
Empat bulan berlalu, setelah semua ku lalui dengan kecewa, stres, penat, lelah, sampai rasanya aku ingin menyerah.
Aku mengundurkan diri dari management, aku keluar dari dunia modeling dan sejenisnya, meskipun banyak hal yang aku lakukan sebelum mengundurkan diri, brand make up meminta waktu satu bulan untuk katalog baru mereka, sementara itu pameran peragaan busana di Malaysia harus tetap berjalan dengan aku sebagai peraga busananya, belum lagi kesehatan ibu yang tak luput dari perhatian ku, bang Fahri tidak bisa kembali secepat yang diperkirakan olehnya.
Mau tidak mau, Ares sering dipintai tolong oleh bapak, dia menjadi sering datang ke apartemen, ya Aku membawa orang tua ku ke Jakarta, alasan pertama karena aku tidak bisa bolak balik Jakarta Surabaya setiap hari, aku juga tidak bisa memantau ibu dari jauh, alasan mengapa Ares? karena ternyata, Ares memang berdomisili di Jakarta, kejadian di Surabaya karena Ares ada kunjungan kerja ke sana.
Hal lain yang tak ku ketahui tentang Ares adalah, laki-laki itu memiliki rumah dikawasan elit di dekat apartemen ku, Ares ternyata adalah seorang arsitek di perusahaan yang beberapa tahun ini dia kelola sendiri, pantas bapak bilang Ares salah gaul.
Beberapa pesan di ponsel ku sudah bermunculan, terakhir adalah telpon dari ibu, yang menyuruh ku untuk pulang dan menemui kedua orang tua Ares yang datang berkunjung untuk membicarakan pernikahan antara aku dan anak laki-laki mereka.
Sesampainya aku di apartemen, BMW X7 berwarna hitam itu menyapa ku, aku tau siapa yang datang, mobil yang sama yang terparkir di garasi Ares tiga tahun lalu di Surabaya.
Tarikan nafas ku terasa berat, Ya Allah bantu aku.
Sampai di depan pintu apartemen, ku buka pintu dengan barcode yang memang beraplikasi di ponsel ku.
Cklek...
__ADS_1
Pintu terbuka, dan semua mata menatap ke arah ku.
"Assalamualaikum." salam ku dengan nada dingin aku tak menyapa selain salam.
"Pak, Bu sudah Asar, Za solat dulu." ucap ku dan berlalu menuju kamar ku.
Selesai solat aku masih saja tidak ingin keluar dari kamar, rasa sesak ku masih saja terus berlanjut, meski pada saat acara lamaran aku bisa mengenakan topeng, dan menutupinya dari semua orang.
Ku putuskan untuk bergabung dengan semua orang, sampai saat calon ibu mertua ku, oh ya, bisakah ku sebut calon mertua? Entah aku pun masih tak yakin.
"Zana, bagaimana suka dengan gaun yang ini atau mau yang ini saja." tanya calon ibu mertua
"Apa saja yang terbaik menurut kalian." jawab ku singkat sambil tersenyum.
"Za, ini pernikahan mu, sekali seumur hidup, kamu yang harus memutuskan." ibu menatap ku, aku tau maksud mu Bu, tapi aku tidak bisa berpura pura lebih banyak lagi.
"Benar kata ibu mu Za, ayo silahkan mana yang menurut mu bagus, Aisyah waktu itu begitu antusias saat mempersiapkan pernikahannya, lantas mengapa kamu seperti ini Za, kamu pasti sungkan." calon ibu mertua ku mengucapkan kata-kata pamungkas yang membuat hati ini nyeri.
__ADS_1
Telak, nama Aisyah lagi, meski kisahnya demikian, tapi akulah yang merasa paling bersalah disini, Aisyah menjanda karena ku, karena perbuatan laki-laki ini, iya laki-laki yang berada di hadapan ku, yang akan memperistri diriku.
"Za tidak sungkan, hanya saja, pernikahan ini mengaitkan dua keluarga, Za juga mau bapak dan ibu, Tante dan keluarga bisa ikut berpartisipasi, lagi pula tidak perlu gaun mewah, toh pernikahan ini hanya di hadiri keluarga saja." jawab ku.
"Baiklah jika itu mau mu nak, mama tidak bisa memaksa." ucapnya.
Terdengar getir saat dia menyebut nama mama, sementara aku menyebutnya Tante, seperti dentuman dalam dada ku, sesak.
"Gaun yang putih ini bagus dan sederhana, bagaimana Za? ibu suka dengan yang ini." ucap ibu ku.
"Iya Za, bagus mau ya, mama juga suka." ucap ibu mertua ku.
Gaun putih panjang dan sederhana namun elegan itu yang akhirnya memikat mata dua wanita itu, dan aku hanya mengangguk.
Dua Minggu lagi pernikahan ini akan di segerakan, segala keperluan ini dan itu di urus oleh ibu dan mertua ku, meski ibu dengan keterbatasan karena sekarang harus dengan kursi roda, tapi dia tidak kalah semangat dengan calon besannya, kadang aku suka tersenyum melihat dua wanita paruh baya itu antusias.
Selesai solat magrib yang di imami calon papah mertua ku, kami makan malam, aku hanya bisa diam dan menatap makanan ku dengan malas, nafsu makan ku hilang entah kemana, saat menatap semua yang ada, ketakutan ku tiba-tiba muncul, rekaman kejadian di malam itu kembali melintas, genggaman tangannya yang begitu kasar menarik ku, sentuhannya yang menjijikan pada bibir ku, semuanya masih terlintas di kepala ku, sampai saat aku bertemu dengan kedua matanya, sendok ku jatuh dan aku ingin muntah.
__ADS_1
"uek... uek.." tak dapat ku tahan, aku hanya bisa berdiri lalu berlari menuju kamar mandi, setelah selesai, aku meminta maaf dan meminta masuk terlebih dahulu menyudahi semua perbincangan di ruang makan.
Maafkan hamba ya Allah, terlalu menyakitkan dan menjijikan, mampukah hamba menjalani semua ini, hidup dengannya mengabdikan seluruh hidup hamba pada dia, Ya Allah aku lebih baik terkurung dalam gelap seumur hidup dari pada begini, berikan hamba jalan keluar ya Allah, jika memang harus Ares maka lunturkan rasa benci berlebih ini padanya.