Nycthophile

Nycthophile
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Jakarta Selatan


Honda Civic berwarna putih milik ku menembus hiruk pikuk kota, kata macet seakan hanya pembicaraan yang bukan menjadi alasan, pukul 11,00 aku sudah sampai di basemen sebuah mall di Jakarta Selatan,


Kedatangan ku ke mall kali ini bukan untuk berbelanja melainkan bertemu dengan Gadis, ya mantan asisten ku saat dulu menjadi model.


"Assalamualaikum." sapa ku yang baru saja berdiri di depan Gadis dengan pakaian khas ku, hijab panjang dan baju terusan berwarna gelap.


"Waalaikumsalam... Za... aku kangen banget sama kamu berapa bulan kita gak ketemu, ya Allah akhirnya." ucapnya tanpa jeda.


"Duduk... kita pesan makanan dulu, baru nanti cerita." ucap ku sambil memanggil waiters, kali ini kami berada di sebuah cafe di dalam mall tersebut, setelah pesanan kami terhidang barulah Gadis memulai pembicaraan kembali.


"Za, kamu yakin sudah tidak mau berkutat di dunia modeling? sayang loh Za, pak Aditya masih berminat pakai kamu di beberapa desain terbarunya."


"Dis, kamu kan tau, sekarang aku bukan lagi lajang yang bebas menentukan arah ku kemana, aku punya suami, yang harus ku pintai izin dan pendapat, lagi pula aku berniat sepenuhnya mengurus ibu dan bapak sampai bang Fahri kembali dari dinas." jelas ku.


"Emangnya hampir delapan bulan ini kamu gak bosen Za, di rumah, ngurus ibu, beres-beres rumah, paling cuma ruang tamu, kamar, dapur, ruang tv udah, ayolah Za minimal ada kesibukan di luar, jadi hidup kamu gak datar, lagi pula aku yakin suami kamu bakal izinin kamu, kamu kan bukan tipe yang macem-macem."

__ADS_1


"Dis, gak semudah itu, aku memang bosan, jujur aku bosan dengan keseharian ku, tapi di balik itu semua, aku punya pembelajaran baru, aku jadi lebih sabar, aku bisa tau karakter ibu aku yang sebenarnya seperti apa, aku bisa solat dan mengaji dengan bebas, dan bisa mengurus rumah dengan baik, ya walaupun kadang masih suka di bantu sih. di rumah pun aku punya teman kok, aku gak sendirian."


"Za, Minggu depan ada launching desain baru dari MOesLima pak Aditya mengundang kamu untuk datang, ini undangannya, usahakan datang ya, oh iya satu lagi, kamu dapat satu pakaian yang akan di launching kan Minggu depan." Gadis memberikan sebuah tote bags berlogo brand tersebut.


"Serius, ini buat aku?" ucap ku tak percaya, pak Aditya sungguh baik.


"Iya, pak Aditya bilang, dia sangat mengharapkan kamu datang bersama suami kamu Za."


"Insyaallah aku akan datang, tapi kalau suami aku mau datang dan mengizinkan ya, tapi pasti ku usahakan datang."


"Gadis, sampaikan terimakasih ku untuk pak Aditya ya, kalau untuk masalah kembali bergabung, akan aku pikirkan lagi." ucap ku tenang.


Setelah makan siang dan sholat Zuhur, Gadis mengajak ku ke sebuah taman yang tidak jauh dari mall tersebut, sesampainya di taman kami memilih untuk duduk di bawah pohon rindang, mata kami tidak saling bertaut, namun memandang jauh ke depan.


"Za, apa rasanya memiliki dua orang tua yang lengkap? bapak mu itukan protektif sementara ibu itu orang yang mudah cemas, bagaimana rasanya diperhatikan sedemikian rupa?" tanya Gadis, anak ini memang memiliki masalah keluarga yang pelik.


"Entahlah Dis, bahkan aku pernah menginginkan hidup ku di tukar, lebih tepatnya bapak ku di tukar, bapak ku orangnya sangat keras dan tegas, tidak ada penolakan, tapi aku selalu membantah perkataannya, dan dia selalu menyebut ku pembangkang."

__ADS_1


"Harusnya kamu bersyukur Za, ada yang memberi mu arahan, sementara aku? aku tidak pernah tau siapa bapak ku, menyaksikan mama berjuang sendiri membesarkan ku, membuat ku selalu menangis di tengah malam tanpa satu orang pun yang mendengar rintihan hati ku." ujarnya, tanpa ku lihat jelas, setetes air matanya jatuh.


"Gadis..." aku memeluknya menyalurkan rasa tenang, aku berharap pelukan bisa membuatnya nyaman.


"Aku lebih suka malam Za, aku mencintai malam dan tak berharap pagi datang."


"Kenapa Dis? kenapa tidak berharap pagi datang padahal mungkin saja ketika pagi datang semua hal sudah berubah." ucap ku.


"Ketika malam, aku bisa menjadi diri ku sendiri, rapuh, cengeng, hancur, dan menderita tanpa ada satu pun yang tau, tapi ketiga pagi datang, semuanya harus ku simpan rapat-rapat dan aku harus kembali memasang topeng ceria ku." Anak ini, ternyata punya sisi lain yang baru ku tau, selama ini terlihat ceria ternyata dia bisa hancur.


"Dis masa depan mu masih sangat pajang, jadilah orang yang tegar dan mampu mengontrol keadaan, kamu harus kuat dan berfikir dari segala arah, jangan melihat rumput hijau di halaman rumah orang lain, kalau nyatanya ilalang yang tumbuh subur di halaman rumah mu lebih berguna untuk ternak."


"Za... kenapa perumpamaan mu seperti itu, menyebalkan." Gadis pun tersenyum dengan perkataan ku yang sulit untuk dia cerna.


"Karena begini, saat kamu pikir semua yang kamu punya, yang kamu rasa itu sangat melelahkan dan tidak berguna, sebenarnya ada seseorang yang menginginkan hidup seperti kamu, pengalaman yang tidak menyenangkan itu sebenarnya sangat berguna untuk bertahan hidup dan masa depan." jelas ku, gadis hanya tersenyum dan menikmati hidangannya.


Aku dan Gadis bicara seharian, menghabiskan waktu di mall, kami pun masuk ke area toko buku dan membeli beberapa buku untuk di pelajari ulang, jujur aku pun ingin kembali mendalami agama ku, untuk bisa melewati malam yang begitu ku cintai, untuk terus menangis dan meminta pada pencipta ku saja.

__ADS_1


__ADS_2