
Pancaran sinar mentari yang hampir tengelam itu berpamitan dengan hangatnya, berlalu dengan sangat santun tanpa menuntut lebih cepat atau lebih lama terbenam, mengikuti waktu dan ketetapan sangat pencipta, belajar dari hal sekecil itu memiliki dampak yang begitu besar untuk ku.
Jam di tanganku menunjukan pukul tujuh malam.
Kini aku sudah berdiri di teras rumah, rumah Ares tepatnya, cerita bagaimana aku tinggal di rumah ini sekarang tak lain dan tak bukan adalah paksaan dari bapak, terlebih sekarang bapak dan ibu kembali ke Surabaya, kondisi ibu ku yang sudah lumayan sehat, membuat tekad bapak semakin kuat untuk pergi dari kota ini.
"Assalamu'alaikum." ucap ku.
"waalaikumsalam." ucap beberapa asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Ares.
"Bu, sudah di tunggu bapak di ruang makan. " ucap Nadia.
"Bilang sama dia, jangan tunggu saya, saya harus mandi dan sholat isya terlebih dahulu, jika ingin makan silahkan saja." ucap ku datar.
"Baik bu, akan saya sampaikan." ucapnya sambil menunduk dan mengepalkan tangan.
__ADS_1
Aku tak menghiraukan Ares atau pun Nadia, aku memilih mandi, dan melakukan kewajiban ku, setelah mengantarkan Gadis pulang dan sedikit mencari buku-buku baru untuk sumber referensi ku dalam belajar, aku sempat bertemu dengan pak Aditya, membahas beberapa pekerjaan yang di tawarkan, dan juga Zafran, kalian tau bagaimana kisah singkat ku dengan adiknya itu kan? kisah cinta yang tulus tapi ditolak dengan begitu dingin.
Setelah selesai dengan segala urusan ku, aku tidak kemana-mana lagi, aku sudah lelah dan memilih untuk tidur, namun ketika ku tarik selimut, seseorang mengetuk pintu kamar ku, dengan langkah gontai, aku pun membuka pintu, di depan pintu Nadia berdiri dengan sebuah nampan berisikan makan malam.
"Ada apa Nad?" selidik ku pada nampan yang berada di tangannya.
"Pak Ares menyuruh saya membawakan ini untuk ibu, bapak bilang ibu harus makan." ucapnya.
Aku menatap nampan yang dibawanya, lagi dan lagi, aku malas berdebat dengan laki-laki itu, aku mengambil nampan yang di bawa oleh Nadia.
Setelah Nadia pergi, aku keluar dari kamar dan menuju dapur, makanan yang tadi di berikan pada ku, ku masukan ke dalam lemari pendingin, setidaknya besok pagi masih bisa ku makan dan tak mubazir.
"Oh...begitu cara memperlakukan makanan? saya kira kamu akan menghargai pemberian orang lain?" suara Ares dengan lantang mengusik gerak ku, aku menatapnya mengalihkan fokus ku, ketika fokus ku sudah di kuasai oleh Ares, tatapan ku memulai perang kembali.
"Za kenyang, dan Za tidak ingin makan apapun, siapa suruh sok tau." ucap ku ringan namun masih bisa terlihat sinis.
__ADS_1
"ya, sudah kenyang karena makan malam dengan bos lama, tertawa bersama, dan indah sekali hari mu di hari ini kan?" ucapnya dengan tawa sumbang, penuh emosi.
"Ya, sepertinya Za juga akan punya kesibukan baru di akhir minggu ini, dan Za rasa akan membuat kamu lebih leluasa di rumah ini, karena Za rasa kehadiran Za di sini hanya membuat emosi kamu semakin tinggi." Jawab ku pongah, dia hanya terdiam, ketika ku melangkahkan kaki meninggalkannya.
"Zayana!" teriaknya keras sambil menarik tangan ku, perih ku rasa saat genggaman tangannya semakin keras di lengan atas ku.
"Lepas!" ucap ku sambil menatap matanya dengan tegas, namun bukan kebebasan yang di berikan, dia malah semakin berani menatap mata ku.
"Mau kembali ke dunia modeling? mau kembali bekerja, bantah saja semua perintah ku, ingat satu hal yang tidak bisa kamu pungkiri zayana, kamu istri ku, surga mu ada di tangan ku, dan keinginan ku adalah perintah untuk mu." Kata-katanya tertahan, aku tau dia menahan emosinya, aku hendak menimpali ucapannya, namun tarikan kuat yang membawa ku tak berjarak dengannya membuat ku enggan berbicara, aku hanya bisa terfokus pada matanya, aku takut sesuatu yang tak ku inginkan terjadi.
Dengan terpaksa karena dia tak juga melepaskan tangannya dari kedua lengan ku, akhirnya aku berbisik, sialnya air mata ku nyaris jatuh karena emosi ku yang sepersekian detik ikut memuncak.
"Lepas! Ares, jangan paksa aku untuk berteriak!" ancam ku.
"Ar... " Aku pun terdiam, dengan air mata yang begitu saja luruh, karena rasa benci, takut dan amarah ku menjadi satu.
__ADS_1
"Diam dan turuti permintaan ku, atau aku akan melanjutkan kecupan tadi menjadi hal yang tidak kamu inginkan, terlebih perbuatan ku kali ini tidak bisa kamu tuntut, dan jika saya lanjutkan, sah sah saja." ucapnya sambil mengelap air mata ku yang terkena pipinya, sementara itu aku masih mematung, dengan uraian air mata yang tak terbendung, tenaga ku seakan habis, tak bisa bergerak.