
Lemas, itu yang kurasa saat kata sah berderu di majlis nikah.
Aku masih tak percaya saat ini aku adalah seorang istri dari seorang pria yang nyaris memperkosa ku, kami telah menjadi sepasang.
Tirai yang terpasang sebagai pembatas di buka, dengan aku yang sudah berdiri mengenakan gaun pengantin berwarna putih pilihan kedua wanita yang telah melahirkan kami.
Mata ku terus tertuju ke lantai tanpa mau menatap pria ini, aku takut aku akan berteriak atau menangis, rasa takut untuk bersentuhan semakin nyata, namun dengan yakin aku menyambut tangannya dan mencium tangannya, hal yang sederhana namun begitu menyeramkan untuk ku.
Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang sederhana melekat di jari manis ku.
"Terimakasih." ucapnya lalu mengecup kening ku, secepat kilat tangan ku menahan dadanya, aku menggelengkan kepala ku, dia tau aku tak mau di sentuh, dia pun mengangguk dan memejamkan matanya.
Aku sudah bilang ini hanya acara sederhana saja, meski di gelar di salah satu hotel bintang lima namun konsepnya hanya sederhana, bapak menyukai bunga mawar, jadi hiasan bunga di sini hanya mengenakan bunga mawar putih, kemudian Mama mertua ku menyukai masakan khas Jawa dan ibu menyukai masakan khas daerah, jadi semua catering bertemakan kuliner Nusantara saja, sementara itu papah mertua ku menyukai dekorasi klasik jadi bertema Eropa seperti ini.
__ADS_1
Sepanjang acara aku hanya bisa tersenyum, meski palsu, setidaknya tidak ada yang tau apa yang terjadi di balik layar, sepertinya aku sudah mulai pandai berakting.
Setelah acara selesai, bapak meminta seluruh bunga bekas dekorasi di kumpulkan, bapak memang begitu, rencananya bunga mawar itu sebagian akan di bawa ke apartemenku dan sebagian lagi di bawa ke rumah yang Ares huni.
Malam ini kasur yang ku tempati tak lagi kosong, ada Ares, tapi aku tak tau bisakah berbagi dengannya atau tidak, tidak semudah itu menerima Ares.
"Za," Ares memasuki kamar ku.
"Ada apa?" tanya ku sekedar.
"Sampai kapan Za harus mendengar kata itu? bukankah semua rencana mu terwujud? kamu telah mendapatkan Za, lalu apa lagi? mau apalagi? hati Za? Za butuh waktu!"
jawab ku getir.
__ADS_1
"Bukan Za, saya hanya meminta maaf, kita tidak pernah benar-benar bicara sejak saat itu, saya bersalah Za, maafkan saya, izinkan saya menebus semuanya, izinkan saya untuk membahagiakan kamu dan menghapus semua rasa sakit dan benci yang kamu rasa selama ini."
Aku membuang muka, dan aku mematikan lampu, aku tidak mau air mata ku terlihat olehnya.
"Kenapa lampunya dipadamkan?" tanya Ares yang masih bingung.
"Dalam gelap kamu tidak bisa melihat apapun, biar saja begini, jika mau bicara silahkan teruskan." ucap ku.
"Sebegitu jijiknya kamu terhadap saya?" tanyanya kembali.
"Jika mau bicara lanjutkan, maafkan saya juga."
"tidak apa Za, jika ini yang kamu mau, saya akan turuti, saya akan lanjut bicara, Memang saya yang salah, perasaan itu tak seharusnya hadir setelah saya memutuskan untuk menikahi seseorang, tapi semakin saya mengenal kamu saya semakin jauh dari Aisyah, sampai malam itu, teman-teman saya datang mengadakan pesta bujang, mereka membawa minuman, saya pernah meminumnya sekali saat saya stress dan malam itu saya mencobanya lagi, sesaat setelah berkirim pesan dengan mu, saya tidak tau jika kamu benar-benar datang dan terjadilah hal yang tidak kita inginkan."
__ADS_1
Lampu masih padam, aku masih terus bicara padanya sampai akhir aku masuk kedalam kamar mandi dan menangis di sana, mungkin suara teriakan ku terdengar, tapi aku tidak perduli, biarlah dia mendengar semuanya, semua yang tak perlu dia tau sebenarnya.