
...Areska...
Wajah pucat, hijabnya berantakan, selang infus melukai tangannya yang ternyata begitu lentik dan halus, Zayana kapan kamu sadar?
Dua jam sudah menunggu Zayana siuman, dokter sudah memberikan diagnosa pertamanya sejam setelah melakukan pemeriksaan.
Apa selalu begini disaat menstruasi? apa kamu hanya kelelahan saja?
Bodohnya aku yang tak pernah memperhatikan Zayana, Delapan bulan menikah dengannya tapi tak sedikitpun aku mengetahui bagaimana keadaannya, Zayana yang cenderung tertutup dan enggan tersentuh itu, membuat ku tau, batasanlah yang ia mau, tapi bagaimana pun harusnya tak begitu kan?
Perlahan matanya terbuka, ditarik tangannya yang sedang ku genggam, sholawat yang keluar dari mulut ku pun terhenti, mata ku terpaku menatap geraknya.
"Za ada dimana?" ucapnya.
"Bagaimana perasaan mu? kita ada di ruang rawat rumah sakit." jawab ku, menatap wajah pucat itu.
__ADS_1
"Buat apa disini? siapa yang sakit?" tanyanya.
"Aneh dia yang sakit, dia pula yang bertanya siapa yang sakit? padahal infusan itu bersarang di punggung tangannya." monolog ku dalam hati.
"Kamu tidak sadarkan diri sejak dua jam tadi, tidak sadar kah ada selang infus di punggung tangan kanan mu?" jawab ku santai, Zayana hanya diam.
"Zayana boleh aku bertanya? agak sensitif, tapi ini demi dirimu." matanya menghunus manik ku, seakan memberi kilatan ancaman.
"Demi diriku? apa maksudnya?"
"Untuk apa kamu bertanya masalah pribadi ku?" jawabnya sambil menatap satu sudut di sisi ruangan, untuk mengalihkan matanya menatap ku.
"Jawab saja, sejujurnya aku tidak mau menanyakan ini pada mu, ini privasi bagi mu, aku tau itu, tapi ini hal yang harus aku tanyakan setelah diagnosa dokter setelah pemeriksaan tadi."
"Dokter mendiagnosis apa? kanker serviks? miom? radang? atau apa? em? Katakan pada ku?" ujarnya yang tak berhenti menyuarakan dugaan dugaannya itu.
__ADS_1
"Dugaan sementara adalah ada infeksi di saluran tuba fallopi bagian kiri, itu yang mengakibatkan nyeri dan keterlambatan menstruasi mu, Za dokter menyarankan untuk operasi, atau cara kedua berobat rutin dengan perawatan intensif, jika dengan operasi hanya ada 50% kemungkinan untuk bisa hamil, karena yang berfungi hanya ada satu saluran di sebelah kanan, jika dengan obat, bahayanya adalah kehamilan ektopik, atau bakterinya akan mengkontaminasi janin, dan itu akan lebih menyakitkan lagi, Za impian seorang perempuan adalah menikah dan memiliki anaknya sendiri, hamil dan melahirkan, jika aku adalah penghambat impian mu, maka ceraikan aku dan lanjutkan impian mu, cari peria yang menurut mu tepat." ucap ku dengan nada permohonan, karena hanya itu yang terlintas dalam otak ku.
"Aku ingin operasi saja, kemungkinan 50% itu tidak masalah untuk ku, tawaran bercerai seharusnya tidak perlu kamu lontarkan, karena dengan siapapun aku, aku akan tetap seperti ini, Areska Bagaskara, maaf jika memang semua keputusan ku selalu melibatkan dan menyiksa perasaan mu, setiap kali mencoba untuk berdamai, isi kepala ku semakin menyuarakan untuk menolak, bercerai bukanlah jalan terbaiknya, aku ingin bertanya satu hal, jika aku benar-benar 100% tidak bisa hamil, apakah masih mau bersama ku? jawab aku."
Aku hanya terdiam, siapa laki-laki yang tidak ingin memiliki anak dari orang yang paling dia cintai? jawabannya pasti tidak ada, aku ingin membangun keluarga kecil ku sendiri, namun pada akhirnya jawaban ini dan ego ku yang harus ku buang jauh, hanya untuk Zayana, wanita saat hari itu menjadi tanggung jawab dan akan hanya menjadi satu-satunya milik ku.
"Menikah bukan hanya untuk memiliki anak, siapa yang tidak mau memiliki anak? semua orang mau, tapi ada kalanya sesuatu yang kita ingin tidak selalu berjalan dengan kehendak, Zayana, lihat aku, pernah aku memaksa mu untuk ku campuri setelah menikah? pernah aku menuntut mu untuk mengikuti semua kehendak ku?"
"Pernah, malam itu sepulang aku bertemu dengan Aditya, kamu memaksa ku untuk tidur sekamar dengan mu, kamu meminta ku untuk menjauhi semua pria yang saat itu dekat dengan ku, kamu juga pernah bilang, harusnya aku memberikan hak mu, bukankah itu pemaksaan kehendak? "
"Zayana, semua itu ku lakukan karena aku cemburu, tapi apakah benar-benar ku lakukan? tidak kan, aku mencintaimu dengan segala hal tentang mu, meskipun tak terbalas demikian, kata maaf ku pun belum kau terima, jika kamu bertanya jika 100% kamu tidak bisa hamil, apakah aku akan seperti ini? jawabannya iya, aku akan terus seperti ini tidak ada yang berubah, aku akan terus memohon maaf dari mu dari semua kesalahan yang sangat ku sesali itu, mungkin ini hukuman yang pantas."
"Ares, sebenarnya aku sudah memaafkan mu, jauh sebelum pernikahan itu, apa yang ku bilang tempo hari, adalah sebuah kebohongan, aku tidak benar-benar membuang rasa kagum itu, aku Zayana Muzza hanya bingung, kenapa semua hal terjadi seperti kamauan ku? aku hanya menyesal telah berfikir sebegitu jahatnya sehingga Aisyah bercerai dengan mu, aku egois, bahkan kini ucapan ku tempo hari terbukti."
Kali pertamanya melihat Zayana menangis dengan mencurahkan segala isi hatinya, tapi aku senang setidaknya ada kesempatan yang perlahan terbuka, jawaban dari doa-doa yang ku panjatkan tepat pada sasaran, meski tak sejalan dengan kemauan ku.
__ADS_1