
Mei baru saja datang ke bar tempat Shalimar berada sekarang. Mei bisa melihat dimana sahabatnya itu berada , Shalimar sedang bersama dengan seorang pria yang nampak tidak asing dimatanya. Mereka sedang berbincang entah tentang apa. Ketika Mei mendekati mereka tepat ketika Dhanny mencium telapak tangan Shalimar dengan tatapan mata yang begitu tajam dan intim.
Mei bertanya-tanya apakah pria itu adalah kekasih Shalimar yang baru? Lalu dimana Taufan?
Dengan sedikit ragu , Mei menghampiri keduanya.
"Maaf saya..." Kata Mei llau berhenti ketika melihat Dhanny.
"Kau.. Kau bukannya kau , Dhanny?" Tanya Mei sambil menutup bibirnya dengan tangan kanannya.
Mendengar suara Mei ,Shalimar langsung menatap Mei dan melepaskan tangannya dari Dhanny.
"Meimei ku." Teriak Shalimar dengan senang lalu memeluk Mei dengan tubuhnya yang sudah sempoyongan.
Mei yang tidak kuat menahan tubuh Shalimar dibantu oleh Dhanny. Dhanny menarik tubuh Shalimar dan menyandarkan tubuh Shalimar pada tubuhnya.
"Aku akan membantumu membawa Shally." Kata Dhanny dengan dingin pada Mei.
Mei mengerjapkan matanya dan melihat Dhanny dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kau benar-benar Dhanny?" Tanya Mei lagi.
Dhanny menganggukkan kepalanya. Mei tersenyum lebar kepada Dhanny.
"Bagaimana bisa kau juga berada disini? Dan .. Shally..." Mei merasa ragu untuk meneruskan kalimatnya.
Mei merasa akan terdengar tidak beretika ketika menanyakan hubungannya dengan Shalimar , sementara Shalimar juga tidak pernah mencceritakan tentang Dhanny kepadanya.
"Aku akan membawa Shally dengan mobilku dan mengikuti mobilmu. Kau tidak akan bisa mengatasi Shally ketika ia dalam kondisi seperti ini." Kata Dhanny tanpa menjawab pertanyaan Mei dan melihat kearah Shalimar yang sudah menutup matanya sambil bersandar ditubuh Dhanny.
"Baiklah." Mei mengangguk dan membiarkan Dhanny menggendong tubuh Shalimar . Mei meraih tas milik Shalimar dan langsung berjalan mendahului Dhanny keluar dari bar itu dan menuju ke tempat parkir bar.
Dhanny dengan hati-hati membopong tubuh Shalimar dan membawa Shalimar masuk kedalam mobilnya. Dhanny meletakkan Shalimar di kursi penumpang belakang mobilnya. Ketika Dhanny memposisikan tubuh Shalimar untuk duduk tiba-tiba Shalimar terbangun danmengejutkan Dhanny.
"Aku mau muntah." Kata Shalimar dengan kebingungan . Dhanny dengan cepat membantu Shalimar untuk keluar dari mobil dan mengikuti Shalimar ketika Shalimar mencari tempat untuk memutahkan isi perutnya. Dengan sabar Dhanny menepuk lembut punggung Shalimar.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dhanny dengan cemas ketika Shalimar sudah mulai berdiri dengan sempoyongan sambil menyentuh dahinya sendiri.
Shallimar melihat kearah Dhanny dengant tidak fokus.
"Kenapa kau ada disini? Kenapa kau ada dimanapun aku berada? Kenapa kau tidak hilang dari pikiranku?" Tanya Shalimar yang masih tidak bisa mengontrol kesadarannya sendiri.
"Aku akan mengantarkanmu kerumah Mei. Apa kau ingin minum sesuatu?" Tanya Dhanny dengan sabar dan merasakan perasaan senang dalam hatinya ketika Shalimar mengatakan jika dirinya selalu berada di pikiran Shalimar.
"Aku haus." Jawab Shalimar dengan bibir yang cemberut.
Dhanny membantu Shalimar berjalan kembali ke mobil miliknya , kali ini Dhanny mengajak Shalimar untuk duduk di kursi penumpang depan . Setelah Shalimar duduk disana , Dhanny mengambil botol air mineral dari laci didepan Shalimar. Dhanny membuka tutup botol air mineral itu dan memberikannya kepada Shalimar. Shalimar langsung meminumnya dengan sembarangan sehingga membuat beberapa airnya tumpah di pakaian yang Shalimar kenakan. Dengan cepat Dhanny menarik tbeberapa lembar tisu dari persediaan tisu yang ada disamping Shalimar dan langsung berusaha mengeringkan air yang jatuh di pakaian Shalimar. Shalimar yang masih belum sadar sepenuhnya itu melihat apa yang dilakukan oleh Dhanny kepada dirinya.
"Jangan terlalu baik kepadaku." Kata Shalimar sambil mengambil tisu dari tangan Dhanny dengan sembarangan.
"Aku takut jika nanti aku akan benar-benar jatuh cinta kepadamu." Mata Shalimar menatap kearah Dhanny yang juga sedang menatapnya dari dekat saat ini.
"Maka aku akan selalu berbuat baik kepadamu." Balas Dhanny sambil mengatur napasnya ketika memandang Shalimar dengan jarak sedekat ini.
Dhanny berusaha mengontrol dirinya untuk tidak mencium bibir Shalimar yang terlihat menggoda didepan matanya itu. Dhanny berdiri dari posisinya dan menutup pintu mobil lalu berjalan memutar dan duduk di kursi pengemudi.
"Aku akan mengantarkanmu untuk beristirahat. Kau bisa tidur jika kau merasa lelah." Kata Dhanny sambil menyalakan mesin mobilnya dan melihat lampu mobil yang dikedipkan oleh mobil Mei kearahnya.
------------------------------
Setelah membantu Shalimar tidur di tempat tidur Mei , Dhanny langsung berpamitan dengan Mei.
"Tunggu dulu." Kata Mei sebelum Dhanny meninggalkan rumahnya.
"Kau.. Masih mencintai Shally?" Tanya Mei ketika Dhanny berbalik menatap kearahnya.
"Ya." Jawab Dhanny tanpa ragu kepada Mei.
"Kau tahu Shally sudah menikah dan memiliki anak?" Tanya Mei lagi untuk meyakinkan perasaan Dhanny kepada Shalimar.
"Aku tahu." Jawab Dhanny setelah terdiam beberapa saat.
"Kau masih akan mengejar Shally?" Mei perlu untuk memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Shalimar dan Dhanny juga apa yang akan terjadi dengan Rendy.
"Dulu aku melepaskan perasaanku karena aku merasa jika dia sudah menemukan kebahagiaannya , tapi sekarang aku tahu hal itu berbanding terbalik dengan keadaan Shally saat ini. Rendy bahkan tidak mengakui keberadaan Shally sebagai pasangannya. Dan sekarang aku disini , aku bertemu dengannya, ini semua bukan suatu kebetulan." Dhanny mendongakkan kepalanya ketika mengatakan jawabannya kepada Mei.
"Kenapa kau begitu gigih kali ini? Apa kau tahu apa yang akan terjadi pada Shally jika kau mengejarnya lagi? Shally mungkin akan berpisah dengan Rendy dan juga akan kehilangan anaknya.Apa Shally juga akan mencintaimu dengan sama besarnya cintamu padanya?" Mei melipat tangan didepan dadanya menanti apa yang akan diucapkan oleh Dhanny.
"Aku tidak mau kehilangan kesempatanku lima tahun yang lalu. Perasaanku masih sama untuk Shally hingga saat ini , meskipun Shally tidak pernah menyadarinya. Jika Shally harus berpisah dengan Rendy atau anaknya , aku yang akan membuatnya bahagia. Dan aku akan membuat Shally mencintaiku sama besarnya dengan apa yang aku rasakan kepadanya." Dhanny kali ini maju satu langkah mendekati Mei.
"Bukankah kamu juga masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu?" Senyuman sarkastis tercipta begitu saja di bibir Dhanny.
Mei tahu apa yang dimaksud oleh Dhanny. Mei memalingkan wajahnya dari Dhanny dengan kesal dan enggan.
"Harus aku akui kau sangat tabah dan juga sangat gigih bahkan lebih daripada aku. Jika waktu itu kau membantuku dengan benar untuk mendapatkan Shally, mungkin jalan cerita hidup kita akan berbeda daripada saat ini. Dan kau juga akan ..."
"Hentikan pembicaraan ini. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku hanya perlu sedikit lagi untuk bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.Dan aku tidak ingin Shally mengetahui hal ini." Kata Mei seketika memotong perkataan Dhannny.
Dhanny tersenyum mendengar Mei sudah mulai gusar akan apa yang Dhanny ucapkan.
"Maka bantu aku kali ini dengan benar. Aku tidak ingin kehilangan kesempatanku lagi. Dan aku yakin akan mendapatkan Shally kali ini. Aku akan membahagiakannya.Aku tidak akan menyerah untuk menjadikan Shally milikku kali ini. Aku juga akan melepaskan semua yang aku miliki jika itu bisa membuat Shally menjadi milikku." Balas Dhanny dengan tegas.
"Bahkan jika kau tidak memiliki hatinya ? Kau akan tetap menginginkan Shally menjadi milikmu?" Mei kali ini mendongakkan kepalanya kearah Dhanny.
Dhanny mengatupkan rahangnya mendengar hal itu dari Mei. Shalimar memang bukan orang yang mudah jatuh hati , sekali ia menetapkan hatinya , maka selamanya Shalimar akan mencintai orang itu.
"Aku tidak keberatan. Selama dia bisa menjadi milikku. Aku akan membuatnya mencintaiku juga." Dhanny sangat yakin akan keputusannya kali ini.
Melihat kesungguhan Dhanny membuat Mei berpikir mungkin memang Dhanny benar-benar mencintai Shalimar dan akan menjaga Shalimar seperti janjinya sewaktu mereka masih bersekolah dulu.
Dhanny pernah meminta pertolongan Mei ketika Dhanny ingin mendekati Shalimar , namun hal itu malah mendekatkan Shalimar dengan Rendy. Shalimar bahkan tidak sempat mengenal Dhanny karena kesalahpahaman yang terjadi dan malah jatuh hati kepada Rendy bukan pada Dhanny. Dulu Dhanny berpikir jika mungkin memang sudah takdir bagi Shalimar dan Rendy untuk saling bertemu dan jatuh cinta. Namun ketika Dhanny mengetahui betapa berat hal yang harus dipikul oleh Shalimar , Dhanny menyesali keputusan yang ia ambil waktu itu , keputusan untuk mundur dari perjuangan cintanya. Seharusnya ia lebih gigih mengejar Shalimar dan langsung mengutarakan saja perasaannya pada Shalimar sebelum Shalimar bertemu dengan Rendy.
"Apa kau ingat kejadian enam tahun yang lalu? Saat aku meminta kau membantuku untuk mengutarakan isi hatiku kepada Shally? Kau malah mendekatkan Shally dan Rendy, pria yang kau cintai." Kata Dhanny sambil menyipitkan matanya kearah Mei.
"Aku .. Tidak ingin membahas hal ini. Itu sudah berlalu , Dhan." Mei berusaha untuk menghindari tatapan tajam Dhanny.
"Apa perasaanmu juga sudah menghllang untuk Rendy?" Dhanny mengembalikan pertanyaan dari Mei untuknya tadi.
"Kau bahkan bisa tegar melihat Shally menikah dengan Rendy dan masih menemani Shally hingga saat ini. Aku bahkan tidak bisa membedakan , kau benar-benar tulus berteman dengan Shally atau hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengambil hati Rendy?" Dhanny mulai meragukan ketulusan Mei untuk Shalimar selama ini.
__ADS_1
"Aku benar-benar menyayangi Shally seperti saudaraku sendiri. Auku tidak pernah mengkhianati Shally." Balas Mei dengan mata yang berapi-api ketika Dhanny meragukan ketulusan yang iia miliki untuk Shalimar.
"Aku menyayangi Shally , aku juga masih mencintai Rendy. Aku tidak berusaha merebut siapa dari siapa. Aku hanya menunggu dan berharap penantianku selama ini setimpal."
"Lalu berada dipihak mana kau saat ini? Tidak mungkin hatimu tidak memihak." Kata Dhanny menanti Mei mengutarakan apa yang ia rasakan sebenarnya.
"Jangan memaksaku untuk mengatakannya. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi aku." Mei memandang tajam kearah Dhanny.
"Aku tidak tahu dan aku tidak ingin tahu. Aku hanya ingin kau membantuku untuk mendapatkan hati Shally , jika kau tidak membantuku setidaknya jangan kacaukan rencanaku kali ini. Jangan melakukan apapun jika kau tidak ingin membantuku mendapatkan hati Shally. Aku bersungguh-sungguh kali ini." Dhanny lebih mengatakan ancaman daripada pernyataan kepada Mei.
Bahkan tanpa menggunakan nada tinggi , apa yang dikatakan oleh Dhanny membuat bulu kuduk Mei berdiri. Seakan Dhanny tengah memperingatkan dirinya untuk tidak mengusik apa yang sudah Dhanny rencanakan kali ini.
"Apa kau benar-benar mencintai Shally? Atau ini hanya upaya balas dendammu akan perasaaanmu yang tidak terbalas dulu?" Kali ini pertanyaan Mei membuat Dhanny berpikir sebelum menjawab pertanyaan Mei.
"Aku masih mencintai Shally dan akan seperti itu." Jawab Dhanny lalu mundur dua langkah dari Mei.
"Jika kau benar-benar mencintai Shally , aku akan mendukungmu. Tapi jika kau hanya ingin balas dendam akan perasaanmu yang dulu tidak terbalaskan , aku akan mengacaukannya apapun yang terjadi. Aku tidak ingin Shally terluka lagi seperti saat ini." Kata Mei sambil melipat tangan didepan dadanya.
"Beradalah tetap pada porosmu sendiri dan aku juga tetap berada pada porosku. Bagaiamanapun tujuanku dan tujuanmu hampir sama arah. Pikirkan baik-baik jika kau ingin mengacaukan perasaan Shally tentangku." Dhanny memasukkan kedua tangan kedalam kantung celananya dengan santai .
"Kau akan menikah dan kau masih mengejar Shally , apa kau masih berada diporosmu?" Tanya Mei menebak dnegan benar tentang apa yang ia dengar dari kawan lamanya tentang Dhanny yang akan menikah beberapa bulan lagi.
"Aku akan membatalkannya. Aku bahkan tidak mencintai wanita yang akan menikah denganku. Aku hanya menikah dengan orang yang aku cintai. Aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidupku." Balas Dhanny sambil tersenyum simpul .
--------------------------------
Shalimar merasa begitu pusing ketika membuka matanya , dengan hati-hati Shalimar melihat sekelilingnya , ini bukan kamar tidurnya. Ini kamar Mei. Shalimar berusaha mengingat apa yang sudah ia lakukan kemarin . Kemarin ia sedang bersama dengan Taufan dan juga rekan kerjanya yang lain. Shalimar ingat dirinya tengah minum hingga tidak sadarkan diri . Dan Shalimar mengingat sosok Dhanny.
"Kenapa dia lagi?" Tanya Shalimar dalam hati ketika mengingat sosok Dhanny yang begitu jelas terbayang dalam ingatannya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Mei ketika membuka pintu kamar tidurnya dan melihat Shalimar sudah duduk diatas tempat tidur miliknya.
"Mei. Kau yang menjemputku?" Tanya Shalimar sambil melihat kearah Mei dengan memicingkan matanya berusaha untuk fokus dengan Mei.
"Iya." Jawab Mei dengan singkat sambil memberikan segelas air mineral kepada Shalimar.
Shalimar menerima gelas itu dan langsung meminumnya karena tenggorokannya sudah terasa kering dan butuh air untuk meredakan rasa tandus yang ada di tenggorokannya.
"Dan kau sedang bersama Dhanny." Lanjut Mei sambil duduk di tepi tempat tidur dengan hati-hati.
Mendengar hal itu , Shalimar langsung tersedak oleh minuman yang tengah ia minum .
"Kau serius?" Tanya Shalimar sambil mengusap sisa air yang menetes di sekitar mulutnya.
"Kau sudah lama mengenalnya?" Tanya Mei mencoba mengetahui apakah Shalimar sudah mengetahui siapa Dhanny atau dirinya baru mengenal Dhanny.
"Aku ... Dia klienku. Aku baru mengenalnya beberapa hari ini." Jawab Shalimar dengan jujur dan merasa bersalah diwaktu yang bersamaan. Kemudian Shalimar menyadari sesuatu yang ganjil , ia tidak pernah menceritakan tentang Dhanny kepada Mei.
"Kau mengenalnya?" Tanya Shallimar sambil menatap penuh tanya kearah Mei.
"Ketika aku sampai di bar, kau sedang bersama dengan dia." Jawab Mei berusaha mencari jawaban yang aman untuk dirinya saat ini.
"Benarkah?" Balas Shalimar yang sudah mulai salah tingkah sambil mencoba untuk mengingat apa sajayang sudah ia lakukan atau katakan kepada Dhanny malam itu.
"Apa dia hanya klien bagimu?" Tanya Mei lagi mencoba untuk mencari tahu apa yang dirasakan oleh Shalimar kepada Dhanny.
"Kau menyukainya?" Mei mulai merasa jika Shalimar menyukai Dhanny karena Shalimar menjawab pertanyaan Mei dengan gugup dan juga tanpa memandang kearah Mei.
Shalimar langsung menoleh kearah Mei dengan terkejut , kemudian Shalimar menutup wajahnya dengan kedua tangannya dnegan frustasi.
"Mei , aku merasa aku sudah gila." Kata Shalimar setelah melepaskan kedua tepak tangannya dari wajahnya.
"Aku sudah mencoba untuk menghindari hal ini sejak pertama bertemu dengannya. Aku bahkan tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri dan perasaanku kepadanya. Padahal di adalah klienku , dia akan menikah beberapa bulan lagi. Bahkan aku yang menyiapkan pesta pernikahannya. Tapi wajahnya bahkan selalu ada dalam pikiranku. Dan dia selalu berada dimanapun aku berada."
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya, Shally." Ucap Mei dengan pandangan yang bimbang kepada Shalimar.
Mei merasa jika apa yang dirasakan oleh Shalimar antara benar dan tidak benar. Jika saja Shalimar jatuh cinta pada Dhanny saat malam perjodohan ketika mereka masih SMA dulu , mungkin lain cerita dengan saat ini. Sekarang Shalimar sudah menikah dengan Rendy dan memiliki anak dan Dhanny akan menikah dengan oranglain. Mei juga masih bimbang harus berada di poros mana saat ini. Ketika sebuah peluang sedang terbuka untuknya.
Mei sudah jatuh cinta dengan Rendy sejak awal bertemu dulu sebelum Shalimar. Malam perjodohan itu ia selenggarakan ketika dirinya ingin mengutarakan isi hatinya kepada Rendy dan juga Dhanny yang ingin mengutarakan isi hatinya kepada Shalimar , namun tidak disangka ternyata Rendy malah jatuh cinta kepada Shalimar , begitu pula sebaliknya. Hubungan keduanya juga semakin lama semakin dalam. Mei tidak berani melangkah maju lagi. Mei hanya menunggu hubungan diantara keduanya berakhir tanpa dirinya ikut didalam hubungan itu. Mei bahkan harus menyaksikan keduanya menikah dan memiliki seorang anak. Mei menyayangi keduanya , namun juga tidak melepaskan perasaannya kepada Rendy hingga saat ini.
Bahkan ketika Rendy berubah ketika Rendy menikahi Shalimar dan Shalimar terluka oleh hal itu , Mei sama seklai tidak mengambil kesempatan itu untuk merebut Rendy dari Shalimar. Mei hanya menunggu , menunggu perasaannya terbalas dengan sendirinya oleh Rendy tanpa menyakiti Shalimar. Mei paham sekali Shalimar tidak akan meninggalkan Rendy sekalipun dirinya begitu dilukai oleh sikap Rendy dan juga keluarga Rendy. Tapi sekarang Mei baru saja mendengarkan langsung dari Shalimar , jika Shalimar sudah jatuh cinta dengan oranglain selain Rendy dan itu adalah Dhanny. Entah apa maksud Dhanny mendekati Shalimar kali ini , tapi Mei merasa jika ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan ap ayang ia nanti selama ini.
"Kita tidak bisa menghalangi perasaan kita sendiri , Shallly." Kata Mei membalas apa yang dikatakan oleh Shalimar kepada dirinya .
"Tapi dia klienku , Mei. Dia sudah memiliki calon istri yan begitu tergila-gila kepadanya." Balas Shlalimar dengan putus asa.
"Lalu bagaimana dengan Dhanny? Apa dia juga menyukaimu?" Tanya Mei sambil mengambil gelas yang digenggam oleh Shalimar.
"Aku tidak tahu , aku hanya merasa dia sedikit menyukaiku. Tapi mungkin juga tidak , itu hanya perasaanku saja. Aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri. Mungkin akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya lagi. Aku merasa seperti pengganggu hubungan oranglain saat ini. Dan rasanya tidak nyaman." Kata Shalimar sambil melihat kearah Mei.
Kata-kata itu terasa menusuk di hati Mei. Seakan-akan kalimat itu tercipta untuknya. Dirinya yang selama ini berdiri diantara Shalimar dan Rendy bahkan tanpa Shalimar tahu.
"Mungkin lebih baik kau pikirkan baik-baik tentang hal ini. Kau bukan orang yang mudah jatuh cinta. Kali ini kau bisa mencintai lagi , namun sepertinya dengan orang yang tidak tepat. Bagaimana kau bisa mengatasi perasaanmu lagi setelah ini?" Mei melihat Shalimar dengan tatapan ingin tahu.
"Aku tidak tahu , Mei. Aku bahkan tidak ingin perasaan ini ada pada orang yang salah. Kenapa harus dia yang selalu muncul dalam pikiranku? Dan kenapa dia harus selalu ada dimanapun aku berada?" Tanya Shalimar yang lebih bertanya kepada dirinya sendiri bukan kepada Mei.
"Mengapa kau tidak bertanya langsung saja kepada Dhanny?" Mei memberikan idenya kepada Shalimar yan langsung mendapatkan tatapan terkejut dari Shalimar.
"Kau gila? Aku ... Dia belum tentu menyukaiku lagipula dia sudah akan menikah , Mei." Shalimar dengan keras menolak ide dari Mei .
"Kau tidak akan pernah tahu , bagaimana jika ia juga menyukaimu? Sekarang pikirkan saja , dia lelaki yang akan menikah tapi malah mengantarkanmu pulang bersamaku semalam. Dengan mobil yang berbeda. Dia bahkan menggendongmu sampai kemari. Jika dia tidak menyukaimu apa dia akan melakukan hal itu?" Mei mulai memutuskan di poros mana ia akan mengambil jalan kali ini.
"Mungkin karena ia merasa itu adalah kewajibannya karena ia mengenalku dan merasa kasihan kepadaku jika harus pulang dalam kondisi mabuk seperti itu." Sangkal Shalimar dengan cepat.
"Aku sudah menjemputmu , Shally. Dan aku terbiasa dengan kondisimu yang mabuk seperti itu. Apa kau lupa?" Mei tetap memberikan tanggapan positif untuk DHanny kali ini.
"Mungkin ia merasa kasihan kepadamu." Balas Shalimar dengan cepat , ia tidak ingin perasaannya membumbung tinggi oleh tindakan Dhanny kepada dirinya.
"Lalu mengapa ia menemuimu di ar malam itu?" Tanya Mei lagi.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja dia sedang bersama temannya dan tidak sengaja melihatku." Jawab Shalimar mencoba mencari kemungkinan yang ada selain Dhanny tertarik kepada dirinya.
"Tidak sengaja hingga ia mencium tanganmu dengan mesra." Kata Mei dengan memberikan umpan kepada Shalimar.
Shalimar mencoba mengingat ingatan samar yang ia miliki ketika dirinya mulai tidak bisa mengendalikan kesadarannya sendiri. Shalimar mengira ingatan itu adalah bagian dari mimpinya , namun hal itu benar-benar terjadi. Shalimar mengerjapkan matanya beberapa kali dan memejamkan matanya dengan frustasi. Benarkah Dhanny menyukainya? Atau mugnkin Dhanny malam itu juga sedang mabuk? Tapi jika Dhanny juga mabuk Dhanny tidak akan bisa mengendarai mobil dan mengantarkannya kerumah Mei. Jika memang benar Dhanny menyukainya , hubungan mereka tidak akan jelas arahnya. Dan Shalimar sudah pasti akan terluka lagi.
"Ini tidak benar." Kata Shalimar sambil membuka matanya dan memandang Mei.
"Aku akan bertemu dengannya dan menanyakannya secara langsung. Aku tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam hubungan oranglain , Mei. Jika memang ia menyukaiku , maka baik aku ataupun dia , kita harus saling menghindar."
__ADS_1
"Bagaimana kau akan mengatakan hal itu kepadanya?" Mei berdiri dari duduknya dan memandang kearah Shalimar yang sedang kacau pagi itu.
"Aku akan menanyakan kenapa dia selalu berada dimanapun aku berada dan mengapa dia mau membantuku semalam. Jika memang ia menyukaiku , maka aku akan menghindarinya. Hal ini sudah sangat membuatku tidak nyaman." Jawab Shalimar dengan keyakinan yang begitu kuat.
"Baiklah." Mei menghela napas panjang.
"Pertama-tama sebelum menemuinya , kau harus mandi terlebih dahulu , baumu sudah menyengat."
-------------------
Dhanny menatap layar ponselnya , berharap Shalimar menghubunginya kali ini. Jika prediksi Dhanny benar , jika Mei memihak kepadanya , maka Shalimar akan menemui dirinya hari ini.
Sepanjang malam Dhanny memikirkan pertanyaan dari Mei , sebenarnya dirinya benar-benar mencintai Shalimar atau hanya membalas dendam akan perasaannya yang tidak terbalaskan selama ini. Dhanny yakin dirinya benar-benar masih mencintai Shalimar dan sangat yakin jika dirinya akan membahagiakan Shalimar. Perasaan Dhanny makin kuat ketika ia semakin dekat dengan Shalimar . Ditambah sekarang Shalimar memiliki sedikit rasa juga untuknya. Langkahnya terasa makin dekat saat ini dengan Shalimar. Yang ia perlu lakukan adalah meyakinkan Shalimar dan membatalkan pernikahannya dengan Eva. Sejak awal memang dirinya tidak berniat untuk menikah dengan Eva. Tapi berkat Eva juga dirinya bisa bertemu dengan Shalimar lagi.
Tepat ketika dirinya memikirkan tentang bagaimana dirinya akan membatalkan pernikahan , Eva datang memasuki ruang kerjanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Eva dengan wajah yang nampak marah dan juga sangat kesal.
"Apa tempat kerjaku bisa kau gunakan semaumu untuk membahas masalah pribadi?" Tanya Dhanny tanpa menyambut kedatangan Eva yang begitu tiba-tiba namun tidak mengejutkannya.
"Aku calon istrimu. Aku berhak berada dimanapun kamu berada." Balas Eva tanpa memperdulikan sikap Dhanny yang begitu dingin dan kasar itu.
Eva duduk di hadapan Dhanny dan menatap Dhanny dengan lekat hingga membuat Dhanny harus memandang kearahnya agar dirinya segera mengutarakan apa yang ingin ia katakan.
"Ada apa?" Tanya Dhanny dengan kesabaran yang ia miliki hari ini.
"Kenapa kau ingin menangani sendiri tentang persiapan pernikahan kita? Bukankah dari awal aku ingin aku yang menanganinya. Dan kau setuju dengan hal itu. Lalu sekarang kau meminta kepada pihak penyelenggara untuk tidak memberitahuku apa saja yang sudah kau sepakati dengan mereka. kau juga merubah tempat pesta pernikahan kita. Kau merubah semuanya tanpa membicarakannya dulu denganku. Apa kau sudah lupa jika ini adalah pesta pernikahan kita berdua ? Setidaknya kau harus membicarakannya denganku , aku akan menyukainya atau tidak." Kata Eva pada akhirnya ketika Dhanny memfokuskan pandangannya kepada Eva.
"Semuanya sudah tertata dan juga sudah selesai dipersiapkan. Lagipula semua pembiayaannya dariku. Aku memiliki hak penuh soal itu. Jika kau tidak menyukainya maka kita bisa membatalkannya. Masih tersisa tiga bulan lagi dan itu cukup untuk membatalkan pernikahan impianmu." Balas Dhanny dengan santai lalu melihat kearah layar komputernya.
"Kenapa kau selalu mengatakan hal itu kepadaku ? Kenapa kau tidak pernah sekalipun memandang perasaanku?" Tanya Eva kali ini dengan putus asa .
"Apa masih perlu kau menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya?" Dhanny hanya memandang sekilas kearah Eva.
"Aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku yang terlalu mencintaimu . Aku yang sangat terobsesi untuk memilikimu seutuhnya. Tapi tidak bisakah sedikit saja kau menghargai perasaan yang aku miliki untukmu?" Eva menarik tangan Dhanny dan menggenggamnya.
"Sudah sejak awal aku katakan , aku tidak pernah memiliki perasaan cinta untukmu. Kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak mencintai adikku sendiri. Aku menyetujui untuk menikahimu juga kau tahu apa alasannya. Kau mengancam untuk bunuh diri didepanku dan juga kedua orangtuaku. Sekarang apalagi yang kau inginkan? Aku hanya ingin kau tahu dimana batasanmu berada. Jangan melebihi batasan yang kau miliki. Aku juga memiliki batasan akan kesabaran yang aku miliki untukmu. Dan jangan mengujiku." Nada suara Dhanny terdengar santai namun menyiratkan ancaman untuk Eva.
"Baiklah. Tapi asal kau tahu , aku akan tetap bertahan. Aku mencintaimu lebih dari sepuluh tahun lamanya ,jika hanya menahan sikapmu yang seperti ini kepadaku , itu bukan hal yang baru untukku." Balas Eva sambil tetap menggenggam tangan Dhanny dengan erat.
"Kau hanya akan terluka jika tetap seperti ini. Aku tidak akan pernah mencintaimu." Kata Dhanny lalu menarik tangannya dari Eva.
"Kau akan mencintaiku suatu saat nanti. Kau tidak akan pernah menemukan seseorang yang mencintaimu melebihi aku." Balas Eva dengan tegar sambil tersenyum lebar kearah Dhanny.
"Apa ada lagi yang ingin kau katakan kepadaku?" Tanya Dhanny tanpa memperdulikan apa yang Eva ucapkan kepadanya.
"Aku akan menghargai apapun pilihanmu tentang persiapan pernikahan kita nanti. Tapi jangan lupa kau juga memberitahuku apa saja yang sudah kau pilih untuk pesta pernikahan kita." Kata Eva sambil menghela napas panjang kemudian tersenyum lebar dan berdiri dari duduknya.
Eva berjalan mengitari meja kerja Dhanny dan mengecup pipi Dhanny tepat ketika Shalimar masuk kedalam ruangan Dhanny. Adegan itu terasa begitu intim dan membuat Shalimar salah tingkah ketika melihatnya.
"Ah.. Maaf . Saya sudah menganggu.. Saya.." Kata Shalimar ketika matanya beradu pandang dengan Dhanny.
"Oh. Shally." Kata Eva dengan gembira melihat Shalimar yang ada disana .
"Apa kau datang untuk membahas tentang persiapan pesta pernikahan kami?" Tanya Eva dengan antusias.
Shalimar sengaja datang kekantor Dhanny bukan untuk membahas masalah pesta pernikahan Dhanny , namun ingin menanyakan apa yang sebenarnya Dhanny rasakan kepada dirinya. Namun sepertinya waktu kedatangan Shalimar sangat tidak tepat.
"Oh.. Iya. Tapi sepertinya ..."
"Kebetulan kau sudah datang. Kita akan melihat lokasinya sekarang." Kata Dhanny langsung memotong perkataan Shalimar.
Dhanny berdiri dari duduknya dengan segera dan melewati Eva.
"Apa aku perlu ikut dengan kalian?" Tanya Eva dengan ragu.
"Tidak." Jawab Dhanny dengan cepat dan tegas tanpa menoleh kearah Eva dan langsung berjalan kearah Shalimar.
Shalimar yang tengah berdiri diambang pintu merasa tidak tahu harus berbuat apa ketika Dhanny mengatakan hal itu kepada Eva. Bahkan ketika Dhanny menghampirinya dan meraih tangannya , Shalimar benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa kepada Eva . Dhanny menarik tangan Shalimar untuk mengikuti langkahnya keluar dari ruang kerja Dhanny dan meninggalkan Eva disana.
"Kita sudah melihat lokasinya kemarin." Kata Shalimar ketika dirinya berada didalam lift berdua bersama dengan Dhanny.
"Aku tahu." Jawab Dhanny singkat dan dingin.
"Eva bisa salah paham dengan hal ini." Kata Shalimar lagi yang tidak bisa mengerti jalan pikiran Dhanny.
"Tidak ada kesalahpahaman disini." Balas Dhanny lagi lalu pintu lift terbuka menuju ke lantai parkir kantor Dhanny.
Dhanny menarik tangan Shalimar lagi sambil berjalan dengan cepat menuju kearah mobil Dhanny yang terparkir disana. Dhanny menekan remote kontrol kunci mobilnya dan membuka pintu penumpang mobilnya dan membawa Shalimar masuk kesana.
"Tunggu sebentar. Kau akan membawaku kemana? Kita akan kemana?" Tanya Shalimar dengan bingung akan apa yang sudah dilakukan oleh Dhanny kepadanya.
"Bukankah kau bilang tadi ada kesalahpahaman. Aku akan menjelaskannya." Kata Dhanny sambil mengenakan sabuk pengaman pada tubuh Shalimar.
"Tapi yang salah paham bukan aku. Tapi Eva." Balas Shalimar yang tidak didengarkan oleh Dhanny.
"Apa aku sedang berbicara sendiri disini?" Tanya Shalimar kepada dirinya sendiri karena Dhanny tidak mendengarkan dirinya.
Dhanny menutup pintu mobilnya dan berjalan memutari mobilnya kemudian masuk dan duduk di kursi pengemudi. Dhanny dengan cepat mengenakan sabuk pengamannya dan langsung menyalakan mesin mobilnya.
"Baiklah . Apa yang ingin kau jelaskan?" Tanya Shalimar ketika mereka sudah melewati parkiran kantor Dhanny.
"Apa yang ingin kau dengarkan?" Balas Dhanny berbalik tanya kepada Shalimar.
Shalimar mengangkat kedua alisnya menanggapi balasan Dhanny. Dhanny melakukan hal ini seolah Dhanny adalah pasangan Shalimar yang sedang ketahuan berselingkuh.
"Kau datang menemuiku pasti ingin mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan persiapan pernikahanku." Kata Dhanny tanpa melihat kearah Shalimar.
"Aku .. " Shalimar ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam benaknya selama ini tentang apa yang ia rasakan kepada Dhanny dan juga apa yang Dhanny rasakan untuknya.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Dhanny dengan tegas kali ini Dhanny memandang lekat kearah Shalimar , membuat Shalimar seakan tidak bisa bernapas untuk sementara.
Shalimar tidak bisa menjawab pertanyaan Dhanny , lidahnya seakan kelu untuk berkata-kata. Shalimar hanya mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membuang pandangannya dari Dhanny. Shalimar benar-benar tidak sanggup jika harus melihat tatapan Dhanny seperti saat ini.
"Jika kau menyukaiku , maka aku akan membatalkan pernikahanku. Karena aku menyukaimu." Kata Dhanny dengan cepat ketika Shalimar tidak menjawab pertanyaannya.
Kali ini kalimat yang diucapkan oleh Dhanny berhasil membuat Shalimar melihat kearah Dhanny lagi dengan keterkejutan yang tidak Shalimar perkirakan. Bahkan jika ini adalah sebuah langkah pendekatan , Dhanny benar-benar melangkah dengan kecepatan yang mengagumkan untuk Shalimar.
-------------------
__ADS_1