No Regrets

No Regrets
Bab 11


__ADS_3

Terasa sangat aneh bagi Shalimar ketika Dhanny sama sekali tidak menghubunginya ataupun mengirimkan pesan kepadanya.


"Shally, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau mengharapkan Dhanny menghubungimu. Bukankah bagus jika dia sama sekali tidak menghubungimu. Mungkin dia sudah sadar jika pilihannya salah dalam memilih pasangan hidup. Kau harus bisa tahu diri." Kata Shalimar dalam hati sambil menatap layar ponselnya yang sedang dalam keadaan diam tanpa lampu layar yang menyala.


Ditengah acara berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya , Shalimar merasa begitu konyol harus memandangi layar ponsel miliknya yang tergeletak di samping tangannya.


Tidak berselang lama , ponsel Shalimar berbunyi dan seketika Shalimar melihat layar ponsel miliknya. Disana tertera nama Rendy. Rasa kecewapun terbesit di hati Shalimar. Dengan malas Shalimar menjawab panggilan dari Rendy.


"Ada apa?" Tanya Shalimar tanpa semangat.


"Apa kau sudah pulang ?" Balas Rendy dengan nada yang begitu antusias.


"Aku sedang berada di luar saat ini." Jawab Shalimar sambil menyesap minuman dingin yang sudah ia pesan bersama dengan rekan kerjanya.


"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat , apa aku perlu menjemputmu? Kau berada dimana sekarang?" Tanya Rendy.


Selama bertahun-tahun tidak pernah Rendy mengajaknya seperti saat mereka berpacaran dulu. Rendy selalu bersikap dingin kepada Shalimar.


"Apa kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?" Shalimar merasa ada yang tidak benar dengan sikap Rendy kepadanya.


"Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu , aku ingin kita memulai kembali segalanya. Aku ingin memberikan keluarga yang sesungguhnya kepadamu dan juga Aabid." Jawab Rendy dengan lembut dan hangat.


Sebuah kalimat yang membuat hati Shalimar menjadi hangat namun tetap menempatkan Shalimar pada perasaan yang janggal.


"Kau ingin mengajakku kemana? Aku akan kesana sekarang." Jawab Shalimar yang juga ingin tahu apa yang akan ditunjukkan Rendy kepada dirinya.


"Aku akan mengirimkan lokasinya kepadamu." Kata Rendy dengan bersemangat.


"Aku akan menunggumu." Lanjut Rendy.


Shalimar terdiam mendengarkan kalimat Rendy. Selama ini dirinya yang menunggu Rendy , kali ini Rendy yang bersedia untuk menunggu dirinya. Entah mengapa yang terlintas dalam benak Shalimar adalah wajah Dhanny. Dengan cepat Shalimar menggelengkan kepalanya .


"Shally , kau sudah gila. Kenapa kau malah membayangkan wajah pria lain ketika yang kau cintai selama ini sudah bersedia menunggu untukmu." Teriak Shalimar dalam hati.


"Baiklah , aku akan kesana." Kata Shalimar kemudian menutup pembicaraannya dengan Rendy.


Setelah Shalimar mendapatkan pesan lokasi tempat Rendy ingin menemuinya , Shalimar langsung mengambil tas punggung miliknya yang berada di kursi samping dan berdiri dari duduknya.


"Aku pergi dulu." Kata Shalimar berpamitan dengan rekan kerjanya yang berada dihadapannya.


"Sampai jumpa besok." Shalimar melambaikan tangannya kepada rekan kerjanya yang lain ketika mereka hanya menganggukkan kepala dan kembali berbincang satu sama lain.


Shalimar mengikuti rute dari lokasi yang dikirimkan oleh Rendy kepadanya dan sampai disebuah rumah sederhana berdesain minimalis dan memiliki taman kecil yang cantik . Shalimar mematikan mesin mobilnya ketika melihat mobil Rendy dan Rendy yang sedang berdiri di samping mobilnya.


Shalimar keluar dari mobilnya dan menghampiri Rendy.


"Kenapa kita bertemu disini?" Tanya Shalimar kepada Rendy yang tersenyum sejak dirinya berjalan kearah Rendy.


"Masuklah." Kata Rendy sambil menggenggam tangan Shalimar dan menuntun Shalimar berjalan masuk kedalam rumah bercat pastel itu.


Shalimar dengan patuh mengikuti langkah kaki Rendy dan mulai memasuki halaman kecil rumah yang terlihat nyaman itu.


Rendy membuka pintu rumah dan menyalakan lampu yang ada didalam rumah itu.


"Rumah siapa ini?" Tanya Shalimar ketika melihat seluruh ruangan yang sudah terisi perabotan lengkap.


"Rumah kita." Jawab Rendy sambil tersenyum hangat kepada Shalimar.


Shalimar merasa jika dirinya sedang berhalusinasi saat ini.


"Rumah kita? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Shalimar sambil mengernyitkan keningnya.


Shalimar tidak sedang meminum minuman keras ketika bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Seharusnya dirinya sedang tidak dalam kondisi setengah sadar saat ini.


"Ini rumah kita." Jawab Rendy dengan hangat dan lembut kepada Shalimar.


"Aku sudah mempersiapkan hal ini sejak lama. Aku memintamu menunggu sebentar lagi untuk kita bisa tinggal disini bersama dengan Aabid. Kita akan menjadi keluarga kecil yang sempurna seperti yang lainnya." Lanjut Rendy sambil memandang kearah Shalimar yang masih begitu ragu akan apa yang sedang ia katakan.


"Aku tahu mungkin kau tidak akan mempercayainya. Aku benar-benar berusaha untuk kita memiliki keluarga yang sebenarnya . Aku tidak ingin mengungkapkan alasan mengapa aku memperlakukanmu dengan dingin selama ini , aku hanya ingin kau sabar menunggu sebentar lagi. Kita akan memulai lembaran baru bersama dengan Aabid." Kata Rendy sambil menggenggam tangan Shalimar dengan hangat.


Shalimar masih tidak mempercayai apa yang sedang ia dengarkan dan lihat saat ini. Rendy sudah berusaha menciptakan impian Shalimar dibalik sikap dinginnya selama ini. Shalimar bahkan tidak bisa memutuskan dirinya bahagia atau harus merasa kecewa kepada Rendy. Shalimar ingin hidup bersama dengan Aabid dan Rendy , menjadi istri sah Rendy dan ibu yang baik untuk Aabid , ia menantikan hal ini sudah bertahun-tahun lamanya. Namun saat ini dirinya merasa tidak begitu bahagia. Sejuta keraguan menerpa Shalimar , seolah akan ada sesuatu yang menanti untuk menyakitinya lagi.


"Aku..." Belum selesai Shalimar berkata , ponsel Shalimar berbunyi.


"Aku akan menjawab panggilan dulu." Kata Shalimar sambil mengambil ponsel dari dalam sakunya.


Dhanny menghubungi Shalimar disaat yang tidak tepat. Shalimar hendak menolak panggilan dari Dhanny , namun Rendy mengejutkan Shalimar hingga jari Shalimar akhirnya menjawab panggilan dari Dhanny.


"Siapa yang menghubungimu?" Tanya Rendy sambil melirik kearah ponsel Shalimar.


"Oh.. Ini.." Shalimar merasa seperti kedapatan sedang berselingkuh ketika Rendy menanyakan hal itu kepadanya.


"Kau sedang bersama siapa?" Suara Dhanny terdengar sayup dari speaker ponsel Shalimar.


Shalimar seketika panik memandang ponselnya yang ternyata masih menyala karena dirinya menerima panggilan dari Dhanny tanpa sengaja. Dengan cepat Shalimar memutuskan panggilan Dhanny dan memasukkan ponsel kekantong celananya.


"Aku tidak tahu kau mempersiapkan semua ini." Kata Shalimar berusaha mengalihkan perhatian Rendy.


"Aku hanya ingin kau menunggu sebentar lagi , Shally . Aku harap kau bisa menungguku. Aku akan menciptakan keluarga yang kau inginkan setelah itu." Rendy menyentuh kedua lengan Shalimar.


Shalimar tidak tahu harus menjawab Rendy dengan kebohongan atau kejujuran saat ini. Pikirannya tidak fokus saat ini. Ponsel Shalimar kembali berbunyi. Shalimar tidak perlu melihat ponselnya untuk mengetahui siapa yang sedang menghubunginya saat ini , sudah jelas itu adalah Dhanny.


"Apa itu Dhanny?" Tanya Rendy sambil melihat Shalimar yang tidak menjawab panggilan di ponsel milik Shalimar.


"Apa kau bisa menjamin kita benar-benar akan memiliki keluarga yang sesungguhnya tanpa campur tangan orangtuamu lagi?" Tanya Shalimar dengan jujur kali ini kepada Rendy , sebuah pertanyaan yang sudah lama ingin ia katakan kepada Rendy.


"Tentu saja." Jawab Rendy setelah terdiam beberapa saat.


"Apa kau akan menikahiku sah secara negara?" Tanya Shalimar lagi setelah melihat sedikit keraguan pada Rendy.


"Aku berjanji untuk memberikanmu keluarga yang sebenarnya. Tentu saja aku akan menikahimu secara negara kali ini." Jawab Rendy dengan cepat.


"Apa kau bisa menikah denganku saat ini?" Shalimar ingin menguji seberapa besar Rendy sanggup membuktikan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


"Tidak saat ini . Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menikahimu sah secara negara." Jawab Rendy dengan meyakinkan kepada Shalimar.

__ADS_1


Shalimar sudah menduga jawaban dari Rendy dan ia sudah mempersiapkan diri untuk tidak terluka akan jawaban yang diberikan oleh Rendy.


"Baiklah." Shalimar menganggukkan kepalanya dengan tenang.


"Lalu , apakah kau tidak ingin memperkenalkan aku kepada seluruh keluarga besar dan juga rekan kerjamu sebagai pasanganmu?"


Rendy mengerjapkan matanya ketika Shalimar menanyakan hal itu kepada dirinya.


"Aku .. Tunggulah sebentar lagi , Shally. Maka aku akan melakukan hal yang kau inginkan , semua hal yang kau inginkan." Jawab Rendy dengan mata memohon kepada Shalimar.


Shalimar tersenyum tipis kepada dirinya sendiri.


"Keinginanku?" Kata Shalimar dengan masam.


"Keinginanku. Bukan keinginanmu. Seolah aku yang memaksakan hal ini kepadamu."


"Bukan begitu , Shally. Dengarkan aku...." Rendy mempererat cengkeramnya di lengan Shalimar.


"Bahkan memperkenalkan aku sebagai pasanganmu saja kau merasa begitu terpaksa? Jangankan cengkeraman tanganmu yang menyakiti tanganku , perkataanmu lebih menyakitkan untukku." Kata Shalimar tanpa memberontak untuk lepas dari cengkeraman Rendy.


Mendengarkan hal itu , Rendy lalu melepaskan cengkeramannya dari Shalimar.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitmu." Kata Rendy merasa bersalah kepada Shalimar.


"Kau tidak bermaksud menyakitiku , tapi kau sudah melakukannya selama ini. Kau sudah sangat sukses menyakitiku dengan prestasimu yang memuaskan." Shalimar tidak bisa menahan kalimat yang selama ini ia tahan untuk dikatakan.


"Apa semua karena Dhanny? Kau mengatakan hal ini kepadaku? Kau mengalihkan pembicaraan karena Dhanny?" Tanya Rendy mulai tersulut emosinya.


"Kenapa harus membawa Dhanny dalam pembicaraan ini. Kau sendiri yang mengalihkan pembicaraan. Aku sedang membicarakan kita , aku membicarakan apa yang sudah kau lakukan padaku selama aku bertahan denganmu. Didepan orangtuamu aku masih bisa memahaminya , tapi ketika hanya ada kita berdua saja , kau juga tetap seperti itu kepadaku. Aku juga tidak pernah bisa mengasuh anakku sendiri dengan kedua tanganku. Kemana kau selama itu?Aku bisa memahami ketika kita berada didepan orangtuamu , tapi kau juga melakukan hal yang sama ketika hanya kau yang berada bersamaku. Apa kau tahu seberapa aku harus menanggung hal itu bertahun-tahun ini? Kau juga tidak tahu bagaimana perasaan orangtuaku ketika anak mereka hanya dinikahi secara agama karena rasa bersalah saja. Selama ini aku hanya berusaha mencari perhatian darimu , berkencan dengan banyak pria. Kenapa Dhanny yang membuatmu begitu waspada?" Akhirnya apa yang ingin Shalimar utarakan hari ini dapat Shalimar sampaikan kepada Rendy.


Shalimar bahkan tidak tahu mengapa dirinya begitu emosional hingga akhirnya apa yang ia pendam selama ini dapat ia ungkapkan kepada Rendy.


Mendengarkan hal itu dari Shalimar , kali ini Rendy yang tidak bisa berkata. Rendy baru menyadari jika Shalimar sudah menderita karena dirinya.


Shalimar menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan lelah.


"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu hari ini. Aku akan memikirkan lagi untuk bisa menunggumu atau tidak." Kata Shalimar lalu berbalik hendak meninggalkan Rendy disana.


"Kau tanya padaku kenapa aku begitu waspada kepada Dhanny." Kata Rendy menghentikan langkah Shalimar.


"Orang yang seharusnya kau temui dulu ketika kita pertama bertemu adalah Dhanny. Dan kami juga bertaruh , siapa yang mendapatkan hatimu terlebih dahulu adalah pemenangnya. Kau kira dia mencintaimu dengan tulus saat ini?"


Jawaban dari Rendy benar-benar membuat hati Shalimar seperti dicabik-cabik. Jika benar seperti itu adanya , maka hancur sudah setitik harapan Shalimar memiliki seseorang yang tulus mencintainya.


"Kau bisa menanyakan hal itu kepada Dhanny. Kau juga bisa menanyakan hal itu kepada Mei , orang yang sangat kau percayai jika kau tidak percaya akan apa yang aku katakan." Lanjut Rendy ketika Shalimar tidak membalas apa yang ia katakan.


Shalimar tidak membalas perkataan Rendy dan berjalan kearah mobil miliknya dengan langkah yang bahkan tidak bisa Shalimar rasakan.


-------------


Dhanny bisa mengetahui jika Shalimar sedang bersama Rendy , Dhanny mengenal suara pria yang sedang bersama Shalimar ketika Shalimar menjawab panggilan darinya. Hati Dhanny tidak tenang ketika berulang kali Dhanny menghubungi Shalimar kembali namun Shalimar tidak menjawab panggilan darinya.


Dhanny menanyakan keberadaan Shalimar kepada Mei namun Mei tidak mengetahui keberadaan Shalimar saat ini. Mei juga tidak bisa menghubungi Shalimar. Shalimar juga tidak berada dirumah orangtuanya. Dhanny mengelilingi tempat yang biasa Shalimar kunjungi namun hasilnya nihil.


Dengan cepat Dhanny berhenti tepat di tempat parkir rumahnya dan turun dari mobil miliknya. Dhanny berjalan menuju ketempat Shalimar sedang duduk sambil membenamkan wajahnya di anak tangga itu tanpa peduli tubuhnya basah karena air hujan yang jatuh malam itu.


"Shally , apa kau baik-baik saja?" Tanya Dhanny sambil menyentuh kedua lengan Shalimar.


Shalimar menengadahkan kepalanya dan melihat kearah Dhanny. Wajah Shalimar terlihat merah merona dan matanya terlihat sembab.


"Aku mencarimu kemana-mana. Kau juga tidak menjawab telepon dariku. Apa kau mabuk?" Dhanny terlihat begitu khawatir pada Shalimar.


"Apa kau mengkhawatirkan aku?" Tanya Shalimar kepada Dhanny dengan mata sayu.


"Tentu saja. Aku bisa gila ketika aku tidak tahu keberadaanmu dan kau .. bersama dengan dia." Jawab Dhanny dengan enggan.


"Kenapa? Kau merasa cemburu? Atau .. Kau merasa kalah dalam bertaruh?" Kata Shalimar sambil tersenyum masam kepada Dhanny.


Mendengar hal itu , Dhanny tahu jika Rendy sudah memberitahukan apa yang mereka lakukan dulu sebelum Rendy mendapatkan Shalimar.


"Kita masuk dulu. Diluar sangat dingin , kau juga sedang mabuk saat ini." Kata Dhanny sambil membantu Shalimar untuk berdiri.


Dhanny bisa mencium aroma alkhohol yang begitu kuat dari Shalimar.


"Berapa yang kalian dapat dari bertaruh untuk mendapatkan hatiku?" Shalimar bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba dan sedikit terhuyung karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.


Dengan cepat Dhanny meraih pinggang Shalimar dan membantu Shalimar untuk berdiri dengan tegap.


"Berapa yang kalian dapatkan? Apa aku boleh minta bagianku? Aku adalah yang menjadi pertaruhan kalian. Mei juga mengetahui hal ini dan sama sekali tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku. Aku seperti pion permainan dalam kehidupan kalian. Aku seperti orang bodoh selama ini. Aku bahkan tidak bisa mempercayai siapapun saat ini." Kata Shalimar sambil tersenyum sinis kepada Dhanny.


"Kita bicarakan didalam , Shally." Bujuk Dhanny dengan lembut kepada Shalimar.


Shalimar menepiskan tangan Dhanny dari tubuhnya.


"Apa begitu menyenangkan mempermainkan seseorang?" Tanya Shalimar dengan emosional.


"Kenapa kau juga melakukan hal ini kepadaku? Disaat aku mulai ingin mempercayai ada seseorang yang tulus mencintaiku."


"Shally , dengarkan aku.."


"Berapa yang kau dapatkan dari bertaruh dengan Rendy? Apa aku akan mendapatkan bagianku?" Potong Shalimar dengan mata yang berkaca-kaca .


"Baiklah , kau sekarang yang menang taruhan. Kau mendapatkan hatiku , kau mendapatkannya , lalu kapan kau akan mendapatkan hasil taruhanmu? Kapan kau akan membuangku sama seperti yang dilakukan oleh Rendy kepadaku?"


"Aku tidak sedang bertaruh dengan Rendy saat ini." Kata Dhanny dengan dingin dan tegas.


"Aku juga tidak akan pernah membuangmu jika memang aku mendapatkan hatimu." Mata Dhanny bahkan menatap lekat Shalimar.


"Kalian memasukkan aku dalam permainan yang kalian ciptakan. Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Shalimar lebih kepada dirinya sendiri.


"Ah.. " Shalimar memandang kearah Dhanny sambil tersenyum.


"Mungkin aku lebih baik memilihmu. Setidaknya kau akan lebih menjagaku daripada Rendy. Kalau begitu kau yang memenangkan taruhan." Kata Shalimar lalu mengalungkan tangannya di leher Dhanny.


"Kau yang memenangkan taruhan dengan Rendy. Harus aku akui kau memenangkannya. Aku benci mengatakan hal ini." Gumam Shalimar mulai tidak jelas apa yang ia bicarakan.

__ADS_1


Dhanny tahu apa yang dimaksud oleh Shalimar. Shalimar sedang kecewa pada dirinya karena kenyataan dirinya pernah bertaruh dengan Rendy untuk mendapatkan hati Shalimar. Sekalipun taruhan itu tidak berlaku untuk saat ini , Dhanny bisa memahami jika Shalimar merasa kecewa akan dirinya. Namun Dhanny merasa sangat senang ketika Shalimar memilihnya kali ini. Shalimar sendiri yang datang kepada Dhanny tanpa perlu Dhanny membujuk atau mengancamnya. Langkahnya semakin dekat untuk membuat Shalimar menjadi miliknya.


"Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentangku setelah kau mendengar hal itu dari Rendy , tapi kau tidak bisa menarik perkataanmu. Kau sudah memilihku , itu artinya kau sudah menerima lamaranku." Kata Dhanny yang kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Shalimar.


Shalimar dengan samar melihat wajah Dhanny dari dekat , terlalu dekat dengannya , namun Shalimar tidak menghindar dan hanya terpaku menikmati memandang Dhanny dari dekat.


"Aku bahkan ragu kau sungguh-sungguh melamarku." Balas Shalimar dengan matanya yang sayu .


"Kau juga mempermainkanku seperti Rendy. Tapi kenapa aku memilihmu? Aku juga tidak tahu kenapa." Shalimar menghela napas panjang dan memiringkan kepalanya melihat mata Dhanny.


"Kemana kau ketika aku tidak bisa menghubungimu? Kenapa kau mabuk seperti ini? Dan kenapa kau datang kemari?" Tanya Dhanny dengan senyuman yang tidak bisa ia sembunyikan melihat Shalimar sedang mengakui perasaannya.


"Aku tidak tahu ." Jawab Shalimar sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat beberapa helai rambutnya jatuh didepan wajahnya.


"Aku tidak ingin berpikir lagi , aku hanya berjalan dan aku tiba disini. Aku ingin menemuimu. Aku tidak akan memiliki keberanian jika aku dalam keadaan sadar. Aku takut dengan kenyataan yang harus aku hadapi jika memang seperti yang dikatakan oleh Rendy." Jawab Shalimar yang mulai tidak sadar akan apa yang sudah ia katakan.


"Apa yang kau takutkan? Apa kau takut jika aku hanya mempermainkanmu? Aku hanya ingin memenangkan taruhan dengan Rendy?"Tanya Dhanny sambil merapikan rambut Shalimar yang jatuh tepat diwajah Shalimar dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menopang tubuh Shalimar agar tidak terjatuh kebelakang.


Shalimar menganggukkan kepala kemudian menempelkan dahinya di dahi Dhanny.


"Aku lebih takut menghadapi perasaanku sendiri. Aku takut jika aku benar-benar bergantung kepadamu , aku akan jatuh dan terluka lagi." Kata Shalimar sambil memejamkan matanya.


"Maka aku yang akan bergantung padamu." Balas Dhanny sambil memeluk Shalimar yang sudah tertidur itu.


"Dan aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Kau juga sudah datang kepadaku sendiri , jangan pernah berbalik pergi."


----------------


Shalimar membuka matanya ketika sinar matahari terasa menyilaukan matanya. Shalimar merasakan nyeri dikepalanya , sambil mengerjapkan matanya , Shalimar melihat sekeliling ruangan tempatnya tidur saat ini. Ini bukan kamarnya dan juga bukan kamar Mei. Shalimar berusaha untuk mengingat apa yang sudah ia lakukan kemarin .


Setelah menemui Rendy , Shalimar pergi ke bar tempat ia biasa menyembunyikan dirinya ketika ia ingin sendiri tanpa ada siapapun yang menemukannya. Shalimar tidak ingat berapa banyak ia menegak minuman waktu itu. Shalimar hanya ingat bar tempatnya minum dekat dengan rumah Dhanny. Dan Shalimar berjalan menuju rumah Dhanny tanpa ia sadari.


"Tunggu dulu . Jadi ini adalah rumah Dhanny? Aku sudah gila. Aku sudah tidak waras." Kata Shalimar pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya dan duduk seketika.


Shalimar mengingat ia mengatakan semua yang ingin ia katakan kepada Dhanny kemarin. Setelah itu Shalimar tidak ingat lagi apa yang terjadi. Dengan cepat Shalimar melihat tubuhnya yang masih berpakaian lengkap , tapi yang ia kenakan bukan pakaian miliknya. Shalimar mengenakan pakaian Dhanny. Dengan panik Shalimar mencoba mengingat apa yang sudah ia lakukan ketika dirinya bersama dengan Dhanny semalam.


Suara ketukan pintu terdengar dibalik pintu kamar tempat Shalimar sekarang berada. Pintu itu terbuka sebelum Shalimar bisa bertanya siapa yang ada dibaliknya dan Shalimar juga tidak akan bertanya lagi siapa yang ada dibalik pintu itu. Dhanny.


Dhanny masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman untuk Shalimar.


"Kau sudah bangun?" Tanya Dhanny sambil tersenyum hangat kepada Shalimar.


Dhanny mengenakan kaos hitam polos dengan celana santai terlihat begitu menawan di mata Shalimar. Shalimar mengangguk pelan .


"Kenapa aku bisa tidur disini?" Tanya Shalimar yang tidak bisa menahan diri untuk memecahkan teka-teki di pikirannya yang mulai menjelajah kemana-mana.


"Tentu saja kau sendiri yang datang kemari." Jawab Dhanny sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja samping tempat tidur.


"Bukan itu maksudku. Aku datang kemari , tapi aku tidak ... tidur disini dengan kemauanku. Aku juga berganti pakaian yang bukan ..." Kata Shalimar berusaha untuk menjelaskan apa yang ia maksud kepada Dhanny.


Dhanny duduk di tepi tempat tidur dan menatap Shalimar sambil tersenyum dengan sudut bibirnya.


"Menurutmu apa yang terjadi?" Tanya Dhanny dengan santai.


Pikiran Shalimar benar-benar pergi melambung jauh entah kemana ketika Dhanny mengatakan hal itu kepadanya.


"Kau .. Aku .. Kita .. Melakukan hal itu? Kau memanfaatkan keadaanku?" Shalimar bahkan ragu untuk mengatakan hal itu kepada Dhanny sambil mencengkeram leher pakaian yang ia kenakan .


"Sarapanmu sudah siap. Apa kau merasa pusing? Aku akan membawakan obat sakit kepala jika kau masih merasa pusing." Kata Dhanny keluar dari konteks pertanyaan Shalimar.


Shalimar memandang tajam kearah Dhanny , mengharapkan jawaban yang jujur dari Dhanny. Dhanny menghela napas panjang dan menyentuh puncak kepala Shalimar dengan lembut.


"Kau pingsan semalam dan mendapatkan jackpot . Aku yang mengganti pakaianmu dan kau tertidur begitu saja. Aku tidak akan mengambil keuntungan darimu ketika dirimu sedang tidak sadar. Dan aku tidak melakukan hal itu jika kau belum menikah denganku." Kata Dhanny kemudian berdiri dari duduknya.


"Apa? Kau mengganti bajuku?" Tanya Shalimar seakan jantungnya akan meledak ketika mengetahui hal itu.


"Dan kau tidak.."


"Jangan tanyakan soal hal itu. Aku sudah sangat tergoda sekali." Kata Dhanny sambil berbalik melihat Shalimar lagi.


"Kau tidak akan tahu betapa tersiksanya aku harus menahan godaan itu." Lanjut Dhanny sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.


"Aku tidur di kamar tamu semalam, kau tidak perlu khawatir. Makanlah sarapanmu dulu , setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang." Dhanny berjalan keluar dari kamar dan Shalimar hanya memandangi punggung Dhanny yang terlihat begitu lebar dan kuat itu menghilang dari pandangannya.


Kalimat yang terngiang di telinga Shalimar , Dhanny tidak memanfaatkan dirinya yang sedang tidak sadarkan diri dan menghargainya ketika dirinya belum menjadi milik Dhanny , membuat Shalimar memiliki nilai lebih untuk Dhanny. Jika itu pria lain mungkin sudah memanfaatkan kondisi Shalimar untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Memikirkan hal itu membuat Shalimar tersenyum pada dirinya sendiri.


"Tunggu sebentar. Kenapa aku seperti ini? Aku juga bukannya akan menikah dengan Dhanny." Shalimar mengingatkan dirinya sendiri dan menghapus senyum itu dari wajahnya.


Shalimar memukul pelan kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya sendiri. Kemudian Shalimar turun dari tempat tidur yang terasa nyaman dan hangat itu. Shalimar melihat nampan yang dibawa oleh Dhanny ,nampan itu berisi air madu hangat dan roti panggang. Shalimar meraih gelas air madu hangat dan mulai meminumnya kemudian Shalimar mendengar suara gaduh dari lantai bawah rumah Dhanny.


Shalimar meletakkan gelas air minumnya kemudian berjalan keluar kamar Dhanny dan menuruni tangga. Baik Shalimar maupun Eva sama-sama terbelalak melihat satu sama lain ketika Shalimar sampai di ruang keluarga , tempat suara gaduh itu berasal.


"Jadi.. Ini yang sudah kalian lakukan dibelakangku?" Tanya Eva dengan nada yang tidak menyenangkan sambil menunjuk kearah Shalimar.


Shalimar hanya berdiri terdiam , tidak bisa mengelak ataupun membela diri. Dia juga merasa tidak pantas untuk membela diri dihadapan Eva saat ini dengan kondisinya yang hanya mengenakan pakaian Dhanny. Siapapun yang melihat dirinya seperti ini akan berpikiran sama seperti Eva walaupun kenyataan tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Eva.


Dhanny melihat kearah Shalimar yang baru saja hadir di tengah perdebatan dirinya dan Eva. Dhanny tahu apa yang dirasakan oleh Shalimar dan apa yang dipikirkan oleh Eva.


"Jangan menunjuk kearah wanitaku seperti itu." Kata Dhanny dengan tegas kepada Eva tanpa nada tinggi tapi sanggup membuat Eva menurunkan tangannya dan melihat kearah Dhanny.


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dhanny , jangankan Eva ,Shalimar juga terkejut akan apa yang diucapkan Dhanny sampai melihat Dhanny dengan perasaan yang tidak bisa Shalimar gambarkan.


"Kalian melakukan hal hina seperti ini dibelakangku dan kau yang marah saat ini. Membela dia dihadapanku ?" Kata Eva dengan emosional dan kembali menunjuk kearah Shalimar.


Dhanny menurunkan tangan Eva dan berdiri menutupi Shalimar dari pandangan Eva.


"Jangan pernah menunjuk kearah wanitaku." Dhanny memberikan peringatan sekali lagi kepada Eva.


"Hubungan kita sudah selesai. Aku juga sudah membatalkan pernikahan didepan orangtuamu kemarin. Aku masih menerimamu dirumah ini sebagai tamuku ,tolong jangan melebihi batasan yang sudah aku berikan."Lanjut Dhanny masih dengan tatapan tegas kearah Eva.


Shalimar lebih terkejut dengan pernyataan Dhanny kali ini. Dhanny tidak berdusta padanya jika akan membatalkan pernikahannya dengan Eva. Kali ini jantung Shalimar berdebar kencang dan tubuhnya terasa begitu dingin karena debaran yang terlalu kencang itu. Mungkin Dhanny sungguh-sungguh mencintainya terlepas dari taruhan yang Dhanny lakukan dengan Rendy.


----------------------


-----------------

__ADS_1


__ADS_2