Nycthophile

Nycthophile
Ibu dan Abi


__ADS_3

Setelah Azan Ashar, Aku dan Ani tanpa sepengetahuan Ares ada bude Ros datang ke rumah Abi Bukhari, Ayah dari Aisyah.


Rasa gemetar, bersalah, sakit dan sesak tiba saat aku di sambut baik oleh keluarga ini, keluarga yang anak perempuannya telah ku sakiti sedemikian rupa.


"Assalamualaikum Abi, ibu." ucap ku lirih, air mata ku benar-benar sudah diambang batas.


"Waalaikum salam Zayana, Astaghfirullah hal'azim ada apa nak." ucap ibu dari Aisyah tersebut, ia memeluk dan menopang ku untuk duduk.


"Maafkan Za bu." ucap ku lirih.


"Ada apa Zayana?" tanya Abi Bukhari, sosok bapak yang tegas namun penuh dengan kasih sayang, Abi berbeda dengan bapak ku, yang lebih mengutamakan ketegasan.


"Za datang ingin minta maaf." ucap ku lagi.


"Tentang apa nak? kamu gak ada salah apapun kepada Abi dan ibu ataupun keluarga kami." ucap ibu dari Aisyah.


"Za sudah menghancurkan semuanya Bu, Za sudah menodai kepercayaan kalian, maafkan Za, Za pikir dengan pergi dan menyimpan semuanya sendiri akan membuat Aisyah bahagia dan keluarganya tidak menanggung malu, tapi Za salah, seharusnya Za tetap disini dan menjelaskan semuanya."


"Kamu mau menjelaskan apa nak? Abi tidak mengerti, sebaiknya minum dan tenangkan pikiran mu dulu."

__ADS_1


Aku pun duduk dan menyesap air putih yang berada di tangan ibu dari Aisyah itu, ya ibu dari wanita yang ku buat menangis karena ulah ku.


Setelah aku tenang, dan aku ingin menjelaskan semuanya, Ares datang bersama bude Ros.


"Assalamualaikum, Abi ibu, maaf Ares datang tanpa memberi tau terlebih dahulu, tapi kedatangan Ares mencari Zayana." mata Ares tertuju pada ku, mata ku yang masih merah, membuatnya tau apa tujuan ku sebenarnya.


"Duduklah terlebih dahulu, minum dan tenangkan dirimu Ares." ucap Abi Bukhari.


Ares duduk dan masih lekat menatap ku, namun seakan tau apa yang akan terjadi, Abi memulai pembicaraan ringan dengannya.


"Dua tahun lebih tidak bertemu, dan sekarang datang secara tiba-tiba, ada apa gerangan, bagaimana kabar papa dan mama mu? bagaimana juga kabar mu?" ucap Abi Bukhari.


"Alhamdulillah Abi, kabar saya baik, seperti apa yang Abi lihat, dan maaf saya jarang sekali menanyakan kabar Abi dan ibu." ucap Ares.


"Iya benar ibu, saya sudah menikah dua Minggu yang lalu, dan itu pula kedatangan saya kesini, saya hendak menjemput istri saya." ucapnya dengan lembut.


"Zayana istri kamu?" tanya Abi Bukhari.


"Benar Abi, Zayana adalah istri saya."

__ADS_1


"Nak Ares, dia perempuan yang di sebutkan Aisyah malam itu?" ucap Bu Aminah.


"Iya, dia wanita yang Ares cinta dan tidak akan pernah bisa diganti oleh siapapun termasuk Aisyah, maafkan saya telah melukai keluarga ini terlalu dalam." tegasnya.


"Kamu tau apa yang membuat kami tidak membenci mu dan tidak mengusir mu dari rumah ini, apakah kamu tau Ares apa yang Aisyah katakan di malam itu?"


Hening... Ares terdiam, sementara aku yang berada dalam kondisi lemah dan tak sanggup mendengar apa yang mereka bicarakan hanya bisa diam.


"Aisyah mengatakan, jika dia tidak bisa bersama dengan pria yang tidak bisa mencintainya secara utuh, dia meminta cerai karena menyesal telah merebut seseorang dari cinta sejatinya, dia tidak mau hidup dalam rasa bersalah meskipun dia sangat mencintai kamu dia akan tetap melepaskan yang tidak mau mempertahankan dia, sebelum pergi ke Jeddah, Aisyah berkata, demi apapun jangan pernah membenci Ares, karena pernikahan terjadi karena kehendaknya, bukan karena kehendak mu, maka dari itu saya bisa berlapang dada, tapi saya tidak tau ada cinta segitiga diantara kalian." ucap Abi Bukhari dengan nada kecewa.


"Zayana, tidak kah kamu berfikir sebelum semua ini terjadi, pria itu akan menikah dengan seseorang yang selalu mendampingi kamu dikala terpuruk? dan kamu Ares, tidakkah kamu kasihan dengan seseorang yang bahkan rela melakukan apapun demi cintanya?" tanya Abi yang masih dalam keadaan marah.


Marahnya Abi Bukhari masih bisa ku maklumi, bahkan dia pantas melakukan semua itu kepada kami, aku pun jika berada pada posisinya mungkin akan lebih marah dari ini.


"Saya tidak tau seberapa kecewanya putri saya saat itu, saya juga tidak menyangka jika kamu benar-benar menceraikannya dan mengejar perempuan yang kamu cintai, tapi marah pun untuk apa kalian sudah bersama, sebagai guru sekaligus mantan bapak mertua mu, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian berdua, Aisyah sedang hamil, dia menikah satu tahun lalu, setelah beberapa bulan bercerai dari mu Ares, di Jeddah Allah kembali mempertemukannya dengan pria yang selama ini mencintainya dalam tenang, pria yang tak pernah mengejarnya dan menghilang, Aisyah pikir pria itu tidak akan pernah kembali ke hidupnya, tapi Allah maha baik, Allah menunjukkan bahwa pilihannya salah, dan menunjukan seseorang yang tepat untuknya." Abi Bukhari pun tersenyum air matanya nyaris jatuh, aku melihat matanya yang teduh itu.


"Ares ikut senang, bagaimana pun Ares bukan pria baik yang dapat bersanding dengan perempuan sebaik Aisyah, maafkan Ares karena telah menorehkan luka di hati Abi dan keluarga, tapi ini pilihan Ares." Ares mengucapkan isi hatinya yang mungkin dulu belum selesai.


"Minggu depan Aisyah sudah sampai di tanah air, ibu minta temui dia, dan selesaikan apa yang belum terselesaikan, ibu yakin Aisyah akan mengerti."

__ADS_1


"Ibu, semuanya sudah selesai, Aisyah sudah mengerti dan bahkan dia pun sudah jauh lebih dulu melangkah dibandingkan Saya dan Zayana." ucap Ares.


Beberapa waktu berbincang aku mengambil kesimpulan bahwa kedua orang tua Aisyah tidak mengetahui apapun tentang Aku dan Ares, mungkin Aisyah pun tidak tau menau soal ini semua, Ya Allah tutuplah aib kami, jika memang itu yang terbaik.


__ADS_2