No Regrets

No Regrets
Bab 13


__ADS_3

Ibu Shalimar dan Shalimar menatap Dhanny dengan terkejut karena dirinya tiba-tiba mengatakan hal itu disaat kejadian yang mengejutkan bagi ibu Shalimar baru saja terjadi.


"Kau.. Ingin menikahi Shalimar?" Tanya ibu Shalimar kepada Dhanny.


"Ya." Jawab Dhanny dengan seketika dan penuh keyakinan.


"Kau mengetahui tentang status Shalimar? Lalu apa yang akan kau lakukan ?" Ibu Shalimar tidak ingin hal serupa menimpa putrinya untuk kedua kalinya.


"Ya ,aku tahu tentang statusnya. Aku akan menikahi Shally secara agama dan hukum. Aku tidak akan memberikan status yang tidak jelas untuk Shally. Aku juga akan menjamin Shally tidak akan terluka baik itu dari orangluar maupun keluargaku sendiri." Jawab Dhanny dengan mata yang menatap lurus kearah ibu Shalimar.


"Apa konsekuensinya jika kau melanggar semua yang kau katakan padaku hari ini? Apa kau akan menceraikan Shally?" Ibu Shalimar sedikit melihat kearah Shalimar dari sudut matanya berharap jawaban dari Dhanny tidak akan menyakiti putrinya.


"Ma, mungkin kita membicarakan hal ini lainkali saja." Kata Shalimar yang sesungguhnya takut mendengar jawaban dari Dhanny.


"Aku tidak akan pernah menceraikan Shally. Aku yang akan menanggung segala biaya hidup tante dan juga Radit." Jawab Dhanny dengan cepat.


"Jika aku melanggar ucapanku , tante bisa mengajukan tuntutan kepadaku kelak. Aku akan membuat surat perjanjian jika tante merasa tidak mempercayai apa yang aku katakan ini."


Shalimar tidak tahu harus berkata apa , kenapa Dhanny harus begitu teguh dalam keputusannya untuk menikahi Shalimar sampai harus menggunakan berbagai cara untuk meyakinkan ibu Shalimar. Apapun alasan Dhanny , hal itu secara tidak langsung juga menyentuh hati Shalimar.


"Aku akan mempercayakan Shally padamu." Kata ibu Shally kepada Dhanny.


"Kau harus memegang janjimu , aku tidak peduli dengan kedudukanmu , hartamu atau jabatanmu. Aku hanya ingin putriku bahagia dan tidak mengalami hal yang sama dua kali." Lanjut ibu Shalimar dengan tegas.


Dhanny menganggukkan kepalanya dengan yakin dan menatap mata ibu Shalimar.


"Anda bisa mempercayakannya hal itu." Jawab Dhanny.


Hal yang dirasakan Shalimar begitu absurb. Entah dia merasa bahagia atau merasa terbebani kali ini. Dia akan menikah lagi dengan pria yang ia sukai namun masih ragu untuk menjalankan pernikahannya dengan Dhanny.


"Aku tidak akan menyakitinya dan membiarkan oranglain juga menyakitinya." Kata Dhanny kali ini memandang kearah Shalimar.


"Selesaikan perkaramu dengan Rendy ,setelah itu menikahlah dengan Dhanny. Bahagialah dengan pernikahanmu kali ini. Jangan seperti saat ini, kau menderita sendirian." Kata ibu Shalimar kepada Shalimar dengan tatapan terluka dan penuh harap.


------------


"Apa kau tahu , aku kesal setengah mati dengan wanita itu." Keluh ibu Rendy ketika dirinya bertemu dengan Rendy yang baru saja pulang bekerja dan tengah berganti pakaian didalam kamarnya.


"Ada apa , Ma?" Tanya Rendy dengan lelah sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Kamu juga." Sambar ibu Rendy dengan ketus.


"Kamu kira mama tidak tahu kau sudah membelikan wanita itu sebuah rumah?"


Mendengar hal itu dari ibunya. Rendy lalu berbalik melihat kearah ibunya dengan wajah terkejut.


"Mama mendatangi Shally? Apa yang mama katakan padanya?" Rendy merasa panik membayangkan apa yang dikatakan oleh ibunya kepada Shalimar.


"Kenapa kau tidak terkejut bagaimana aku mengetahui darimana aku mengetahui kau membeli rumah untuk wanita itu , kau malah terkejut karena aku menemuinya dan khawatir akan apa yang aku katakan kepadanya." Ibu Rendy menaikkan sebelah alisnya mellihat ekspresi Rendy.


"Apa yang sudah mama katakan kepada Shally? Dia tidak bersalah , Ma. Aku yang sudah menyiapkan segala sesuatu untuknya. Dia tidak meminta aku untuk ...."


"Kau membelanya. Kau bahkan berani membantah ibumu sendiri. Sejak awal aku sudah tidak menyukai wanita ini. Dia benar-benar membuatmu berubah , Ren." Potong ibu Rendy ketika Rendy berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sejak awal Shally tidak bersalah , Ma. Aku juga sudah menuruti apa yang mama inginkan selama ini. Bahkan ketika pernikahanku bersama dengan Shally selama ini sesuai dengan keinginan mama. Shallly tidak merasakan kebahagiaan bersamaku selama pernikahan kami , aku juga tidak merasa bahagia karena keegoisan mama ,kami tidak pernah bahagia. Aabid juga mama yang mengambil hak dan tidak mengijinkan Shally untuk merawatnya." Rendy merasa apa yang ingin ia sampaikan hari ini tersampaikan kepada ibunya.


"Mama melakukan semuanya demi kebaikanmu. Mama tidak ingin hidupmu hancur karena wanita itu. Lihatlah sekarang ! Kau memiliki karir yang bagus , kau juga memiliki masa depan yang banyak orang inginkan. Mama hanya berusaha menyelamatkan masa depanmu yang sudah akan hancur oleh wanita itu." Balas ibu Rendy dengan nada meninggi karena merasa Rendy sudah tidak melihat pengorbanan yang sudah ia lakukan selama ini untuk Rendy.


"Aku sudah melakukannya selama ini , Ma. Lalu kenapa aku tidak merasa bahagia? Aku merasa sangat tersiksa , melihat Shally tidak bahagia , aku lebih tidak bahagia. Aku bahkan tidak sanggup melihat Aabid karena perasaan bersalahku pada Shally." Kata Rendy sambil memukul dadanya sendiri.


"Kenapa kau masih saja tidak sadar akan apa yang sudah orangtuamu lakukan untuk masa depanmu? Apa wanita itu yang sudah mencuci otakmu sampai kau mengatakan ini pada orangtuamu sendiri? Aku sudah menduganya , sejak awal dia hanya berpura-pura baik dan mencoba menjadi korban disini. Pada akhirnya dia menuntutmu akan apa yang ia inginkan selama ini ketika dia sudah mendapatkanmu. Aabid hanya akan ia jadikan alasan agar kau tetap bersamanya." Kata ibu Rendy dengan nada sinis dan juga rasa jijik ketika dirinya mengingat sosok Shalimar.


"Rumah itu .. Aku sendiri yang berinisiatif untuk membelinya. Aku ingin memiliki keluarga kecilku sendiri. Aku ingin bersama anak dan istriku hidup bahagia dan normal seperti keluarga kecil pada umumnya. Bukan karena Shally yang memintaku , ia bahkan tidak pernah meminta sesuatu dariku selama ini. Tidak seperti apa yang mama pikirkan." Balas Rendy berusaha menenangkan dirinya sendir dalam menghadapi ibunya.


"Itu hanyalah trik dari wanita itu saja. Kau hanya belum tahu betapa liciknya dia. Hingga sampai detik ini dia bertahan denganmu dan pernikahan kalian yang jelas-jelas sudah pasti dimana ujungnya." Kata ibu Rendy tetap pada pendiriannya.


"Apa yang mama lakukan pada Shally tadi?" Rendy merasa tidak akan ada hentinya jika dirinya berusaha menjelaskan mana yang salah dan benar dengan ibunya.


"Mama mengatakan untuk dia berhenti mengganggumu dan memberi pengaruh buruk padamu. Mama juga mengatakan hal itu didepan ibunya. Agar mereka bisa thau diri dan juga mengetahui jika mereka tidak akan bisa meraih keinginan yang menjijikkan mereka dari keluarga kita." Jawab ibu Rendy.


"Apa?" Rendy seakan berharap dirinya salah mendengar.


"Aku sudah mengatakan semua yang terjadi dan niat buruk apa yang selama ini wanita itu simpan untukmu. Agar ibunya juga mengetahui apa yang sudah anaknya lakukan selama ini. Dia tidak pandai dalam mendidik anaknya. Dia ..."


"Mama benar-benar sudah keterlaluan." Kata Rendy lalu berjalan melewati ibunya dankeluar dari kamar tidur.


"Kau mau kemana? Pergi ke wanita itu?" Tanya ibu Rendy dengan cepat ketika Rendy berjalan melewatinya.


"Hubungan kalian sudah berakhir. Dia juga sudah menemukan pria lain yang mendampinginya. Berterimakasihlah kepada pria itu yang sudah menggantikanmu."


"Hubunganku dan Shally tidak akan berakhir. Aku tidak pernah menceraikannya. Tidak akan." Kata Rendy kemudian berjalan keluar dari kamar tidurnya.


Tanpa ibunya memberitahu siapa pria itu , Rendy sudah tahu jika itu adalah Dhanny. Kali ini dirinya tidak akan menahan diri lagi untuk berjalan maju dalam hubungannya dengan Shalimar yang sudah lama menjadi dingin. Shalimar akan benar-benar lepas darinya jika dirinya menunda mendatangi Shalimar sekarang.


Rendy tidak bisa memikirkan hal lain kecuali bertemu dengan Shalimar saat ini juga. Ia juga tidak menyadari berapa kecepatan yang ia gunakan dengan mobilnya.


Berkali-kali Rendy berusaha menghubungi Shalimar namun tidak mendapatkan jawaban dari Shalimar. Beruntung bagi Rendy ketika dirinya berhenti tepat dibelakang mobil Dhanny dan melihat Dhanny sedang berdiri bersama Shalimar. Rendy dengan cepat turun dari mobilnya dan langsung berjalan mendekati Shalimar.


"Shally ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Rendy dengan napas terengah.


"Kau ingin menambahkan apa yang sudah ibumu ucapkan kepadaku?" Tanya Shalimar dengan dingin kepada Rendy.


"Kau sedang tidak dalam kondisi bisa berbicara leluasa dengan Shally sekarang." Kata Dhanny sambil berdiri menutupi Shalimar dari pandangan Rendy.


"Dan apa yang ingin aku katakan kepada Shally bukan hak mu untuk mendengarkannya." Balas Rendy kepada Dhanny.


"Aku memiliki hak disini. Aku calon suaminya." Kata Dhanny tersenyum sinis.


"Dan aku masih suami Shally." Balas Rendy tak kalah sinis.


"Sampai detik ini aku tidak pernah menceraikan Shally. Secara agama aku masih suaminya. Dan aku tidak mengijinkan kalian untuk menikah."


"Apa kau melaksanakan kewajibanmu sebagai suaminya selama ini? Kemana saja kau selama ini sampai Shally harus menanggung semuanya sendirian?" Tanya Dhanny sambil memicingkan matanya.


"Aku masih suaminya. Dan aku masih memberinya nafkah , kami juga memiliki saksi pernikahan kami." Jawab Rendy sambil menengadahkan kepalanya dihadapan Dhanny.


"Apa hanya itu yang kau andalkan untuk meyakinkan statusmu dengan Shally? Jika hanya itu , aku juga bisa mengatakan hal yang sama." Balas Dhanny maju satu langkah di hadapan Rendy.


Shalimar menyentuh lengan Dhanny dengan lembut dan tangannya gemetar , Dhanny bisa merasakan hal itu. Shalimar ingin menyudahi perdebatan antara Dhanny dan Rendy.

__ADS_1


"Jika ada yang ingin kau sampaikan , Dhanny juga memiliki hak untuk mendengarkan." Kata Shalimar pada akhirnya.


Terlihat kekecewaan dimata Rendy melihat Shalimar menyentuh tangan pria lain dihadapannya. Terlebih lagi Shalimar mengatakan Dhanny juga memiliki hak diantara hubungan mereka.


"Kau benar-benar akan menikah dengannya?" Tanya Rendy , matanya tertuju hanya kepada Shalimar.


"Ya." Jawab Shalimar singkat.


"Kau masih istriku. Aku tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cerai kepadamu. Kau tidak bisa menikah dengannya." Rendy berusaha meyakinkan Shalimar akan status hubungan mereka saat ini.


"Kau tidak pernah ada untukku. Kau juga tidak pernah mengakui keberadaanku. Ketika aku berada didalam keadaan aku membutuhkanmu untuk bersandar , kau juga tidak pernah ada." Balas Shalimar dengan mata berkaca-kaca ketika mengingat saat sulit yang ia lalui selama ini.


"Aku .. Aku akan menjelaskannya kepadamu."


"Kenapa kau tidak menjelaskan semua sebelumnya?" Tanya Shalimar sambil menguatkan hatinya.


"Aku memiliki alasanku sendiri. Aku akan menjelaskannya padamu nanti." Jawab Rendy dengan cepat.


"Kapan? Dua tahun lagi? Lima tahun lagi? Sampai keluargamu mendatangi keluargaku lagi dan mempermalukanku lagi?" Shalimar tidak memberikan celah untuk Rendy kali ini.


"Aku sudah memberimu cukup waktu. Waktu yang lama."


"Dan kau lebih memilih bersamanya? Dia yang bertaruh akan dirimu dulu?" Rendy mencoba mengeluarkan kelemahan Dhanny dimata Shalimar.


Shalimar sempat terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Rendy. Dhanny juga hendak membalas perkataan Rendy namun tangan Shalimar menarik lengannya.


"Setidaknya dia lebih baik daripadamu." Balas Shalimar sambil memiliki harapan jika Dhanny tidak akan menyakitinya seperti apa yang dilakukan Rendy kepadanya.


"Aku harap begitu." Kata Shalimar dalam hati sambil menatap Dhanny yang kini melihat kearahnya.


Dhanny menggenggam tangan Shalimar. Ia bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini , Shalimar memilihnya , percaya padanya.


Rendy melihat hal itu dan merasa sangat terkhianati oleh Shalimar.


"Kesalahan apa yang membuatku begitu tidak termaafkan olehmu? Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun selama ini? Aku juga tidak pernah melewatkan apapun yang kau dan Aabid butuhkan setiap waktu. Yang kulakukan hanyalah bekerja dan berusaha mewujudkan impianmu selama ini. Sekarang kita sudah tinggal beberapa langkah lagi untuk hal itu dan kau ingin melepaskannya?" Rendy tidak bisa menahan kekecewaannya kali ini.


Shalimar terdiam mendengarkan hal itu dari Rendy , entah apa yang membuatnya ragu untuk melanjutkan keputusannya kali ini . Rasa cintanya yang masih ada untuk Rendy atau rasa iba , Shalimar tidak bisa membedakan kedua hal itu.


Dhanny bisa merasakan keraguan kembali di hati Shalimar. Dan ia tidak ingin jika Shalimar melepaskan tangannya saat ini.


"Shally tidak akan melepaskanmu jika saja kau ada dipihaknya , sekalipun hal itu untuk kebaikan atau impian Shally , seharusnya kau menjelaskan hal itu kepadanya sejak lama , bukan menyakitinya seperti yang kau lakukan selama ini." Kata Dhanny yang merasa dirinya harus angkat bicara kali ini.


"Dan kau merasa kau memiliki kesempatan diantara keretakan hubungan kami?" Tanya Rendy dengan sinis.


"Ya." Jawab Dhanny dengan tegas tanpa ragu sedikitpun.


Jawaban Dhanny membuat Rendy dan Shalimar sama-sama memandang dirinya.


"Kau yang telah menyia-nyiakannya terlebih dahulu. Aku yang lebih dulu mengenalnya dan kini dia memilihku. Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan." Balas Dhanny sambil menatap tajam kearah Rendy dan tetap menggenggam tangan Shalimar .


"Shally tidak akan pernah menikah denganmu. Kau tahu seperti apa status yang ia sandang saat ini. Aku tidak pernah menceraikannya meskipun secara hukum kami belum menikah. Kau tidak akan berani mengambil keputusan ketika keluargamu mengetahui status Shally." Kata Rendy sambil menaikkan alis matanya , menantang Dhanny.


"Aku tidak akan mengingkari perkataanku. Aku akan menikahinya sekalipun keluargaku menentang kami. Aku akan mendapatkan restu orangtuaku bagaimanapun caranya jika mereka tidak menyukai status Shally." Balas Dhanny.


"Apa kau bisa?" Senyuman sinis tercipta di wajah Rendy yang meremehkan apa yang dikatakan oleh Dhanny.


"Lalu apa kau bisa?" Balas Dhanny dengan cepat menangkis senyuman sinis Rendy.


Dhanny berhasil membuat balasan untuk Rendy.


"Sekalipun kau bisa , kau tidak akan pernah bisa memisahkan aku dan Shally . Kami memiliki Aabid , putra kesayangan kami berdua." Rendy menggunakan senjata terakhirnya kali ini.


"Jangan pernah menggunakan Aabid hanya untuk menahan Shally memiliki kebahagiaan yang selama ini tidak ia miliki." Kata ibu Shalimar yang keluar dari dalam rumah dan langsung berjalan menghampiri ketiganya.


"Belum cukupkah bertahun-tahun kehidupan Shally tersia-sia karena perlakuanmu dan keluargamu selama ini? Aku juga bahkan bisa menghitung dengan jariku ketika aku bisa menemui Aabid , cucuku sendiri."


"Ma?" Shalimar tidak menyangka ibunya akan mendengarkan pertengkaran mereka , sebelum Shalimar mengantarkan Dhanny kedepan rumahnya , Shalimar yakin jika ibunya sudah beristirahat didalam kamar tidur.


"Mama ,aku bisa jelaskan semuanya ini. Mereka ingin menikah dan mama tahu jika aku dan Shally belum bercerai." Kata Rendy berusaha membela dirinya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan mama. Aku merasa tidak pantas mendengar itu darimu." Kata ibu Shalimar sambil menghela napas panjang.


"Berterimakasihlah kepada mama mu untuk apa yang terjadi dalam hidupmu saat ini sehingga masa depanmu tidak hancur dan kau menjadi orang yang sukses. Dan juga sudah memberitahuku tentang bagaimana putriku menjalani kehidupannya selama ia menikah denganmu. Bagaimana tersiksanya putriku selama berada satu atap denganmu dan keluargamu. Aku tidak pernah memintamu juga keluargamu untuk mengangkat derajad keluarga kami dengan pernikahanmu dan Shally."


"Ma, mama sudah salah paham." Potong Rendy dengan cepat.


"Aku yang bersalah disini. Kenapa aku harus menikahkan Shally denganmu waktu itu hanya karena Shally mengandung anakmu. Kau bahkan tidak pernah menikahinya secara hukum , menyembunyikannya dari duniamu dan keluarga besarmu. Dia harus hidup seperti tidak tahu arah , dan kau juga keluargamu seperti orang suci yang menolong Shally dari pandangan negatif oranglain. Aku tidak berpikir jika putriku harus memikul beban sendirian tanpa ada yang membantunya. Seharusnya dulu aku biarkan saja Shally membesarkan Aabid sendirian jika akhirnya seperti ini." Ibu Shalimar meneteskan air matanya ketika harus merasakan apa yang sudah Shalimar rasakan selama ini.


"Shally tidak akan pernah menikah dengan siapapun karena aku tidak pernah menceraikannya. Walaupun mama sudah tidak menganggap aku sebagai menantu mama , aku tidak akan menceraikan Shally." Rendy tetap pada keputusannya ketika ia bisa mengetahui bahwa ibu Shalimar sudah mengetahui Shalimar akan menikah dengan Dhanny.


"Kau tidak memiliki hak atas Shally mulai hari ini." Kata ibu Shalimar dengan lirih karena merasakan sakit yang hebat di kepalanya.


"Jika mama bersih keras , maka Shally tidak akan memiliki hak apapun atas Aabid." Balas Rendy dengan napas yang memburu karena emosi.


Mendengar hal itu , baik Shalimar maupun ibunya merasa begitu terkejut. Ibu Shalimar langsung merasakan jika semuanya gelap gulita dan kemudian tidak dapat menahan tubuhnya sendiri.


"Mama." Teriak Shalimar ketika ibunya jatuh pingsan.


Dengan cepat Dhanny menangkap tubuh ibu Shalimar sebelum jatuh ke tanah.


"Ma." Panggil Rendy yang juga terkejut melihat ibu Shalimar jatuh pingsan.


"Jangan mendekat!" Teriak Shalimar kepada Rendy.


"Aku tidak ingin melihatmu."


Rendy menghentikan langkahnya dan hanya bisa melihat dari tempatnya ketika Dhanny menggendong tubuh kecil ibu Shalimar.


"Kita bawa mama kerumah sakit." Kata Dhanny sambil memberikan kunci mobil kepada Shalimar.


Shalimar menganggukkan kepalanya dan dengan cepat membuka pintu mobil Dhanny , memberikan jalan untuk Dhanny membawa masuk ibunya kedalam mobil.


"Aku yang akan menyetir, kau temani mama dibelakang." Kata Dhanny sambil menepuk bahu Shalimar , berusaha membuat Shalimar tetap tenang.


Shalimar menganggukkan kepalanya dengan patuh , sekujur tubuhnya menjadi dingin dan mati rasa. Ibunya memiliki riwayat penyakit jantung dan darah tinggi ,jika sesuatu terjadi pada ibunya , Shalimar tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya lagi.


Shalimar duduk sambil memangku kepala ibunya yang sudah terkulai lemas sambil membelai kepala ibunya penuh rasa khawatir.


"Ma, mama harus baik-baik saja." Bisik Shalimar kepada ibunya.

__ADS_1


Dhanny menutup pintu mobil bagian penumpang disamping Shalimar kemudian berjalan memutar menuju kursi pengemudi dan langsung menyalakan mesin mobil tanpa melihat kearah Rendy. Dengan cepat Dhanny mengendarai mobilnya kearah rumah sakit terdekat.


Rendy tidak bergerak sampai mobil Dhanny terlihat jauh dari pandangannya dan menghilang.


"Kau tidak bisa memiliki posisiku. Sebagai suami Shally , menantu mama Shally dan juga ayah Aabid." Kata Rendy dalam hati penuh dengan keencian terhadap Dhanny.


Rendy mengepalkan tangan disamping tubuhnya dengan emosi yang tidak bisa ia pendam lagi.


-----------------


Dokter mengatakan jika kondisi ibu Shalimar sudah stabil dan harus beristirahat selama beberapa hari kedepan. Shalimar merasa lega ibunya baik-baik saja.


Shalimar bahkan tidak menyadari jika dirinya bersandar pada Dhanny selama masa kritis ibunya.


Dhanny sudah menemaninya dan juga memberikan kamar inap terbaik untuk ibunya setelah ibu Shalimar dipindahkan dari UGD.


"Maafkan aku. Aku sudah merepotkanmu." Kata Shalimar setelah sadar jika dia sudah menggenggam tangan Dhanny selama ini.


"Aku senang bisa membantumu dan berada disampingmu ketika kau membutuhkanku." Jawab Dhanny saat Shalimar melepaskan tangannya.


"Aku tidak ingin menjadi beban oranglain." Kata Shalimar dengan lirih sambil menyisirkan rambutnya kebelakang mencoba menutupi perasaan malu yang sedang melandanya saat ini.


"Kita akan menikah sebentar lagi, aku bukan oranglain untukmu." Balas Dhanny dengan lembut.


Cepat atau lambat , Shalimar akan menghadapi hal ini dengan Dhanny. Shalimar ingin memastikan sesuatu untuknya yakin akan pernikahannya dengan Dhanny.


"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Shalimar memandang lurus kearah Dhanny.


"Ya." Jawab Dhanny dengan cepat walaupun ia merasa jika Shalimar meragukan perasaan yang ia miliki


"Kau menerima semua kekuranganku dan statusku?" Tanya Shalimar lagi.


"Ya."


"Lalu apakah orangtuamu , keluargamu sudah mengetahui statusku?" Kali ini Shalimar memberanikan diri untuk bertanya karena Dhanny sungguh-sungguh akan menikahinya.


"Belum. Mereka tidak mengetahui statusmu." Jawab Dhanny dengan berat sambil memalingkan wajahnya dari Shalimar.


Shalimar tersenyum pahit akan jawaban Dhanny. Seharusnya Shalimar sudah mempersiapkan mentalnya akna hal itu , namun saat Dhanny menjawab dengan jujur pertanyaannya , hal itu membuat Shalimar merasakan pukulan di hatinya.


"Apa kau akan menerima Aabid jika suatu saat aku memiliki hak asuh atas Aabid?" Tanya Shalimar sambil menahan napasnya sendiri .


Dhanny melihat Shalimar yang menantikan jawaban darinya. Shalimar ingin jawaban yang jujur namun hal itu bukan yang terbaik ketika Dhanny ingin membangun kepercayaan dari Shalimar. Butuh beberapa detik bagi Dhanny menjawab pertanyaan Shalimar.


"Jujur. Aku tidak ingin dia berada diantara aku dan dirimu." Jawab Dhanny pada akhirnya.


Jawaban Dhanny seakan memberikan pukulan yang telak kepada Shalimar. Dhanny tidak bisa menerima Aabid dalam pernikahan mereka , itu artinya sekalipun Shalimar memiliki hak asuh atas Aabid , Aabid tidak akan pernah merasakan keluarga bersama dirinya.


"Tapi jika Aabid adalah kebahagiaanmu , aku akan mencoba untuk menerimanya." Dhanny tidak berkedip ketika mengatakan hal itu pada Shalimar.


Hati Shalimar seperti roller coaster yang naik turun saat ini. Dan ia tidak tahu harus menanggapi dengan ekspresi apa saat ini . Yang Shalimar lakukan hanya memandang kearah Dhanny dengan tatapan yang tidak menentu.


"Shally." Panggil ibu Shally ditengah kebingunggan yang melanda Shalimar saat ini.


Mendengar ibunya memanggil namanya , Shalimar langsung beranjak berdiri disamping tempat tidur ibunya.


"Ma, mama sudah sudah sadar?" Tanya Shalimar dengan cemas sambil mengusap ujung kepala ibunya.


"Apa mama merasakan sakit atau tidak nyaman?"


Ibu Shalimar menggelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum melihat Shalimar.


"Mama baik-baik saja." Jawab ibu Shalimar dengan lirih.


"Apa mama membutuhkan sesuatu?" Shalimar merasa jika ibunya membutuhkan sesuatu dan ingin segera memberikannya jika ibunya meminta.


"Menikahlah dengan Dhanny." Kata ibu Shalimar sambil menggenggam tangan Shalimar erat.


Shalimar terdiam sesaat mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya.


"Ma, mama perlu beristirahat saat ini."


"Menikahlah dengannya. Hanya dengan Dhanny kamu akan bahagia. Dia bisa memberikan apa yang Rendy tidak berikan kepadamu selama ini. Tentang Aabid , Rendy dan keluarganya tidak akan semudah itu memberikan Aabid kepadamu. Pikirkanlah dirimu terlebih dahulu. Pikirkanlah kebahagiaanmu." Kata ibu Shalimar memotong penolakan Shalimar.


"Kau berjanji kepadaku akan melindungi Shally sekalipun itu dari keluargamu sendiri. Apa kau akan memenuhinya?" Tanya Ibu Shalimar kepada Dhanny.


Dhanny berjalan mendekat kearah tempat tidur dan berdiri disamping Shalimar.


"Aku akan menepatinya." Jawab Dhanny dengan sungguh-sungguh.


"Jangan katakan status Shally kepada orangtuamu." Kata ibu Shalimar kepada Dhanny.


"Ma.." Protes Shalimar namun ibunya memandang dirinya dengan tegas.


"Lupakanlah masalalumu. Jangan menyia-nyiakan hidupmu lagi. Sudah cukup kau dihina dan direndahkan. Apa kau ingin melihat mama mati karena bersedih melihat kehidupan putrinya yang kacau seperti ini?" Ibu Shalimar tidak laig menggenggam tangan Shalimar.


"Maafkan aku , Dhanny. Aku tidak bermaksud menjadikanmu pilihan pelarian dari kehidupan Shally yang berantakan saat ini. Aku hanya ingin putriku merasakan kebahagiaan yang tidak ia rasakan. Aku ingin mempercayai apa yang kau katakan sebelumnya kepadaku. Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau menganggap aku orangtua yang picik , menyetujui kau menikahi Shally karena ingin memanfaatkan dirimu untuk kebahagiaan Shally." Kata ibu Shalimar sambil menghela napas panjang.


"Aku bersedia dimanfaatkan jika memang hal itu membuat Shally bahagia." Jawab Dhanny sambil tersenyum simpul.


"Jangan pernah mengatakan status Shally yang sebenarnya kepada orangtuamu , menikahlah dengan Shally. Jangan biarkan siapapun mengganggunya apalagi merendahkannya lagi. Tentang Aabid ..."


"Aabid anakku , Ma. Aku juga memiliki hak atas Aabid. Aku tidak akan bertahan sejauh ini jika bukan karena Aabid." Potong Shalimar kali ini.


"Lalu.. Apakah selama ini kau bisa mengasuhnya? Kau kira semudah itu mengasuh anak? Kau kira mereka akan begitu saja membawa Aabid kepadamu?" Balas ibu Shalimar dengan emosi yang sedikit meninggi dan membuatnya merasa pusing lagi.


"Tante, tante harus tenang dulu." Kata Dhanny ketika melihat ibu Shalimar memejamkan mata sambil menahan rasa sakit.


"Turuti perkataanku , kalau tidak , aku bisa mati cepat karenamu." Kata ibu Shalimar sambill membuka matanya dan melihat kearah Shalimar.


"Kapan kau akan mengatakannya kepada orangtuamu tentang pernikahanmu?" Tanya ibu Shalimar kepada Dhanny.


"Hari ini." Jawab Dhanny cepat.


Shalimar memandang kearah ibunya dan Dhanny secara bergantian. Merasa jika dirinya tidak dianggap saat ini.


"Kalau begitu aku akan menunggu kabar baik darimu secepatnya. Baawa orangtuamu untuk menemuiku." Balas ibu Shalimar dengan tegas kepada Dhanny.


------------------

__ADS_1


__ADS_2