
Dhanny mendapatkan pesan dari Shalimar ketika dirinya mencoba menghubungi Shalimar beberapa kali namun tidak mendapatkan jawaban. Shalimar mengatakan jika dirinya ingin beristirahat , Dhanny merasa mungkin jika dirinya memberikan waktu untuk Shalimar menenangkan diri setelah Dhanny mengungkapkan keinginannya di hadapan ibunya dan juga Eva.
Namun hati Dhanny terasa tidak tenang. Kemudian Dhanny mendapatkan pesan dari Mei ketika dirinya sedang hendak sarapan. Mei memberitahu Dhanny jika Rendy menemui Shalimar dan hendak kembali kepada Shalimar. Firasat buruk yang dirasakan Dhanny terbukti dan Dhanny tidak ingin kehilangan sedikit harapannya untuk kedua kali.
Tanpa pikir panjang Dhanny langsung pergi menuju ke tempat Shalimar bekerja . Berbagai macam kemungkinan berkelebat dalam pikiran Dhanny selama perjalanan , Shalimar juga tidak dapat Dhanny hubungi.
"Apapun yang terjadi , aku akan bertahan." Kata Dhanny dalam hati.
Ponsel Dhanny berdering ketika Dhanny baru saja memarkirkan mobilnya di depan tempat Shalimar bekerja. Dhanny melihat nama Shalimar di layar ponselnya dan dengan cepat menjawab panggilan dari Shalimar.
Mendengar Shalimar ingin berbicara dengannya , Dhanny merasakan sakit di dadanya. Shalimar akan kembali kepada Rendy dan Dhanny tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Namun Dhanny harus bersikap tenang dan terkendali , Shalimar bukan wanita yang mudah dihadapi ketika sedang bimbang seperti saat ini. Dhanny akan mendapatkan hati Shalimar bagaimanapun caranya.
Saat Shalimar sudah mengucapkan jika Shalimar tidak ingin menjalin hubungn dengan Dhanny dengan alasan yang tidak Dhanny duga , Dhanny merasa kecewa. Hingga akhirnya Dhanny yang mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin Shalimar putuskan , Dhanny harus mengambil langkah lebih jauh sekalipun Shalimar akan membencinya nanti.
"Kita menikah secepatnya." Kata Dhanny tanpa memberikan pilihan lain untuk Shalimar.
Shalimar memandang Dhanny dengan wajah terkejut.
"Kenapa aku harus menikah denganmu?" Tanya Shalimar dengan lugu.
"Jika memang Eva akan melakukan hal yang kau khawatirkan , tidak akan ada yang dirugikan karena kau adalah istriku. Tidak akan ada komentar negatif tentangmu ataupun tempatmu bekerja." Jawab Dhanny dengan santai.
"Aku menikah denganmu hanya karena alasan menyelamatkan perusahaan tempatku bekerja?" Shalimar masih tidak bisa memahami apa yang dipikirkan oleh Dhanny.
Solusi yang harusnya dilakukan adalah mereka tidak perlu bersama lagi , tapi Dhanny berbalik mengajak Shalimar untuk menikah dengannya.
"Bukankah kau tadi mengatakan kau takut jika suatu saat Eva akan melakukan hal yang tidak diinginkan dan berdampak pada perusahaan tempatmu bekerja , hal ini jelas merugikan banyak orang." Balas Dhanny.
"Iya ... Tapi bukan ini .. Maksudku .. Seharusnya kita tidak bersama .. Bukan. Seharusnya ..." Shalimar bahkan tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada Dhanny.
"Aku tidak akan kehilanganmu lagi." Dhanny memotong penjelasan dari Shalimar.
"Semua tentang demi perusahaanmu hanyalah alasan yang aku buat-buat. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu sekalipun kau menolak." Lanjut Dhanny memandang lurus kearah Shalimar.
Shalimar melihat kesungguhan di mata Dhanny yang tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan tidak ada yang bisa Shalimar katakan ketika Dhanny dengan jujur dan tegas mengatakan hal itu didepannya.
"Aku .. Tidak bisa." Kata Shalimar tanpa sadar.
Shalimar bahkan ragu untuk menjawab. Saat ini berpisah dengan Dhanny dan kembali ada Rendy adalah piliihan yang tepat. Rendy pada akhirnya meminta dirinya untuk kembali dan memulai lembaran baru bersama dengan Aabid.
"Kenapa kau harus mengingkari hatimu sendiri?" Tanya Dhanny sambil menopangkan kedua tangannya diatas meja.
"Aku tidak mengingkarinya." Jawab Shalimar berbanding terbalik dengan hatinya.
Tidak mungkin bagi SHalimar untuk mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan untuk Dhanny.
"Jika kau benar-benar tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadaku , maka kau akan menolak ketika aku mengenakan kalung itu kepadamu sedari awal." Kata Dhanny dengan mata yang begitu tegas menolak untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Shalimar.
"Aku .. Aku tidak bisa menerimanya." Shalimar hendak melepaskan kalung yang tadi Dhanny berikan kepadanya.
"Kau melepaskannya aku yang akan mengajukan tuntutan untuk EO mu , jika kau tetap mengenakannya aku akan menganggap kau menyetujui pernikahan kita." Dhanny tidak sedang memberikan pilihan saat ini.
"Kau.. Sedang mengancamku saat ini?" Shalimar memandang kearah Dhanny dengan rasa tidak percaya.
"Aku melamarmu." Jawab Dhanny dengan santai dan tersenyum simpul kepada Shalimar.
"Melamarku dengan ancaman?" Tanya Shalimar berusaha untuk memperjelas maksud dari Dhanny.
"Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentang apa yang aku lakukan dihadapanmu saat ini. Aku ingin jawabanmu sekarang." Balas Dhanny dengan ketegasan yang membuat Shalimar bahkan tidak bisa menyanggah.
"Beri aku waktu untuk berpikir..." Kata Shalimar sambil memalingkan wajahnya kearah lain selain Dhanny.
"Satu minggu." Ucap Dhanny dengan cepat.
Kata-kata Dhanny membuat Shalimar memalingkan wajahnya kembali kepada Dhanny.
"Satu minggu? Kau sudah gila. Beri aku waktu .."
"Empat hari." Dhanny dengan cepat memotong kata-kata Shalimar.
"Satu minggu." Shalimar menganggukkan kepalanya dengan kesal sambil merentangkan telapak tangannya di hadapan Dhanny agar tidak mengurangi jumlah hari yang di tetapkan oleh Dhanny.
Dhanny tersenyum mendengarkan jawaban Shalimar. Senyuman kemenangan terukir di bibir Dhanny dan hal itu benar-benar membuat Shalimar kesal.
Pelayan cafe itu datang sambil membawakan minuman yang sudah Shalimar dan Dhanny pesan. Dengan cepat Shalimar mengambil gelas yang baru saja hendak diletakkan oleh sang pelayan dan langsung meneguk hampir separuh dari isi gelas itu.
"Minumlah dengan perlahan. Kau bisa tersedak kalau seperti itu." Kata Dhanny dengan santai.
Shalimar meletakkan gelas miliknya dengan keras dan memandang kearah Dhanny dengan mata yang berkilat marah.
"Aku tidak akan mati tersedak , tapi aku bisa mati karena kesal olehmu." Balas Shalimar dengan alis yang terangkat.
"Kau tidak akan menyesalinya." Kata Dhanny sambil tersenyum hangat kepada Shalimar.
"Aku akan menunggu jawaban darimu dalam satu minggu dan aku akan mempersiapkan pernikahan kita." Lanjut Dhanny dengan begitu santai dan percaya diri.
------------------
Mei sudah memperkirakan jika Shalimar pasti akan menemuinya terkait dengan Dhanny. Namun Mei tidak menyangka jika Dhanny akan mengambil langkah yang begitu diluar perkiraan Mei.
"Satu minggu?" Mei bahkan tidak menyadari jika dirinya berteriak ketika Shalimar menceritakan waktu yang Dhanny berikan untuk Shalimar menjawab lamaran Dhanny.
"Pelankan suaramu." Bisik Shalimar sambil melihat pengunjung lain yang melihat kearah mereka berdua di mini market tempat ia menemui Mei.
"Lalu ? Apa yang akan kau jawab?" Tanya Mei mulai menurunkan nada bicaranya.
"Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih saat ini , Mei. Kenapa dia harus hadir ketika Rendy juga ingin aku kembali padanya lagi." Shalimar menghela napas panjang dan memejamkan matanya.
"Apa kau masih begitu mencintai Rendy? Kau benar-benar tidak memiliki perasaan apapun dengan Dhanny?" Tanya Mei sambil memandang kearah Shalimar yang tengah frustasi saat ini.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Rendy mengatakan jika aku harus menunggunya sebentar lagi. Dia ingin membangun keluarga yang sesungguhnya bersamaku dan Aabid. Hal yang benar-benar aku inginkan selama ini. Tapi hatiku tidak merasa bahagia , ada yang begitu mengganjal didalam sini." Jawab Shalimar sambil menyentuh dada kirinya.
"Apakah hatimu sudah terbagi sekarang?" Mei mencoba untuk mengetahui apa yang akan Shalimar katakan.
"Tidak." Jawab Shalimar dengan cepat.
"Aku tidak tahu." Lanjut Shalimar sambil memandang kearah luar yang saat ini sedang diliputi suasana mendung.
"Apa yang kau rasakan ketika kau bersama Rendy? Dan apa yang kau rasakan ketika kau bersama Dhanny?" Mei mencoba untuk mendorong Shalimar agar mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Aku bahkan tidak ingin mengatakannya , Mei. Aku takut jika aku tersakiti lagi. Entah dengan Rendy ataupun Dhanny . Aku takut memiliki harapan yang berlebihan lagi dan akhirnya aku harus merasa kecewa dan sakit hati lagi." Kata Shalimar sambil memandang entah kemana.
"Kau akan kembali pada Rendy?" Tanya Mei mulai mengerti jalan pikiran Shalimar.
"Mungkin. Aku pikir mungkin itu pilihan yang terbaik. Aku mengharapkan hal ini sedari dulu. Aku juga ingin merasakan memiliki keluargaku sendiri bersama dengan Rendy dan Aabid. Setidaknya jika memang Rendy tidak menepati janjinya lagi , aku tidak akan merasa begitu tersakiti." Jawab Shalimar dengan sungguh-sungguh.
Jika Shalimar mengiyakan apa yang Rendy tawarkan, sekalipun Rendy mengingkari janjinya , Shalimar tidak akan merasa begitu kecewa. Tapi jika Shalimar mengiyakan lamaran Dhanny , mungkin Shalimar akan sangat kecewa karena mengharapkan hal yang lebih untuk Dhanny. Shalimar bukan meragukan kesungguhan Dhanny. Shalimar meragukan apa yang ia rasakan dan rasa takut jika Dhanny akan berubah seperti Rendy kepadanya dulu. Shalimar akan sangat tersakiti jika hal itu sampai terjadi.
"Kau juga mencintai Dhanny." Kata Mei pada akhirnya melihat raut wajah Shalimar yang begitu terlihat kebingungan.
"Aku tidak mengatakan seperti itu.." Shalimar mencoba mengelak.
__ADS_1
"Aku mengenalmu , Shally. Bahkan melebihi dirimu sendiri." Potong Mei ketika Shalimar mencoba berbohong kepada dirinya.
"Dan hal itu yang aku benci darimu." Gumam Shalimar sambil melirikan matanya kepada Mei.
"Jika kau memilih bersama Rendy tidak ada jaminan untukmu merasa bahagia karena hatimu sudah terbagi. Dan kau juga tidak tahu apakah Rendy bersungguh-sungguh akan menepati janjinya kepadamu atau tidak . Kau sudah menunggu terlalu lama untuk Rendy , kenapa baru sekarang Rendy ingin membangun keluarga yang sesungguhnya untukmu? Jika kau bersama dengan Dhanny kau takut jika Dhanny akan mengecewakanmu seperti yang dilakukan oleh Rendy dulu kepadamu." Kata Mei mencoba mengikuti alur pemikiran Shalimar.
Shalimar menghela napas panjang dan menerima apa yang Mei katakan kali ini. Shalimar merasa lelah untuk menutupinya kali ini.
"Aku ingin bersama Aabid." Kata Shalimar dengan jujur.
"Aku merindukan memeluknya dan memilikinya seperti ibu yang lain. Aku tidak bisa menjamin jika Dhanny akan menerima Aabid. Sekalipun ia menerima Aabid , aku tidak yakin dia akan tulus menyayangi Aabid seperti anaknya sendiri. Aku tidak ingin kehilangan Aabid."
"Aabid hanya menjadi alasanmu saja atau kau memang ingin bersama dengan Aabid?" Tanya Mei mencoba meyakinkan pilihan Shalimar.
"Entahlah , Mei." Shalimar berkedip mendengarkan pertanyaan Mei.
"Aku juga meragukan apa yang akan aku pilih kali ini. Aku hanya ingin Aabid bersamaku. Saat ini bahkan dia tidak mengenaliku sebagai ibunya , aku seperti orang asing ketika bertemu dengan Aabid. Apa kau tahu bagaimana rasanya itu?" Terlihat dimata Shalimar luka yang selama ini Shalimar sembunyikan.
Mei menahan diri untuk bertanya lebih jauh lagi. Mei takut jika Shalimar akan benar-benar menutup hatinya lagi untuk mengatakan hal yang sejujurnya kepada dirinya. Selama ini Shalimar tidak pernah menunjukkan betapa ia terluka karena tidak pernah memilki hak atas Aabid karena orangtua Rendy.
"Pikirkanlah baik-baik akan apa yang akan kau putuskan , Shally." Kata Mei pada akhirnya.
"Jangan sampai kau kehilangan kebahagianmu sendiri. Sudah waktunya bagimu untuk bahagia. Pilihlah yang memberikanmu jaminan kebahagiaan dan juga bisa melindungimu dari apapun yang akan menyakitimu lagi."
Kalimat yang diucapkan Mei seolah memberi Shalimar sejuta pertimbangan lagi untuk kembali bersama Rendy. Selama ini Rendy tidak pernah melindunginya bahkan tidak membela Shalimar ketika kedua orangtua Rendy tidak memperbolehkan Shalimar untuk mengurus Aabid.
Sementara Dhanny bahkan dengan tegas membela dirinya ketika ibu Dhanny bertemu dengan Shalimar waktu itu tanpa ragu.
"Kau sama sekali tidak membantuku." Keluh Shalimar semakin frustasi kali ini sambil menyisirkan rambutnya ke belakang kepala.
"Aku hanya ingin kau benar-benar bahagia , Shally . Tanpa kepura-puraan dan kebohongan yang akan semakin menyakitimu lebih dalam lagi. Bahagiamu hanya kau sendiri yang bisa menciptakan dan menemukannya. Jangan mengingkari apa yang kau rasakan." Kata Mei dengan tulus.
Shalimar tidak bisa mengatakan apapun kali ini. Dan hanya bisa melihat kearah pemandangan yang ada diluar minimarket dengan tatapan kosong.
Selain memikirkan tentang dirinya sendiri , Shalimar juga harus memikirkan apa yang akan terjadi dengan tempatnya bekerja jika Dhanny benar-benar akan menuntut perusahaan Taufan.
-------------
Dhanny terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba di kantornya.
"Mama? Ada apa mama datang tanpa mengirim pesan kepadaku?" Tanya Dhanny sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri ibunya yang baru saja menutup pintu ruang kerja Dhanny.
"Apa tidak boleh mama menemui anak mama sendiri?" Ibu Dhanny berbalik tanya dengan wajah yang masam.
Ibu Dhanny langsung duduk di sofa ruang kerja Dhanny dan meletakkan tas jinjing berwarna hitam di sampingnya.
"Mama masih ingin bertanya tentang apa yang kau katakan kemarin didepan mama dan Eva. Siapa wanita itu? Mengapa kau harus mengambil keputusan seperti ini disaat persiapan pernikahan kalian bahkan sudah hampir selesai?" Ibu Dhanny langsung ke inti permasalahan yang menganggu pikirannya sejak kemarin.
"Sejak awal , aku memang tidak mencintai Eva. Kami menikah juga karena dia mencoba untuk bunuh diri waktu ." Dhanny menjelaskan apa yang ia rasakan dengan tenang dan mencoba memahami apa yang sedang ibunya pikirkan tentang keputusan yang sudah ia ambil.
"Mama sudah mengatakannya kepadamu , terlepas dari apapun alasanmu menikah dengan Eva. Kau memiliki tanggungjawab untuk menjalani kewajibanmu ketika kau sudah menyanggupi untuk menikahi Eva. Mama tidak pernah mendidikmu untuk menjadi lelaki yang lepas dari tanggungjawab." Ibu Dhanny menatap tegas kearah Dhanny tanpa berkedip.
Dhanny bisa merasakan bila ibunya tidak akan begitu saja menyetujui Dhanny untuk membatalkan pernikahannya dengan Eva.
"Aku tidak akan lari dari tanggungjawabku." Kata Dhanny sambil duduk didepan ibunya dan meraih tangan ibunya dengan lembut.
"Aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai , Ma . Dan wanita itu bukan Eva." Lanjut Dhanny dengan lembut kepada ibunya.
"Tapi Eva.."
"Aku akan bertanggungjawab , Ma. Aku akan kerumah orangtua Eva. Aku akan bicara dengan mereka. Apapun reaksi mereka aku sendiri yang akan menanggung resikonya." Kata Dhanny sambil menatap dengan penuh keyakinan pada ibunya.
"Apa yang diberikan oleh wanita itu kepadamu? Apa kelebihan yang ia miliki hingga kau seperti ini?" Tanya ibu Dhanny sambil mengerutkan keningnya.
Sebagai seorang ibu , ibu Dhanny juga ingin anaknya bahagia . Melihat Dhanny begitu sungguh-sungguh akan apa yang akan ia lakukan , ibu Dhanny yakin jika Dhanny benar-benar mencintai wanita itu.
"Siapa nama wanita itu? Apa dia juga bekerja? Siapa orangtuanya? Dimana dia tinggal?" Ibu Dhanny mencoba untuk mengalah kepada Dhanny kali ini.
"Shalimar." Jawab Dhanny sambil tersenyum kepada ibunya.
"Dia hanya seorang wanita biasa , dia juga berasal dari keluarga yang biasa saja. Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil." Lanjut Dhanny dengan mata yang penuh dengan kehangatan.
"Kenapa kau mencintainya?" Tanya ibu Dhanny masih dengan ketegasan yang sama.
"Aku tidak memiliki alasan untuk mencintainya. Aku hanya mencintainya tanpa alasan apapun." Jawab Dhanny.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau rasakan? Apa kau benar-benar akan mencintainya jika kau mengetahui kekurangannya dan juga sisi buruk dari buruknya?" Ibu Dhanny berusaha untuk meyakinkan Dhanny akan keputusan yang akan Dhanny ambil.
"Aku tidak akan menyesalinya. Aku akan menerima kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Aku hanya menikah sekali seumur hidupku , aku tidak ingin menyesalinya." Kata Dhanny sambil menggenggam erat tangan ibunya.
Ibu Dhanny menghela napas melihat kegigihan Dhanny.
"Apa benar dia bekerja di tempat Eva mempercayakan pernikahan kalian? Itu artinya ia tahu jika kau akan menikah dengan Eva. Kau yakin dia adalah wanita yang tepat? Apa kau yakin dia tidak memiliki maksud tersembunyi untuk mendekatimu?"
"Alangkah baiknya jika dia memiliki maksud tersembunyi untuk mendekatiku." Kata Dhanny sambil tersenyum simpul.
"Akan lebih mudah mendapatkannya untuk menikah denganku jika dia memiliki maksud tersembunyi padaku."
Ibu Dhanny mengernyitkan keningnya lebih dalam lagi.
"Aku bahkan harus berusaha sangat keras agar dia mau menikah denganku. Dia berulangkali menolakku , aku yang terus maju untuk memintanya menikah denganku." Dhanny menghela napas panjang mengingat betapa ia benar-benar berusaha untuk mendapatkan hati Shalimar sekalipun harus mengambil langkah yang bhakan tidak ia duga sebelumnya.
"Apa hebatnya dia sampai berani menolakmu?" Dengan spontan ibu Dhanny mengatakan hal itu di depan Dhanny.
Dhanny tersenyum melihat reaksi ibunya.
"Bukannya tadi mama tidak menyukai jika dia bersamaku ? Sekarang mama marah karena dia menolakku berkali-kali?"
"Bukan .. Maksud mama kenapa dia harus menolakmu? Apa dia sudah buta atau gila? Kecuali dia sudah menikah dan memiliki anak , dia pantas untuk menolakmu." Jawab ibu Dhanny sambil memalingkan wajahnya dari Dhanny.
Mendengar hal itu , Dhanny memutuskan untuk tidak mengungkapkan status Shalimar kepada ibunya.
"Dia sudah bersedia untuk menikah denganku setelah aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Eva." Kata Dhanny begitu yakin jika Shalimar pasti akan menerima tawaran darinya.
"Mama harap kau bisa menyelesaikan masalah yang kau timbulkan. Ini bukan masalah kecil. Kau membatalkan sebuah pernikahan. Orangtua Eva belum menghubungi mama ataupun papamu. Mungkin Eva belum menceritakan hal ini kepada kedua orangtuanya." Kata ibu Dhanny.
"Aku tahu. Aku akan segera menyelesaikannya." Balas Dhanny sambil mencium tangan ibunya.
"Mama belum memberikan restu mama kepadamu dan juga wanita itu." Ibu Dhanny dengan cepat menarik tangannya dari Dhanny.
"Namanya Shalimar , Ma. Mama bisa memanggilnya Shally." Kata Dhanny dengan sabar kepada ibunya.
"Setelah masalahmu dan Eva selesai , baru bawa dia kerumah mama." Ibu Dhanny mengambil tas yang ada disampingnya dan berdiri di susul Dhanny yang juga berdiri dari duduknya.
"Aku akan segera menyelesaikan masalah ini dan membawa Shally untuk menemui mama dan papa." Kata Dhanny dengan penuh keyakinan yang tidak terpatahkan.
-------------------
Sesuai janji Dhanny kepada ibunya , Dhanny datang kerumah Eva dengan banyak pemikiran resiko yang akan ia terima nantinya.
Dhanny menghela napas dan menekan bel di pintu rumah Eva. Seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan antusias ketika pintu itu terbuka.
__ADS_1
"Dhanny." Sambutnya sambil tersenyum lebar kearah Dhanny.
"Tante , apa Eva dan om ada dirumah?" Tanya Dhanny yang hanya memberikan senyuman tipis kepada wanita itu.
"Kau mencari Eva? Kenapa kau juga mencari Om? " Tanya wanita itu sambil tersenyum lebar kepada Dhanny sambil mempersilahkan Dhanny untuk masuk kedalam rumahnya.
"Masuklah. Eva sedang berada dikamar. Mungkin dia sedang merajuk , dari kemarin dia mengunci diri didalam kamar dan sampai saat ini ia tidak mau keluar. Mungkin kamu bisa membujuknya untuk keluar kamar."
"Aku akan menunggu di ruang tamu." Balas Dhanny dengan tegas namun tetap memberikan senyumannya kepada wanita itu.
"Kenapa kau begitu sungkan? Kau dan Eva akan menikah sebentar lagi. Dan juga kau bisa mulai memanggilku mama , nanti aku juga akan menjadi mama mertuamu." Kata ibu Eva sambil menepuk lengan Dhanny dengan lembut.
"Aku akan menunggu di ruang tamu saja. Apa om juga ada? Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian semua." Balas Dhanny berusaha untuk tetap pada pendiriannya.
Rencananya untuk membatalkan pernikahannya dengan Eva harus segera ia selesaikan saat ini juga. Dhanny tidak ingin menunda waktu lagi. Bagi Dhanny waktunya begitu terbatas sampai Shalimar menikah dengannya.
"Baiklah. Aku akan memanggil Eva dan juga papa Eva." Kata ibu Eva dengan curiga kearah Dhanny.
Ibu Eva meninggalkan Dhanny yang sudah duduk di sofa ruang tamu dan berjalan kearah kamar Eva.
"Eva." Panggil ibu Eva sambil mengetuk pintu kamar Eva dengan lembut.
"Dhanny datang mencarimu. Apa kau masih tidak mau keluar kamar?"
Dari dalam , Eva yang mendengar hal itu langsung bangkit dari ranjangnya.
"Dhanny? Dia benar-benar datang? Apa dia mengkhawatirkan aku? Apa dia menyesali apa yang sudah ia katakan dan lakukan kepadaku?" Tanya Eva dalam hati.
"Aku akan bersiap-siap untuk menemuinya , Ma. Minta Dhanny untuk menungguku." Jawab Eva dengan bersemangat.
Dengan cepat Eva berjalan kearah meja riasnya dan mulai panik untuk merias wajahnya.
"Dhanny datang menemuiku. Aku tidak boleh terlihat pucat seperti ini." Gumam Eva sambil mengambil kotak bedak miliknya kemudian ia letakkan kembali.
"Apa aku harus terlihat seperti ini saja agar dia merasa bersalah karena sudah meminta putus dariku?"
Eva berpikir sejenak dan melihat bayangan dirinya di cermin rias. Eva memutuskan untuk menemui Dhanny tanpa merias diri. Eva ingin menunjukkan kepada Dhanny betapa ia terluka oleh apa yang sudah Dhanny lakukan kepadanya.
Eva bisa mendengar suara Dhanny yang sedang berbicara dengan orangtuanya. Eva merasa sangat senang melihat wajah Dhanny saat ini.
"Ah , Eva , kau sudah turun." Kata ibu Eva sambil tersenyum kepada putri kesayangannya itu.
"Duduklah disamping Dhanny." Lanjut ibu Eva sambil menuntun Eva untuk duduk disamping Dhanny.
"Baiklah , ada yang ingin aku sampaikan kepada Eva , tante dan juga om hari ini." Kata Dhanny dengan raut wajah serius tanpa memandang kearah Eva.
Melihat ekspresi Dhanny kepadanya , Eva menyadari jika Dhanny tidak datang karena khawatir dengan keadannya , tapi Dhanny benar-benar akan membatalkan pernikahan mereka.
"Dhanny , mungkin kau ingin membicarakan tentang persiapan pernikahan kita , kau mengatakan jika semuanya sudah terselesaikan." Potong Eva dengan cepat berharap Dhanny mengurungkan niatnya untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Eva." Kata Dhanny tanpa memperdulikan perkataan Eva yang mencoba untuk menghentikannya.
"Apa? Kenapa?" Ayah Eva terlihat begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dhanny.
"Apa kami tidak salah mendengar? Kau ingin membatalkan pernikahan kalian yang sebentar lagi akan dilaksanakan?" Tanya ibu Eva dengan suara lantang karena terkejut .
"Bukan , Ma , Pa. Maksud Dhanny adalah dia ingin ..." Eva begitu panik ketika ingin membela Dhanny dan berusaha untuk menghalangi Dhanny membatalkan pernikahan mereka.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kami." Kata Dhanny lagi sambil memotong perkataan Eva.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada Om dan Tante. Sejak awal pernikahan ini bukan kehendakku sendiri. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai."
"Kau kira bisa semudah itu mengucapkan maaf? Apa kau tahu pernikahan itu bukan hal yang sepele dan juga melibatkan banyak pihak." Kata ayah Eva dengan menaikkan nadanya.
"Aku tahu. Karena itu aku tidak ingin jika aku menikah tanpa didasari perasaan yang tulus , Om juga tentunya tidak ingin jika putri Om mengalami pernikahan yang tidak diinginkan . Jika kami memaksakan diri untuk menikah , maka pernikahan kami tidak akan bahagia dan mungkin juga akan mengalami kegagalan." Dhanny dengan penuh keyakinan akan apa yang ia ucapkan kepada ayah Eva.
"Tapi kau sudah berjanji untuk menikahinya, Dhan. Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal ini kepada kami? Apa kau tidak memikirkan Eva. Kau tahu jika Eva sangat mencintaimu , dia bahkan sudah berkorban banyak untukmu." Ibu Eva berusaha untuk merajuk kepada Dhanny.
"Bunuh diri bukan bentuk dari pengorbanan , hal itu hanya membuatku merasa bertanggungjawab akan apa yang tidak aku perbuat." Jawab Dhanny dengan tenang sambil melihat kearah ibu Eva dan juga Eva.
"Aku tahu aku salah waktu itu. Tapi aku tidak ingin membatalkan pernikahan kita. Aku bisa memperbaiki diriku lagi , kau ingin aku menjadi apa aku akan lakukan." Eva memohon kepada Dhanny sambil menarik lengan Dhanny.
"Aku tidak mencintaimu. Aku sudah mengatakan hal ini berulang kali kepadamu. Aku hanya menganggapmu sebagai adikku , tidak lebih daripada itu. Aku tidak memintamu menjadi siapapun , jadilah dirimu sendiri. Hargailah dirimu sendiri." Balas Dhanny dengan tenang kepada Eva.
"Tidak , aku tidak mau." Eva menggelengkan kepalanya dengan cepat dan matanya mulai berair oleh air mata.
"Aku tidak ingin membatalkan pernikahan ini."
Wajah ayah Eva nampak bimbang antara melihat putri kesayangannya dan Dhanny.
"Bisakah kau memikirkan hal ini lagi , Dhan? " Tanya ayah Eva berusaha untuk tenang dalam situasi yang begitu tiba-tiba ini.
"Tidak ,Om. Aku sudah memikirkan hal ini bahkan ketika aku menyetujui untuk menikah dengan Eva." Jawab Dhanny .
"Bukan. Kau membatalkannya karena wanita itu." Eva melepaskan tangan Dhanny dan berdiri dari duduknya sambil menyeka air matanya dengan kasar.
"Kau berselingkuh?" Teriak ibu Eva seketika dan memandang sinis kearah Dhanny.
"Kau sudah tahu akan hal ini ? Dan kau tetap akan menikah dengannya?" Tanya ibu Eva kali ini melihat kearah Eva .
"Aku mengenalnya , aku juga mengetahui hal ini dan tetap akan melanjutkan pernikahan ini . Aku masih mengharapkan Dhanny akan melihat betapa aku tulus mencintainya. Tapi dia malah memilih bersama wanita itu yang bahkan tidak memiliki derajad yang sama denganku." Teriak Eva dengan frustasi.
"Aku akan menikahi wanita yang aku cintai. Jangan pernah menghinanya dihadapanku." Dhanny menatap tajam kearah Eva ,tatapan Dhanny bagaikan tusukan tajam di hati Eva.
"Kau yang berselingkuh disini dan kau berani mengatakan hal itu bahkan dihadapan kami?" Ibu Eva mengernyitkan kening berusaha membela putrinya.
"Aku akui itu kesalahanku. Kesalahanku karena menerima permintaan Eva untuk menikah dengannya." Kata Dhanny dengan tenang.
"Aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan saat ini , aku tidak mengharapkan pengertian dari tante dan om akan keputusan yang sudah aku buat kali ini. Aku membatalkan pernikahan kami hari ini dan aku akan bertanggungjawab untuk apa yang sudah aku lakukan."
"Apa kau kira minta maaf bisa menyelesaikan semuanya? Bagaimana kami bisa menghadapi keluarga besar dan juga relasi yang sudah mengetahui tentang pernikahan ini?" Tanya ayah Eva dambil mengatupkan rahangnya.
"Aku yang akan menjelaskan semuanya kepada keluarga besar dan juga relasi yang sudah mengetahui akan rencana pernikahan kami." Balas Dhanny tanpa berkedip.
"Kau akan menjelaskan apa? Kau membatalkan pernikahanmu karena kau memilih bersama dengan wanita lain?" Nada sinis tidak bisa disembunyikan oleh ibu Eva yang sudah berdiri disamping Eva , merangkul putri kesayangannya yang menangis sesengukkan.
"Aku yang akan menjelaskannya sebagai tanggungjawabku karena membatalkan pernikahan ini." Kata Dhanny dengan tegas.
"Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini batal. Aku tidak rela." Teriak Eva melihat kearah Dhanny kemudian kearah ayahnya.
"Pa , aku tidak mau pernikahan ini batal." Kata Eva berusaha untuk memohon kepada ayahnya agar bisa membujuk Dhanny.
"Eva , jika dia tidak mencintaimu , mungkin ini yang terbaik." Kata ayah Eva dengan bijak sambil menutup matanya.
"Kau sudah gila? Anakmu bahkan mau menerima calon suaminya yang sudah berselingkuh , seharusnya kau membela putrimu. Apa yang akan dikatakan oleh oranglain dan keluarga besar kita nantinya jika mereka tahu Eva gagal menikah? Mereka pasri akan menjadikan kita bahan gunjingan." Ibu Eva memprotes keputusan yang dibuat oleh ayah Eva.
"Apa kau lebih suka jika Eva di gunjing dia menjadi janda karena suami yang tidak pernah mencintainya?" Balas ayah Eva dengan nada tinggi kepada istrinya sambil berdiri dengan tiba-tiba.
Ibu Eva dan Eva terkejut akan apa yang dilakukan oleh ayah Eva yang terlihat begitu emosional. Bahkan Dhanny hanya bisa melihat kearah ayah Eva dengan wajah terkejut.
"Kau." Kata ayah Eva sambil melihat kearah Dhanny.
__ADS_1
"Kau pulanglah. Aku juga tidak ingin melihatmu lagi. Pernikahanmu dengan Eva sudah dibatalkan mulai hari ini. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi dan jangan pernah mendekati Eva."
-------------------