No Regrets

No Regrets
Bab 15


__ADS_3

Acara lamaran Dhanny kepada Shalimar berjalan lancar sesuai dengan keinginan Dhanny. Kedua orangtua Dhanny pun juga terlihat tidak merendahkan keluarga Shalimar. Meskipun Shalimar bisa melihat ibu Dhanny tidak memiliki ekspresi apapun untuknya. Namun Ibu Dhanny tidak memberikan tatapan menghina untuk dirinya.


Ibu Dhanny mengenakan terusan berwarna merah muda lembut yang begitu anggun dan elegan , rambut ibu Dhanny di tata dengan cantik menyamping , membuat wajah ibu Dhanny terlihat jauh lebih muda daripada umurnya, ibu Dhanny juga mengenakan perhiasan sederhana namun terlihat begitu pas pada tubuhnya tidak terlihat berlebihan walaupun Shalimar tahu jika perhiasan yang dikenakan ibu Dhanny tentu saja memiliki nilai yang tidak ingin Shalimar bayangkan. Ayah Dhanny mengenakan kemeja batik berwarna biru gelap , tubuh ayah Dhanny yang tinggi dan tegap juga terlihat begitu serasi berdampingan dengan ibu Dhanny.


Untuk sesaat Shalimar merasa begitu rendah diri ketika kedua orangtua Dhanny datang , namun sikap kedua orangtua Dhanny sama sekali tidak merendahkan Shalimar dan keluarga Shalimar. Hal itu membuat Shalimar tidak menyesali keputusannya untuk membuka lembaran baru hidupnya bersama dengan Dhanny. Hanya saja Shalimar merasa bersalah kepada kedua orangtua Dhanny , bagaimanapun dirinya sudah membohongi kedua orangtua Dhanny tentang status Shalimar sebenarnya.


Shalimar melihat kearah ibunya yang terlihat senang melihat ornagtua Dhanny yang terlihat begitu menghargai kepada keluarganya. Berbeda dengan keluarga Rendy.


Setelah acara lamaran usai dan juga penetapan tanggal pernikahan Dhanny dan Shalimar , Dhanny dan keluarganya berpamitan kepada ibu Shalimar.


"Mereka berbeda dengan keluarga Rendy." Kata ibu Shalimar ketika rombongan keluarga Dhanny sudah tidak berada dirumah mereka.


"Kita tidak bisa tahu pasti , Ma. Semoga saja seperti itu." Balas Shalimar sambil membersihkan apa yang ada di atas meja ruang tamu.


"Mereka berbeda. Percayalah kepadaku." Kata ibu Shalimar sambil menepuk pundak Shalimar dengan sedikit keras.


"Mereka bahkan tidak ingin menunjukkan mereka dari keluarga yang berada. Walaupun hal itu tidak bisa ditutupi. Aku tidak akan menyetujui lamaran ini jika saja mereka seperti keluarga Rendy dulu. Aku juga yakin Dhanny akan memperlakukanmu dengan baik dan tulus. Jika tidak , aku tidak akan menyerahkanmu kepada Dhanny." Lanjut ibu Shalimar sambil melirik kearah Shalimar dengan tajam.


"Dhanny bahkan merelakan apa yang ia miliki kepada orangtuanya sebagai syarat untuk menikah denganmu. Apa kau kira itu hal yang mudah? Sementara selama ini ia selalu hidup dengan kondisi serba berkecukupan dari usaha yang dimiliki oleh keluarganya. Dia merelakan itu semua hanya demi mendapatkan restu dari kedua orangtuanya." Ibu Shalimar membantu Shalimar membersihkan piring kotor diatas meja sambil tetap mengatakan hal yang sudah dilakukan oleh Dhanny.


"Aku tahu." Sahut Shalimar dengan singkat.


"Kau menerimanya karena kau ingin balas dendam kepada Rendy atau kau juga mencintainya?" Tanya ibu Shalimar tiba-tiba.


Sebuah pertanyaan yang seakan menjebak dihati Shalimar.


"Aku .. Yang jelas aku tidak menerima Dhanny untuk balas dendam kepada Rendy. Aku tidak memiliki dendam untuk Rendy , Ma." Jawab Shalimar tanpa melihat kearah ibunya.


"Apa itu artinya kau mencintainya?" Tanya ibu Shalimar lagi berusaha mendapatkan jawaban yang pasti dari Shalimar.


Sejujurnya Shalimar tidak bisa membedakan ia benar-benar mencintai Dhanny atau merasa iba atas apa yang sudah Dhanny lakukan untuknya selama ini.


"Hmm." Jawab Shalimar dengan gumaman.


"Jawab dengan pasti." Pinta ibu Shalimar sambil menarik tangan Shalimar dan membuat Shalimar berhadapan dengannya.


"Iya. Apa mama puas?" Balas Shalimar dengan enggan kemudian menyibukkan dirinya lagi sambil kembali membersihkan barang-barang diatas meja ruang tamu.


Tanpa Shalimar dan ibu Shalimar sadari , diluar Dhanny mendengarkan apa yang Shalimar dan ibu Shalimar bicarakan. Dhanny sengaja memutar arah kembali kerumah Shalimar untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal dirumah Shalimar.


Shalimar masih meragukan perasaannya sendiri terhadap Dhanny , walaupun Shalimar menerima dirinya bukan untuk balas dendam kepada Rendy. Dhanny mengetahui hal itu sejak awal , hal itu yang membuat Dhanny tidak ingin menyerah , Dhanny yakin bisa membuat Shalimar benar-benar mencintainya . Hanya dirinya. Dhanny akan menghapus kenangan Rendy dalam hidup Shalimar. Itulah tekad Dhanny mulai hari ini sambil mengepalkan tangannya.


--------------


Eva mengetahui tentang lamaran yang dilakukan oleh keluarga Dhanny kepada Shalimar. Eva tidak bisa bertindak lebih jauh karena keluarganya sudah menentang hubungannya dengan Dhanny semenjak Dhanny memutuskan hubungan mereka didepan kedua orangtua Eva.


Eva masih memikirkan cara lain bagaimana agar Dhanny tidak dapat melangsungkan pernikahannya dengan Shalimar. Jika Eva tidak bisa memiliki Dhanny , maka Shalimar juga tidak bisa.


Tidak mungkin jika Shalimar tulus mencintai Dhanny seperti dirinya. Eva yakin hal itu . Eva menggali informasi tentang Shalimar , sampai mengetahui tentang desas desus jika Shalimar pernah menikah dan memiliki anak. Namun mengapa Dhanny masih tetap bersihkeras ingin menikah dengan Shalimar ? Dan kedua orangtua Dhanny tidak keberatan tentang hal itu? Setelah ini Eva mencari informasi lebih akurat lagi tentang Shalimar. Pernikahan Dhanny dan Shalimar tidak boleh terjadi selama Eva masih bernapas.


Kali ini Eva sungguh-sungguh akan mencari tahu kebenaran tentang Shalimar dan mengungkapkannya kepada Dhanny juga keluarga Dhanny. Sekalipun Dhanny tetap memilih Shalimar , Eva akan menjadikan kehancuran untuk semuanya disaat ia tidak bisa meraih kebahagiaannya yang direbut oleh Shalimar.


----------------


Kabar jika Dhanny dan Shalimar akan segera menikah langsung menyebar seperti angin kencang , walaupun terkejut namun seluruh rekan kerja Shalimar memberikan dukungan untuk Shalimar juga Dhanny. Untuk sementara waktu Shalimar tidak diijinkan bekerja oleh Dhanny dan juga ibu Shalimar selama persiapan pernikahan mereka.


Dhanny benar-benar menjaga Shalimar , tidak terlepas dari pandangannya walau sebentar saja sampai hari pernikahan mereka tiba.


Jika Dhanny tidak bisa berada disamping Shalimar , Dhanny akan meminta bantuan Mei untuk menemani Shalimar. Tidak memberikan kesempatan Shalimar bertemu dengan Rendy walaupun Rendy berulang kali ingin menemui Shalimar.


"Mei , apa hanya aku yang merasa jika aku seperti sedang di kekang saat ini?" Tanya Shalimar kepada Mei ketika mereka berjalan di sebuah pusat perbelanjaan.


"Apa maksudmu?" Mei balik bertanya dengan sikap polosnya.


"Akhir-akhir ini Dhanny terlalu posesif kepadaku. Jika tidak bersamanya , aku selalu bersamamu. Aku merasa jika aku tidak memiliki waktuku sendiri. Tidak seperti sebelumnya." Jawab Shalimar merasa jika ada yang ditutupi oleh sahabatnya kali ini.


"Tentu saja kau akan merasa seperti itu , sebelumnya kau sangat bebas , kali ini kau akan menikah secara resmi dengan seseorang. Dan hal ini diketahui oleh banyak pihak. Kau tahu .. Hal itu semacam sebuah tekanan psikis yang biasa terjadi ketika seseorang akan menikah setelah lama melajang." Balas Mei berusaha bersikap rasional kepada Shalimar agar Shalimar tidak mencurigai apa yang sudah ia lakukan selama ini untuk menghindari Rendy bertemu dengan Shalimar dan melakukan hal yang membuat Shalimar membatalkan pernikahannya dengan Dhanny.


Shalimar mengangguk setuju akan jawaban dari Mei , walaupun hatinya tetap merasa janggal akan sesuatu hal.


"Oh iya, bukankah hari ini kau akan makan malam dengan orangtua Dhanny? Apa kau sudah menyiapkan apa saja yang akan kau bawa untuk orangtua Dhanny , apa yang akan kau kenakan nanti malam?" Tanya Mei berusaha mengalihkan perhatian Shalimar.


Shalimar baru mengingat hal itu saat ini . Pernikahannya dengan Dhanny hanya tinggal menghitung hari saja. Hal ini sudah disetujui oleh kedua orangtua Dhanny dan juga ibu Shalimar.

__ADS_1


Jika waktu itu rencana pernikahan Dhanny dan Eva berselang tiga bulan , pernikahan Dhanny dan Shalimar dipercepat menjadi satu bulan sejak Dhanny dengan resmi melamar Shalimar. Shalimar sudah beberapa kali menemui orangtua Dhanny , dan pertemuan mereka masih terasa canggung. Kali ini dirinya akan bertemu dengan orangtua Dhanny lagi. Hal ini membuatnya frustasi. Shalimar masih merasa jika kedua orangtua Dhanny tidak menyukainya , Shalimar bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa dihadapan orangtua Dhanny. Shalimar tidak bisa berpura-pura terlihat begitu baik dan sempurna dihadapan kedua orangtua Dhanny , namun ia juga tidak mungkin menunjukkan dirinya yang sesungguhnya dihadapan mereka.


"Aku belum mempersiapkan apapun , Mei. Aku merasa sangat frustasi jika harus menemui mereka lagi." Keluh Shalimar dengan tatapan mata gelisah pada Mei.


"Apa mereka tidak bersikap baik kepadamu seperti orangtua Rendy? Atau mereka merendahkanmu?" Tanya Mei dengan sikap melindungi Shalimar.


"Bukan.. Tidak seperti itu. Mereka bersikap baik dan sopan kepadaku , tapi aku merasa hal itu terasa canggung untukku. Rasanya seperti aku hanya seorang tamu disana. Aku merasa .. Aku tidak sepenuhnya diterima oleh mereka." Jawab Shalimar yang mulai merasa rendah diri .


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Kata Mei mencoba memberikan dukungan moril untuk Shalimar.


"Apa kau akan tinggal bersama dengan orangtua Dhanny setelah kalian menikah nanti?" Tanya Mei .


"Tidak. Dhanny mengatakan kepadaku , jika kami akan tinggal di rumah Dhanny. Kami tidak akan tinggal dirumah kedua orangtua Dhanny." Jawab Shalimar mengingat apa yang sudah Dhanny janjikan kepadanya.


"Apa Dhany mengetahui tentang apa yang kau rasakan ? Atau tahu tentang bagaimana orangtuanya bersikap seperti ini kepadamu?"


"Dhanny terlalu baik kepadaku , Mei. Dia menerimaku dengan kondisi yang tidak sempurna , dia lebih memilihku dan melepaskan yang lebih sempurna dariku. Jujur saja , aku merasa bahagia dan juga terbebani dalam waktu yang bersamaan. Dhanny rela melepaskan segalanya hanya demi mendapatkan restu kedua orangtuanya untuk menikahiku. Dia juga memikirkan tentang bagaimana perlakuan orangtuanya kelak jika kami menikah , memikirkan bagaimana perasaanku, hingga memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah yang ia miliki agar aku tidak perlu berada satu atap dengan kedua orangtuanya. Cintanya buta kepadaku , tapi tidak melepaskan rasa hormat kepada orangtuanya. Semakin dia bersikap baik kepadaku , aku semakin merasa terbebani. Entahlah , Mei. Aku merasa jika aku ingin mengakhiri ini semua namun aku juga tidak ingin kehilangan." Shalimar memandang kosong saat mengatakan hal itu kepada Mei.


Mei memahami dilema yang dialami oleh Shalimar.


"Ketika bersama Rendy , dia tidak mengakuimu , menyembunyikan pernikahannya denganmu . Keluarga Rendy juga tidak menerimamu. Setelah itu dia juga bahkan tidak pernah melindungimu. Sekarang Dhanny datang dengan segala kebaikannya yang bertolak belakang dengan Rendy , dia bisa memberikanmu apa yang Rendy tidak berikan selama ini kepadamu. Dan kau merasa tidak pantas untuk Dhanny?"


Mei tidak mendapatkan jawaban dari Shalimar , Mei menarik napas panjang dan berusaha mendinginkan pikirannya.


"Lalu kau pantas untuk siapa? Sebagai ibu Aabid kau merasa tidak pantas , sebagai istri Rendy kau juga merasa tidak pantas , sekarang kau juga merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Dhanny." Protes Mei akan pola pikir Shalimar yang begitu menempatkan dirinya pada posisi yang rendah setiap Shalimar merasa tertekan.


"Shally , dengarkan aku." Kata Mei sambil menangkup wajah Shalimar untuk menghadap kearahnya.


"Kau sangat berharga. Kau harus mencintai dirimu sendiri , kau harus menghargai dirimu sendiri. Seperti apapun statusmu , kau adalah orang yang berharga , kau pantas dicintai , kau pantas untuk bahagia , kau pantas untuk menjalani kehidupan yang kau impikan. Kita tidak bisa merubah masalalu , yang perlu kau lakukan adalah tetap melangkah hari ini dan esok hingga ajal menjemput. Lakukan apa kata hatimu tanpa harus mendengarkan apa yang oranglain katakan kepadamu. Kau yang menjalani hidupmu , bukan mereka. Jangan menyia-nyiakan hidupmu dengan pikiran yang dangkal seperti ini. Jangan menyesali hal yang tidak kau lakukan karena pemikiranmu ini. Saat ini Dhanny bersedia melakukan segalanya untukmu , dia tulus mencintaimu , apa kau akan menutup matamu untuk hal itu? Apa kau tidak mencintai Dhanny juga?"


Shalimar tidak menjawab pertanyaan Mei , namun mata Shalimar yang berkaca-kaca membuat Mei mengetahui jawaban Shalimar.


"Kau juga mencintainya , hanya saja kau takut jika kau tidak pantas untuknya. Kau hanya merasa jika kau akan menjadi beban dalam hidupnya. Kau hanya berusaha mencari pembelaan pada dirimu sendiri yang pengecut karena masalalu yang kau alami. Kau tidak memberikan kesempatan kepada dirimu sendiri hanya karena kau merasa tidak mampu memberikan hal yang sama kepada Dhanny. Yang perlu kau lakukan hanyalah membalas cintanya dengan perasaan yang kau miliki untuk Dhanny." Kata Mei berusaha untuk meyakinkan Shalimar akan keraguan yang ada dalam benak Shalimar selama ini.


"Aku takut , Mei." Kata Shalimar pada akhirnya sambil menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar karena menahan airmatanya untuk jatuh.


"Semakin aku ingin bahagia dan hal itu datang kepadaku , aku menjadi takut. Aku takut jika semua hanya sekejap mata. Aku takut jika kemudian segalanya kembali terjadi , aku akan benar-benar hancur."


"Kau harus yakin akan keputusanmu sendiri , kau pasti bahagia. Kau bisa melihat apa yang dilakukan oleh Dhanny selama ini kepadamu. Hal ini bukan main-main , Shally. Sekalipun jika hal yang kau takutkan terjadi , kau sudah mempersiapkan dirimu sendiri. Kau tidak akan hancur. Ada aku disisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Mei sambil membelai lengan Shalimar dengan hangat.


Shalimar menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Mei , menandakan jika dirinya mulai ingin menetapkan hatinya kepada Dhanny.


-------------


Kedua orangtua Dhanny terlihat lebih menerima Shalimar kali ini. Ketika Shalimar datang , ibu Dhanny sudah mulai melunak dan memberikan senyuman untuk Shalimar walaupun senyuman itu hadir hanya sekejap mata.


"Pernikahan kalian akan diadakan beberapa hari lagi. Apa persiapan pernikahan kalian benar-benar sudah selesai dengan sempurna?" Tanya ayah Dhanny kepada Dhanny dan Shalimar.


"Sudah ,Pa. Semuanya sudah siap dengan sempurna." Jawab Dhanny sambil tersenyum lebar kepada ayahnya.


"Dan kau juga jangan lupa akan apa yang kau janjikan kepada Papa juga Mama. Kau akan menyerahkan semua aset yang kau dapatkan dari perusahaan Papa dan perusahaan juga." Lanjut ayah Dhanny.


"Tentu saja aku ingat ,Pa. Aku akan menepatinya." Balas Dhanny dengan begitu yakin dihadapan ayahnya.


Shalimar merasa bimbang antara bahagia dan merasa bersalah. Karena dirinya , Dhanny harus menyerahkan segala yang Dhanny miliki hanya untuk mendapatkan restu kedua orangtuanya.


Dhanny melihat kearah Shalimar dan mengetahui apa yang Shalimar pikirkan. Dhanny menggenggam tangan Shalimar dengan lembut.


Sebuah sentuhan sederhana namun begitu berarti untuk Shalimar.


Sekalipun berada di hadapan kedua orangtuanya , Dhanny tidak melupakan dirinya.


Ibu Dhanny melihat putranya dan juga wanita yang dicintai putranya. Ibu Dhanny bisa melihat bagaimana Dhanny begitu mencintai Shalimar. Dan untuk saat ini ibu Dhanny melihat Shalimar juga tulus kepada Dhanny. Namun ibu Dhanny masih ingin memastikan hal lain tentang Shalimar.


"Oh iya , mama dan papa juga baru mendiskusikannya beberapa hari lalu. Kau meminta agar rumah yang kau tinggali dimasukkan dalam pengecualian. Kami pikir , hal itu mungkin tidak bisa kami penuhi." Kata ibu Dhanny dengan santai sambil meletakkan sendok dan garpu yang tadinya masih ia pegang.


Pernyataan ibunya membuat Dhanny langsung melihat kearah ibunya.


"Tapi ,Ma. Bukankah kita sudah menyetujui hal ini sebelumnya?" Protes Dhanny namun tetap berusaha tenang.


"Rumah itu juga termasuk aset yang kau hasilkan dari perusahaan." Balas ayah Dhanny yang mengerti jalan pikiran istrinya.


"Lalu kami harus tinggal dimana?" Tanya Dhanny sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Kalian bisa tinggal bersama dengan kami disini , atau terserah kalian." Jawab ayah Dhanny.


"Tapi .." Belum Dhanny melanjutkan keberatannya , Shalimar menyentuh lengan Dhanny.


"Kami akan tinggal sementara dirumah orangtuaku." Kata Shalimar yang merasa mungkin ini adalah keputusan yang harus ia ambil kali ini.


"Tidak bisa seperti ini , Shally." Kali ini Dhanny mengajukan keberatannya akan keputusan Shalimar.


"Kau sudah memutuskan segala sesuatunya sendiri , tidak bisakah kali ini aku yang mengambil keputusan?" Tanya Shalimar sambil berbisik kearah Dhanny seakan memberikan Dhanny keyakinan akan kemantapan hatinya akan hubungan mereka kali ini.


Mendengar hal itu , Dhanny mengurungkan niatnya untuk memprotes keputusan kedua orangtuanya.


"Agar adil , mungkin kalian bisa tinggal beberapa hari di rumah orangtua Shalimar dan beberapa hari disini." Ibu Dhanny mulai mengusulkan apa yang ia pikirkan beberapa hari ini.


"Setidaknya , mama juga ingin mengenal seperti apa menantu mama." Lanjut ibu Dhanny sebelum mendapatkan protes dari Dhanny.


"Baiklah." Shalimar menyetujui permintaan ibu Dhanny sambil tersenyum hangat.


Dhanny terkejut akan apa yang Shalimar katakan kepada ibunya. Dhanny melihat sorot mata yakin dari Shalimar.


Ibu Dhanny tersenyum walaupun tersembunyi. Walau hal ini nampak seperti perang antara Shalimar dan ibu Dhanny , namun sesungguhnya ada makna terselubung dibalik semua itu.


"Kita lanjutkan makan malamnya." Kata ayah Dhanny memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik itu.


----------------


Shalimar tersenyum melihat bayangan wajahnya di cermin , Shalimar tahu jika kedua orangtua Dhanny sudah menerima dirinya. Beberapa hari lagi , hari pernikahannya dengan Dhanny . Dirinya begitu merasa berdebar setiap mengingat hari itu akan tiba. Meskipun ini bukan pertama kali dirinya menikah. Namun ini kali pertamanya Shalimar menikah dengan begitu banyak orang yang mengetahuinya.


Pandangan Shalimar beralih dari cermin dihadapannya menuju kelayar ponsel miliknya yang tiba-tiba menyala. Rendy mengirim pesan kepadanya.


Shalimar sengaja mengabaikan pesan yang dikirimkan oleh Rendy ataupun panggilan dari Rendy. Walaupun Shalimar merasa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Rendy kepada dirinya.


Secara tidak sengaja , Shalimar melihat pesan yang dikirimkan oleh Rendy.



Sekalipun kau membenciku , aku ingin menemuimu untuk terakhir kalinya. Ada hal yang ingin aku sampaikan. Kau harus mengetahui kebenaran yang coba Dhanny dan Mei tutupi darimu selama ini. Jika kau tidak ingin bertemu denganku. Kau harus mendengarkan rekaman yang aku kirimkan.-



Membaca pesan dari Rendy , Shalimar yang sedang bersiap - siap untuk berdandan , langsung mendengarkan rekaman yang dikirimkan Rendy kepadanya.


Sebuah rekaman percakapan Rendy dan Mei ketika Rendy mendatangi rumah Mei dengan dalih ingin Mei membantu dirinya untuk ikut membatalkan pernikahan Shalimar dan Dhanny.


Shalimar benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengarkan . Rekaman itu bukan rekayasa , Shalimar tahu benar suara Mei . Kenyataan tentang Mei dan Rendy yang memiliki hubungan sebelum dirinya bersama dengan Rendy , kenyataan tentang apa yang direncanakan oleh Dhanny dan Mei agar Dhanny menikah dengan dirinya. Shalimar merasa hampa seketika. Apa yang ia ingin percayai dan apa yang ingin ia ingkari , seakan bercampur menjadi satu.


Mengapa hal ini harus ia ketahui ketika dirinya akan meraih kebahagiaannya sedikit lagi bersama dengan Dhanny. Yang ada dalam pikiran Shalimar adalah menemui Mei untuk menanyakan banyak hal yang saat ini berkecambuk didalam otaknya. Saat Shalimar berdiri dari duduknya , saat itu pula Mei masuk kedalam kamar Shalimar.


"Kau mau kemana?" Tanya Mei ketika melihat wajah Shalimar begitu tegang dan pucat.


Shalimar tidak bisa berkata-kata ketika Mei benar-benar ada dihadapannya. Yang Shalimar lakukan hanyalah memutar kembali rekaman suara yang dikirim oleh Rendy kepadanya.


Mendengarkan apa yang dikirimkan Rendy kepada Shalimar , wajah Mei terlihat pucat seketika. Seharusnya saat itu dia sadar jika Rendy mendatanginya bukan untuk meminta pertolongan kepada dirinya , tapi untuk menjebak dirinya.


"Shally , dengarkan penjelasanku." Kata Mei berusaha untuk memberikan penjelasannya kepada Shalimar.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku sebelumnya? Kau memiliki banyak waktu untuk menceritakan kepadaku? Apa memang kau memiliki tujuan sendiri dengan menunggu aku hancur?" Tanya Shalimar dengan mata yang mulai terasa panas oleh airmata.


"Apa kau pikir aku benar-benar ingin menghancurkanmu? Jika aku ingin melakukan hal itu ,untuk apa aku harus melihatmu tetap bersama dengan Rendy? Aku sungguh-sungguh menyayangimu. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku hanya demi cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Dhanny juga benar-benar mencintaimu , Shally . Dhanny tulus kepadamu , kami tidak memiliki niat untuk mempermainkanmu." Kata Mei sambil mendekati Shalimar.


Shalimar mundur satu langkah.


"Jangan mendekatiku." Shalimar memperingatkan Mei , Mei bisa melihat luka dimata Shalimar.


"Kau dan Dhanny sama saja." Kata Shalimar sambil berjalan melewati Mei.


"Kau mau kemana , Shally?" Mei berusaha menyusul langkah Shalimar yang begitu cepat.


"Aku akan membatalkan pernikahan ini . Semua yang kalian lakukan kepadaku selama ini , semuanya palsu." Kata Shalimar sambil menepis tangan Mei yang berusaha menghentikannya.


"Benci saja aku . Dhanny tidak bersalah , Dia tidak bersalah sejak awal hingga saat ini." Mei masih berusaha menghalangi Shalimar ketika Shalimar sudah masuk kedalam mobilnya dan tidak memperdulikan dirinya.


Setelah Shalimar pergi dengan mobilnya . Mei tidak bisa menahan airmatanya yang jatuh dengan tiba-tiba. Seharusnya dirinya bisa mencegah hal ini terjadi sebelum pernikahan Shalimar terjadi. Dengan tergopoh , Mei mengambil ponsel dari sakunya dan langsung menghubungi Dhanny . Namun Dhanny tidak menjawab panggilan darinya.

__ADS_1


---------------


__ADS_2