Nycthophile

Nycthophile
Dunia ku


__ADS_3

...Areska...


Bagaimana cara untuk meluluhkan hatinya?


Sulit, mengembalikan hati yang pernah jatuh namun tak sempat mekar, malah hancur menjadi serpihan.


Tak ku sangka, andai saja aku tau sejak awal, bahwa Zayana pernah terkagum oleh ku, mungkin alur ceritanya tak kan begini, mungkin aku akan memberanikan diri untuk membatalkan saja pernikahan itu.


Apakah ini hukuman yang sebenarnya?


Benar kata bapak, hukuman ku adalah pernikahan ini, betapa tersiksa nya aku menatap wanita yang ku cinta, wanita yang begitu ku damba namu tak bisa ku sentuh secara utuh.


Andai kata bapak menikam ku dan nyawa ku hilang saat itu juga, mungkin lebih baik.


Pernikahan ini bukan akhir dari perjuangan ku untuk Zayana, tapi pernikahan ini adalah langkah untuk membuat wanita itu kembali seperti semula, untuk membuatnya kembali mendapatkan rasa percaya pada ku.


Masih melamun dan membereskan beberapa berkas di ruangan ku, pikiran ku selalu tertuju pada wanita cantik yang berdiam diri di rumah, wanita yang selalu emosi saat menatap ku, padahal siang ini rapat penting akan berlangsung, dimana beberapa kolega ku yang berasal dari luar negri akan berkumpul untuk membahas proyek baru kami.


tok... tok... tok...


tiga kali pintu ruangan ku di ketuk.


"Silahkan masuk." izin ku.


"Reska, Mr Rudolf dan Mrs Yuri sudah datang."


Pria itu adalah Tyo, sekretaris yang merangkap menjadi teman, dan dia juga nyatanya adalah sepupu ku, orang yang paling ku percaya melebihi papa ku sendiri.


Tyo adalah seorang yang berjasa dalam menguntit Zayana dalam dua tahun belakangan ini, alamat, aktivitas dan segala hal tentang Zayana, tyo lah yang membantu ku.


"Ya, tunggu di ruang meeting, sepuluh menit lagi, gue nyusul." jawab ku dengan pandangan yang masih fokus ke arah laptop dan beberapa berkas.

__ADS_1


"Res, gue punya sesuatu yang perlu di bahas malam ini, gua butuh tempat yang nyaman." ujar Tyo.


"Bahas apa? " jawab ku.


"Sesuatu, mungkin di rumah lo bisa? "


"Oke boleh, sana pergi temani mereka, gua sebentar lagi nih." jawab ku kembali.


"Oke." sambutnya.


Beberapa menit berlalu, kaki ku melangkah menyusuri koridor menuju ruang rapat yang berada di lantai 16, gedung ini memiliki 24 lantai, dimana lantai 15 sampai dengan 20 adalah lantai milik ku, perusahaan ku maksudnya, tadinya perusahaan ku memiliki kantor kecil di daerah Jakarta Pusat dimana sebuah rumah ku renovasi menjadi kantor, namun dirasa kurang besar dan semakin lama ternyata harus menyewa sebuah gedung untuk menjadi pusat, dikarenakan perusahaan kecil itu sudah memiliki banyak klien dalam negri maupun luar negri, Tyo menyarankan ku untuk menyewa sebuah gedung, namun nyatanya paman ku, memberikan lantai 15 sampai lantai 20 menjadi kantor kami.


"Good Afternoon." sapa ku saat bertatap dengan lima orang kepala team dari beberapa negara.


"Good afternoon sir. " Jawab mereka.


"All right, to shorten the time we better start the meeting this time, this time we will discuss the progress of several projects that you have handled." Ujar ku membuka rapat kali ini.


"Dimulai dari Jerman terlebih dahulu, Mr. Rudolf, silahkan tampilkan persentasi anda." Tyo berbicara selaku moderator.


"Baiklah, selamat siang semua, berikut adalah grafik yang akan menjelaskan progres dari beberapa proyek yang sedang berlangsung di Jerman, perancangan taman kota dengan arsitek tuan Devin, sudah berjalan sebanyak 45%, proyek ini berjalan lumayan cepat dari perkiraan, kami baru mulai sekitar tanggal 12 Mei 2022, satu minggu kemarin, dan target kami akan selesai sekitar dua atau 3 minggu ke depan." jelas Mr Rudolf.


"Apakah ada kendala? " tanya ku.


"Beberapa kendala hanya pada tanaman dan juga sistem pengairannya tuan, karena bangunan belum sepenuhnya jadi, mungkin akan kami laporkan kendala lainnya menyusul beriringan dengan bangunan tersebut tuan."


"Baiklah, proyek selanjutnya Mr Rudolf. " ujar ku kembali.


Beberapa jam berlalu, proyek di Qatar dan beberapa negara Asia sudah tertangani dengan baik dan semoga semuanya berjalan tepat waktu.


Jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul 5 sore berarti hampir 6 jam kami berdiskusi membahas ini dan itu, akhirnya rapat di bubarkan.

__ADS_1


"Jangan lupa salin semua ke dalam jurnal, apa saja yang perlu kita lihat kembali, dan apa yang harus kita cepat kerjakan, Tyo, gua ke mushola dulu, kalau ada apa-apa telpon aja ok." terang ku kepada mahluk ini.


"Siap bos, doa yang banyak supaya istri lo bisa balik percaya sama lo. " Dengan senyuman menyebalkannya itu dia berjalan mengambil arah lain.


Doa dan doa, dunia ku berpusat pada Zayana, memikirkan seribu cara untuk menyembuhkan hatinya, membangun kembali percayanya, dua tahun lebih ku habiskan dengan penyesalan, dan aku tidak akan pernah mengulang kesalahan itu.


Setelah solat dan menyelesaikan segala pekerjaan ku aku kembali ke rumah, aku datang tepat sesaat mobil Zayana terparkir di garasi, dia baru kembali rupanya.


"Bagaimana hari mu? menyenangkan?" tanya ku padanya yang baru keluar dari mobilnya itu.


"Biasa saja." wajahnya menampilkan kekesalan.


Aku hanya bisa diam mengikuti langkahnya dari belakang.


"Mbak Nad. " panggil Zayana pada Nadia pekerja rumah kami.


"Iya bu? " jawab Nadia.


"Mbak, tolong bawakan air hangat untuk saya minum ke kamar ya, saya mau bersih-bersih dulu." pintanya.


Aku hanya menatap interaksi mereka dari depan pintu kamar ku di lantai satu, ya Zayana menempati kamar dilantai atas, kami masih pisah kamar sampai sekarang, namun terkadang satu kamar bila kedua orang tua kami datang berkunjung, pekerja rumah kami juga sudah mengerti dan tidak akan buka mulut, karena aku yang memintanya begitu.


Setelah mandi dan solat maghrib, aku menuju ruang makan untuk makan malam, biasanya Zayana ada di dapur untuk menyiapkan makanannya sendiri namun kali ini dia tidak ada di sudut mana pun.


"Pak... Bapak... pak Ares... " suara Nadia dari lantai dua dengan memanggil nama ku membuat ku sedikit terkejut.


"Ada apa nad?" Teriak ku dari lantai bawah.


"Ibu pingsan pak."


Mendengar Nadia mengatakan keadaan Zayana aku pun panik dan berlari menuju lantai dua, benar saja Zayana berada di lantai, bersama handuk dan pakaian kotor yang berserakan, dengan rambut basah yang masih kusut.

__ADS_1


__ADS_2