
Eva sudah merasa jika ada yang ganjil dari Dhanny ketika Dhanny meminta kepada Eva agar tidak ikut campur akan persiapan pernikahan mereka semenjak Eva mengajak Dhanny untuk ikut bersamanya ke toko souvenir. Eva sudah merasa jika Dhanny mungkin akan tertarik dengan Shalimar ketika mereka berada di toko souvenir.
Eva sengaja untuk tidak menanyakan hal itu kepada Dhanny , ia merasa jika mungkin dirinya harus percaya jika Dhanny tidak seperti apa yang ia pikirkan. Dhanny hanya berusaha untuk menyenangkan hati Eva. Tapi ketika Eva melihat sendiri jika Dhanny langsung meninggalkannya ketika Eva menemui Dhanny dikantor Dhanny dan langsung menarik tangan Shalimar, Eva yakin jika Dhanny benar-benar menyukai Shalimar. Dhanny tidak pernah membuat kontak fisik dengan sembarang wanita selama ini .
Eva sengaja mengikuti kemana Dhanny pergi. Dhanny bahkan mengajak Shalimar untuk pergi bersamanya. Eva juga mengikuti ketika Dhanny menjemput Shalimar ke kantor tempat Shalimar bekerja. Dengan susah payah Eva menahan dirinya untuk tidak keluar dari mobilnya dan menghampiri Dhanny juga Shalimar. Eva tidak pernah melihat Dhanny tersenyum begitu hangat selama ini kecuali ketika Dhanny bersama dengan orangtua Dhanny. Dhanny bahkan juga menggandeng tangan Shalimar untuk mengajak Shalimar masuk kedalam mobilnya dan mengantarkan Shalimar pulang. Eva dengan sekuat hati menahan dirinya untuk tidak bergegas mendamprat keduanya walaupun dirinya memiliki hak untuk itu. Namun jika ia melakukan hal itu , Dhanny jelas akan membatalkan pernikahan dengan dirinya. Eva tidak ingin usahanya selama ini sia-sia untuk mendapatkan Dhanny menjadi calon suaminya. Ia bahkan harus rela bertaruh nyawa dengan mencoba bunuh diri dihadapan Dhanny dan juga keluarganya. Eva tidak akan membiarkan rencana pernikahannya hancur hanya karena emosi yang saat ini ia rasakan.
Setelah melihat Dhanny mengantarkan Shalimar pulang , Eva langsung pergi meninggalkan tempat dimana ia memantau Dhanny dan Shalimar. Eva akan menggunakan caranya sendiri untuk membuat Dhanny menjauh dari Shalimar. Tidak ada yang bisa merebut Dhanny dari dirinya.
---------------
Dhanny merasa tidak puas dengan perdebatannya bersama Rendy sewaktu mereka berada didepan rumah Shalimar tadi. Yang paling membuat Dhanny sangat marah adalah Shalimar masih ragu akan perasaan yang Shalimar miliki.
"Masih ada banyak waktu untuk Shally memutuskan kemana hatinya akan berlabuh pada akhirnya . Dan Shally harus memilihku apapun cara dan resikonya , aku tidak bisa menyerah untuk yang kedua kalinya. Langkahku kurang sedikit lagi sekalipun hati Shalimar masih menyisakan ruang untuk lelaki itu , Shalimar tidak akan kembali padanya lagi." Keyakinan itu yang berulang kali menggema dalam otak Dhanny.
Hari ini Dhanny berencana untuk menjemput Shalimar dirumahnya untuk berangkat bekerja karena mobil Shalimar masih berada di parkiran kantor Dhanny semenjak kedatangan Shalimar yang tidak terduga di kantornya kemarin. Hal yang tidak terduga yang memberikannya kesempatan lebih banyak untuk mendekati Shalimar dan mendapatkan hati Shalimar lebih jauh lagi.
Tepat ketika Dhanny hendak mendekati mobilnya yang terparkir didepan rumahnya , Eva berjalan menghampiri Dhanny dengan wajah yang penuh dengan senyuman untuk Dhanny. Meskipun senyuman itu untuknya namun Dhanny merasakan itu bukan hal yang baik untuk rencananya hari ini.
"Sayang." Panggil Eva kepada Dhanny dengan nada mesra sambil menghampiri Dhanny dan langsung menggandeng lengan Dhanny.
"Ada apa kau datang kerumahku pagi sekali?" Tanya Dhanny dengan nada dingin.
"Aku merindukanmu tentu saja." Jawab Eva dengan lembut tanpa memperdulikan sikap Dhanny yang dingin kepadanya.
"Aku sibuk hari ini." Balas Dhanny sambil melepaskan tangan Eva dari dirinya.
"Kau pasti akan menemui perempuan itu dan jangan harap aku memberikan kalian peluang untuk itu." Kata Eva dalam hati.
"Aku akan ikut denganmu. Kau akan pergi kemana?" Tanya Eva sambil tersenyum hangat dan lembut kepada Dhanny.
"Bukan urusanmu." Dhanny langsung berjalan kearah mobilnya dan langsung membuka pintu mobilnya.
"Aku akan ikut." Eva langsung masuk kedalam mobil Dhanny di kursi sebelah pengemudi.
Dhanny menghela napas panjang mencoba mengatur emosinya kali ini.
"Aku akan pergi sendiri. Keluar dari mobilku dan kerjakan apa yang ingin kau kerjakan." Kata Dhanny sambil mengatupkan rahangnya .
Dhanny memandang tajam kearah Eva tanpa masuk kedalam mobilnya dan menahan kedua tangannya diatas bingkai mobilnya.
"Aku ingin bersamamu hari ini. Jadi aku sudah melakukan apa yang aku ingin lakukan hari ini." Jawab Eva sambil tersenyum , mengabaikan penolakan Dhanny.
Dhanny menghela napas lagi , menahan dirinya untuk mengumpat didepan Eva. Dhanny akhirnya mengalah dan masuk kedalam mobilnya dan mengendarai menuju kekantornya hari ini. Niat awalnya untuk menjemput Shalimar kini sudah tidak bisa ia lakukan karena Eva yang muncul tiba-tiba di hadapannya hari ini.
Eva tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya kali. Eva tidak akan membiarkan peluang sekecil apapun untuk Dhanny menemui Shalimar. Sekalipun Dhanny tidak mencintainya , tapi Eva tidak ingin jika Dhanny tidak menjadi miliknya.
Sesampainya di tempat parkir kantor miliknya , Dhanny melihat Shalimar yang berjalan menuju ke mobil milik Shalimar sendiri. Tanpa sengaja juga Shalimar melihat kearah Dhanny yang satu mobil dengan Eva.
Shalimar langsung masuk kedalam mobilnya dan langsung mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir kantor Dhanny. Senyuman lebar tercipta di bibir Eva. Dia berhasil membuat jelas tentang kepemilikannya atas Dhanny dihadapan Shalimar. Dhanny menghentikan mobilnya dan mencengkeram erat setir mobil yang ada dihadapannya.
"Turun." Kata Dhanny dengan tegas namun masih bisa menahan amarahnya dihadapan Eva.
"Tidak." Jawab Eva tanpa memandang kearah Dhanny .
Eva tahu jika Dhanny sedang dalam suasana hati yang tidak senang kali ini karena Shalimar pergi begitu saja ketika melihat mereka bersama.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan menemanimu seharian ini." Kata Eva sambil tersenyum lebar dan melihat kearah Dhanny .
"Aku tidak mengatakan aku menyetujuinya." Balas Dhanny lalu melepaskan sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu mobil yang ada disampingnya kemudian berjalan meninggalkan mobilnya tanpa mematikan mesin mobilnya.
"Dhanny , kau mau kemana ?" Tanya Eva yang hanya bisa melihat Dhanny meninggalkan dirinya sendiri didalam mobil.
Eva melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil untuk mengejar Dhanny .
"Dhanny!" Teriak Eva namun tidak didengarkan oleh Dhanny yang terus berjalan meninggalkan tempat parkir kantornya.
Karena Eva mengenakan heels , Eva tidak bisa secepat itu mengejar Dhanny yang sudah berlari jauh darinya.
"Baiklah. Kau yang memilih jalan ini. Kita akan lihat apa yang akan aku lakukan setelah ini." Kata Eva sambil melihat bayangan Dhanny yang sudah meninggalkan tempat parkir.
--------------------
Ponsel Shalimar tidak berhenti bergetar. Panggilan masuk itu dari Dhanny . Entah mengapa Shalimar merasa sangat kesal melihat Dhanny hari ini yang berada satu mobil dengan Eva.
"Laki-laki." Dengus Shalimar dengan kesal sambil menginjak pedal gas mobilnya .
"Kemarin dia menyatakan perasaannya kepadaku , sekarang dia bersama dengan calon pengantinnya. Apa sebenarnya yang ada di otaknya?"
Shalimar menghela napas panjang dan mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
"Shally kenapa kau harus marah? Bukankah wajar jika dia bersama dengan callonn istrinya? Kau yang seharusnya tahu diri. Kau jangan menjadi pengacau hubungan oranglain." Kata Shalimar kepada dirinya sendiri sambil melihat kearah jalanan yang ada dihadapannya saat ini.
Shalimar sudah hampir sampai didepan kantornya dan sebuah taxi menghalangi dirinya untuk parkir dan membuat Shalimar harus menginjak pedal rem mendadak untuk menghentikan mobilnya.
Pintu mobil taxi itu terbuka dan Dhanny keluar dari sana dengan terburu-buru. Dhanny langsung berjalan kearah mobil Shalimar.
"Baiklah. Dia gila. Dia menyusulku kemari ketika bersama dengan calon istrinya tadi?" Tanya Shalimar dalam hati sambil melihat kearah Dhanny yang berjalan kearahnya.
Dhanny membuka pintu mobil disamping Shalimar namun tidak bisa karena masih dalam penguncian otomatis.
"Shally ?" Panggil Dhanny sambil mengetuk jendela mobil Shalimar ketika tidak dapat membuka pintu mobil Shalimar.
Shalimar sempat berpikir untuk tidak memperdulikan Dhanny namun saat ini dirinya berada didepan tempat kerjanya dan juga banyak orang yang ada disana. lebih tidak bagus lagi jika mereka melihat Dhanny dan dirinya bertengkar di depan umum. Shalimar menurunkan kaca mobilnya .
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Shalimar dengan enggan pada Dhanny sambil berbisik.
"Aku ingin kau mendengarkan penjelasanku." Jawab Dhanny yang terlihat lega Shalimar mau berbicara dengannya.
"Bisakah kau membiarkanku untuk memarkir mobilku dulu? Ini jalan umum." Kata Shalimar sambil menunjukkan kearah tempat parkir yang sudah kosong setelah taxi yang membawa Dhanny pergi.
Dhanny melihat kearah tempat parkir yang ditunjuk olehh Shalimar dan kembali melihat kearah Shalimar. Kemudian Dhanny meraih kunci mobil Shalimar yang masih tertancap dari tempatnya dengan memutar ke posisi off dan menariknya.
"Biar aku yang memarkirkan." Kata Dhanny lalu menegakkan tubuhnya dan memberi Shalimar ruang untuk keluar dari mobilnya.
Shalimar mendengus kesal , Dhanny seolah mengira dirinya akan kabur begitu saja dari sana.
"Baiklah." Shalimar mengangguk dan keluar dari mobilnya.
"Tunggu disini." Kata Dhanny sambil masuk kedalam mobil Shalimar.
"Memangnya aku akan kemana?" Bisik Shalimar lebih kepada dirinya sendiri.
Shalimar melihat Dhanny memarkirkan mobilnya dengan sigap dan langsung keluar dari dalam mobil Shalimar setelah memarkirkan mobil Shalimar. Dhanny berjalan kearah Shalimar.
__ADS_1
"Dengarkan aku ..."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan disini . Kenapa kau harus begitu panik sampai-sampai harus datang kemari?" Shalimar langsung memotong kalimat Dhanny.
Dhanny tersenyum melihat sikap Shalimar yang terlihat kesal saat ini dihadapannya.
"Kau cemburu?" Tanya Dhanny sambil tersenyum kepada Shalimar.
Shalimar memalingkan wajahnya dengan gugup.
"Tidak." Jawab Shalimar dengan singkat sambil melipat tangan didepan dadanya.
"Lagipula memang Eva adalah ccalon istrimu. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Dia yang bersih keras untuk ikut bersamaku pagi ini. Aku hendak menjemputmu tadi." Kata Dhanny dengan lembut masih menatap lekat kearah Shalimar.
"Aku tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadimu." Balas Shalimar kali ini membalas tatapan Dhanny sambil memicingkan matanya karena silaunya sinar matahari pagi itu.
"Kau memiliki hak." Kata Dhanny dengan tegas.
"Kau kekasihku saat ini."
Shalimar tersenyum sinis mendengar penjelasan Dhanny tentang hubungan mereka.
"Apa kau ingin membuatku menjadi perusak hubungan diantara kau dan Eva?" Tanya Shalimar yang merasa dirinya menjadai duri dalam hubungan oranglain.
"Lalu kau ingin menjadi istriku saja?" Tanya Dhanny sambil tersenyum kepada Shalimar.
Shalimar memalingkan wajahnya dengan segera setelah mendengarkan kalimat Dhanny.
"Jangan mengatakan hal seperti ini lagi. Ingat kau akan.."
"Aku tidak akan menikah dengannya jika kamu mau menikah denganku." Potong Dhanny dengan cepat ketika Shalimar hendak mengatakan tentang pernikahannya dengan Eva.
"Kau bisa membatalkan hal yang begitu penting dalam hidupmu dengan sekali ucap seperti itu?" Tanya Shalimar sambil melihat kearah Dhanny dengan kesal.
Entah mengapa Shalimar merasa kesal , marah , dan malu yang menjadi satu saat ini kepada Dhanny. Karena kenyataan Dhanny akan menikah sebentar lagi atau Dhanny sedang mempermainkan perasaan Shalimar saat ini.
"kamu." Kata Dhanny tanpa melepaskan pandangannya dari Shalimar.
"Kamu yang berharga saat ini untukku. Aku sudah mengatakannya berkali-kali kepadamu. Aku tidak menginginkan pernikahanku dengan Eva. Aku akan membatalkannya jika kamu mau menikah denganku. Dan kamu meragukan perasaanku sepanjang waktu. Karena itu aku ingin kita menjadi sepasang kekasih dalam waktu satu bulan. Aku akan membuktikan jika perasaanku ini bukan perasaan semu saja." Lanjut Dhanny kemudian Dhanny tersenyum melihat pipi Shalimar yang mulai terlihat kemerahan itu.
"Aku tidak menyangka jika kau akan begitu cemburu ketika melihatku bersama Eva." Kata Dhanny sambil menggenggam tangan Shalimar dengan lembut.
"Aku tidak sedang cemburu." Kilah Shalimar sambil menarik tangannya dari Dhanny.
"Terserah padamu kau akan bersama dengan siapa , aku tidak akan peduli."
Kemarahan Shalimar makin membuat jantung Dhanny berdebar dan senyuman lebar tercipta di wajahnya. Shalimar cemburu kepadanya dan Eva.
"Baiklah . Kau tidak cemburu. Lalu mengapa kau terlihat marah?" Tanya Dhanny seperti memancing kemarahan Shalimar lebih nampak lagi.
"Aku ... Aku hanya tidak senang kau menghalangi jalanku." Jawab Shalimar mencoba mencari alasan untuk menutupi apa yang ia rasakan saat ini sambil menunjuk kearah pintu masuk tempat kerjanya.
"Baiklah, aku akan kembali bekerja setelah ini. Kau jangan marah lagi." Kata Dhanny sambil menghela napas panjang dan merubah posisi tubuhnya dengan menyamping , memberikan jalan untuk Shalimar.
Shalimar dengan enggan berjalan melewati Dhanny.
"Aku tidak akan bersama dengan wanita lain." Kata Dhanny ketika Shalimar berjalan tepat dihadapannya yang lansgsung membuat Shalimar memalingkan wajahnya kearah Dhanny.
"Aku akan menjemputmu nanti." Teriak Dhanny sambil membuka pintu mobil Shalimar.
Seketika Shalimar merogoh kantong celana jeans yang ia kenakan untuk mencari kunci mobil miliknya. Dhanny belum memberikan kunci mobil miliknya setelah memarkirkannya tadi.
"Tunggu!! Kau .." Ketika Shalimar berbalik , Dhanny sudah keluar dari jalur parkir dan mengendarai mobil milik Shalimar.
"Lalu untuk apa aku harus mengambil mobilku pagi-pagi dari tempatmu kalau akhirnya kau bawa dia lagi kesana? Kau benar-benar ingin mengikatku untuk jadi mainanmu atau bagaimana?" Gumam Shalimar dengan kesal kepada dirinya sendiri karena yang ia tuju sudah jauh meninggalkan dirinya saat ini.
Setelah mobilnya sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya , Shalimar berjalan kearah tempatnya bekerja yang langsung disambut oleh Taufan yang sudah berdiri didepan pintu masuk sambil menyilangkan tangan didepan dadanya.
"Kenapa kau berdiri disana?" Tanya Shalimar yang sempat sedikit terkejut dengan kehadiran Taufan disana.
"Aku ingat dia sekarang." Kata Taufan sambil memicingkan matanya kepada Shalimar.
"Dia klien VIP kita."
Shalimar merasakan dirinya sedang menabuhkan genderang perang dengan Taufan. Jelas Taufan akan mencincang dirinya jika saja poyek besar mereka sampai hancur karena hubungan yang tengah terjalin antara Shalimar dan Dhanny.
"Dia.. Aku .. Kita bicara didalam saja." Kata Shalimar dengan gugup.
"Apa kau sudah gila?" Teriak Taufan kepada Shalimar.
Shalimar berjalan mendekati Taufan dengan cepat dan langsung menutup mulut Taufan dengan tangannya agar Taufan tidak membuatnya malu didepan umum.
"Kita bicara didalam saja." Bisik Shalimar sambil mendorong tubuh Taufan masuk kedalam kantor.
Setelah mereka berada didalam kantor , Taufan langsung melepaskan tangan Shalimar dari wajahnya.
"Kau sudah gila? Dia adalah klien VIP kita. Proyek pernikahan mereka yang paling bombastis diantara proyek-proyek pernikahan yang lainnya. Kalau ini sampai gagal , kita bisa kehilangan banyak klien nantinya." Taufan langsung mengutarakan kegelisahannya setelah mengingat siapa Dhanny yang sudah memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Shalimar waktu itu didepan Taufan.
"Aku tahu. Aku juga tidak memiliki banyak pilihan. Apa kau tahu aku juga dalam posisi yang tidak baik saat ini." Kata Shalimar mencoba membela dirinya sendiri.
"Dia yang bersihkeras ingin menjalin hubungan denganku. Aku sudah menolaknya berulang kali."
"Kau tahu jika proyek ini sampai dibatalkan kita akan mengembalikan uang mereka tiga kali lipat jika itu kesalahan dari pihak kita." Taufan makin termakan emosi ketika memikirkan kerugian yang akan ia tanggung nantinya.
"Dia mengatakan jika dia sampai membatalkan pernikahannya , ia tidak akan mengambil uangnya sepeserpun apalagi mengambil uang pembatalan dari kita." Jawab Shalimar tanpa melihat kearah Taufan.
Keheningan tercipta selama beberapa waktu kemudian Shalimar bisa mendengar Taufan menghela napasnya dengan panjang dan berat.
"Apa Eva tahu tentang hal ini?" Tanya Taufan
"Tidak.... Entahlah. Sepengetahuanku tidak .. Belum.." Jawab Shalimar dengan bingung dan mencoba mengallihkan pandangannya kearah lain selain Taufan sambil memainkan jemari tangannya.
Taufan menepuk tangannya dengan kencang sehingga membuat Shalimar melihat kearah Taufan seketika.
"Bagus." Kata Taufan sambil tersenyum.
"Kalau begitu jangan sampai Eva mengetahui hubunganmu dengan Dhanny sebelum Dhanny membatalkan pernikahannya secara langsung dengan Eva. Dengan begitu pihak kita tidak akan dirugikan secara finansial ataupun sosial." Lanjut Taufan sambil menepuk bahu Shalimar dengan penuh semangat kemudian meninggalkan Shalimar sendirian disana.
"Apa kau temanku? Bisakah kau memberikan solusi yang baik untukku saat ini?" Tanya Shalimar dengan putus asa saat Taufan berjalan meninggalkannya begitu saja.
"Itu adalah saran yang terbaik untukmu dan kita semua." Balas Taufan tanpa melihat kearah Shalimar dan hanya melambaikan tangan kanannya keatas.
__ADS_1
Shalimar menyisirkan rambutnya kebelakang dengan frustasi.
"Solusi macam apa itu?" Tanya Shalimar dengan kesal.
Disaat seperti ini ingin rasanya Shalimar berbicara dengan Mei. Mungkin hanya Mei yang bisa memberikan solusi untuk permasalahannya saat ini. Mungkin nanti ketika ia mendapatkan istirahat makan siang , dirinya akan menghubungi Mei dan bisa mengetahui bagaimana dirinya harus menghadapi Dhanny nantinya tanpa harus merugikan banyak pihak.
----------------------
"Mungkin kau harus menerima Dhanny dan biarkan Dhanny membatalkan pernikahannya dengan Eva sesegera mungkin." Kata Mei setelah mendengarkan Shalimar menceritakan apa yang sedang ia alami dengan Dhanny.
"Mei? Kau sebenarnya sahabatku atau bukan?" Tanya Shalimar ketika mendengarkan jawaban Mei atas apa yang ia tanyakan.
"Sekarang kau pikirkan saja. Kita gunakan logika." Mei mulai menggerakkan tangannya di hadapan Shalimar , berusaha menjelaskan mengapa ia memberikan jawaban itu pada Shalimar.
"Dhanny menyukaimu sejak lama. Sekarang ia datang kepadamu ketika kau sudah tidak bersama Rendy , dia bahkan menerima semua kekuranganmu dan juga mengetahui statusmu dengan jelas. Dan kau juga menyukainya. Dhanny juga menjelaskan kepadamu jika dia tidak ingin menikahi wanita yang tidak ia cintai , ia bahkan rela membuktikannya kepadamu dalam kurun waktu satu bulan. Ditambah lagi kau saat ini sudah menjalin hubungan dengan Dhanny. Dia juga mengatakan jika sekalipun pernikahan itu ia batalkan ia tidak akan meminta uangnya kembali dan perusahaanmu juga tidak akan menanggung ganti rugi untuk pembatalan perniakahannya. Tidak ada yang dirugikan dalam posisi ini. Lalu apa yang kau ragukan lagi?" Kali ini Mei yang berbalik bertanya kepada Shalimar.
"Baiklah , anggap saja aku menerima perasaan Dhanny." Shalimar mencoba untuk tetap berporos pada pemikirannya saat ini .
"Aku tidak mungkin bisa bersama dengannya karena statusku dan juga Aabid. Eva juga pasti akan terluka. Aku juga masih memiliki Rendy."
"Eva akan mengerti jika Dhanny yang menjelaskan dan membatalkannya sendiri. Dan Rendy.. Dia bahkan tidak pernah menganggapmu ada." Balas Mei sambil menggelengkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi cafe yang ia duduki saat ini.
"Tapi semalam , dia peduli kepadaku. Sudah lama aku tidak melihat Rendy mengkhawatirkan aku seperti tadi malam." Shalimar sedikit melamun ketika mengatakan hal itu kepada Mei.
"Kau hanya memperkuat pemikiranmu saja , Shally. Kau hanya tidak rela melepaskan Rendy dan menerima kenyataan Rendy sudah tidak mencintaimu lagi. Atau .. Mungkin kau takut jika Dhanny akan melakukan hal yang sama seperti Dhanny jika kau benar-benar jatuh hati padanya?" Mei melihat dengan penuh perhatian kepada Shalimar.
"Aku tidak tahu. Apa yang ada dalam pikiran dan hatiku ... Mereka tidak sejalan . Aku juga tidak tahu harus bagaimana." Shalimar menggelengkan kepalanya dengan linglung dan menangkup gelasnya dengan erat.
"Mungkin lebih baik jika kau jalani saja dulu dengan Dhanny. Setelah itu kau pikirkan lagi apa yang sebenarnya kau inginkan." Kata Mei sambil menyentuh tangan Shalimar dengan lembut.
"Kau juga pantas untuk bahagia. Jangan merelakan kebahagiaanmu dan orang yang mencintaimu hanya untuk oranglain. Terkadang cinta juga bisa menjadi egois , kau tidak perlu merasa bersalah untuk itu."
Shalimar memandang kearah jendela luar cafe yang penuh dengan orang berlalu lalang .
"Aku hanya takut untuk mencintai lagi. Aku takut jika aku akan melukai dan dilukai lagi." Kata Shalimar lalu menghela napas panjang.
"Aku juga tidak ingin memastikan Dhanny benar-benar mencintaiku atau tidak. Jika dia tidak mencintaiku , maka aku hanya menjadi boneka dalam permainannya saja. Jika dia mencintaiku maka aku tidak bisa dengan sepenuh hati membalas cintanya kepadaku."
"Jalani saja dulu. Setelah itu baru kau bisa memastikan apa yang terbaik untuk dirimu sendiri." Mei tersenyum penuh pengertian kepada Shalimar.
Meskipun Shalimar adalah saingan cintanya , tapi Mei tulus menyayangi Shalimar seperti saudaranya sendiri. Mei tidak ingin Shalimar terus berlarut dalam cinta sepihak yang Shalimar miliki selama ini kepada Rendy. Jika benar Dhanny mencintai Shalimar seperti apa yang Dhanny katakan selama ini , Mei bisa mempercayakan Shalimar kepada Dhanny.
Ponsel Shalimar sudah bergetar disaat dirinya tidak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Shalimar melihat layar ponselnya dan nama Dhanny terpampang disana.
"Kau tidak menjawabnya?" Tanya Mei kepada Shalimar yang masih menatap layar ponselnya tanpa menyentuh layarnya.
Shalimar akhirnya memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam tas kecil yang selalu ia bawa.
"Tidak. Aku sedang tidak ingin bicara dengannya." Kata Shalimar dengan kesal.
"Karena ia tadi bersama Eva?" Tanya Mei lagi mencoba menebak ekspresi yang dimiliki oleh Shalimar.
"Aku tidak cemburu padanya." Kilah Shalimar.
"Dia akan menghubungimu terus jika kau tidak menjawab panggilan darinya. Bisa lebih parah lagi jika dia mendatangi tempat kerjamu hanya untuk melihat apakah kau baik-baik saja atau tidak." Kata Mei sambil tersenyum jahil kepada Shalimar.
Apa yang dikatakan Mei mungkin ada benarnya. Dengan bukti kenekatan yang sering dilakukan oleh Dhanny kepadanya beberapa hari ini. Mungkin saja itu terjadi.
"Aku akan mengirim pesan kepadanya." Kata Shalimar dengan cepat dan mengambil ponsel dari dalam tasnya dan langsung mengirim pesan kepada Dhanny jika dia saat ini sedang sibuk.
"Oh iya. Dhanny mengatakan kepadaku jika kami pernah berada satu sekolah dulu. Apa kau juga mengenalnya?" Tanya Shalimar dengan tiba-tiba.
"Tentu." Jawab Mei dengan ragu sambil menyesap capucino yang ada dihadapannya.
Kali ini Mei tidak bisa menebak apa yang dikatakan Dhanny kepada Shalimar tentang dirinya. Seharusnya Dhanny tidak mengatakan apa yang mereka bicarakan dimalam Shalimar sedang tidak sadarkan diri.
"Kenapa aku tidak mengenalnya? Katanya dia sudah menyukaiku sejak lama tapi mengapa aku tidak pernah mengetahui tentang dirinya?" Shalimar mengernyitkan keningnya mencoba mengingat kembali jika saja ia pernah berpapasan dengan Dhanny ketika mereka masih bersekolah dulu.
"Kau tidak akan mengingatnya. Yang kau lihat hanyalah Rendy sementara yang lain hanyalah pelengkap saja." Balas Mei sambil meletakkan gelasnya dengan tenang.
"Dhanny adalah wakil ketua OSIS waktu itu. Dia juga menjadi kapten tim basket. Dia sudah menyukai mu sejak dulu. Aku saja tidak menyangka jika dia akan menyukaimu hingga saat ini." Lanjut Mei sambil melihat kearah Shalimar yang memandangnya dengan seksama.
Shalimar terlihat sedang mencoba mengingat siapa saja yang ia ingat sewaktu ia bersekolah dulu.
"Aku ingat. Dia pernah memberikan bolanya padaku dulu." Shalimar mengatakan hal itu dengan nada yang agak keras setelah ia mengingatnya kembali.
"Ku ingat akhirnya." Cibir Mei.
"Jadi dia tidak berbohong tentang hal itu? Dia benar-benar satu sekolah denganku waktu itu." Gumam Shalimar.
Ada perasaan lega dalam hati Shalimar saat memastikan hal ini dengan Mei dan mengetahui Dhanny tidak berbohong kepadanya. Sekarang mungkin adalah saat bagi Shalimar untuk membuktikan perasaan Dhanny kepadanya tulus atau tidak. Shalimar tidak ingin jatuh untuk kedua kalinya.
"Kau harus membuka hatimu untuk oranglain , Shally. Jangan hanya berjalan diluka yang sama. Ingat, kau juga memiliki hak untuk bahagia." Kata Mei sambil menepuk pelan tangan Shalimar.
-------------
Eva masih berada dikantornya ketika Dhanny kembali dari tempat Shalimar , Eva bahkan tidak menanyakan kemana Dhanny pergi. Dan Dhanny tidak mengatakan apapun kepada Eva. Eva masih bertahan berada didalam ruang kerja Dhanny setelah Dhanny menyelesaikan meetingnya dengan kliennya siang itu.
"Kau masih disini?" Tanya Dhanny kepada Eva yang duduk tenang didalam ruang kerja Dhanny.
"Tentu saja. Aku sudah mengatakan kepadamu aku akan menemanimu seharian." Jawab Eva sambil tersenyum lebar kepada Dhanny.
Dhanny meletakkan laporan pekerjaan yang ia bawa diatas meja kerjanya dan melihat kearah Eva dengan serius.
"Eva , ada yang ingin aku katakan kepadamu.."
"Aku akan membelikanmu makan siang. Sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Kau belum sempat sarapan kan?" Potong Eva yang sudah tahu akan apa yang hendak dikatakan olleh Dhanny.
Eva berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruang kerja Dhanny dengan terburu-buru.
Dhanny menghela napas melihat apa yang dilakukan oleh Eva. Ada perasaan iba dalam diri Dhanny , namun Dhanny jelas tidak mencintai Eva. Sekarang dirinya sudah selangkah mendapatkan hati Shalimar. Dhanny tidak ingin jika Eva akan lebih terluka jika ia membatalkan pernikahan setelah ia meyakinkan Shalimar akan perasaan yang ia miliki .
Dhanny mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shalimar , namun panggilannya tidak di jawab oleh Shalimar.
"Mungkinkah dia masih marah?" Tanya Dhanny dalam hati .
Tidak lama berselang , sebuah pesan dari Shalimar muncul dilayar ponsel Dhanny.
- Aku sedang rapat-
Sebuah pesan singkat yang mampu membuat Dhanny tersenyum lebar. Setidaknya Shalimar sudah mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit kepada dirinya.
Kali ini Dhanny yakin bisa memenangkan hati Shalimar dan dirinya juga harus segera membatalkan pernikahannya dengan Eva sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
Dhanny bahkan siap menghadapi konsekuensi yang akan ia terima pada Eva dan juga keluarganya nanti.
---------------