Eva menemui Dhanny dikantornya ketika Dhanny baru saja selesai membaca arsip-arsip yang ada dimeja kerjanya.
"Kau tidak efisien dalam melakukan segala sesuatunya. Kau hanya akan menyiksa para pekerja dari WO itu. Dan malah akan memperumit persiapan untuk acara itu nantinya." Jawan Dhanny dengan datar.
"Tidak biasanya kau turun tangan mengurusi hal-hal seperti ini. Dan juga kau membuatku malu didepan pegawai WO itu kemarin. Kau malah meminta pendapatnya untuk masalah souvenir dan langsung menyetujuinya." Keluh Eva dengan kesal.
Dhanny menyandarkan punggungnya di punggung kursi kerjanya.
"Aku suka hal yang efisien. Kau sendiri yang mengajakku kesana. Itu artinya kau juga menyerahkan keputusan kepadaku juga. Lagipula aku yang membayar semua biaya untuk pernikahan ini. Kau cukup duduk manis dan diam saja." Kata Dhanny masih dengan ketenangan yang luar biasa.
"Sebenarnya kau ingin melakukan pernikahan ini atau tidak? Kau akan membuat pernikahan ini sesuai keinginanku atau malah akan menghancurkannya?" Tanya Eva dengan tatapan tajam kearah Dhanny.
"Kau sudah mengetahui jawaban akan pertanyaanmu. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Pernikahan kita hanyalah keinginanmu sendiri dan juga perjodohan dari kedua orangtua kita. Aku hanya mengikuti kemauan kalian saja. Untuk apa juga aku menghancurkan pernikahan impianmu? Sekallipun aku menghancurkannya kamu juga akan membuat keributan yang lebih parah daripada kejadian bunuh diri yang kau lakukan waktu itu." Balas Dhanny sambil membalas pandangan Eva.
Eva tidak bisa membalas kalimat yang diucapkan oleh Dhanny. Karena semua benar adanya.
"Kau sedang mengancamku?" Eva mulai merasakan Dhanny semakin dingin kepadanya. Padahal awalnya Eva merasa jika Dhanny sudah mau menerimanya ketika ia mencoba untuk bunuh diri dihadapan Dhanny ketika Dhanny menolak perjodohan yang susah payah ia usahakan dengan merengek kepada kedua orangtuanya.
"Aku hanya memperingatkanmu agar tidak menyusahkan oranglain demi ambisimu. Keinginanmu sudah terkabul saat ini. Kau akan menikah denganku. Bukankah itu cukup?" Tanya Dhanny dengan senyuman sinis yang paling dibenci oleh Eva.
"Aku akan memperhatikannya. Jangan sampai kau mengacaukan pernikahan kita." Eva membalas peringatan Dhanny dengan ancaman yang sama.
"Atau kau akan bunuh diri lagi dihadapanku? Maka aku akan membiarkan kau mati kali ini." Kata Dhanny dengan santai.
Dengan kesal Eva pergi meninggalkan ruang kerja Dhanny dan membanting pintu ruang kerja Dhanny dengan kencang.
Dhanny tidak menganggap kemarahan Eva dengan serius. Pernikahan ini juga bukan hal yang ia inginkan. Tapi kini dia sudah menemukan apa yang ia cari selama ini. Hal yang tidak pernah ia raih sebelumnya. Kali ini adalah kesempatan emasnya dan Dhanny tidak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja.
Setelah sekian lama , Dhanny baru bisa bertemu dengan Shalimar. Mereka berada di sekolah yang sama . Dhanny menyukai Shalimar sejak lama , namun Shalimar sudah memiliki kekasih waktu itu. Dhanny mundur dan menyerah akan perasaannya pada Shalimar. Dhanny sempat mendengar jika Shalimar sudah menikah dengan kekasihnya dan dia benar-benar menyerah akan perasaannya namun ternyata ia salah. Dhanny pernah mendengar jika pernikahan Shalimar tidak bahagia dan tanpa sengaja Dhanny mendengar sendiri ketika ia melihat Shalimar di sebuah cafe bersama dengan Mei , sahabat setia Shalimar bagaimana kehidupan Shalimar selama ini. Dhanny tidak menyangka jika WO yang dipilih oleh Eva juga ditangani oleh Shalimar. Suatu keberuntungan yang tidak diduga dan ini adalah kesempatan emasnya untuk meraih Shalimar kembali. Suatu keberuntungan juga Shalimar tidak mengingat dirinya. Hal ini akan lebih mudah untuk mendekati Shalimar dan mengambil hatinya.
Sudah lama Dhanny tidak memiliki ambisi yang begitu besar seperti saat ini. Dhanny mungkin akan menikah dengan oranglain saat ini , tapi Dhanny tidak ingin menikah dengan orang yang ia tidak cintai. Dhanny akan mengejar Shalimar dan kali ini dia tidak akan melepaskan Shalimar terutama ketika ia mengetahui jika Shalimar masih berstatus lajang secara negara. Perasaan Dhanny benar-benar tidak bisa tertahan ketika ia harus bertemu kembali dengan Shalimar saat di cafe. Dhanny masih ingat betapa Shalimar mencintai hujan yang turun juga bau tanah dan rumput yang basah . Perasaan itu kembali hadir dan makin besar ketika mereka bertemu kembali di toko souvenir , Shalimar yang ia cintai ada di hadapannya dan tidak mengenalinya. Wajah Shalimar tetap sama seperti dulu hanya saja saat ini ia terlihat lebih kurus dan lebih dewasa.
Dhanny bahkan ingin menghajar pria yang terlihat begitu akrab dengan Shalimar di toko itu. Sekalipun itu adalah teman akrab Shalimar , Dhanny tidak menyukainya. Sekarang Dhanny mengambil langkah lebih cepat untuk mendapatkan Shalimar apapun caranya. Ia tidak ingin kehilangan langkah seperti dulu. Dan ini adalah saat yang tepat. Dan tiga bulan adalah waktu yang dimiliki Dhanny untuk bisa mendapatkan hati Shalimar dan membatalkan pernikahannya dengan Eva.
----------------------------------------
Shalimar sedang berada di sebuah salon untuk membuat janji dengan perias pengantin . Kali ini ia menangani klien yang lebih mudah untuk ditangani. Permintaan mereka juga tidak begitu banyak , Shalimar bisa menangangi hal ini dengan mudah. Ponsel Shalimar berbunyi dari dalam tasnya.
"Maaf, aku ada panggilan sebentar." Kata Shalimar kepada pemilik salon dan mendapatkan anggukan ramah dari pemilik salon.
Shalimar berjalan menjauh dari pemilik salon dan melihat layar ponselnya . Taufan menghubunginya.
"Ada apa ? Aku sedang bicara dengan pemilik salon dan kita sudah mendapatkan jadwal untuk perias dan juga kebaya untuk pengantinnya. Besok kita bisa mencoba untuk fitting baju pengantinnya." Kata Shalimar seketika ketika ia menjawab panggilan dari Taufan.
"Kali ini ada masalah yang lebih serius. Kembalilah kekantor secepat mungkin." Kata Taufan dengan nada gusar yang berlebihan di telinga Shalimar.
"Ada apa?" Tanya Shalimar mulai khawatir dengan kondisi dikantor saat ini karena Taufan tidak biasanya akan begitu gusar seperti saat ini.
"Kembali saja kekantor nanti aku akan ceritakan detailnya." Kata Taufan lalu menutup pembicaraan mereka.
Setelah menerima panggilan dari Taufan , Shalimar langsung pamit dengan pemilik salon dan kembali kekantor secepat yang ia bisa. Shalimar sampai dikantor sedikit terlambat karena lalu lintas yang begitu padat saat jam pulang kerja.
"Kenapa kau begitu tidak tenang , Fan?" Tanya Shalimar ketika ia sampai dikantor dan langsung mendatangi meja kerja Taufan.
"Kau.. Kembali tangani pernikahan Dhanny dan juga Eva." Kata Taufan dengan wajah yang lebih muram daripada tadi pagi.
"Apa? Kenapa? Bukannya tadi mereka tidak mau aku yang menanganinya? Kenapa sekarang berubah lagi?" Tanya Shalimar sambil duduk didepan Taufan.
"Aku juga tidak tahu . Tadi Dhanny yang menghubungiku ketika bertemu dengan Lani di hotel untuk survey lapangan. Dan dia meminta dirimu yang menangani pernikahannya bukan pegawai yang lain." Taufan menggaruk belakang kepalanya dengan frustasi.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya dengan mereka ini?" Tanya Taufan lebih kepada dirinya sendiri. Kemudian Taufan melihat kearah Shalimar.
"Apa kau mengenal kedua orang ini sebelumnya? Apa kau pernah melakukan kesalahan kepada mereka?" Tanya Taufan dengan penuh curiga kepada Shalimar.
"Aku tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya , Fan. Mereka juga orang-orang dari kalangan atas , kau juga tahu siapa saja orang-orang yang berada disekitarku. Aku juga tidak tahu kenapa mereka begitu plin-plan tentang hal ini." Jawab Shalimar dengan cepat. Shalimar benar-benar tidak tahu siapa Eva dan juga Dhanny sebelum mereka membuat janji dengan WO tempatnya bekerja saat ini.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Shalimar kepada Taufan.
"Pergilah ke hotel tempat Dhanny dan Lani sekarang berada. Kau ambil kembali tugasmu untuk menangani pernikahan Dhanny dan Eva." Jawab Taufan sambil memijat pangkal hidungnya dengan telunjuk dan ibu jarinya.
Shalimar mengangguk memahami situasi saat ini dan langsung berjalan keluar kantornya dan langsung berlari kearah parkiran mobil kecilnya. Shalimar bahkan mengemudi dengan kecepatan yang tinggi untuk sampai ke hotel dengan waktu yang singkat.
Sesampainya di hotel , Shalimar langsung menuju kearah taman terbuka yang hendak menjadi spot tempat pernikahan Dhanny dan Eva. Disana sudah ada Dhanny dan juga Lani yang berdiri di salah satu sudut taman , berteduh dari teriknya sinar matahari sore itu .
Shalimar berjalan menghampiri keduanya dengan berjalan dengan langkah yang cepat dan efisien. Lani melihat kearah Shalimar dengan wajah yang senang dan penuh harapan . Shalimar menghampiri keduanya sambil tersenyum lebar kearah keduanya , dia harus menjaga profesional kerjanya walaupun hatinya tidak tenang. Melihat Dhanny yang ada dihadapannya membuat Shalimar kemballi merasakan debaran jantungnya lagi.
"Maaf, aku baru menerima pemberitahuan tentang hal ini. Apa ada masalah dengan venuenya?" Tanya Shalimar dengan napas yang tidak teratur karena harus berlari dari tempat parkir basemen menuju ke taman luar hotel.
"Apa kalian selalu mengoper pekerjaan ketika menangani suatu proyek?" Tanya Dhanny dengan nada dingin kepada Shalimar sambil mengantungi tangan di kedua kantung celananya.
"Apa?" Shalimar merasa profesional kerjanya disepelakan oleh perkataan Dhanny.
"Bukannya ini permintaan dari kalian berdua yang meminta agar mengganti orang dalam menangani proses .."
"Bukan aku yang mengatakan hal itu. Dan perlu diingat disini aku yang mengeluarkan segala pembiayaannya. Selain perkataanku tidak ada perubahan apapun disini dan hanya persetujuanku yang akan kalian kerjakan untuk persiapan pernikahanku." Kata Dhanny memotong perkataan Shalimar .
Shalimar tersenyum tipis dan menahan napasnya untuk sesaat.
"Baiklah. Mulai saat ini saya yang akan menangani masalah persiapan pernikahan anda. Jadi , bagaimana menurut anda tentang lokasi ini?" Tanya Shalimar kepada Dhanny dengan kesabaran yang ia miliki dalam menghadapi klien selama ini.
Dhanny melihat keseluruh taman dan kembali menatap mata Shalimar. Kali ini Dhanny tidak mengenakan kacamata hitamnya. Tatapan itu seakan memberikan sambaran yang kencang untuk Shalimar. Mata itu terlalu berbahaya untuk Shalimar. Mata itu berwarna coklat ketika sinar matahari menerangi wajah Dhanny.
"Aku tidak cocok dengan lokasi ini dan juga yang sebelumnya. Apa tidak ada lokasi yang lebih bagus lagi?" Tanya Dhanny kepada Shalimar.
"Apa ada spesifikasi khusus untuk pemandangan seperti yang anda inginkan?" Tanya Shalimar berusaha menebak apa yang Dhanny inginkan untuk lokasi pernikahannya nanti.
"Aku ingin suasana pantai dan juga udara yang lebih bersih daripada disini. Dan juga aku ingin dekorasinya dirubah." Jawab Dhanny sambil melihat sekeliling taman yang berada di sekitar mereka.
"Kalau begitu kita harus merubah semuanya . Apa anda tidak keberatan dengan hal itu?" Tanya Shalimar dengan ragu.
"Apa waktu tiga bulan kurang untukmu?" Tanya Dhanny dengan mata yang menatap Shalimar. Kali ini tatapan itu seakan menarik Shalimar kedalam dunia yang Shalimar bahkan tidak ingin impikan.
"Tentu saja cukup." Jawab Shalimar saat mengembalikan dirinya dalam dunianya saat ini.
"Bagus." Jawab Dhanny sambil tersenyum simpul. Bahkan senyuman yang pertama kali ia lihat seakan bisa menghentikan detak jantung Shalimar kali ini.
Ada yang salah dengan dirinya. Ia bahkan tidak merasakan hal seperti ini sebelumnya dengan lelaki yang pernah menjadi pasangannya setelah Rendy. Dulu ia pernah merasakan hal ini ketika dirinya masih berpacaran dengan Rendy , namun ia sudah tidak merasakan hal yang sama lagi untuk waktu yang lama. Shalimar mengira jika dirinya sudah tidak memiliki hati untuk yang lain. Tapi hal ini salah ia rasakan. Dhanny adalah kliennya yang akan menikah tiga bulan lagi.
Shalimar mengalihkan pandangannya dari Dhanny dan melihat kearah Lani.
"Kau kembali saja kekantor , biar aku yang mengambil alih dari sini." Kata Shalimar dengan lembut dan tersenyum penuh permintaan maaf kepada Lani.
"Baik , Shally , terimakasih." Balas Lani yang juga membalas senyuman Shalimar dengan rasa penuh terimakasih.
"Oh iya, karena sekarang hari sudah akan gelap , mungkin besok saya akan survey tempat yang sesuai dengan keinginan anda." Kata Shalimar melihat kearah Dhanny lagi. Kali ini Shalimar benar-benar menguatkan hatinya untuk tidak terjebak dalam perasaannya sendiri akan Dhanny.
"Aku juga masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kita akan berjumpa besok." Balas Dhanny dengan cepat.
Shalimar terkejut dengan balasan dari Dhanny. Yang Shalimar maksud adalah Shalimar akan melakukan survey sendiri tanpa Dhanny. Setalah mesurvey tempat-tempat itu barulah Shalimar akan memberikan hasilnya kepada Dhanny dan membiarkan Dhanny untuk memilihnya.
"Maksud saya adalah saya sendiri yang akan mensurvey tempatnya lalu memberikan laporannya kepada anda. Nanti jika ada yang cocok dengan keinginan anda , kita bisa melihatnya bersama-sama. Hal ini bisa lebih menghemat waktu anda juga , anda juga sepertinya memiliki pekerjaan yang sangat padat jadwalnya." Kata Shalimar berusaha menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Baiklah kalau begitu berikan aku nomer ponselmu." Dhanny mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memberikan ponselnya kepada Shalimar agar Shalimar memasukkan nomor ponsel milik Shalimar kedalam ponselnya.
Untuk sesaat Shalimar ragu untuk memberikan nomor ponselnya kepada Dhanny. Tapi demi profesional kerja yang ia miliki , Shalimar mengambil ponsel Dhanny dan mengetik nomor ponsel miliknya di ponsel Dhanny kemudian menekan tombol untuk menelpon dan ponsel milik Shalimar berdering. Shalimar mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar ponselnya kepada Dhanny. Menandakan jika ia sudah memberikan nomor ponsel miliknya kepada Dhanny.
Dhanny mengangguk dan mengambil ponselnya kembali.
"Aku akan menunggu kabar darimu besok. Hubungi aku saja ,mulai saat ini aku sendiri yang akan ikut menangani persiapan pernikahanku." Kata Dhanny sambil memasukkan ponsel kedalam saku celananya lagi.
"Baik." Jawab Shalimar dengan ramah.
"Aku akan kembali kekantorku lagi. Aku akan menunggu kabar darimu." Dhanny mengangguk lalu meninggalkan Shalimar dan Lani di taman itu.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi dirimu, Shally." Kata Lani dengan napas lega yang seakan sudah ia tahan selama Dhanny bersamanya.
"Apa dia menyiksamu?" Tanya Shalimar dengan penuh rasa ingin tahu yang begitu tinggi melihat Lani sangat tersiksa.
"Aku lebih baik kau berikan sepuluh klien dengan budget yang rendah daripada aku harus menghadapi klien dengan budget istimewa tapi menyengsarakan seperti dia." Keluh Lani sambil membenahi ikat rambutnya yang sudah mulai berantakan.
Shalimar tertawa kecil melihat ekspresi Lani yang begitu kesal dan nampak berantakan. Dia membayangkan jika seperti itulah ekspresinya ketika harus berhadapan dengan Eva selama beberapa minggu ini.
"Baiklah , aku akan mengatakan hal ini kepada Taufan. Biar klien istimewa Taufan aku saja yang mengambil tugasnya." Kata Shalimar sambil membelai tangan Lani dengan penuh pengertian.
-------------------------------
Dhanny masih berada disana. Melihat Shalimar menghibur temannya yang sudah dengan sengaja ia susahkan selama bersamanya. Melihat Shalimar datang sambil tersenyum kepadanya , hal itu semakin membulatkan tekad Dhanny untuk mejadikan Shalimar miliknya. Hari ini ia sudah mendapatkan nomor ponsel Shalimar. Dhanny hanya harus melangkah lebih cepat untuk mendapatkan hatinya. Dalam waktu tiga bulan. Dengan segala resiko yang siap ia tanggung dimasa depannya.
----------------------------
__ADS_1