Noir Sistem

Noir Sistem
9


__ADS_3

Pinggir jalan depan mall.


"Revan?"


"..." Revan terpaku sejenak mendengar suara yang memanggil namanya dari arah belakang. Dia mengenali pemilik suara itu, seseorang yang tidak ingin lagi dia kenal.


Revan pun berbalik dengan wajah datar.


"Dhea" Revan menyapa dengan acuh tak acuh.


Seorang wanita cantik berdiri di hadapannya. Dia adalah Dhea Rahma, wanita yang menjalin hubungan dengannya selama 3 tahun tapi harus kandas karena orang ketiga.


Tidak, mungkin bukan karena orang ketiga, mungkin karena dirinya tidak punya apa-apa.


"eh, beneran kamu, ngapain disini? Habis belanja?" ada nada sedikit merendahkan saat dia melirik totebag kertas kecil yang ada di tangan Revan.


"iya, hp ku rusak, jadi harus ganti" Revan sedikit mengangkat totebagnya.


"hp apa? Aku juga habis belanja hp, di beliin sih sama Rangga, harganya 20 jutaan loh" Dhea menunjukkan Iphone 14 plus di tangannya.


"bagus lah, kamu udah lama mau hp itu kan? Hp yang ku beli cuma hp murah, cukup buat kerja lah" jawab Revan sedikit tersenyum.


"kalau gitu aku duluan ya, bye" ucap Revan sambal melambai pelan dan bersiap pergi.


Dhea tercengang dengan reaksi Revan, sangat berbeda dengan kemarin, dia sangat emosional saat bertemu dengan mereka kemarin di hotel. Bahkan Revan sempat hampir memukul Rangga tapi tidak sampai karena di tahan oleh karyawan hotel yang kebetulan berada disana.


Dia awalnya ingin menyombongkan dan menegaskan pada Revan kalau tindakkannya meninggalkan Revan adalah hal yang benar, dia ingin menunjukkan pria seperti apa yang harusnya menjadi pacarnya, agar dia bisa membandingkan kesenjangan di antara mereka.


Dia berharap akan melihat Revan memohon dan merengek kepadanya untuk kembali, dan menjanjikan ini itu kepadanya. Tapi sikap Revan yang seakan tidak perduli membuatnya marah. Harusnya tidak seperti ini!


"Rev, jangan pura-pura! aku tahu kamu masih punya perasaan sama aku! Aku tahu kamu marah sama ku!" Dhea mendekati Revan dan sedikit mengeraskan suaranya, sehingga beberapa orang yang lewat menoleh kearah mereka.


Revan yang tadinya sudah ingin beranjak pergi berhenti mendengar suara Dhea, tatapannya kosong ke bawah.


Merasa Revan mulai merenung memikirkan dirinya, Dhea melanjutkan "Aku bisa lihat jalan hidup kita kedepannya, kamu cuma karyawan, mungkin suatu saat bisa sukses, tapi kapan? 10 tahun? 20 tahun? Bahkan sekarang pun kamu belum punya rumah. Aku yakin kamu bisa ambil kredit perumahan, tapi kapan lunasnya? 30 tahun? Dan kalau aku sama kamu dalam 30 tahun itu nanggung hutang? Aku gak mau!"


Revan berbalik menghadap Dhea dengan muka datarnya lagi, "jadi?"

__ADS_1


"jadi logis kalau aku ninggalin kamu buat masa depan aku!" Dhea menegaskan pembenarannya.


"iy, itu logis, dan kamu sudah melakukan apa yang kamu anggap benar, selamat."


Revan tersenyum ketika menjawab Dhea, seoalah apa yang di lakukan Dhea sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. "Dan, terima kasih telah memeberi ku pelajaran hidup yang berharga."


Dhea kambali tercengang, dimatanya Revan seperti orang asing, normalnya orang akan marah, setidaknya meluapkan emosinya, tapi Revan.. Dia pura-pura? atau beneran tidak perduli?


BRUMM! BRUM!!


saat itu sebuah mobil sport lamborgini Aventdor menepi di sebelah Dhea.


Seorang pria turun dari kursi kemudi langsung menghampiri dan melingkarkan lengannya ke Dhea. Dari penampilannya orang sudah bisa menebak kalau dia dari berasal dari keluarga kaya.


"sayang, maaf nunggunya lama, antri di parkiran tadi" ucap pria itu, kemudian memandang Revan dengan tatapan bermusuhan.


"dia siapa?"


"Dia Revan, yang kemarin.. Mantan ku" jawaban Dhea sengaja menggantung dan menekan kan kata 'mantan' sambil menempelkan kepala di bahu pria itu, dia ingin memamerkan kemesraannya pada Revan.


Dengan sedikit memperhatikan, Revan bisa tahu bahwa tuan muda ini hanya pemuda manja yang hoby minum, dan seorang playboy kelas kakap.


Rangga yang menyadari kalau laki-laki didepannya adalah Revan, seorang kurir maknan yang kemarin membuat keributan di depan kamar hotelnya langsung melebarkan matanya.


"ehem, kita belum kenalan secara benar, nama ku Rangga" ucap Rangga mengulurkan tangan, tanpa menyembunyikan kesombongan pada suaranya.


"Revan" jawab Revan singkat tanpa ekspresi, dan tidak menyambut uluran tangan Rangga untuk berjabat tangan.


"ehem, sory bro, kemarin aku gak tahu kamu mantannya Dhea, harusnya aku biarin kalian ngobrol dulu kemarin" ucap Rangga sedikit berbasa basi.


Revan hanya mengangkat bahunya tidak peduli, "sorry, salah ku kemarin emosi".


Melihat sikap Revan yang tidak peduli membuat Rangga ingin memprovokasinya lebih, dia ingin menunjukkan dominasinya terhadap mantan kekasihnya ini.


"yank, udh biarin aja dia, yuk kita lanjut aja belanjanya." Dhea bergelayut manja pada Rangga.


"ntar dulu beb, dia kan mantan kamu, biarin aku kenalan dulu sama dia" jawab Rangga sambil menggeser mundur posisi Dhea ke belakangnya.

__ADS_1


Sekarang posisi Rangga dan Revan saling berhadapan, Rangga berdiri dengan angkuh seolah-olah dia seorang pemenang.


"Rev, kamu sekarang kerja di toko kan? Gimana kalau kerja sama aku? Ku jamin gaji kamu di atas dari kerja mu yang sekarang." ucap Rangga, tentu saja itu tawaran itu punya maksud menunjukkan seberapa jauh jarak antara mereka.


"iya Rev, paling gak kamu gak perlu capek-capek keliling antar makanan." Dhea menambahkan dengan pongahnya.


"Gak tertarik"


Revan menjawab singkat dan berbalik.


Mendapat reaksi yang tidak diinginkan, Rangga menyipitkan matanya dan memancarkan cahaya dingin.


"tunggu!" Rangga mendekati Revan, kemudian berbisik "Aku tidur sama cewekmu kemarin, gak nyangka bodynya luar biasa, aku aja sampai kecanduan, aku gak habis pikir kenapa kau cuma makai dia sekali? Hehe.." Rangga menunjukkan sifat aslinya.


Mendengar itu, Revan melirik Rangga sambil mengerutkan keningnya, "selamat deh."


Rangga membeku mendengar jawaban Revan yang sama sekali diluar dugaannya. Mendengar jawaban datar dan terdengar asal-asalan itu dia tiba-tiba merasa gagal dan frustasi.


"kau gak marah?" Dia menggertakkan giginya dan menarik bahu Revan.


Sekali lagi Revan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan bodoh dari pria didepannya ini, "Dia cewek mu sekarang, trus kau ceritain sendiri aib kalian, kau waras? Lagian kayak kau bilang tadi, aku sudah pernah ngerasain juga, jadi selamat udah nikmati bekas ku."


"....."


Baru sekarang Rangga sadar kalau Dhea adalah pacarnya sekarang, dan kata-katanya tadi telah di balikkan oleh Revan dengan sangat baik, sehingga dia merasa dihina dan direndahkan karena menikmati barang bekas, kemarahan melonjak di dadanya.


Dengan satu gerakan dia meraih kerah baju Revan dan mencibir,"kau bilang apa tadi bangsat!?"


____________________


Like, Koment, Gift, nilai ⭐⭐⭐⭐⭐


Biar nambah semangat


Boleh kasih kritik dan saran juga


Follow biar gak ketinggalan updatenya

__ADS_1


__ADS_2