
Rendy mendengar semua yang dibicarakan oleh Shalimar dan juga Mei dari luar kamar Shalimar. Rendy tidak menyukai cara Mei memberikan nasihatnya kepada Shalimar. Seakan ingin Shalimar dan Rendy segera mengakhiri hubungan mereka. Rendy juga mendengar Shalimar sepertinya sudah menemukan seseorang yang bisa membuat jantung Shalimar berdebar-debar. Shalimar selalu menjawab kebalikan daripada apa yang ia rasakan dan Rendy sangat mengetahui hal itu. Jika Shalimar mengatakan tidak itu tandanya adalah iya. Dan seseorang sudah mulai memasuki hati Shalimar saat ini , berbeda dengan apa yang terjadi dengan beberapa pria yang pernah menjalin hubungan dengan Shalimar selama ini.
Apakah dirinya terlalu lama mengulur waktu untuk melakukan rencana besarnya untuk Shalimar? Apa benar Shalimar sudah benar-benar berpaling dari dirinya? Hal ini tidak boleh terjadi. Rendy akan membawa Shalimar kembali sebelum semuanya terlambat.
"Kapan kau akan pulang?" Pertanyaan Rendy yang belum dijawab oleh Shalimar.
Rendy bisa melihat keraguan dimata Shalimar. Shalimar menghela napas panjang dan melihat kearah lain selain Rendy.
"Aku tidak akan pulang." Jawab Shlaimar setelah beberapa detik dia terdiam.
"Kenapa?" Tanya Rendy sambil menahan keinginannya untuk bertanya siapa yang sudah mengisi hati Shalimar dan menggeser posisinya.
"Aku ingin kita berpisah saja." Shalimar memandang kearah Rendy kali ini.
"Kau tidak memikirkan Aabid?" Rendy membalas permintaan Shalimar dengan menggunakan anak mereka.
"Aku meminta hal ini berulang kali karena aku juga memikirkan Aabid. Aku tidak ingin dia melihat ayah dan ibunya hidup seperti dua orang asing. Akan lebih baik jika kita berpisah dan benar-benar menjadi orang asing." Jawab Shalimar dengan sungguh-sungguh kali ini.
Mungkin Mei benar jika sudah seharusnya Shalimar melepaskan perasaan cintanya untuk Rendy dan menemukan jalan hidupnya sendiri. Menemukan orang yang benar-benar mencintainya walaupun itu bukan Rendy ataupun Dhanny.
"Jika kau ingin kita benar-benar berpisah , maka kau tidak akan bisa menemui Aabid sama sekali." Rendy mulai mengeluarkan senjatanya jika Shalimar meminta berpisah dari dirinya.
"Kau selalu menggunakan Aabid sebagai senjatamu. Aabid tetap anakku , dia juga anakmu. Hal ini tidak ada hubungannya dengan perpisahan kita. Aku hanya tidak ingin menjalani kehidupan seperti ini sepanjang hidupku. Apa kau tidak lelah , Rendy? Aku sangat lelah sampai ingin mati rasanya." Kata shalimar dengan putus asa.
Rendy merasakan perasaan putus asa dalam diri Shalimar dan juga rasa terluka. Tapi dia tidak bisa memberikan hal yang Shalimar inginkan saat ini. Setidaknya Shalimar harus sabar menunggu sebentar lagi.
"Hanya itu persyaratanku jika kamu memang ingin kita benar-benar berpisah. Jika kamu menerimanya , aku akan memberikan talakku kepadamu. Aabid tidak memliki seorang ibu sepertimu , itu yang akan ia ingat sampai dirinya dewasa nanti." Rendy mencoba bertaruh kali ini dan dirinya sangat yakin Shalimar tidak ingin jika Aabid lepas dari Shalimar.
Shalimar memandang Rendy dengan tatapan tidak percaya. Rendy sedang mengancamnya saat ini. Rendy tidak pernah mengancamnya seperti ini sebelumnya. Rendy hanya mengatakan jika Shalimar tidak akan pernah menemui Aabid jika mereka berpisah , namun memberikan Aabid sugesti jika Aabid tidak memiliki ibu seperti dirinya , halitu baru saja dikatakan oleh Rendy dan langsung tepat menusuk di hati Shalimar.
"Kau mengancamku?" Tanya Shalimar sambil mengernyitkan keningnya.
"Aku hanya memberikan sebuah persyaratan kepadamu. Walaupun kau menemukan seseorang yang akan mengisi hatimu suatu saat nanti , aku tidak akan menceraikanmu kecuali kau menerima persyaratan yang aku ajukan untukmu." Jawab Rendy dengan tenang meskipun hatinya begitu kacau jika Shalimar benar-benar menerima persyaratan yang ia ajukan.
Kalimat yang diucapkan Rendy kali in ibahkan lebih menyakitkan , menyiratkan jika Rendy memang tidak mencintainya. Bahkan jika Shalimar memiliki oranglain dihatinya , Rendy tidak akan keberatan selama Shalimar tidak meminta berpisah dari Rendy. Shalimar tersenyum masam dan memandang Rendy.
"Kau yang sudah mengatakannya sendiri. Jangan pernah menyesali perkataanmu sendiri." Kata Shalimar dengan tenang walaupun sejujurnya ia ingin berteriak dihadapan Rendy sekencang mungkin.
-------------------------------
Dhanny bisa melihat mobil lelaki itu di depan rumah Shalimar. Dhanny berusaha keras mengendalikan dirinya untuk masuk kerumah Shalimar. Mereka masih sering bertemu meskipun sudah berpisah rumah.
Dhanny mengenal siapa Rendy. Bagaimana tidak , ia adalah pria yang sudah membuatnya tidak bisa mendapatkan Shalimar dulu. Sekarang ia membuat Shalimar menderita dan Dhanny akan membuat keadaannya berbalik nanti. Rendy bahkan tidak mencintai Shalimar , Rendy tidak pantas bersanding dengan Shalimar . Shalimar berhak untuk bahagia . Dhanny mulai menyusun apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan hati Shalimar sambil duduk dikursi kemudi mobilnya yang terparkir tidak jauh dari rumah Shalimar.
------------------------------------
Ini sudah lokasi yang ke tiga yang Shalimar kunjungi untuk survey. Tangannya mulai merasa lelah untuk mengambil gambar menggunakan kamera yang ia bawa dari kantor. Konsentrasi Shalimar masih terbelah antara pekerjaan yang sedang ia kerjakan dan juga apa yang dikatakan Rendy kepada dirinya kemarin malam. Apa yang sebenarnya Rendy pikirkan selama ini. Rendy tidak mencintai Shalimar tapi berusaha dengan sangat keras untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka. Dan sekarang Rendy bahkan menggunakan Aabid untuk pertahanan terakhir pernikahan mereka.
Jika Shalimar melepaskan anaknya , Shalimar takut akan menyesalinya seumur hidupnya. Meskipun Shalimar jarang menyentuh Aabid , Shallimar juga merindukan dan menyayangi Aabid. Hanya saja Shalimar benar-benar tidak bisa memeluk Aabid seperti seorang ibu pada umumnya. Shalimar begitu tersiksa akan hal itu. Setiap hari hanya bisa melihat putra kecilnya bersama dengan ibu Rendy , jarang sekali Shalimar memiliki kesempatan untuk memberikan kasih sayangnya kepada Aabid. Ditambah dengan ketidak tegasan Rendy yang tidak ingin pernikahan mereka tercatat secara negara , membuat Shalimar perlahan membenci Rendy namun tidak menghapus rasa cintanya untuk Rendy. Shalimar bahkan lebih membenci dirinya sendiri daripada Rendy. Memikirkan betapa bodoh dirinya yang mempertahankan perasaan cintanya yang saat ini bahkan tidak dipandang oleh orang yang ia cintai.
Shalimar meletakkan tangannya di pagar besi pinggir taman resort yang langsung menghadap kearah laut lepas yang indah dan menyilaukan mata Shalimar. Aroma angin laut yang segar dan asin juga hembusannya yang menerpa wajah Shalimar sedikitnya membuat Shalimar sedikit merasa bisa bernapas. Angin laut juga membuat rambut Shalimar menari dengan indah. Shalimar memicingkan matanya karena silaunya pantulan sinar matahari yang menerpa permukaan air laut yang berwarna biru dihiasi oleh ombak yang berkejaran.
Shalimar melihat seorang wanita sedang berlari bersama putra kecilnya yang mungkin usianya lebih tua dari Aabid. Mungkin juga mereka adalah tamu dari resort tempat Shalimar melakukan survey hari ini.
Shalimar mengangkat kamera LSR miliknya untuk memotret pemandangan laut yang ia saksikan saat ini. Hanya ingin mengabadikannya saja , berharap suatu saat ia bisa datang kemari bersama dengan Aabid.
"Apa kau selalu mengambil gambar oranglain juga untuk hasil surveymu?" Tanya Dhanny tiba-tiba disamping Shalimar , membuat Shalimar terkejut dan langsung menoleh kearah Dhanny.
"Kau .. Bagaimana bisa berada disini?" Tanya Shalimar sambil mengerjapkan matanya berulang kali .
Jantung Shalimar berdebar dengan kencang lagi ketika mendengar suara Dhanny dan juga aroma parfum yang dikenakan Dhanny. Wangi itu terasa begitu familiar di indra penciuman Shalimar sekarang. Shalimar berusaha mengatur napasnya dan juga berusaha menenangkan jantungnya yang selalu berpacu ketika Dhanny disampingnya.
"Aku sedang ada pertemuan dengan rekan kerjaku." Jawab Dhanny dengan tenang.
Shalimar tidak bisa membaca mata Dhanny yang saat ini mengenakan kacamata hitamnya lagi. Dhanny mengenakan kemeja berwarna putih dan celana kerja berwarna hitam , kemeja itu bahkan memperlihatkan tubuh Dhanny yang kokoh dan hangat sampai membuat Shalimar ingin menyentuhnya.
"Shally ,singkirkan pikiran kotormu itu. Dia klienmu." Bentak Shalimar dalam hati .
"Sungguh suatu kebetulan kita bertemu disini." Kata Shalimar sambil tersenyum kearah Dhanny.
"Apa ini resort yang akan kau tunjukkan kepadaku nantinya?" Tanya Dhanny sambil menyapukan pandangannya keseluruh area yang ada disana.
"Salah satunya." Jawab Shalimar dengan cepat.
"Aku sudah mengunjungi dua resort sebelum ini." Lanjut Shalimar sambil menghadap kearah Dhanny.
Tiupan angin laut membuat rambut Shalimar menari kearah Dhanny. Segera Shalimar merapikan rambut panjangnya , menggulungnya kebelakang punggungnya .
"Maaf." Kata Shalimar secara spontan.
"Apa kau sendirian melakukan survey hari ini?" Tanya Dhanny sambil mengantongi tangan di saku celananya.
"Iya ,aku biasa melakukan hal ini sendirian. Dan rasanya menyenangkan bekerja sekaligus berlibur." Jawab Shalimar sambil tersenyum simpul dan memiringkan kepalanya kearah pemandangan laut yang ada disampingnya.
"Kau berkendara dengan mobilmu?" Dhanny menanyakan banyak hal hari ini kepada Shalimar.
"Tentu saja , tadi pagi Mei mengantarku ke rumah sakit untuk mengambil mobilku yang masih terparkir disana." Shalimar mulai merasa seperti sedang diinterogasi saat ini.
"Apa pertemuan dengan rekan kerja .. anda sudah selesai?" Shalimar mencoba mengalihkan pembicaraan tentang dirinya dan fokus pada apa yang sedang Dhanny lakukan hari ini. Berharap Dhanny akan meninggalkannya dan bergabung dengan rekan kerja Dhanny sendiri.
"Pertemuanku baru saja selesai. Aku keluar karena merasa ingin menghirup udara segar." Jawab Dhanny dengan tenang.
Dhanny melihat Shalimar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Shalimar mengenakan kaos santai berwarna putih dan jaket jeans berwarna biru tua , celana jeans panjang berwarna senada dengan jaket yang ia kenakan. Rambut Shalimar lurus tergerai sepanjang punggungnya berwarna coklat muda diterpa sinar matahari yang menyengat siang ini. Mata Shalimar hitam pekat dan bulat mempesona , hidungnya mungil dan mancung , bibirnya penuh dan terlihat agak kering karena udara yang terasa panas saat ini. Dhanny bahkan memperhatikan keringat diwajah Shalimar dan keringat yang menetes dari leher Shalimar menuju tempat yang lebih rendah lagi.
"Apa kau ingin minuman dingin untuk menyegarkanmu?" Dhanny tiba-tiba menawarkan hal yang tidak diduga oleh Shalimar.
Jika Dhanny adalah kliennya yang lain , mungkin Shalimar akan mengiyakan tawaran Dhanny. Tapi ini adalah Dhanny , kliennya yang membuat jantungnya berdebar tanpa irama yang jelas setiap kali Shalimar berada didekatnya.
"Tidak , terimakasih . Masih ada banyak tempat yang harus aku kunjungi hari ini. Takutnya nanti aku akan terlambat memberikan laporan untuk survey tempat hari ini." Tolak Shalimar dengan sopan.
"Aku memilih tempat ini." Kata Dhanny seketika ketika Shalimar hendak berpamitan kepadanya.
Shalimar membelalakkan matanya mendengar hal itu dari Dhanny. Ia bahkan belum menunjukkan hasil surveynya yang lain kepada Dhanny. Bagaimana Dhanny bisa tiba-tiba memutuskan untuk memilih tempat ini sebagai lokasi pernikahannya.
"Anda memilih resort ini? Anda yakin ? Mungkin anda ingin melihat resort yang lain untuk mempertimbangkannya , aku akan menunjukkan beberapa fotonya kepada anda." Shalimar mulai merasa salah tingkah dengan keputusan Dhanny.
"Aku memilih tempat ini." Kata Dhanny lagi dengan nada yang lebih tegas.
"Apa kau bisa ikut makan siang bersamaku?" Tanya Dhanny tanpa bergeming dari posisinya sejak awal.
Kali ini Shalimar bingung harus menolak atau menerima tawaran dari Dhanny. Jika Shalimar menolaknya maka dia akan dianggap tidak sopan dan mungkin saja Dhanny akan tersinggung nantinya dan akan membatalkan untuk tetap bersama WO tempat Shalimar bekerja. Namun jika Shalimar menerimanya , Shalimar akan merasa sangat tidak nyaman dan jika ada yang mengenalnya disini maka Dhanny akan menjadi gunjingan karena bersama dirinya. Reputasi Shalimar sudah hancur semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan rumah Rendy. Banyak orang yang menganggapnya sebagai wanita yang memiliki kehidupan bebas dan liar dengan sembarang laki-laki.
"Aku .. Mungkin ada baiknya jika kita tidak terlihat bersama. Anda akan menikah sebentar lagi , tidak nyaman rasanya jika oranglain melihat anda bersama dengan saya dan bukan dengan calon istri anda." Shalimar bahkan bingung harus berbicara dengan cara yang sopan atau santai dengan Dhanny. Akhirnya Shalimar bisa menemukan alasan yang bagus untuk menolak ajakan Dhanny.
Alasan yang sungguh masuk akal untuk kedua belah pihak.
"Aku hanya mengajakmu makan siang , bukan berkencan. Siapa yang akan salah paham akan situasi ini?" Dhanny membalas penolakan Shalimar.
"Apa kau yang merasa seperti itu?"
"Bukan ... Bukan begitu. Maksudku.. Maksud saya adalah ...." Shalimar berusaha mencari kalimat yang tepat agar Dhanny tidak salah paham dengan maksudnya yang menolak ajakan Dhanny.
"Kita berada di tengah banyak orang. Mungkin saja mereka mengenal anda atau calon istri anda. Jika mereka melihat kita berdua sedang makan bersama mungkin nantinya akan ada pembicaraan yang tidak diinginkan. Seperti itu." Shalimar bahkan menahan napasnya ketika menjelaskan dengan kalimat yang panjang itu dan menghembuskannya ketika kalimat itu sudah usai.
"Tidak ada yang akan salah paham tentang hal itu, Kita juga hanya makan siang." Kata Dhanny yang bersih keras dengan ajakannya kepada Shalimar.
"Apa mungkin kau merasa akan ada yang merasa salah paham kepadamu jika kau makan siang denganku?" Dhanny memberikan serangan baliknya kepada Shalimar.
__ADS_1
Jika yang dimaksud Dhanny orang yang akan salahpaham kepadanya adalah Rendy , maka hal itu tidak akan terjadi. Rendy bahkan tidak akan peduli jika Shalimar benar-benar akan berselingkuh dari Rendy.
"Tidak." Jawab Shalimar dengan cepat dan kecewa.
Bahkan tanpa Shalimar sadari senyuman tipis Dhanny tercipta ketika mendengarkan hal itu dari Shalimar.
"Baguslah , aku sudah merasa lapar dan haus. Kita akan makan siang di luar resort. Kau bisa mengikuti mobilku dari belakang." Kata Dhanny yang langsung berjalan mendahului Shalimar.
"Dia memiliki kebiasaan memutuskan segala sesuatunya sendiri." Keluh Shalimar dalam hati dan mengikuti langkah Dhanny.
Dhanny memilih sebuah tempat makan yang jauh dari resort yang mereka kunjungi tadi. Sebuah restauran kecil yang memiliki dekorasi jaman dahulu. Cukup mengejutkan bagi Shalimar , Shalimar mengira jika Dhanny akan mengajaknya pergi makan siang ketempat restauran yang mewah atau cafe mahal. Shalimar bersyukur Dhanny memilih restauran kecil ini untuk mengajaknya makan siang , setidaknya jika nanti Shalimar harus membayar tagihan makanannya sendiri , jumlahnya tidak akan membuat Shalimar pingsan karena syok.
Dhanny memilih tempat duduk dekat jendela. Tanpa sengaja ketika Shalimar melihat kearah sampingnya. Disana Shalimar melihat Rendy sedang duduk bersama dengan beberapa pria yang mungkin adalah rekan kerja Rendy dikantor. Mata Shalimar seketika terbelalak dan napasnya seakan tercekat.
"Kenapa? Apa kau kenal dengan mereka?" Tanya Dhanny dengan santai sambil melihat kearah Rendy dan rekan kerjanya.
Rendy melihat kearah Shalimar dan Dhanny , lalu kembali berbincang dengan rekan kerjanya tanpa memperdulikan kehadiran Shalimar disana. Hal itu membuat Shalimar kecewa dan terluka. Shalimar menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Jawab Shalimar dengan cepat sambil memandangi buku menu yang ada dihadapannya alih-alih tidak ingin melihat kearah Dhanny.
Dhanny tersenyum melihat Shalimar yang tidak mengakui keberadaan Rendy dan juga Rendy yang dengan sengaja memalingkan wajahnya dari Shalimar seolah mereka berdua adalah orang asing yang tidak saling mengenal. Dhanny melihat kearah Rendy yang kembali melihat kearah Shalimar dan dirinya. Dhanny bahkan melepaskan kacamata hitamnya dan membalas tatapan Rendy sambil tersenyum simpul kepada Rendy . Rendy memalingkan wajahnya lagi , kali ini Dhanny menangkap tatapan tidak menyenangkan dari Rendy.
Shalimar melihat kearah Dhanny yang menoleh kearah Rendy duduk bersama dengan rekan kerjanya. Shalimar bahkan tidak ingin melihat kearah Rendy.
"Apa kita bisa memesan makanan sekarang?" Tanya Shalimar berusaha nampak tenang walaupun hatinya terasa kacau balau. Perasaan takut ,kecewa ,sedih dan marah , membaur menjadi satu saat ini dalam dirinya.
Dhanny melihat kearah Shalimar.
"Tentu saja. Kau bisa menulis pesananmu dikertas itu. Nanti akan aku panggilkan pelayan kemari." Kata Dhanny dengan santai dan tenang.
Shalimar mulai menulis menu yang akan ia pesan dan juga apa yang ingin Dhanny pesan. Setelah itu Dhanny mengambil kertas yang berisi menu yang sudah ditullis oleh Shalimar dan beranjak dari tempat duduknya menuju ke meja depan restauran.
Sambil menunggu Dhanny kembali , Shalimar bisa mencuri dengar apa yang sedang diperbincangkan oleh Rendy dan juga rekan kerjanya.
"Selamat untuk promosi jabatanmu. Kau benar-benar hebat." Kata salah satu rekan kerja Rendy.
"Benar, tidak mudah bekerja dibidang ini. Dan kau sudah dua kali mendapatkan promosi jabatan . Kami sungguh iri kepadamu." Sahut yang lainnya.
"Terimakasih. Semua juga karena dukungan kalian." Jawab Rendy sambil tersenyum kepada rekan kerjanya.
"Kau sudah sukses diusia yang masih muda. Apa kau tidak berpikir untuk memiliki kekasih atau menikah?" Tanya salah seorang rekan kerja Rendy yang duduk diseberang Rendy.
Pertanyaan itu malah membuat Shalimar menahan napasnya untuk beberapa saat. Shalimar bahkan penasaran apakah Rendy akan mengatakan kepada rekan kerjany ajika ia sudah menikah dan memiliki anak?
"Aku masih belum memikirkan hal itu." Jawab Rendy sambil meminum minuman yang ada dihadapannya.
Jawaban santai dan singkat itu membuat Shalimar merasakan sakit yang teramat sangat.Baru kali ini Shalimar mendengarkan sendiri jika selama ini Rendy tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
"Wah sayang sekali. Kau tampan dan juga memiliki pekerjaan yang mapan dan juga posisi yang bagus dalam pekerjaanmu. Apa kau tidak ingin memiliki kekasih atau memiliki pendamping hidup?" Tanya rekan kerja Rendy lagi.
"Tentu saja aku ingin. Tapi aku masih fokus pada pekerjaanku." Jawab Rendy dengan santai.
"Seperti apa ciri-ciri wanita idamanmu?"
"Aku tidak memiliki kriteria khusus. Yang jelas aku ingin seorang wanita yang selalu berada disampingku dan tidak akan mengkhianatiku." Jawab Rendy yang langsung tertuju pada Shalimar.
Seharusnya Shalimar bisa memperkirakan hal ini akan terjadi suatu saat nanti ketika Rendy memintanya untuk merahasiakan pernikahan mereka dan hanya menikah secara agama saja. Apa Shalimar benar-benar tidak pantas untuk Rendy nikahi? Jawaban Rendy sudah menjelaskan semuanya , Shalimar tidak ada dalam hati Rendy saat ini. Shalimar sudah mengkhianati Rendy berulang kali , walaupun hal itu Shalimar lakukan hanya untuk menarik perhatian Rendy , Rendy tetap memandang hal itu sebagai pengkhianatan untuk pernikahan mereka.
Ingin rasanya Shalimar pergi dari restauran itu , namun tidak mungkin karena Dhanny yang mengajaknya kemari. Akan lebih tidak sopan lagi jika Shalimar pergi dari sana ketika mereka sudah memesan menu disana. Dhanny datang kembali ke meja tempat Shalimar dan Dhanny duduk tadi.
"Pesanan akan segera diantarkan. Banyak pelayan yang sibuk dan tidak bisa menghampiri." Kata Dhanny kepada Shalimar. Dhanny menyapukan pandangannya keseluruh sudut restauran itu.
"Ramai sekali disini, berbeda dengan kemarin ketika aku datang kemari."
"Apa anda ingin pindah ketempat lain?" Tanya Shalimar hampir dengan tatapan kosong , berharap Dhanny akan pindah ke restauran yang lain.
"Apa kau tidak suka tempat ini?"
"Tidak. Jika anda ingin berada disini , kita akan makan siang disini." Jawab Shalimar sambil tersenyum simpul.
"Disini terkenal dengan makanan tradisonalnya." Kata Dhanny tiba-tiba membuka topik pembicaraan dengan Shalimar. Shalimar langsung menatap kearah Dhanny.
"Dekorasinya juga unik . Pemiliknya menyukai barang-barang lama dan juga memiliki nilai estetika tersendiri. Menunjukkan pemiliknya memiliki kecintaan yang nyata. Dia menyukai barang-barang lama dan menjadikannya sebagai dekorasi untuk tempat usahanya , berusaha menunjukkan kepada oranglain apa yang ia sukai dan cintai. Menunjukkan kecintaannya pada suatu hal dan bukannya menyembunyikannya lalu mengabaikannya setelah merasa itu miliknya yang tidak akan hilang , itu hal yang sangat langka.Jika seseorang memiliki pemikiran seperti itu , mungkin dia tidak akan pernah mengerti apa yang akan hilang darinya suatu hari nanti." Lanjut Dhanny sambil menyilangkan jari-jari tangan di bawah dagunya.
Shalimar merasa terkejut dengan kata-kata Dhanny. Apa Dhanny seorang dukun yang mengerti isi hati Shalimar saat ini? Kalimat Dhanny seakan-akan dengan tajam ditujukan kepada Rendy.
'Aku membicarakan tentang restauran ini." Kata Dhanny ketika Shalimar tidak mengatakan apapun akan pendapatnya tentang dekorasi dan pemilik restauran.
"Ah.. Iya. Anda benar." Balas Shalimar sambil tersenyum dengan terpaksa.
"Aku hampir mengira jika ia mengetahui tentang kehidupan pribadiku." Batin Shalimar dengan cemas.
"Makanlah." Kata Dhanny sambil mengambil sendok dan garpu yang ada dihadapannya.
Shalimar mengangguk dan melakukan hal yang sama seperti Dhanny. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Shalimar bisa melihat dari sudut matanya Rendy beranjak dari tempat duduk bersama dengan rekan kerjanya yang lain dan meninggalkan tempat itu. Mereka benar-benar seperti orang asing.
"Apa rencanamu setelah ini?" Tanya Dhanny tiba-tiba.
"Aku akan kembali kekantor dan membuat laporan untuk reservasi tempat yang sudah anda pilih sebagai lokasi pesta pernikahan anda nanti. Kami juga harus mengubah menu-menu untuk para tamu undangan , tapi saya akan menyesuaikan sesuai permintaan calon istri anda. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk pesta pernikahan kalian berdua." Kali ini kalimat yang diucapkan oleh Shalimar benar-benar profesionalitas pekerjaannya.
"Setelah itu?" Tanya Dhanny lagi seperti tidak mendengarkan jawaban Shalimar sebagai Wedding Organizer yang menangani masalah persiapan pesta pernikahannya.
"Mungkin saya akan pulang atau berkumpul dengan rekan-rekan dikantor." Jawab Shalimar dengan ragu.
Untuk apa Dhanny menanyakan apa yang akan ia lakukan setelah dirinya bekerja. Shalimar menjawab dengan jujur , yang ia lakukan selepas bekerja adalah pulang kembali kerumah ibunya atau berkumpul bersama dengan rekan kerjanya. Shalimar terkadang lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan rekan kerjanya daripada harus berada di rumah ibunya. Karena ibunya pasti akan selalu mengganggunya tentang kehidupan pribadi Shalimar yang bahkan tidak ingin Shalimar ungkit lagi.
"Kemana kau biasanya pergi bersama dengan rekan kerjamu?" Kali ini mata Dhanny memandang tajam kearah Shalimar.
Tatapan mata itu lagi. Membuat waktu disekitar Shalimar seakan terhenti , begitu juga napas Shalimar yang tercekat di tengah tenggorokannya. Shalimar bersusah payah untuk kembali bernapas dengan normal dan tetap menjaga sikapp profesionalnya walaupun ia merasa jika sikap Dhanny kali ini terihat berlebihan untuk seorang klien yang akan menikah sebentar lagi.
"Mungkin nanti anda bisa ikut bergabung bersama kami dengan calon istri anda." Shalimar berusaha mencari jawaban yang aman untuk situasi saat ini.
"Kabari saja aku." Balas Dhanny dengan santai sambil mengangkat gelas minumannya.
Shalimar mengangguk lalu memalingkan wajahnya ketika melihat Dhanny meneguk minuman dingin yang terlihat menyegarkan itu. Pemandangannya terlalu menggoda bagi Shalimar. Shalimar sendir merasa malu akan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini. Mungkin ada baiknya jika ia segera menyelesaikan pekerjaannya tentang proyek pernikahan Dhanny. Semakin cepat Shalimar menyelesaikannya maka mereka tidak perlu bertemu lagi.
Ada perasaan bersalah dalam diri Shalimar ketika ia bersama dengan Dhanny, Shalimar merasa bersalah kepada Eva . Bagaimanapun ia merasakan perasaan tertarik kepada calon suami Eva. Dan Shalimar harus segera mengakhiri perasaannya itu sebelum mengembang lebih jauh.
----------------------------
Laporan yang dikerjakan oleh Shalimar dengan secepat kilat membuat Taufan tersenyum senang.
"Ternyata memang benar , calon mempelai prianya lebih mudah diajak bernegosiasi. Besok kita akan membuat reservasi ke resort yang sudah disetujui oleh Dhanny.Jika sejak awal Dhanny yang turun tangan mungkin kau juga tidak akanmengalami kesulitan." Kata Taufan sambil tersenyum kearah Shalimar.
"Kau bisa tersenyum sekarang?" Sindir Shalimar dengan jelas.
"Apa kau tidak melihat ekspresimu kemarin lusa? Kau benar-benar berubah jika itu masalah keuntunganmu sendiri." Lanjut Shalimar sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa melihat ekspresiku sendiri kecuali aku sedang berkaca ,Shally." Balas Taufan dengan santai menanggapi sindiran Shalimar.
"Terserah padamu saja. Aku bahagia melihatmu bahagia." Kata Shalimar sambil mengangguk kecil.
"Jadi kita hanya tinggal menentukan salon yang akan mereka gunakan saja juga untuk gaun pengantinnya. Baiklah .. Semuanya sudah teratasi kalau begitu." Taufan benar-benar terihat bahagia kali ini.
Taufan mendongakkan kepalanya melihat kearah Shalimar.
"Aku akan mentraktirmu makan atau minum. Kau ingin yang mana?" Tanya Taufan sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Pikiran Shalimar yang sedang kacau dan juga emosinya yang sedang tidak stabil membuat Shalimar ingin melupakan apa yang ia rasakan saat ini sejenak.
"Minum." Jawab Shalimar dengan cepat.
Taufan tersenyum lebar mendengar jawaban Shalimar. Taufan hanya berpikir jika Shalimar ingin melepaskan penatnya setelah melayani sikap para klien VIP mereka beberapa hari ini.
"Deal." Balas Taufan sambil tersenyum lebar kearah Shalimar.
Setelah jam kerja berakhir, Taufan mengajak Shalimar juga rekan kerja mereka yang lain untuk bergabung bersama dalam acara minum yang sudah Taufan rencanakan disebuah bar yang menjadi favorit Taufan. Shalimar berkali-kali mendapatkan panggilan dari Rendy , namun tidak Shalimar hiraukan. Shalimar masih merasa kecewa dan sakit hati akan perkataan Rendy tentang dirinya ketika Rendy bersama dengan rekan kerjanya tadi siang. Shalimar bahkan tidak ingin mendengarkan suara Rendy saat ini. Shalimar hanya ingin melepaskan penat akan apa yang ia rasakan bersama dengan rekan-rekan kerjanya saat ini. Tanpa harus menanggung sakit hati lagi akan perlakuan Rendy kepadanya.
Shalimar mematikan ponsel miliknya dan hanya ingin bersenang-senang malam ini. Bahkan Shalimar tidak ingin menemui teman dekat lelakinya yang pernah menjadi kekasihnya selama ini. Taufan mengatakan kepada Shalimar untuk benar-benar bersantai dan bersenang-senang malam ini , Shalimar bahkan mendapatkan keistimewaan untuk memilih minuman favoritnya. Dengan senang hati Shalimar menerima tawaran dari Taufan dan berpesan jika sampai dirinya mabuk dan tidak sadarkan diri , Taufan harus menghubungi Mei untuk menjemputnya.
Setelah menghabiskan hampir dua botol minuman favoritnya , Shalimar sudah merasakan dirinya tidak akan bertahan dalam kondisi ini , namun tetap meneguk minumannya. Kali ini yang berada disana tinggallah Shalimar dan Taufan saja, sementara rkan-rekan mereka yang lain sudah pamit untuk pulang.
"Shally. hentikan." Kata Taufan sambil merebut gelas yang Shalimar pegang.
"Kau sudah mabuk, aku akan menghubungi Mei untuk menjemputmu dan mengantarkanmu pulang." Lanjut Taufan sambil menghela napas panjang.
Taufan merasa bersalah kepada Shalimar. Mungkin Shalimar benar-benar merasa tertekan dengan klien istimewa mereka kali ini. Taufan dengan segera menghubungi Mei agar datang ketempat mereka sekarang berada dan menjemput Shalimar. Namun Mei tidak menjawab panggilannya dan Taufan mulai bingung harus berbuat apa kepada Shalimar.
"Shally, Mei tidak bisa dihubungi. Apa kau ingin aku mengantarkanmu pulang kerumah?" Tanya Taufan kepada Shalimar yang sudah tidak mulai fokus pandangannya.
"Oh, aku lupa , kau sudah mabuk, tidak mungkin aku membawamu pulang." Jawab Taufan akan pertanyaannya sendiri.
"Kau .. kenapa kau mengatakan hal itu tentangku?" Tanya Shalimar kepada Taufan.
"Aku mengatakan apa?" Tanya Taufan yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Shalimar.
Shalimar memandang Taufan seakan Taufan adalah Rendy.
"Kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan memilihmu." Shalimar tersenyum masam ketika mengucapkan hal itu.
"Kau yang memilih bekerja denganku sendiri, aku tidak pernah memaksamu. Kau sendiri yang berkata jika kau mencintai pekerjaan ini dan merasa jika kau juga bahagia ketika melihat klien kita sukses melangsungkan pesta pernikahan impian mereka." Jawab Taufan yang salah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Shalimar.
"Kamu pikir kamu siapa bisa menghancurkan aku begitu saja. Aku juga manusia , aku juga memiliki perasaan." Kata Shalimar sambil memukul dadanya sendiri dengan kencang.
Taufan menarik tangan Shalimar dan menahannya agar tidak memukuli dirinya sendiri.
"Shally, sudahlah . Kau benar-benar mabuk kali ini. Aku bahkan mulai tidak memahami apa yang kau bicarakan saat ini." Gumam Taufan lalu Taufan mencoba menghubungi Mei lagi.
Dan kali ini panggilan Taufan mendapatkan respon dari Mei.
"Mei? Halo? Aku Taufan." Kata Taufan ketika Mei menjawab panggilannya.
"Ada apa? menghubungiku selarut ini?" Tanya Mei dengan suara kantuk.
"Shally sedang mabuk saat ini. Ia ingin kau menjemputnya. Aku akan mengirimkan lokasi kami saat ini. Apa kau bisa menjemput Shally sekarang?"Tanya Taufan kepada Mei.
"Apa? Shally mabuk? Ada masalah apa sampai dia bisa sampai mabuk dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri seperti ini?" Tanya Mei dengan seketika.
"Aku tidak tahu, aku hanya mengajaknya bersantai sejenak dari pekerjaan yang melelahkan untuknya beberapa hari ini. Dan sekarang dia sudah seperti orang kerasukan yang bicara sendiri." Jawab Taufan sambil menatap kearah Shalimar yang kembali meneguk minumannya.
"Aku akan menjemputnya., kirimkan aku lokasi kalian saat ini." Kata Mei dengan cepat.
"Oke." Balas Taufan lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah Taufan mengirimkan lokasi mereka kepada Mei , Taufan melihat kearah Shalimar yang meneguk minumannya lagi , lalu Taufan menarik minuman itu menjauh dari Shalimar.
"Sudah, berhenti, kau akan pingsan jika terus minum seperti ini." Kata Taufan berusaha untuk menghentikan Shalimar untuk meminum minumannya lagi.
Sambil menunggu Mei menjemput Shalimar , Taufan merasakan panggilan alam untuk pergi ke kamar kecil.
"Shally. Shally." Panggil Taufan sambil menghadapkan wajah Shalimar kearahnya.
"Tetap berada disini , jangan kemana-mana. Aku akan kembali kemari ." Kata Taufan seperti memberi perintah kepada seorang anak kecil dan Shalimar hanya mengangguk tanpa mengerti apa yang dikatakan oleh Taufan.
Ketika Taufan meninggalkan dirinya di meja bar sendirian , Shalimar meneguk minumannya lagi. Seseorang duduk disampingnya. Shalimar bahkan tidak menghiraukan siapa yang sedang berada disampingnya. Namun orang itu menarik botol minuman Shalimar ketika Shalimar hendak menuangkan minumannya lagi kedalam gelas.
'Apa kau benar-benar hancur karena lelaki itu?" Tanya Dhanny ketika Shalimar melihat kearahnya.
Shalimar memicingkan matanya, berusaha berkonsentrasi untuk melihat siapa yang ada disampingnya saat ini yang dengan berani merebut botol minuman dari tangannya. Meskipun samar , Shalimar bisa mengetahui jika orang yang berada disampingnya adalah Dhanny. Shalimar hafal dengan aroma parfum Dhanny yang selalu menggelitik di hidungnya.
"Kau ... Dhanny." Kata Shalimar sambil tersenyum lebar dan menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya.
"Kenapa kau harus merasa hancur hanya karena dia yang tidak mencintaimu. Kenapa kau memilihnya kalau akhirnya kau hany amenghancurkan hidupmu sendiri seperti ini?" Tanya Dhanny dengan mata gelapnya yang menatap lurus kearah Shalimar.
"Kau.." Shalimar memicingkan matanya kearah Dhanny.
"Kau tidak boleh menanyakan hal itu kepadaku. Itu adalah privasiku. No comment." Jawab Shalimar sambil mengangkat jari telunjuknya kearah bibir Dhanny hingga menyentuh bibir Dhanny yang terasa hangat di jari Shalimar.
"Lepaskanlah jika dia bahkan tidak menginginkanmu." Kata Dhanny dengan mata yang bahkan lebih helap saat ini.
"Aku berhak memutuskan kepada siapa aku mencintai. Kenapa bahkan kau juga harus mengatur apa yang aku rasakan?" Shalimar mulai terlihat kesal dengan matanya yang sudah sayu.
"Di dunia ini tidak ada yang benar-benar menginginkanku dengan tulus. Jadi aku akan melakukan apapun yang aku inginkan. Aku akan melepaskan jika aku ingin dan aku juga berhak untuk menentukan pilihanku sendiri."
"Bagaimana jika ada yang benar-benar mencintaimu dengan tulus?" Tanya Dhanny tanpa berkedip ketika menanyakan hal itu kepada Shalimar.
"Hahahahha." Shalimar tertawa dengan lantang dihadapan Dhanny.
"Tidak ada. Tidak akan ada. Mereka hanya memandangku sebagai seseorang yang mereka rasa menarik untuk mereka lihat dan juga untuk mereka nikmati."
"Bagaimana jika benar-benar ada yang mencintaimu dengan tulus dan menerimamu apa adanya?" Tanya Dhanny tanpa mengalihkan matanya dari Shalimar.
"Siapa?" Shalimar memandang Dhanny dengan mata sayu dan merasa penasaran sambil merebahkan kepalanya di meja bar karena sudah tidak sanggup lagi untuk menahan kepalanya sendiri.
"Aku." Jawab Dhanny dengan keyakinan yang begitu besar akan perasaannya terhadap Shalimar yang ia pendam selama ini.
Shalimar terdiam mendengarkan jawaban Dhanny.
"Dhanny... Kau sungguh menggangguku." Kata Shalimar sambil menghela napas panjang.
"Kau bukan orang yang bisa mencintaiku , kau bahkan akanmenikah sebentar lagi. Dan aku.." Shalimar menyentuh dada dengan tangannya sendiri.
"Aku yang membantumu mempersiapkan pernikahanmu."
"Bisakah kau menjauh dariku? Aku tidak ingin merusak kebahagiaan oranglain hanya untuk egoku saja." Kata Shalimar sambil menyentuh wajah Dhanny.
Mendengar hal yang dikatakan Shalimar , membuat wajah Dhanny seakan mengeras.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Dhanny tanpa ragu.
"Aku tidak tahu ,aku hanya merasa tidak nyaman ketika berada didekatmu , jantungku bahkan berdebar dengan kencang." Shalimar meletakkan tangan didepan dadanya lalu Shalimar tersenyum mengenang hal yang ia rasakan dulu kepada Rendy.
"Sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Aku membencinya tapi juga menyukainya. Jika kau bukan klienku yang akan menikah sebentar lagi , mungkin aku akan mengejarmu." Mata Shalimar yang sayu membuat jantung Dhanny berdetak tanpa irama yang jelas.
Shalimar baru saja mengakui perasaannya pada Dhanny tanpa sadar. Dhanny merasa jika penantiannya selama ini tidak sia-sia , ia hanya perlu membuat hati Shalimar berpaling kepadanya saja. Dan meyakinkan Shalimar jika cintanya benar-benar tulus untuk Shalimar.
"Bagaimana jika aku mencintaimu bahkan lebih dari apa yang kau bayangkan?" Tanya Dhanny lagi kepada Shalimar.
"Maka hentikan. Kau akan menyakiti hati calon istrimu." Balas Shalimar sambil menyentuh wajah Dhanny lagi dengan tangannya yang sudah tidak memiliki banyak kekuatan.
Dhanny meraih tangan Shalimar , menggenggamnya dan mentapkan tangan Shalimar disana.
"Aku tidak akan berhenti." Kata Dhanny lalu mencium telapak tangan Shalimar dengan bibirnya . Mata Dhanny bahkan tidak berpaling dari Shalimar.
---------------------
__ADS_1