Noir Sistem

Noir Sistem
19


__ADS_3

DOR!!!


SAT!


Saat parang Revan hendak turun dan membelah kepala pria botak itu menjadi dua, sebuah suara tembakan yang menusuk telinga meledak seperti guntur tiba-tiba, menyebabkan semua orang terdiam.


Parang Revan langsung berhenti. Itu tergantung di udara beberaca cm di atas kepala pria botak itu seperti sabit malaikat maut.


Melihat parang yang haus darah, hanya beberapa senti diatas kepalanya, pria botak itu membelalakkan matanya, wajahnya pucat pasi, mata terbuka lebar. Bau tajam dan menyengat muncul dari selangkangannya, badannya sedikit bergetar mulutnya sedikit berbusa dan dia pingsan, benar-benar pingsan karena ketakutan.


BZZZ!!!


"JANGAN BERGERAK!!!"


Terdengar suara statis dari pengeras suara diikuti oleh suara keras seorang wanita.


Revan menoleh dan melihat bahwa jalanan telah diblokir oleh lima atau enam mobil polisi. Dua mobil hitam lapis baja berbaris di garis depan blokade. Ada lebih dari 20 polisi anti huru hara dengan pakaian dan peralatan taktis memegang perisai mereka. Mereka tampak mengintimidasi saat melakukan formasi mereka. Ada juga polisi kriminal biasa yang memegang senjata api dengan moncong yang diarahkan ke arahnya.


"Kamu punya waktu lima detik untuk menjatuhkan senjata mu! Jangan bertindak bodoh, kamu sudah di kepung!"


Seorang polisi wanita menurunkan senjatanya yang mengarah ke langit dan berbicara melalui pengeras suara dialah yang melakukan tembakan peringatan. Dia berbicara tanpa ekspresi saat dia menghitung mundur, "Lima, empat, tiga…."


Dia memiliki fitur yang segar, bersih, dan cantik serta sosok yang tinggi, atletis, dan bersemangat. Rambut pendeknya halus dan melingkar di belakang telinganya. Kaos seragam polisi hitamnya tidak bisa menyembunyikan sosok langsingnya.


Revan ingat bahwa polisi wanita ini adalah wanita yang bertabrakan dengannya di kantor polisi sebelimnya.


Klang!


Bunyi parang yang di lemparnya tanah.


Meskipun kekuatannya meningkat, dia tidak akan melawan petugas hukum. Dia mundur selangkah dan mengangkat ke 2 tangannya setinggi dada untuk menunjukkan kalau dia tidak bersenjata.


Dua petugas polisi khusus serta polisi wanita bergegas menghampirinya. Satu menempatkan dirinya di sebelah kiri Revan dan yang lainnya di sebelah kiri saat mereka menahannya.


Melihat tanah yang penuh dengan orang-orang yang terluka dan mengerang kesakitan, alis hitam Salistyawati menjadi cemberut.

__ADS_1


"hmph, kelahi di jalan, bikin rusuh, menganggu ketertiban umum, melukai orang-orang, bikin masyarakat resah! Bawa mereka semua!" ucapannya penuh kebencian.


"Ya bu" jawab seorang polisi.


Revan tidak ingin menjelaskan apa pun sekarang, karena dia tahu itu tidak akan ada gunanya. Polisi tidak mau mendengarkan kesaksiannya untuk sekarang.


Pria paruh baya yang mengenakan setelan barat dan sepatu kulit hanya berdiri setelah Revan, dan kelompok pria botak itu dibawa pergi oleh polisi.


"Cari info tentang anak itu. Carikan juga dia pengacara. Anak itu milik ku" senyum tipis terbentuk di wajah pria paruh baya itu.


"Baik Bos!" Gin menjawab dengan hormat.


******


Keesokan harinya, di ruang interogasi polis


"Nama?"


"Revan"


"Umur?"


"Kenapa kau melukai mereka?"


"Itu pembelaan diri!"


Revan, dengan borgol, duduk di kursi interogasi. Dia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Salistyawati.


"Pembelaan diri?"


Salis mendengus dan melemparkan laporan dari rumah sakit ke atas meja. "Dua puluh luka ringan dan delapan luka serius. Semuanya sekarang terbaring di bangsal rumah sakit. Kau bilang padaku ini pembelaan diri yang sah? Apa dasar mu bilang begitu?"


"terus apa? gak ada alasan ku seorang diri bikin masalah sama puluhan orang" dengus Revan mulai kesal karena merasa disudutkan.


"kalau kau yang di gangggu kenapa gak langsung lapor polisi, ini negara hukum, gak bisa kau main hakim sendiri"

__ADS_1


"huh, kalian ada sistem keamanan CCTV di seluruh kota, kenapa gak cek disana. Masuk ke sistem dan cari sendiri apa yang ku bilang." Revan mendengus menenangkan diri.


"gak usah ngajarin orang! Gak ada cctv di tempat kau mukulin orang - orang itu" Salis menopang dirinya dengan kedua tangan di atas meja interogasi dan menatap Revan.


Revan mengangkat alis, "tapi ada saksi. Pemilik warung bisa membuktikan bahwa saya terpaksa membela diri" ucapnya.


...__________...


...[Status Pengguna]...


Nama : Revan Alamsyah


Ras : Manusia (Tubuh Dewa Perang)


Kekuatan : 80/100


Kelincahan : 60/100


Kecerdasan : 73/100


Karisma : 50/100


misi : -


point : 155


Saldo : 912,445,000


...__________...


Like, Koment, Gift, Vote, nilai ⭐⭐⭐⭐⭐


+ Favorit biar gak ketinggalan Up


Biar nambah semangat

__ADS_1


Boleh kasih kritik dan saran juga


Follow kalau kalian suka ya 😁


__ADS_2