Noir Sistem

Noir Sistem
2


__ADS_3

"aahh.. Haloo..." dengan canggung Revan melambaikan tangannya menyadarkan kelompok yang melongo di depan pintu ruangannya.


Revan melihat keterkejutan, kebingungan, dan keraguan di mata mereka.


Di pimpin oleh orang berjas putih itu mereka perlahan mendekat.


"Pa... Pa.. Pasien mengalami syok septik, usus pecah, perdarahan, dan kerusakan parah pada organ dalam, patah tulang di sebagian besar tubuh." ucap seorang perawat wanita yang ikut masuk kedalam membacakan diagnosis pada ceklist yang terjatuh di dekat pintu, suaranya sedikit tergagap membaca karena syok.


"tidak mungkin, kalau separah itu gimana bisa di sudah bangun?" seorang perawat laki-laki menimpali sambil mengambil ceklits tersebut dan membolak balik kertas yang ada disana, dia ikut tercengang membaca informasi yang ada di dalamnya.


"apa mungkin ada kesalahan diagnosis?" seorang perawat wanita ikut berkomentar.


"Mustahil!! Aku, Rena dan dokter Andi yang menerimanya di IGD tadi malam, yang jaga malam juga lihat gimana parahnya dia!" sahut seorang perawat laki-laki sedikit emosi.


"ok..ok.. gak perlu marah-marah keles" jawab perawat wanita itu sambil mengangkat kedua tangannya tanda mengalah, "terus jelaskan gimana bisa kondisinya begitu? kita aja baru mau ganti sift, tapi dia sudah... Sehat..? kali..." jawabnya sambil menatap Revan dengan tatapan bingung.


"itu...." perawat laki-laki itu tidak bisa menjawab karena dia dan semua yang ada di ruangan tersebut punya pertanyaan yang sama.


Sementara para perawat berdebat, orang berjas putih itu menghampiri Revan, ada nametag yang tertulis Andi Mahendra,Sp.PA, dia memperhatikannya dengan seksama, mengangkat tangan dan kaki, memeriksa kepala, bahkan mengangkat baju Revan untuk melihat tubuh Revan bagian dalam, ada beberapa perawat juga yang ikut membolak balik tubuh Revan.


Mendapat perlakuan itu Revan tidak bisa mengatakan apa-apa karena merasa sangat canggung.


CLIK!


...[Selamat Anda mendapat 30 Point]...


...[Selamat Anda mendapat 55 Point]...


...[Selamat Anda mendapat 40 Point]...


...[Selamat Anda mendapat 65 Point]...


...[Selamat .............................]...


Revan sedikit tersentak karena Notif layar hijau yang tiba-tiba muncul lagi didepannya, dan berisi pemberitahuan tentang point yang dia dapat,dan itu terus naik, dia sedikit mengerutkan alis matanya melihat notif tersebut.

__ADS_1


"ah maaf tiba-tiba menyentuh mu, Apa ada yang sakit atau terasa tidak nyaman?" dokter itu bertanya karena dia juga sedikit terkejut dengan reaksi Revan.


Walaupun dia sangat terkejut dengan kondisi Revan karena dia tahu persis seperti apa kondisi Revan saat masuk IGD, dia berusaha tetap profesional dan berusaha tidak bertindak berlebihan.


"tidak dok, cuma agak gimana gitu tiba-tiba di pegang, haha..." Revan tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"ekhm..ehemm.." dokter tersebut sadar dengan tindakkannya berdehem sebentar sambil kembali berdiri tegap, "jujur saja ini membuat saya syok dan terkejut, dari pengamatan saya, kamu sudah sembuh sepenuhnya.." dokter Andi berhenti sejenak dan ikut menggaruk kepalanya yang lebih kearah pusing daripada gatal, "seharusnya dengan kondisi parah saat kamu masuk, setidaknya perlu enam sampai delapan bulan untuk pulih" lanjutnya.


"Haah! Separah itu?" Revan yang yang mendengar itu tekejut mengetahui separah itu kondisinya, pantas saja sikap mereka sangat heboh, dia juga akan bertindak sama jika jadi mereka.


Para perwat hanya mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan pendapat yang di sampaikan dokter Andi.


"untuk lebih jelasnya mengenai kondisi kamu saya ingin melakukkan MRI secara keseluruhan, apa kamu setuju?" tanya dokter Andi lagi.


Revan tampak berpikir "tapi dok, saya gak punya uang, kalau memang menurut pengamatan dokter saya sudah sembuh, apa gak bisa langsung keluar saja?"


"uh.. Untuk biaya jangan khawatir itu semua gratis, saya dokter yang terima kamu waktu masuk, jadi tanggung jawab saya untuk memastikan kamu dalam kondisi terbaik saat keluar" jawab dokter Andi tanpa ragu, walaupun alasannya untuk tanggung jawab terhadap pasien, namun alasan sebenarnya adalah dia ingin mempelajari dan memastikan sendiri apa yang membuat Revan bisa sembuh secara tidak masuk akal dari cidera parah yang berpotensi mematikan.


Para perwat yang mendengar ini juga sedikit terkejut dengan keputusan sang dokter, pasalnya biaya MRI sendiri bervariasi, tapi untuk MRI secara keseluruhan sudah bisa dipastikan itu sangat mahal.


"sudah terima saja, ini juga merupakan bentuk totalitas pelayanan rumah sakit kami pada pasien, jadi jangan merasa gak enak" bujuk seorang perawat wanita yang melihat keraguan Revan.


"ya, sebaiknya terima saja, sekalian mastiin kondisi kamu juga.."


"bener, terima aja..


Beberapa perawat pun mulai membujuk Revan, karena meraka juga sangat penasaran dengan hasilnya.


"Baik lah dok, saya mau" di bawah bujukkan para perawat, Revan menyetujuisaran dokter Andi tersebut.


"bagus, yang tugas jaga pagi ini, tolong siapkan ruangan ya, sejam lagi kita akan lakukan tesnya"


"baik dok!"


Dokter Andi memberikan beberapa arahan tambahan pada perawat, kemudian gelombolan itu pergi keluar setelah berpamitan ringan dengan Revan.

__ADS_1


Setelah rombongan itu pergi, Revan kembali fokus pada layar hologram hijau didepannya yang menyatakan pointnya sudah mencapai 1235 point.


"Siste... Noir, kenapa poin ku bisa sampai seribu poin? Dan kenapa tiba-tiba aku dapat point? Dan yang terpenting, bagaimana tubuhku bisa sembuh secepat ini?"


...__________...


...[Status Pengguna]...


Nama : Revan Alamsyah


Ras : Manusia (Tubuh Dewa Perang)


Kekuatan : 20/100


Kelincahan : 15/100


Kecerdasan : 15/100


Karisma : 20/100


misi : -


point : 1235


Saldo : -


...__________...


Like, Koment, Gift, Vote, nilai ⭐⭐⭐⭐⭐


+ Favorit biar gak ketinggalan Up


Biar nambah semangat


Boleh kasih kritik dan saran juga

__ADS_1


Follow kalau kalian suka ya 😁


__ADS_2