No Regrets

No Regrets
Bab 17


__ADS_3

Wangi bunga sedap malam tercium semerbak di sekeliling Dhanny. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Shalimar. Dhanny duduk didepan penghulu dengan penuh penantian dan rasa takut yang semakin besar setiap detiknya.


Ibu Shalimar juga terlihat begitu resah dan khawatir jika Shalimar tidak hadir di acara pernikahannya sendiri. Dhanny sudah menceritakan beberapa bagian kejadian yang terjadi hari itu diantara dirinya dan Shalimar. Ibu Shalimar juga berusaha untuk tetap tenang walaupun pada akhirnya sikap khawatirnya tidak dapat ia sembunyikan.


"Kenapa Shally belum juga datang?" Bisik ibu Dhanny kepada Dhanny.


"Mungkin dia terjebak macet , Ma." Jawab Dhanny dengan cepat dan sedikit gugup.


"Keluarga kita sudah menunggu sedari tadi , dan juga penghulu sudah nampak tidak sabar menunggu lagi." Kata ibu Dhanny sambil berbisik lagi.


"Maaf , saya terlambat." Kata Shalimar yang baru saja datang memasuki ruangan akad pernikahan dengan mengenakan gaun kebaya berwarna putih dan riasan adat jawa yang membuat wajahnya terlihat begitu mungil dan cantik.


Dhanny menahan napasnya untuk sejenak , perasaan bahagia dan lega bercampur menjadi satu. Shalimar kembali kepadanya. Benar-benar kembali kepada dirinya di detik-detik terakhir dirinya akan menyerah jika Shalimar akan lepas darinya.


Shalimar berjalan perlahan menuju tempat duduk disamping Dhanny. Shalimar tersenyum kearah Dhanny dan dengan spontan Dhanny menggenggam tangan Shalimar dengan hangat.


"Kau sudah datang." Bisik Dhanny sambil tersenyum begitu lebar.


Shalimar mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Tapi aku masih ada perhitungan denganmu, jangan terlalu bahagia." Balas Shalimar sambil berbisik juga.


"Tidak masalah ." Kata Dhanny tanpa memudarkan senyuman dari wajahnya.


Melihat mempelai wanita sudah datang , penghulu langsung berdehem dan menata jasnya sambil duduk di hadapan Dhanny dan Shalimar.


"Baiklah , mempelai wanita sudah datang. Kita bisa mulai acara akadnya." Kata penghulu yang lebih terlihat tidak sabar dibandingkan mempelai yang akan ia nikahkan hari ini.


"Tunggu dulu." Teriak Eva yang tiba-tiba datang dan masuk kedalam ruang akad sambil tergesa-gesa.


Semua mata tertuju kepada Eva yang datang dengan terburu-buru dan wajah yang merah karena berlari menuju tempat akad pernikahan Dhanny dan Shalimar.


"Pernikahan ini tidak bisa berlangsung , aku menentangnya." Kata Eva setelah dirinya berdiri di depan Dhanny dan Shalimar.


Seketika terdengar suara berbisik dari banyak orang yang sudah hadir disana. Kedua orangtua Dhanny dan ibu Shalimar juga terkejut akan apa yang dilakukan Eva saat ini.


"Aapa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Dhanny sambil berdiri dari duduknya.


"Pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan." Kata Eva tak kalah garang dengan Dhanny .


"Apa maksudmu?" Tanya Dhanny sambil mengernyitkan keningnya.


"Tolong panggil keamanan kemari , bawa dia untuk keluar dari sini karena mengganggu berlangsungnya acara." Kata Dhanny sambil melihat kearah orang yang berada didekat pintu keluar untuk memanggil petugas keamanan agar segera datang membantu membawa Eva keluar dari ruangan akad.


"Karena aku sedang mengadung anakmu." Kata Eva seketika sebelum ada yang beranjak dari tempatnya masing- masing.


Semua terdiam untuk beberapa detik mendengarkan apa yang diucapkan oleh Eva. Kemudian mulai terdengar suara berbisik yang makin kencang diantara para tamu undangan yang hadir disana.


Shalimar berdiri dari duduknya setelah mendengarkan perkataan Eva. Dhanny bisa melihat dari sudut matanya Shalimar sungguh terkejut akan apa yang disampaikan oleh Eva.


"Tidak mungkin." Balas Dhanny dengan cepat.


Dhanny melihat kearah Shalimar sejenak dan melihat kearah Shalimar yang juga tengah menatap dirinya.


Dhanny menggelengkan kepalanya sebagai tanda dirinya tidak melakukan hal seperti ap ayang dikatakan Eva.


"Bagaimana tidak mungkin? Apa kau ingin aku membuktikannya diantara semua yang sudah hadir disini?" Tanya Eva dengan keberanian yang muncul setelah melihat ekspresi Shalimar.


"Dengan apa kau membuktikan hal itu?" Dhanny berbalik tanya , kali ini dengan senyuman sinis kearah Eva.


"Aku memiliki bukti hasil testpack dan hasil usg dari dokter." Jawab Eva sambil menegernyitkan keningnya melihat senyuman Dhanny.


"Maka itu bukan anakku." Kata Dhanny dengan tenang.


"Aku bisa membuktikannya dengan test DNA jika kamu tidak mempercayainya." Eva masih berusaha untuk meyakinkan Dhanny.


Mendengarkan apa yang sedang Eva katakan dan reaksi Dhanny , Shalimar merasa begitu kacau saat ini dan tidak tahu harus berbuat apa. Shalimar berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Ia sudah memutuskan untuk mempercayai Dhanny setelah begitu lama menenangkan dirinya sendiri. Apa yang Eva katakan bisa jadi sebuah jebakan untuk Dhanny , tapi juga mungkin bukan. Namun mengingat betapa Dhanny menghargai dirinya selama ini , seharusnya ini semua hanyalah rekayasa yang Eva siapkan untuk mengacaukan pernikahannya dengan Dhanny.


Dhanny mengangguk kearah seorang pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Pria itu berdiri dan langsung berjalan menghampiri Dhanny. Pria itu juga menyerahkan selembar kertas kepada Dhanny. Dengan tenang Dhanny menerima lembaran kertas itu dan menunjukkan kepada Eva.


"Karena aku mandul." Kata Dhanny tanpa ekspresi kepada Eva.


Bukan hanya Eva yang terkejut dengan perkataan Dhanny , Shalimar lebih terkejut lagi. Ibu Dhanny juga langsung menyentuh kepala sambil memejamkan mata.


Semakin riuh terdengar suara percakapan tamu undangan yang sudah hadir disana.


Dhanny mencoba bertaruh kembali saat ini , jika Shalimar mengetahui keadaannya saat ini , akankah Shalimar tetap setuju untuk menikah dengan dirinya atau akan mundur. Setidaknya Dhanny membersihkan namanya dari fitnah yang berusaha dilakukan oleh Eva.


"Apa?" Eva tidak bisa berkata-kata dan merampas lembaran yang berada ditangan Dhanny.


"Apa lagi yang ingin kau katakan disini? Jika memang kau sedang mengandung , maka jelas itu bukan anakku." Kata Dhanny dengan tegas.


"Kau ... Kau mempermainkanku?" Kata Eva sambil menatap mata Dhanny dan meremas lembaran kertas ditangannya.


Eva melangkah mendekati Dhanny , namun dengan cepat Shalimar berdiri didepan Dhanny , menghalangi Eva.


"Apa kau ingin mempermalukan dirimu sendiri? Sambil menyebarkan aib yang kau miliki?" Tanya Shalimar dengan tegas kepada Eva.


"Kau percaya padanya?" Eva masih tidak terima dengan apa yang ia alami.


"Aku percaya padanya." Jawab Shalimar tanpa berkedip kepada Eva.


"Dia mandul , apa kau masih bisa menerimanya?" Suara Eva terdengar begitu lantang ketika tidak ada seorangpun didalam ruangan itu yang berbicara.


"Aku menerimanya." Jawab Shalimar singkat.


"Sekarang , apa kau bisa keluar dari ruangan ini. Kami akan melanjutkan acara pernikahan hari ini. Jika kau tidak hadir sebagai tamu undangan , jangan mengacaukan pernikahan kami." Lanjut Shalimar sambil menunjuk kearah pintu keluar di ruangan akad.


Reaksi Shalimar sungguh diluar dugaan Dhanny. Shalimar memilih untuk tetap melanjutkan pernikahan mereka. Lebih daripada itu , Shalimar bahkan memasang badan untuk dirinya ketika mengetahui bahwa dirinya memiliki kekurangan dihadapan banyak pasang mata.

__ADS_1


Wajah Eva terlihat memerah antara malu dan marah. Dengan kesal Eva menghentakkan kakinya dan berlari keluar dari ruangan sebelum petugas keamanan datang.


Shalimar berbalik dan kembali duduk di tempatnya semula. Shalimar melihat kearah Dhanny.


"Kau tidak mau melanjutkan?" Shalimar menaikkan alisnya sambil tersenyum simpul kearah Dhanny.


Dhanny mengangguk sambil tersenyum dan duduk kembali.


"Baiklah." Kata penghulu yang juga terlihat sedikit terkejut karena insiden itu.


"Kita lanjutkan acara akad pernikahan hari ini."


--------


Acara berlanjut dengan tenang dan dan lancar tanpa kendala berarti. Acara resepsi juga berjalan tanpa kendala berarti.


Dhanny mengenakan setelan tuxedo berwarna putih yang pas dengan tubuh tinggi tegapnya. Rambut Dhanny disisir dengan rapi ke belakang menggunakan pomade , membuatnya semakin terihat maskulin.


Shalimar mengenakan gaun brokat berwarna putih dengan semburan hiasan mawar berwarna merah muda terang di beberapa sisinya. Rambut Shalimar di tata dengan gaya ikal - ikal panjang yang indah , dihiasi mutiara kecil di beberapa sela-sela rambut panjang Shalimar yang tertata dengan rapi. Shalimar membawa bouquet mawar merah muda dan putih dihiasi pita berwarna merah menyala yang kontras dengan warna bouquet dan plastik bunga yang menyelimuti sekumpulan bunga mawar itu.


Dhanny tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Shalimar saat ini. Sekalipun Shalimar membencinya , namun Shalimar saat ini berada di pelaminan bersama dengan dirinya , memilih untuk tetap bersamanya. Bahkan Shalimar juga membela dirinya disaat Eva memberikan serangan kepada Dhanny di ruang akad tadi. Shalimar boleh memaki dirinya , membencinya , memukulnya , asalkan tidak meninggalkannya . Dhanny akan menerima semua konsekuensinya.


Semua tamu undangan yang datang silih berganti memberikan ucapan selamat kepada Dhanny dan Shalimar. Kedua orangtua Dhanny dan ibu Shalimar juga tersenyum lebar menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan yang datang silih berganti.


Hari ini terasa seperti impian yang menjadi nyata untuk Dhanny dan juga Shalimar . Namun Shalimar masih menyimpan perasaan mengganjal untuk ia utarakan kepada Dhanny setelah mereka berada dirumah nanti.


"Tidak kusangka jika mengadakan acara seperti ini benar-benar melelahkan." Kata ibu Dhanny sambil duduk di kursi makan keluarga pengantin setelah acara resepsi yang mereka gelar usai.


"Tapi harus aku akui , cukup menyenangkan." Lanjut ibu Dhanny sambil tersenyum kearah ayah Dhanny dan ibu Shalimar.


Ibu Shalimar membalas senyuman ibu Dhanny dengan sama lebarnya.


"Harus aku akui juga aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Eva dan apa yang kau utarakan tadi sewaktu di ruang akad." Kata ayah Dhanny sambil melihat kearah Dhanny .


"Aku tidak akan melakukan ..." Belum selesai Dhanny berkata-kata , Shalimar langsung menyela pembicaraan diantara Dhanny dan ayah Dhanny.


"Dhanny tidak akan melakukan hal seperti itu. Dia sangat menghargai wanita. Aku percaya kepadanya ,Om." Kata Shalimar dengan penuh keyakinan.


Untuk sejenak ayah Dhanny terdiam melihat reaksi Shalimar yang langsung membela Dhanny.


"Aku bukan tidak percaya kepada Dhanny. Aku paham betul seperti apa Dhanny. Aku hanya merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Eva . Dan juga tentang .. hal yang Dhanny sampaikan tadi." Balas ayah Dhanny sambil menahan senyumannya.


"Tapi .. Kenapa kau masih memanggilku seperti itu?" Kening ayah Dhanny berkerut sambil memandang kearah Shalimar.


"Kalian sudah menikah sekarang. Kau harus memanggilku papa seperti Dhanny dan memanggil mama kepada ibu mertuamu juga." Kata ayah dhanny kali ini sambil merangkul pundak ibu Dhanny.


"Benar yang dikatakan ayah mertuamu. Kau harus memanggil mertuamu seperti orangtuamu sendiri." Tambah ibu Shalimar kepada Shalimar.


Shalimar memandang ragu kearah ibunya dan kemudian melihat kearah kedua orangtua Dhanny. Kemudian Shalimar tersenyum dengan malu-malu.


"Pa , Ma ." Panggil Shalimar kepada kedua orangtua Dhanny.


"Tapi .." Dhanny hendak memprotes keputusan ibunya yang begitu tiba-tiba , namun Shalimar langsung mengenggam tangan Dhanny dengan lembut.


"Baik , Ma." Jawab Shalimar dengan lembut kepada ibu Dhanny.


"Ma , kami akan tinggal sementara di rumah orangtua Dhanny. Setelah itu kami akan tinggal dirumah mama. Kedepannya kita akan membagi waktu untuk tinggal di rumah mama atau rumah orangtua Dhanny." Kata Shalimar kepada ibunya.


Ibu Shalimar mengangguk sambil tersenyum kearah Shalimar.


"Iya , mama tahu. Dhanny sudah pernah mengatakannya kepada mama. Mungkin nanti kalian yang akan memutuskan berapa hari kalian akan tinggal dirumah mama dan rumah orangtua Dhanny."


"Aku menitipkan Shally kepada kalian." Kata ibu Shalimar ketika melihat kearah kedua orangtua Dhanny.


"Tentu saja. Kami akan menjaga Shally seperti anak kami sendiri." Balas ayah Dhanny kepada ibu Shalimar.


Sekalipun perlakuan ibu Dhanny terlihat agak dingin kepada Shalimar , namun Shalimar percaya jika Dhanny tidak akan membiarkan dirinya tersia-sia selama mereka tinggal bersama kedua orangtua Dhanny.


------------


Shalimar awalnya ragu untuk mengambil keputusan , dia akan meninggalkan Dhanny atau tetap melangsungkan pernikahannya dengan Dhanny. Shalimar sengaja tidak memberikan kabar sama sekali kepada Dhanny maupun ibunya. Keraguan itu menghilang saat Shalimar ingat bagaimana Dhanny memperlakukannya selama ini , Dhanny tidak pernah memanfaatkan dirinya sekalipun dirinya dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Malam itu ketika Dhanny menjemputnya dari apartement Taufan , Shalimar masih ingat seperti apa Dhanny memperlakukannya. Dhanny tidak mengambil keuntungan dari Shalimar hanya utnuk kesenangan sesaat. Meskipun Shalimar mencoba untuk terus menarik Dhanny untuk hal yang sangat tidak bisa ditolak Dhanny , Dhanny benar-benar menjaga martabat Shalimar sebagai seorang wanita yang belum menikah dengan dirinya.


Dhanny bahkan rela kehilangan yang ia miliki hanya untuk mendapatkan restu menikahinya , ia ingin memiliki Shalimar tanpa menentang kedua orangtuanya dan memiliki keteguhan yang tidak dimiliki pria - pria yang selama ini mendekati dirinya , termasuk Rendy.


Hari ini ketika Eva membuat keributan sebelum acara akad pernikahannya , Shalimar sempat ragu kepada Dhanny , namun hati kecilnya sangat mempercayai Dhanny tidak akan melakukan hal itu kepada Eva. Shalimar juga tidak tahu mengapa ia tetap berdiri disamping Dhanny sekalipun mengetahui jika Dhanny mandul. Sebuah kekurangan yang tidak main-main untuk seorang pria. Shalimar juga tidak ragu ketika ibu Dhanny meminta dirinya dan Dhanny untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari ini.


Shalimar mencoba untuk mempercayai Dhanny sepenuhnya walaupun itu bukan berarti dirinya akan bergantung kepada Dhanny. Shalimar ingin memulai dari awal dengan Dhanny , menjalani segala sesuatunya bersama.


----------


Eva melemparkan botol parfum mahalnya kearah cermin meja riasnya. Menghancurkan cermin yang cantik itu menjadi berkeping -keping.


"Bagaimana bisa ? Bagaimana bisa semua ini terjadi. Aku sudah merencakannya dengan matang. Kenapa dia bisa melakukan hal ini kepadaku?" Teriak Eva pada dirinya sendiri.


"Ada apa ini?" Tanya ibu Eva yang baru saja membuka pintu kamar Eva dan terkejut melihat putrinya terlihat begitu kacau dan banyaknya serpihan kaca berhamburan di hadapan Eva.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak ibu Eva sambil menghampiri Eva dan memeluk putrinya yang menangis terisak-isak dalam pelukannya.


"Dhanny mengkhianatiku , ia menikah dengan perempuan sialan itu. Aku tulus mencintainya , Ma. Kenapa dia begitu jahat kepadaku?" Suara Eva terdengar begitu sesak beradu dengan isak an tangisnya.


"Sudahlah , lupakan saja dia. Kau masih memiliki masa depan yang panjang dan cerah. Apa yang kau harapkan dari pria seperti Dhanny?" Kata ibu Eva sambil berusaha menenangkan putrinya.


"Aku tidak mau , Ma. Aku hanya ingin Dhanny. Susah payah aku mendapatkan hatinya , susah payah aku mendapatkannya untuk menikah denganku , tapi sekarang ia menikah dengan oranglain. Apa mama tahu perjuanganku selama ini untuknya ? Aku juga sudah berkorban banyak untuk dirinya. Tapi dia mengabaikanku begitu saja hanya karena wanita sialan itu. Aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak rela mereka bahagia sementara aku tidak." Eva hampir meninggikan nada bicaranya karena emosi yang tidak terkontrol saat ini.


"Baik sayang , mama akan membantumu jika kau memang menginginkan hal itu. Mama juga tidak ingin melihat putri kesayangan mama menjadi seperti ini. Jika putri mama hancur , maka mereka yang membuatmu hancur harus merasakan hal yang sama denganmu." Janji ibu Eva sambil terus membelai punggung Eva.


"Jangan menangis lagi , kamu harus kuat untuk membalas sakit yang sudah mereka berikan kepadamu." Ibu Eva mengecup pangkal kepala Eva dengan lembut dan memeluk Eva dengan erat.


---------------

__ADS_1


Sambil menggenggam erat setir mobilnya , Rendy berulang kali memaki nama Dhanny dengan penuh emosi. Rendy datang keacara pernikahan Shalimar dan Dhanny , ia juga menyaksikan bagaimana Eva membuat keributan sebelum akad pernikahan itu terjadi.


Awalnya Rendy ingin mengacaukan pernikahan Shalimar , namun Eva terlebih dahulu melakukan hal itu. Dari sana Rendy merasa masih memiliki peluang untuk menarik Shalimar kembali ke sisinya. Rendy memiliki apa yang tidak akan dimiliki oleh Dhanny , yaitu keturunan . Di depan banyak orang Dhanny mengakui jika dirinya mandul.


Rendy merasa peluang yang begitu besar sedang menantinya , namun Rendy juga kecewa ketika melihat sendiri bagaimana Shalimar tetap memilih bersama Dhanny dan membela Dhanny. Shalimar tidak pernah melakukan hal itu kepada dirinya selama ini. Tapi Shalimar melakukan hal yang begitu besar terhadap Dhanny.


"Aku tidak akan tinggal diam. Kalian menikah hari ini , masih ada hari esok untuk kalian berpisah." Janji Rendy dalam hati.


Rendy paham betul jika Aabid jelas akan menjadi alasan terbesarnya untuk menarik Shalimar kembali kepelukannya.


-----------


Shalimar mencoba menguatkan hatinya ketika memasuki rumah orangtua Dhanny. Ia kini menjadi bagian dari keluarga Dhanny , ia sudah menjadi istri sah Dhanny. Shalimar membuang segala kemungkinan terburuk untuk mengulang masalalunya bersama Rendy dulu. Banyak hal menjadi pertimbangan Shalimar untuk melangkah sejauh ini. Dan Shalimar siap untuk bertaruh untuk hidupnya bersama Dhanny.


"Kamar kalian ada di lantai 2. Itu kamar Dhanny ketika Dhanny masih tinggal bersama kami." Kata Ibu Dhanny dengan wajah datar kepada Shalimar sambil menunjuk kearah lantai 2 .


"Iya , Tan.. Ma" Kata Shalimar dengan cepat meralat panggillannya kepada ibu Dhanny.


"Aku akan membawa koper ke atas." Kata Dhanny sambil menyentuh lembut pundak Shalimar.


Setelah Dhanny beranjak dari tempatnya , Shalimar kembali merasa kikuk berada didekat ibu Dhanny. Shalimar tidak tahu harus membuka pembicaraan seperti apa dengan ibu Dhanny.


"Aku akan beristirahat. Papamu juga sudah berada dikamar. Kita akan bertemu lagi besok ketika sarapan. Kalau kau ingin membantu memasak , kau bisa bergabung denganku dan bibi besok pagi." Kata ibu Dhanny kemudian berjalan kearah kamar utama di rumah itu.


Shalimar menarik napas lega ketika ibu Dhanny meninggalkan dirinya disana. Entah ibu Dhanny mengerti akan apa yang ia rasakan atau ibu Dhanny juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Namun hal itu memberikan perbadaan yang jauh dengan orangtua Rendy.


"Kau tidak naik?" Tanya Dhanny kepada Shalimar dengan lembut sambil menjinjing tas koper yang ia bawa.


"Apa aku perlu membantumu?" Shalimar menoleh kearah Dhanny seketika .


"Tidak perlu , aku bisa melakukannya sendiri. Kau juga sudah cukup lelah hari ini." Balas Dhanny sambil tersenyum kearah Shalimar.


Shalimar mengikuti langkah Dhanny menuju ke kamar mereka yang berada di lantai 2. Dhanny membuka pintu kamar yang berwarna putih itu dan membiarkan Shalimar untuk masuk terlebih dahulu. Setelah Shalimar masuk kedalam kamar barulah Dhanny ikut masuk sambil membawa koper .


"Aku akan mengambil koper satu lagi , kau bisa mandi dulu atau jika kau ingin langsung beristirahat .. kau bisa .. " Dhanny tiba-tiba merasa canggung dengan keberadaan Shalimar di sampingnya yang sudah berstatus sebagai istrinya secara sah.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri." Balas Shalimar dengan cepat tanpa tersenyum kepada Dhanny.


"Baiklah." Kata Dhanny sambil mencoba memikirkan apa yang akan Shalimar katakan kepadanya setelah ini.


Dhanny yakin jika Shalimar pasti akan memberinya suatu hukuman yang tidak terduga. Bukan takut yang Dhanny rasakan , namun perasaan geli yang menggelitik dihatinya. Seperti sesuatu hal yang ia nantikan selama ini.


Setelah Dhanny selesai mengangkat koper di kamar . Shalimar sedang duduk di sofa kecil kamar tidur mereka sambil menyilangkan tangan didepan dadanya. Shalimar masih mengenakan pakaian yang ia kenakan tadi dan terlihat jika Shalimar memang sedang menunggu dirinya untuk berbicara akan apa yang mengganjal di hati Shalimar selama prosesi pernikahan mereka tadi.


"Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Tanya Dhanny dengan hati-hati sambil mengusao tengkuknya .


"Kau sudah tahu jika aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Kenapa masih kau tanyakan hal itu." Jawab Shalimar dengan tegas tanpa basa - basi.


Dhanny duduk berhadapan dengan Shalimar sambil menegakkan tubuhnya. Dhanny menarik napas panjang sebelum Shalimar memulai mengatakan sesuatu.


"Kenapa kau tetap melangsungkan pernikahan padahal kau tahu aku tidak memberi kabar apapun kepadamu?" Tanya Shalimar tanpa melepaskan pandangannya dari Dhanny.


"Aku yakin kau akan datang." Jawab Dhanny dengan cepat dan penuh keyakinan.


"Bagaimana jika aku tidak datang?" Tanya Shalimar tidak kalah cepat.


"Aku akan menunggumu , aku akan menanggungnya sendiri. Aku bertaruh besar untuk hal ini."


Mendengar jawaban Dhanny , Shalimar bisa menilai jika Dhanny benar-benar ingin memperjuangkan dirinya.


"Lalu , bagaimana dengan Eva? Apa benar semua yang ia katakan?" Tanya Shalimar kali ini tanpa berkedip.


"Pertama , aku tidak pernah mencintainya . Kedua , aku tidak mungkin melakukan hal yang tidak pantas kepadanya sekalipun aku dalam pengaruh minuman keras sekalipun." Jawab Dhanny dengan tegas.


"Lalu kenapa kau masih tetap berada di sisiku saat mengetahui apa yang aku alami? Kau juga berada di hadapanku untuk membelaku? Kau tidak memperdulikan kekuranganku. Kau juga memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan kita tanpa mengucapkan sepatah kata keberatan." Giliran Dhanny yang ingin mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya kepada Shalimar.


"Aku .. Aku hanya merasa untuk .. Itu sudah menjadi kewajibanku . Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan hal itu. " Jawab Shalimar sambil memalingkan wajahnya.


"Aku akan mandi dulu." Kata Shalimar berusaha untuk mengelak dari serangan balik Dhanny kepada dirinya.


Shalimar berdiri dari duduknya dan hendak berjalan kearah kamar mandi dalam yang berada dikamar. Dhanny juga berdiri tidak kalah cepat dari Shalimar , Dhanny dengan cepat memeluk Shalimar dari belakang.


"Apa kau tahu betapa takutnya aku? Aku benar-benar akan berlari mencarimu kemanapun jika kau tidak datang hari ini. Aku tidak peduli jika kau membenciku , aku akan tetap mendatangimu. Ketika kau datang , aku seperti berada didalam dunia nyata dan bernapas dengan begitu lega. Ketika Eva datang dengan hal yang tidak aku duga , aku juga berharap kau tidak akan meninggalkanku. Dan kau tidak meninggalkanku , kau tetap berada disampingku , bahkan kau berada di depanku untuk membelaku. Jika kau tidak mencintaiku , kau akan dengan cepat berpaling dan pernikahan ini tidak akan terjadi. Jika kau marah kepadaku , kau boleh mencaci maki ku , kau boleh memukulku , kau boleh marah padaku , hanya saja jangan meninggalkanku lagi." Kata Dhanny sambil berbisik di telinga Shalimar.


Mendengarkan hal itu dari Dhanny membuat jantung Shalimar berdebar begitu kencang , seperti seorang yang baru saja jatuh cinta. Shalimar bersusah payah untuk memberikan tembok kepada hatinya untuk perasaan itu , namun saat ini semuanya seolah runtuh tak bersisa.


"Aku akan mendengarkan apapun yang kau katakan , aku tidak akan meninggalkanmu untuk alasan apapun , aku juga akan melindungimu sekalipun itu dari keluargaku sendiri. Aku akan membahagiakanmu seperti apa yang kau inginkan." Lanjut Dhanny sambil mempererat pelukannya pada Shalimar.


"Jangan menjadi apapun." Kata Shalimar setelah beberapa detik dirinya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dhanny.


Shalimar melepaskan tangan Dhanny dari tubuhnya dengan lembut. Shalimar berbalik menghadap Dhanny sambil sedikit mendongak karena tinggi tubuh Dhanny yang lebih dari dirinya.


"Jadilah dirimu sendiri." Lanjut Shalimar sambil menangkup wajah Dhanny dengan lembut.


"Kau menerima segala kekurangan yang aku miliki , aku juga. Aku tidak melakukan ini karena beban rasa balas budi kepadamu. Aku hanya merasa jika aku bersamamu , mungkin aku akan bisa bahagia. Jadi , kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri." Kata Shalimar sambil tersenyum kepada Dhanny.


Dhanny tersenyum dengan lebar mendengar apa yang Shalimar katakan dan menyentuh tangan Shalimar yang berada di wajahnya. Dhanny mengecup tangan kiri Shalimar dengan lembut.


"Jika aku tahu kau seperti ini berharganya , aku pasti akan mendapatkanmu terlebih dahulu waktu itu. Tanpa membiarkanmu terluka." Kata Dhanny dengan suara yang rendah.


Dhanny menangkup wajah Shalimar dan mencium bibir Shalimar dengan lembut. Benar-benar lembut tanpa memaksa hingga membuat Shalimar merasakan aliran darah dari jantungnya bergerak begitu cepat. Shalimar tidak akan menahan dirinya lagi , dia kini sudah menjadi istri dari Dhanny ,pria yang akhirnya merobohkan segala pertahanan yang ia miliki. Shalimar membalas ciuman Dhanny dengan lembut pada awalnya.


Balasan dari Shalimar membuat Dhanny yang menjadi hilang kendali akan kesabaran yang ia miliki selama ini. Ciuman lembut itu berubah menjadi semakin panas ketika Dhanny memagut bibir Shalimar semakin dalam , napas Dhanny dan Shalimar juga semakin memburu . Dhanny memeluk tubuh Shalimar dengan erat , tangan Dhanny menyangga punggung Shalimar yang makin terasa ringan ditangannya. Shalimar mengakhiri ciuman yang seakan tanpa akhir itu dari Dhanny.


"Aku akan mandi.." Kata Shalimar dengan canggung sambil berusaha mendorong tubuh Dhanny darinya.


"Nanti. Kita akan mandi bersama." Tolak Dhanny dan melanjutkan ciumannya seakan itu candu baginya.


__ADS_1


__ADS_2