
Riing!!! Ring!!! Ring!!!
"hoaahhmmmm.... Halo...."Revan dengan malas mengangkat ponselnya.
"BROO!! LU KEMANA AJA!!??"
Revan langsung menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara nyaring yang memekakkan telinganya keluar dari ponselnya.
Revan mengenali pemilik suara itu, Aldi Firmansyah, teman akrabnya sejak kuliah. Sekarang berkerja sebagai pegawai bank di kota sebelah.
"apa sih di..? woles we, masih pagi teriak-teriak, hoahmm~" Revan masih menggeliat di kasurnya.
"Kepala lu 3 pagi!! Udah mau sore ini ***! Eh, katanya lu habis kecelakaan ya? Lu gak apa-apa bre?"
"Kau tau dari mana?" Revan bertanya balik sambil melihat jam di layar ponselnya.
"njir jam 3, kelewat bangkong ini mah, kapan ya terakhir akubtidur lama kayak gini?" gumamnya dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"gua nelpon Rijal, soalnya nomor lu gak aktif-aktif, katanya lu juga berhenti kerja?, kenapa? Si gendut (Badi) mecat elu? Dia bilang lu ama si gendut berantem y?"
"iy, hp ku ancur gara-gara itu, makanya gak bisa di telpon, aku ngundurin diri emang, eh kok jadi kayak tukang gosip kau banyak tanya?" gerutu Revan karena banyak pertanyaan dari temannya itu.
"hahaha!! Teman habis kena musibah wajarlah bertanya, terus apa planing lu sekarang?"
"Belum tahu, nyari kerjaan baru lah aku, cuma belum kepikiran apa, Al, bisa aktifin m banking kan tempat mu?"
Revan ingat ponselnya belum terdaftar m-banking, di jaman yang serba online ini merepotkan untuknya kalau harus selalu pegi ke mesin Atm dulu untuk tarik tunai.
"Bisa, lu kirim aja type hp,nomor KTP, sm nomor Rekening lu, mumpung gua di bank nih"
"ok, ntar ku kirim, udah dulu lah, mw cari makan dulu aku, ntar kabari aja kalau udh bisa m-bankingku" Revan mulai beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuk di lemarinya, sudah mulai ada yang demo di dalam perutnya.
"ok, lu kabari gua kalau ada apa-apa bre"
"siip" jawab Revan seraya menutup sambungan telponnya, dia melihat ada beberapa lagi panggilan masuk tak terjawab dari beberapa nomor, tapi dia mengabaikannya dan segera menuju kamar mandi.
******
"eh.. Ini... Beneran aku?" Revan menatap cermin di lemarinya sambil membolak balikkan badannya.
Dia baru menyadari perubahan yang terjadi pada tubuhnya, sebelumnya tubuhnya terbilang kurus jangkung, dengan tinggi 175 dengan berat 55 kg, dia juga sering di panggil si jangkung saat kuliah dulu.
Sekarang tubuhnya terlihat lebih berisi, otot-ototnya lengan dan kakinya kencang, dadanya terlihat bidang, tidak terlihat tulang-tulang rusuk yang biasa sesikit terlihat di sana, perut sixpacknya sempurna.
Singkatnya, tubuhnya yang sekarang adalah tubuh ideal yang diidamkan banyak pria. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, Prosposional.
"Noir, apa ini efek perubahan status?"
__ADS_1
Revan memperhatikan wajahnya yang terlihat lebih muda seperti saat usianya 22 tahun, hanya saja lebih tampan dan lebih maskulin yang sekarang. Bukan bermaksud narsis, tapi memang itu kenyataannya.
...[Iya, Perubahan Fisik di dasarkan pada Tubuh Dewa Perang dan dengan penyesuaian beberapa aspek tubuh tuan yang sekarang]...
"terus, kalau status ku di tingkatkan dengan point, apa bentuk fisiknya akan berubah?"
Revan membayangkan tubuhnya berubah seperti tubuh binaragawan yang penuh dengan otot.
...[Tidak, status point akan mempengaruhi kekuatan, tapi tidak merubah bentuh tubuh tuan]...
Revan sedikit lega mendengarnya. Setelah dia bersiap, dia pergi keluar kosnya untuk mencari makan.
******
Sore menjelang malam, Revan yang tidak ada kerjaan memutuskan untuk menikmati hari.
Berjalan di sepanjang jalan yang ramai, Revan memiliki perasaan ringan yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Dia tidak bisa menjelaskan tentang moodnya, mungkin karena beban kerja dan beban hidup (Dhea) sudah tidak ada? Dia tidak ambil pusing, dia hanya akan menikmatinya sementara ini.
Tepat saat dia akan masuk ke sebuah mini market, dan tatapannya tertuju sudut halaman parkir mini market tersebut.
Ada seorang gadis kecil berpakaian compang-camping, berusia sekitar tujuh atau delapan tahun.
Revan mendekati gadis kecil tersebut.
Gadis kecil itu tidak terawat, rambut hitamnya yang panjang sangat kotor dan berantakan. Kakinya melengkung tidak normal, dan tampaknya mengalami atrofi(google) parah.
Saat ada orang lewat didepannya, gadis kecil itu merangkak berdiri dan mengguncang mangkuk itu dengan lembut. Ada suara koin berdenting terdengar.
Revan menunduk, dan tatapannya bertemu dengan gadis kecil itu. Meskipun dia kotor dan bahkan mengeluarkan bau yang menyengat, matanya sangat jernih.
"kak, bantu kak!” Gadis kecil itu berkata, penuh harap, sambil menyodorkan mangkuknya.
Revan yang melihat pemandangan yang menyedihkan itu, mengeluarkan uang dua lembar uang berwarna merah dari dompetnya, dan memasukkannya ke dalam mangkuk.
"Terima kasih banyak kak. Semoga rezeki kakaknya selalu di lancarkan" Gadis kecil itu membungkukkan badannya berkali-kali. Dia terlihat sangat gembira.
Revan yang tersentuh melihatnya gadis kecil itu gembira mengambil lgi 2 lembar uang berwarna biru, "sudah mau malam, cepat pulang kerumah, dan suruh ibumu masak yang enak"
Revan benar-benar merasa bahwa gadis kecil itu sangat menyedihkan. Dia masih sangat muda tetapi harus menderita seperti ini.
"Rumah?"
Tubuh mungil gadis kecil itu bergetar sedikit, dan matanya yang cerah menjadi hampa. Dia menundukkan kepalanya dan bergumam sendiri "aku sudah gak punya rumah"
Walaupun pelan, Revan masih bisa mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"kamu gak punya rumah? Orang tua mu?" Revan sedikit bingung dan gugup, dia takut salah bicara pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala dan kemudian tersenyum sayu, "kakak orang baik, makasih kak"
Setelah itu, dia menggerakkan tubuh mungilnya dengan susah payah dan merangkak pergi.
Revan menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk, akhirnya dia memutuskan untuk diam-diam mengikuti gadis kecil itu...
******
Gadis itu akhirnya merangkak memasuki gang yang agak gelap, di mana ada seorang pria muda sedang menunggunya.
Melihat gadis kecil itu, pemuda itu memasukkan pisau yang sedari awal dia mainkan ke sakunya dan berjalan ke arah gadis itu. Dia melihat ke bawah ke mangkuk yang dia gunakan untuk mengemis.
"Heeh, dapat lumayan ya?" ucap pria itu mengambil lembaran-lembaran uang dari mangkuk, dia sedikit melirik gadis kecil yang tampak ketakutan itu, seringai muncul di wajahnya.
DUUAAKK!!!!
Tanpa peringatan apa-apa, dia menendang gadis kecil itu ke samping.
"Ini masih sore bangsat!! Ngapain kau balik kesini!!?? Kau pikir ini sudah banyak hah!!!? Atau kau sudah gak mau kerja lagi, HAH!!? MAU DI HAJAR!?"
Pemuda itu memasang wajah galak. Dia menggulung lengan bajunya dan bergegas menjambak rambut gadis kecil itu dan mengangkat seluruh tubuhnya ke udara.
"Ah aw... Sakitt!!! Sakit!!! Ampunn... Sakit.."
Kakinya terangkat dari tanah, dan rasa sakit yang hebat membuatnya menangis. Gadis otu memohon.
"Kenapa kau menangis!? Sudah gak mau kerja kau kan!?"
Pria muda itu menamparnya dengan tangannya.
PLAKK!!
PLAKK!!
Dia memukulnya lagi. Tamparan keras mendarat di wajah gadis itu secara berurutan, tanpa mempedulikannya sama sekali.
Gadis kecil itu menangis menahan sakit, air mata mulai mengalir dari matanya.
...__________...
Like, Koment, Gift, Vote, nilai ⭐⭐⭐⭐⭐
+ Favorit biar gak ketinggalan Up
Biar nambah semangat
__ADS_1
Boleh kasih kritik dan saran juga
Follow kalau kalian suka ya 😁