
Shalimar sedang bersiap-siap untuk berangkat melakukan survey lapangan untuk lokasi pernikahan Dhanny dan Eva. Dan hari ini dia berdandan. Shalimar juga heran mengapa dirinya berdandan hari ini , dirinya bahkan tidak akan bertemu dengan Dhanny.
"Kenapa aku berharap bertemu dengan Dhanny?" Tanya Shalimar dalam hati.
Shalimar merasa jika dirinya tertarik dengan Dhanny. Dan hal ini dia rasa salah. Dhanny adalah kliennya. Dhanny juga akan menikah dengan Eva dan dirinyalah yang bertanggung jawab untuk menangani persiapan pernikahan mereka. Kali ini Shalimar harus bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Perasaan yang bahkan tidak bisa ia gambarkan ketika dirinya bertemu dengan Dhanny.
Sambil menyalakan mesin mobil kecilnya , Shalimar masih terbayang akan tatapan Dhanny padanya sewaktu di taman luar hotel kemarin . Mata itu seakan menariknya kedalam dunia yang Shalimar rindukan.
"Aku sudah gila." Kata Shalimar pada dirinya sendiri sambil memandang kearah kaca spion tengah mobil kecilnya.
Dengan cepat Shalimar memindahkan persneling mobilnya dan mulai melakukan perjalanannya untuk melakukan survey hari ini.
Belum jauh ia mengendarai mobilnya , ponsel Shalimar berbunyi , Shalimar meraba tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang ia letakkan di kursi penumpang mobilnya. Shalimar melihat sekilas nama siapa yang menghubunginya.
-Dhanny-
Seketika Shalimar menginjak rem mobilnya karena nama itu muncul begitu saja diponselnya. Saat Shalimar menginjak rem mobilnya secara otomatis kendaraan lain yang ada dibelakangnya juga ikut melakukan rem mendadak. Dan sebuah sepeda motor terjatuh tepat dibelakang mobil Shalimar. Seketika Shalimar melemparkan ponselnya kembali kedalam tas miliknya.
"Mati aku." Gumam Shalimar lalu menepikan mobilnya dan keluar dari mobil yang ia kendarai. Shalimar menghampiri pengemudi sepeda motor yang terjatuh itu .
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Shalimar sambil membantu pengemudi itu untuk bangkit berdiri.
Dengan susah payah si pengemudi sepeda motor itu berdiri sambil dibantu oleh Shalimar. Sementara kendaraannya di tepikan oleh pengguna jalan yang lain.
"Kenapa anda mengerem mendadak?" Tanya Si pengemudi kepada Shalimar ketika ia sudah duduk di tepi trotoar.
"Maaf, saya tadi sedang terkejut juga. Apa anda baik-baik saja? Apa kita perlu kerumah sakit?" Tanya Shalimar sambil melihat kondisi seluruh tubuh si pengemudi.
Shalimar melihat luka lecet ditangan pengemudi dan juga celana pengemudi yang sedikit robek dibagian lutut.
"Bahaya sekali jika anda melakukan hal seperti itu lagi. Anda bisa mengemudi atau tidak?" Si pengendara mulai meluapkan emosinya.
Shalimar tidak bisa menyalahkan si pengemudi dan hanya bisa meminta maaf kepada sang pengemudi motor.
"Maaf, Pak. Apa anda perlu pergi kerumah sakit?" Tanya Shalimar lagi merasa begitu bersalah akan insiden yang sudah ia sebabkan.
"Saya yang akan menanggung biaya rumah sakitnya nanti." Shalimar berusaha menjelaskan maksud baiknya kepada si pengemudi motor.
"Saya baik-baik saja. Hanya saja saya merasa terkejut. Dan juga yang lebih parah adalah motor saya." Kata pengemudi motor itu.
Shalimar melihat motor si pengemudi dan memang benar motor si pengemudi mengalami kerusakan yang lumayan parah.
"Saya akan mengganti kerusakan motor Bapak. Tapi apa Bapak baik-baik saja? Mungkin lebih baik Bapak juga pergi kerumah sakit, takutnya nanti ada luka dalam yang kita tidak tahu." Kata Shallimar dengan khawatir.
Si pengemudi motor melihat kearah Shalimar lalu berdiri dari duduknya kemudian duduk kembali dengan cepat sambil menahan sakit di kakinya.
Shalimar melihat kearah pengguna jalan yang sudah mulai banyak berkerumun di sekitar Shalimar dan juga pengemudi motor itu.
"Apa ada yang bisa menghubungi ambulans?" Tanya Shalimar kepada para pengguna jalan yang sudah berada disana. Namun tidak ada jawaban. Shalimar lalu menunjuk salah seorang wanita yang sedang menggenggam ponselnya .
"Kamu. Bisa menghubungi ambulans sekarang?" Pinta Shalimar.
Wanita itu mengangguk dan segera menghubungi ambulans untuk datang kelokasi itu.
Setelah ambulans datang dan membawa si pengemudi motor untuk dibawa kerumah sakit. Shalimar juga sudah menghubungi bengkel langganannya untuk mengurus masalah sepeda motor milik pengemudi itu. Shalimar juga mengikuti si pengemudi ke rumah sakit yang dituju.
Setelah diperiksa secara menyeluruh dan dokter tidak menemukan pendarahan dalam pada tubuh si pengemudi motor , Shalimar baru merasa lega. Namun si pengemudi masih mengalami syok dan harus dirawat sampai cairan infus yang sudah dipasang ditubuhnya habis.
"Bapak, biaya rumah sakit sudah saya bayarkan. Dan untuk motor Bapak juga sudah dibawa ke bengkel motor. Nanti Bapak bisa menghubungi saya jika Bapak ingin mengambil motor Bapak. Ini nomor ponsel saya." Shalimar mengeluarkan kartu nama yang ia miliki dari dompet miliknya dan memberikannya kepada si pengemudi motor.
Si pengemudi motor menerima kartu nama Shalimar dengan sedikit ragu.
"Terimakasih , Mbak. Saya sebenarnya tidak perlu pergi kerumah sakit. Saya hanya mengalami luka lecet saja. Dan juga terimakasih sudah mau bertanggung jawab untuk memperbaiki motor saya." Kata si pengemudi dengan ramah kepada Shalimar.
"Tidak apa-apa , Pak. Saya yang sudah melakukan kesalahan. Saya juga harus bertanggungjawab karena Bapak juga mengalami kecelakaan seperti ini." Kata Shalimar merasa bersalah kepada si pengemudi.
"Tidak banyak yang seperti anda. Biasanya pengemudi lain akan memberikan biaya ganti rugi saja." Si pengemudi merasa beruntung dia bertemu dengan pengemudi yang begitu peduli seperti Shalimar.
"Tidak masalah , Pak. Ayah saya meninggal karena pendarahan dari dalam ketika mengalami kecelakaan seperti Bapak saat ini. Jika tidak diperiksa lebih lanjut , Bapak mungkin bisa bernasib sama seperti ayah saya." Kata Shallimar dengan mata yang sedikit sendu mengenang ayahnya yang sudah tiada.
"Saya akan kembali bekerja, Bapak bisa menghubungi saya nanti jika Bapak ingin mengambil motor Bapak." Kata Shalimar pamit undur diri dari sana.
Shalimar baru ingat ia tadi mendapatkan panggilan dari Dhanny. Shalimar sedang dalam kondisi yang syok juga. Walaupun dirinya nampak tenang namun sesungguhnya Shalimar juga merasa sangat ketakutan saat ini. Shallimar melihat ponselnya dan benar saja banyak panggilan tidak terjawab . Selain Dhanny , Taufan dan juga Mei ikut menghubunginya. Dengan tangan yang masih bergetar Shalimar menekan tombol kunci pada ponselnya dan memasukkan ponselnya kembali kedalam tas. Sepertinya ia butuh minuman manis saat ini untuk menenangkan dirinya dari rasa syok yang ia rasakan. Shalimar mencari kantin terdekat yang ada di rumah sakit untuk membeli minuman dan melihat kantin yang ia cari.
Setelah membeli minuman yang ia inginkan dan merasa sedikit tenang, Shalimar baru mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Mei.
"Mei, ada apa?" Tanya Shalimar saat Mei sudah menjawab panggilan darinya.
"Kemana saja kau? Tidak biasanya kau tidak menjawab panggilan begitu lama?" Mei terdengar begitu khawatir kepada Shalimar.
"Ada kecelakaan tadi. Aku tidak sengaja menabrak pengemudi motor." Jawab Shalimar sambil bermain dengan tetesan air yang menempel di pinggir botol minuman dingin miliknya.
"Apa? Lalu kamu bagaimana? Apa kamu baik-baik saja? Kamu berada dirumah sakit sekarang?" Terdengar teriakan Mei yang begitu gaduh ditelinga Shalimar.
"Mei, aku yang menabrak pengemudinya. Aku tidak apa-apa , pengemudi itu yang mengalami cidera. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit untuk menemani pengemudi itu. Dan situasi saat ini sudah terkendali. Kau tenang saja. Aku hanya merasa syok saja. Sekarang aku sedang berada di kantin rumah sakit untuk menenangkan diriku sendiri." Jawab Shalimar dengan tenang.
"Kau berada dirumah sakit mana? Aku akan kesana sekarang." Balas Mei masih dengan nada yang begitu khawatir akan Shalimar.
"Tidak perlu , Mei. Aku baik-baik saja. Aku hanya akan menenangkan diriku sendiri beberapa saat lagi. Oh iya kenapa kau menghubungiku?" Tanya Shalimar kemudian meneguk minuman dinginnya lagi.
"Aku sedang berada dikantormu. Kata Taufan kau tidak datang kekantor hari ini dan sedang melakukan survey lapangan. Aku menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilan dariku. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?" Mei benar-benar terdengar khawatir akan keadaan Shalimar.
"Kau tunggu saja dikantor. Aku akan kekantor sebentar lagi." Kata Shalimar berusaha menenangkan Mei.
"Kau bisa menyetir saat ini?" Tanya Mei yang masih khawatir akan Shalimar.
"Tenang saja. Aku akan sampai kantor mungkin dua puluh menit lagi." Shalimar berdiri dari duduknya dan bergegas kearah tempat parkir rumah sakit .
Setelah masuk kedalam mobil , Shalimar mencengkeram setir mobilnya sambil menempelkan dahinya di punggung tangannya. Tangannya masih bergetar karena rasa terkejutnya tadi. Shalimar mencoba mengatur napasnya dengan teratur dan mencoba untung menenangkan dirinya. Shalimar mengambil napas panjang lalu menghembuskannya selama beberapa kali. Dan dirinya kemudian dikejutkan oleh ketukan di kaca pintu mobil disampingnya. Hal itu membuat jantungnya yang sudah mulai tenang menjadi bergetar hebat lagi.
__ADS_1
Shalimar menoleh kearah kaca disampingnya dan ia melihat Dhanny yang berdiri disana sambil melihat kedalam kaca mobil Shalimar.
"Kau mengejutkanku." Kata Shalimar ketika menurunkan kaca mobilnya sambil menepelkan tangan kirinya didepan dada.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dhanny terlihat dingin namun terdengar begitu khawatir kepada Shalimar.
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah tenang tadi sebelum kau mengetuk kaca mobilku." Jawab Shalimar yang bersandar di kursi pengemudinya.
"Kau tidak akan bisa menyetir dengan kondisi seperti ini. Aku akan mengantarmu." Kata Dhanny sambil menarik kunci pintu mobil Shalimar lewat kaca mobil Shalimar yang terbuka sepenuhnya.
Setelah kunci pintu mobil itu terbuka ,Dhanny memasukkan kepalanya kedalam mobil dan melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Shalimar. Yang Dhanny lakukan sungguh diluar dugaan Shalimar. Shalimar hanya bisa terpana ketika Dhanny melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya hingga menarik tubuhnya keluar dari dalam mobilnya.
Dhanny menaikkan kaca mobil Shalimar dan mematikan mesin mobil lalu menutup pintu mobil Shalimar.
"Kau ikut denganku." Kata Dhanny sambil menekan tombol kunci pada mobil Shalimar.
Dhanny tidak menunggu persetujuan dari Shalimar atas perkataannya dan menarik tangan Shalimar untuk mengikuti langkahnya menuju kearah mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari mobil Shalimar. Dhanny membuka pintu bagian penumpang dan langsung membuat Shalimar duduk dengan patuh disana lalu ia menutup pintu mobilnya . Shalimar hanya terpaku dan menuruti apa yang dilakukan Dhanny kepadanya sambil melihat Dhanny mengitari mobil untuk masuk kedalam mobil lewat pintu bagian supir.
"Gunakan sabuk pengamanmu." Kata Dhanny sambil menutup pintu mobilnya dan mengenakan sabuk pengamannya.
Sekali lagi Shalimar patuh dan mengenakan sabuk pengamannya tanpa berkata apapun atas apa yang sudah Dhanny lakukan padanya. Ketika mobil Dhanny mulai berjalan , Shalimar baru bisa mengembalikan keberaniannya untuk bertanya kepada Dhanny.
"Bagaimana kau tahu aku berada disana?" Tanya Shalimar sambil melihat kearah Dhanny yang sedang berkonsentrasi untuk menyetir.
"Aku sedang berada disekitar sini. Kebetulan melihat kau berada dalam mobil dan sepertinya kondisimu sedang tidak bagus." Jawab Dhanny tanpa menoleh kearah Shalimar. Masih dengan nada yang dingin dan begitu acuh kepada Shalimar.
"Dia begitu dingin dan tidak peduli. Tapi kenapa aku merasa dia peduli kepadaku? Kenapa begitu kebetulan sekali dia berada disini? Tenangkan hatimu , Shally. Jangan merasa besar kepala hanya karena dia menemukanmu dalam kondisi yang menyedihkan dan membantumu. Ingatlah dia adalah klienmu yang akan menikah tiga bulan lagi." Shalimar mengingatkan dirinya sendiri dalam hati.
"Apa yang kau lakukan di rumah sakit?" Tanya Dhanny masih tanpa melihat kearah Shalimar.
"Tadi.. Aku .. Aku sedikit ceroboh menyetir , terjadi kecelakaan kecil. Tapi semua sudah teratasi." Jawab Shalimar sambil meremas sabuk pengamannya mengingat bunyi motor yang menabrak belakang mobilnya san membuat dirinya gemetaran.
"Apa kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat." Kata Dhanny kali ini melihat kearah Shalimar. Shalimar menoleh kearah Dhanny dengan cepat ketika Dhanny mengatakan hal itu kepadanya.
"Aku baik-baik saja, hanya pengemudi motor itu yang mengalami luka lecet dan motornya rusak. Aku membawanya kemari karena mungkin saja dia mengalami pendarahan dalam yang tidak terlihat. Hal itu lebih berbahaya jika dibiarkan. Aku hanya takut jika dia mengalami seperti yang dialami oleh ayahku." Kata Shalimar lalu melihat kearah depan kaca mobil Dhanny .
"Menyetirlah dengan benar. Aku tidak mau mengalami kecelakaan lagi hari ini." Lanjut Shalimar merasa tidak nyaman dengan tatapan Dhanny.
Dhanny kembali melihat kearah depan mobilnya.
"Kita akan kemana?" Tanya Shalimar ketika menyadari jika ini bukan jalan menuju kearah kantornya.
"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu pulang." Balas Dhanny.
"Apa? Aku akan ke kantor...." Shalimar melihat kearah Dhanny yang ternyata juga melihat kearahnya dengan tatapan yang tajam dan dingin membuat Shalimar seketika menutup bibirnya.
"Kondisimu tidak lebih baik daripada pengemudi yang kau tabrak tadi. Lebih baik kau beristirahat saja dirumahmu dan meminta ijin pada atasanmu." Kata Dhanny llau kembali menatap kearah depan.
"Tapi aku sudah berjanji dengan Mei ... Temanku. Dia pasti menungguku saat ini dikantor, dia juga sangat mengkhawatirkan aku saat ini." Kata Shalimar berusaha menjelaskan mengapa ia ingin pergi kekantornya saat ini.
"Kau bisa menghubunginya dan mengatakan kau berada dirumahmu saat ini. Dia pasti akan mengerti. Dan kau bisa menghubunginya saat ini jika tidak ingin membuatnya khawatir." Balas Dhanny dengan nada yang begitu datar.
"Mei?" Kata Shalimar ketika Mei sudah menjawab panggilan darinya.
"Maaf aku tidak akan kekantor. Aku akan pulang sekarang. Katakan pada Taufan aku beristirahat untuk hari ini."
"Baiklah, aku akan sampaikan kepada Taufan. Mungkin lebih baik jika kau beristirahat dirumah. Aku akan datang kerumahmu setelah ini." Jawab Mei yang sudah mulai terdengar tidak begitu khawatir akan kondisi Shalimar.
"Iya. Nanti aku akan menghubungimu lagi jika aku sudah berada dirumah, Mei. Maaf sudah membuatmu khawatir." Kata Shalimar lalu menutup pembicaraannya dengan Mei.
Setelah mengembalikan ponselnya kedalam tas. Shalimar melihat kearah Dhanny yang hanya diam dan melihat kearah depan mobilnya.
"Rumahku ada di belokan sebelah sana." Kata Shalimar sambil menunjukkan arah berbelok yang ada dihadapan mereka.
Dengan tenang Dhanny mengikuti petunjuk yang dikatakan oleh Shalimar menuju kerumah Shalimar.
Sesampainya di depan rumah Shalimar , Shalimar melepaskan sabuk pengaman miliknya dan melihat kearah Dhanny.
"Terimakasih untuk tumpangannya. Mungkin besok aku baru bisa memberikan hasil survey lapangan tentang ..."
"Turunlah. Aku juga masih banyak pekerjaan." Kata Dhanny yang langsung memotong perkataan Shalimar.
Shalimar langsung menutup bibirnya dan mendengus kesal.
"Baiklah. Terimakasih." Kata Shalimar lagi lalu keluar dari mobil Dhanny.
Setelah Shalimar turun dari mobil Dhanny , Dhanny langsung menginjak gas mobilnya dan meninggalkan Shalimar didepan rumahnya yang merasa bingung dan kesal dengan sikap Dhanny padanya.
"Apa dia baik-baik saja? Dia yang memaksaku untuk ikut dengannya dan sekarang dia merasa aku membebaninya. Kalau dia begitu sibuk kenapa harus memperdulikanku tadi." Kata Shalimar pada dirinya sendiri dengan kesal.
-----------------------
Dhanny tidak bisa menghubungi Shalimar sejak pagi. Sengaja Dhanny pergi kekantor tempat Shalimar bekerja, entah mengapa hatinya merasa tidak tenang. Apakah Shalimar sengaja menghindarinya atau sesuatu terjadi pada Shalimar.
Sesampainya dikantor tempat Shalimar bekerja, secara tidak sengaja Dhanny mendengarkan Mei sedang berbicara dengan seorang pria dikantor itu. Jantung Dhanny seakan berhenti berdetak saat mendegar Mei mengatakan Shalimar berada di rumah sakit karena kecelakaan dan akan segera kembali kekantor dua puluh menit lagi. Yang ada dalam pikiran Dhanny adalah mencari rumah sakit yang berjarak dua puluh menit dari kantor tempat Shalimar bekerja. Dhanny mengitari seluruh parkiran di rumah sakit itu dan melihat mobil kecil milik Shalimar . Dengan cepat Dhanny memarkirkan mobilnya didekat mobil Shalimar. Dhanny berjalan kearah mobil Shalimar dan melihat Shallimar sedang menundukkan kepalanya sambil mencengkeram setir mobil, bahu Shalimar terlihat naik turun beberapa kali. Tanpa Dhanny sadari ia mengetuk kaca mobil Shalimar dengan kencang dan melihat Shalimar baik-baik saja walaupun terlihat pucat.Dhanny merasa lega ketika Shalimar baik-baik saja namun tetap khawatir karena wajah Shalimar terlihat pucat dan pandangan matanya terihat kosong dan tidak fokus. Dhanny tidak bisa mengontrol tindakannya ketika melihat kondisi Shalimar , apa yang ia lakukan semua diluar kendalinya. Bahkan saat Shalimar meminta dirinya untuk mengantarkan Shalimar kembali kekantornya , hal itu seketika memicu perasaan tidak nyaman dalam diri Dhanny.
Dhanny berusaha kerasa mengontrol emosinya dihadapan Shalimar, ia tidak ingin Shalimar merasa jika dirinya mendekati Shalimar dengan sangat mencolok. Dhanny sudah pernah melewatkan kesempatannya dahulu , dia tidak akan melewatkannya kali ini.
Dhanny sudah menetapkan hatinya kepada Shalimar dan bukan untuk yang lain. Kali ini yang harus Dhanny pikirkan adalah bagaimana ia membatalkan pernikahannya dengan Eva tanpa harus menyakiti Shalimar.
-------------------------
Rendy sedang berada didalam kantornya ketika ibu Shalimar mengabarkan bila Shalimar terlibat kecelakaan pagi ini. Berita itu bahkan membuat jantung Rendy berhenti berdetak , namun Rendy tidak bisa meninggalkan pekerjaannya saat ini. Dia baru saja akan mendapatkan promosi dari jabatannya. Rendy berjanji akan datang kerumah orangtua Shalimar ketika ia sudah pulang dari kantornya.
Selama Rendy bekerja , Rendy juga tidak merasa tenang. Rendy berulang kali menghubungi Shalimar namun Shalimar tidak menjawab panggilannya. Rendy juga mengirim pesan pada Shalimar namun Shalimar tidak membalas pesan darinya.
Shalimar benar-benar tidak memberikan Rendy kesempatan untuk memperdulikannya kali ini. Seandainya Shalimar mengetahui alasan mengapa Rendy melakukan hal ini kepada dirinya , mungkin Shalimar tidak akan membenci Rendy dan tetap berada disisi Rendy saat ini. Rendy sangat menyayangi Shalimar tapi dia juga menyayangi kedua orangtuanya. Ketika Shalimar hamil dan ia harus menikahi Shalimar , kedua orangtua Rendy menyetujui Rendy menikah dengan Shalimar dengan syarat Rendy tidak bisa mendaftarkan pernikahan mereka secara negara karena Rendy baru saja lulus kuliah dan langsung diterima bekerja di perusahaan kawan lama ayah Rendy. Sebuah pekerjaan yang memiliki gaji tinggi an juga menjanjikan bagi masa depan Rendy.
Orangtua Rendy juga tidak menyukai Shalimar karena latar belakang keluarga Shalimar yang berbeda dengan keluarga Rendy. Sekalipun Rendy menikah dengan Shalimar , orang tua Rendy meminta Rendy untuk tidak pernah menyentuh istrinya. Rendy harus menerima apapun yang menjadi keputusan kedua orangtuanya akan dirinya dan Shalimar juga anak mereka. Bukannya Rendy tidak mencintai Shalimar , hanya saja Rendy lebih berat kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Rendy mencintai Shalimar lebih daripada yang Shalimar ketahui. Rendy mengerti perasaan ketika Shalimar tidak bisa sepenuhnya merawat dan mencintai Aabid karena kedua orangtua Rendy , namun Rendy tidak bisa berbuat banyak akan hal itu. Bahkan Rendy harus rela melihat Shalimar bekerja sendiri diluar agar Shalimar tidak merasa terkekang didalam rumah orangtuanya.
Rendy juga tahu ketika Shalimar mencoba menarik perhatian Rendy ketika Shalimar berselingkuh dengan banyak pria, Rendy tahu jika Shalimar tidak akan pernah bisa meningglakan dirinya dan Aabid. Berulangkali kedua orangtua Rendy ingin Rendy memberikan talak kepada Shalimar , namun Rendy menolaknya. Rendy bisa menuruti semua yang orangtuanya inginkan , kecuali melepaskan Shalimar. Saat Shalimar memutuskan untuk keluar dari rumah orangtua Rendy , hal itu sejujurnya membuat Rendy hancur , namun mungkin hal ini akan membuat Shalimar merasa lebih baik dan tidak terlalu terbebani dengan perlakuan kedua orangtua Rendy.
Walaupun Shalimar tidak mengetahui hal ini , namun Rendy selalu mengawasi Shalimar dan tidak pernah meninggalkan Shalimar. Rendy juga tidak pernah sekalipun mengkhianati Shalimar dengan perempuan manapun. Suatu saat ketika kondisinya stabil dan mandiri secara finansial Rendy pasti akan menikahi Shalimar sah secara negara. Dan dia akan membeli sebuah rumah untuk dirinya , Salimar dan juga Aabid . Sehinga ia bisa memberikan kehidupan rumah tangga yang normal untuk Shalimar.
Salimar tidak akan pernah membayangkan betapa ia tidak menyukai ketika Shalimar meminta dirinya untuk menceraikan Shalimar. Dan Rendy tidak pernah memberikan talaknya kepada Shalimar sekalipun Shallimar memutuskan untuk berhubungan dengan lelaki lain. Rendy yakin hati Shalimar hanyalah untuknya , Rendy juga memiliki Aabid , anak mereka. Shalimar juga tidak akan meninggalkan Aabid sekalipun hati Shalimar benar-benar berubah nantinya.
------------------------
Rendy sudah menghubunginya puluhan kali dan Shalimar tidak ingin menjawab panggilannya. Shalimar tahu jika ibunya pasti yang memberitahu rendy tentang insiden yang ia alami pagi tadi. Shalimar tidak ingin Rendy menemuinya karena rasa kasihan ataupun iba. Dia tidak membutuhkan simpati Rendy.
"Ponselmu sudah berdering berkali-kali . Apa kau tidak ingin menjawab panggilan dari Rendy? Mungkin saja itu penting." Kata Mei yang duduk disamping Shalimar.
Mei datang kerumah Shalimar ketika hari sudah menjelang petang. Dan Mei merasa tenang ketika melihat Shalimar baik-baik saja tanpa cidera sedikitpun.
"Biarkan saja. Aku tidak mau jika dia hanya mengasihani aku karena hal yang tidak penting seperti ini. Aku juga memiliki harga diri terakhirku sebagai seorang wanita dimatanya." Balas Shalimar dengan kesal.
"Kau masih mempertahankannya. Kau terlalu mencintainya dan sekarang ketika dia memperhatikanmu , kau menjauh darinya. Apa hatimu sudah berubah untuk Rendy? Apa kau ingin benar-benar berpisah dari Rendy?" Tanya Mei sambil memandang penuh perhatian kepada Shalimar.
Shalimar berpikir sejenak, apa dia benar-benar sudah tidak memiliki cinta untuk Rendy? Apa hatinya sudah berubah saat ini untuk Rendy?
"Aku juga tidak mengerti , Mei. Terkadang aku merasa lelah dengan semua ini . Aku merasa jika aku dan Rendy menjadi oranglain mungkin akan lebih baik. Tapi kadang juga aku merasa jika aku tidak bisa meninggalkannya sekalipun dia berubah begitu dingin kepadaku. Aku merasa harus menunggunya . Dan aku tidak tahu apa yang aku tunggu dari dirinya." Jawab Shalimar dengan mata yang menatap jauh entah kemana.
"Kau sudah menunggunya selama empat tahun , Shally. Apa kau tidak merasa lelah? Apa kau tidak ingin memilih jalanmu sendiri? Kau tidak ingin menemukan pria yang benar-benar mencintaimu?" Mei merasa begitu iba melihat Shalimar.
"Pria yang mencintaiku?" Tanya Shalimar lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa kau tahu Mei , sejauh ini semua pria yang mendekatiku hanya menginginkan tubuhku saja. Mereka bahkan hanya memikirkan bagaimana merasakan tidur bersamaku saja. Aku tidak tahu mereka mencintaiku atau tidak. Dan kurasa tidak ada yang mencintaiku.Aku bahkan ragu ada cinta didunia ini."
"Pasti ada ,Shally. Kau akan menemukan hal itu. Kau akan merasakan jantungmu berdebar kencang kentika bertemu dengannya." Kata Mei berusaha menenangkan hati Shalimar yang sudah tidak memiliki harapan itu.
Saat itu juga Shalimar langsung teringat kepada Dhanny. Bayangan wajah Dhanny dan juga tatapan mata Dhanny tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran Shalimar. Dengan cepat Shalimar menghapus bayangan itu dari kepalanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa ada?" Mei merasa jika Shalimar memiliki seseorang dihatinya saat ini ketika ia melihat Shalimar menggelengkan kepalanya dan wajah Shalimar terlihat merah setelahnya.
"Tidak." Kata Shalimar berbohong kepada Mei.
Tidak mungkin Shalimar bercerita jika ia merasakan debaran itu kepada kliennya yang akan menikah tiga bulan lagi. Mei mungkin akan mendukungnya tapi Shalimar tentu juga tidak akan merusak kebahagiaan oranglain hanya demi mementingkan perasaannya saja. Mengingat pa yang dilakukan oleh Dhanny tadi Shalimar ingat ia ingin menanyakan sesuatu kepada Mei.
"Mei , sewaktu aku menghubungimu ketika aku berada dirumah sakit. Siapa saja yang ada dikantorku?" Tanya Shalimar berharap ia menemukan jawaban akan pertanyaan yang sedari tadi bersemayam di kepalanya.
"Disana hanya ada Taufan , Lani , Edo dan siapa itu teman kantormu yang selalu memakai baju berwarna hitam dikantor?" Mei mencoba mengingat siapa saja yang ada disana ketika dirinya sampai dikantor Shalimar.
"Rena." Jawab Shalimar dengan cepat.
'Ah iya. Hanya ada itu saja. Ada apa?" Tanya Mei merasa ada yang ingin Shalimar ketahui tentang hal ini .
"Apa tidak ada yang lain?" Shalimar merasa jika bukan suatu kebetulan jika Dhanny tiba-tiba berada di parkiran rumah sakit dan menemukan dirinya disana.
Mei menggelengkan kepalanya.
"Sungguh hanya ada mereka disana. Tidak ada yang lain." Kata Mei dengan yakin bila tidak ada oranglain selain teman-teman kantor Shalimar yang berada disana.
"Mungkin memang benar dia sedang memiliki urusan di rumah sakit itu. Tapi bagaimana di tahu jika itu aku yang berada didalam mobilku? Kenapa dia mau membantuku?" Pikir Shalimar.
Apa yang dilakukan Dhanny masih menjadi misteri baginya. Dhanny seperti dispenser terkadang terasa dingin namun terkadang juga terasa panas membakar jantung Shalimar.
Suara ketukan pintu kamar Shalimar membuyarkan pikiran Shalimar yang sudah mulai melayang kemana-mana itu. Mei melihat kearah pintu kamar Shalimar da berdiri dari duduknya untuk membuka pintu kamar Shalimar. Mei terkejut melihat kehadiran Rendy disana.
"Apa Shally tidur?" Tanya Rendy yang langsung melihat kearah dalam kamar Shalimar.
"Shally sedang beristirahat saat ini." Jawab Mei berbohong kepada Rendy.
"Aku bahkan bisa mendengar kalian sedang berbincang tadi." Kata Rendy kepada Mei.
Mei melirik kearah Shalimar. Shalimar menganggukkan kepalanya kepada Mei dan akhirnya Mei membukakan pintu kamar Shalimar dengan lebar dan mempersilahkan Rendy untuk masuk kedalam kamar Shalimar.
"Shally, aku akan pulang dulu. Jangan lupa jaga kesehatanmu." Kata Mei lalu meninggalkan kamar Shalimar.
"Hati-hati dijalan , Mei." Teriak Shalimar ketika Mei berjalan meninggalkan kamarnya.
Rendy menarik kursi dan duduk didekat tempat tidur Shalimar.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rendy sambil melihat kearah Shalimar.
"Apa mama yang memberitahumu? Tenang saja aku tidak mengalami luka sekecil apapun. Jangan mengasihaniku. Kau hanya membuatku seperti terhina." Jawab Shalimar dengan sinis.
"Aku hanya merasa khawatir." Kata Rendy sambili mengaitkan jemarinya diatas kedua lututnya.
"Aku sudah berada dirumah sejak tadi siang. Mama juga pasti sudah menghubungimu saat itu juga. Jika kau benar-benar mengkhawatirkan keadaanku , kau tidak akan datang selarut ini." Balas Shalimar yang tidak ingin memiliki harapan berlebih untuk perhatian yang diberikan oleh Rendy.
"Aku sedang ada rapat tadi setelah mama menghubungiku. Aku tidak bisa meninggalkan rapat promosi jabatanku." Kata Rendy mencoba menjelaskan kondisi yang ia alami sampai tidak bisa datang secepatnya mengunjungi Shalimar.
"Selamat untuk promosi jabatanmu." Balas Shalimar sambil menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak menjawab panggilanku , kau juga tidak membalas pesan dariku." Kata Rendy mencoba untuk membela dirinya.
"Karena aku ingin kau datang dan benar-benar mengkhawatirkan aku." Jawab Shalimar dalam hati. Namun Rendy lebih berat pada pekerjaannya daripada Shalimar.
"Aku lelah. Aku ingin beristirahat. Besok aku masih harus melakukan survey lapangan. Kau bisa pulang sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku juga tidak akan meminta uang darimu." Shalimar memandang kearah Rendy dengan tegas.
Mendengar perkataan Shalimar sungguh melukai harga dirinya sebagai seorang lelaki yang mencintai wanitanya namun tidak dihargai.
"Kapan kau akan kembali pulang?" Tanya Rendy kepada Shalimar .
Pertanyaan itu baru sekali ini Shalimar mendengar dari Rendy setelah dua tahun lamanya Shalimar meninggalkan rumah orangtua Rendy. Shalimar merasakan sedikit harapan untuk dirinya dan Rendy ketika Rendy menanyakan hal itu kepadanya. Mungkin memang akan tiba saatnya penantiannya selama ini berbuah manis. Tapi mengapa Rendy baru sekarang menanyakan hal ini kepadanya? Mengapa tidak ketika ia masih merasakan cinta yang begitu besar untuk Rendy saat dirinya berharap Rendy menjemputnya pulang waktu itu? Saat ini ajakan Rendy terasa begitu membahagiakan namun juga membuat Shalimar takut untuk kembali.
-----------------
__ADS_1