Nycthophile

Nycthophile
Malam


__ADS_3

Malam dan gelap akan selalu menjanjikan sebuah nyaman dan sepi untuk ku, malam akan selalu menciptakan gelap yang begitu ku sukai, malam selalu menghadirkan gemerlap angkasa yang tak pernah di sajikan oleh siang.


Seminggu sudah aku berstatus sebagai seorang istri, iya... istri dari seorang Areska, pria yang nyaris merenggut masa depan dan kehormatan ku, pria yang sampai detik ini masih berusaha ku hindari dan tak ku anggap keberadaannya.


Sejauh ini Ares memang tidak banyak bicara, dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, berusaha mendekati ku, namun ku coba abai.


Tinggal di kediamannya merupakan pilihan yang sulit untuk ku, terlebih hanya ada aku, asisten rumah tangga paruh waktu, security dan Areska seorang, rasa takut dan khawatir itu selalu membelenggu menguasai otak dan satu titik kecil dalam gelap ku.


Malam ini asisten rumah tangga bernama Nadia, di minta Ares untuk tidak kembali ke rumahnya, mengingat dia adalah asisten rumah tangga paruh waktu, aku akan menanyakan hal ini padanya.


Di dapur, Nadia masih berkutat dengan buku dan pena, aku pun tidak tau apa yang sebenarnya telah ia catat.


"Mbak, sudah jam delapan, kok belum pulang?" ucap ku yang mencoba ramah, karena selama 4 hari di sini, aku hanya diam mengamati sekitar.


"Iya Bu, di suruh bapak, temani ibu sampai besok pagi, soalnya bapak ada urusan."


"oh, kalau mbaknya mau pulang, pulang aja, saya bisa sendiri." jawab ku.


"Maaf Bu, tapi ini sudah perintah bapak, lagi pula nanti ibu jadi sendirian."


"Saya gak sendirian, ada pak Hadi di depan, kalau ada apa-apa saya bisa teriak." jawab ku lagi.


"Sama saja Bu, bapak gak akan kasih izin saya pulang, biar saya temani ibu saja, ibu tumben turun ke bawah ada apa Bu,?' tanyanya kembali pada ku.

__ADS_1


Memang biasanya setelah isya aku tidak pernah turun lagi ke lantai dasar, alasannya adalah hal yang sama Areska, biasanya mahluk itu kembali ke rumah pukul 8 malam, dan karena malas melihatnya, hal terbaik yang bisa ku lakukan adalah berdiam di kamar, kamar ku dan Ares memang terpisah, Ares yang memberikannya untuk ku, mungkin dia tau apa yang sebenarnya ku inginkan.


"Bu." perempuan berusia 33 tahun itu kembali bersuara.


"Iya mbak ada apa?" tanya ku kembali.


"Ini semua catatan keperluan bulanan, dulu ini saya yang kerjakan dan saya yang belanjakan, tapi saya pikir, sekarang sudah ada ibu, yang berhak mengatur keuangan dan rumah, kemarin saya sudah bicarakan semuanya sama bapak, kata bapak tolong tanya pada ibu, kalau ibu tidak keberatan boleh tugas ini ibu yang pegang dan atur?"


Aku tersenyum mendengar penuturan Nadia, Ares juga sudah bicara pada ku tadi pagi namun sayangnya aku masih tidak perduli dengan apapun yang pria itu bicarakan.


"Mbak Nadia, apa mbak keberatan, jika saya bilang saya tidak mau ikut campur urusan rumah ini, saya percayakan semua urusan rumah ke mbak Nadia saja."


"Tapi Bu?"


Pukul tiga pagi, aku terbangun dari lelap ku, kebiasaan malam ini tidak pernah lewat, bukan sombong, tapi memang seperti itu adanya, aku membuka pintu kamar, hendak menuju dapur di lantai satu, mata ku tertuju pada ruangan di depan kamar tidur yang ku tempati, Ruang kerja Ares, pintunya terbuka, aku ingin menutupnya, namun malah Ares yang keluar dari pintu itu dan menatap ku.


"Terbangun?" ucapnya santai.


Aku hanya menunduk dan tak menghiraukannya.


"Zaya, bisa kita bicara." ucapnya mendahului langkah ku tanpa menyentuh ku.


Aku menatap wajahnya, memperhatikan setiap geraknya.

__ADS_1


"Apa yang perlu di bicarakan? saya rasa tidak ada hal yang menjadi pembahasan." ucap ku dengan nada datar dan wajah yang menolak untuk bicara.


"Zaya, besok saya ada perjalanan ke luar kota, saya tidak bisa meninggalkan kamu disini sendiri, mau ikut atau kembali ke apartemen mu, bersama bapak dan ibu?" tanyanya pelan.


"Kamu meragukan saya bisa menjaga diri atau tidak? kalau alasan saya menikah dengan kamu hanya karena paksaan ibu dan bapak, sampai detik ini pun saya masih sendiri di apartemen, dan sampai kini saya masih bisa melakukan semuanya sendiri." ucap ku dengan tegas.


"Za, saya tanya kamu baik-baik, kalau kamu mau sendiri disini, biar saya bilang sama Nadia untuk stay disini sampai saya pulang, saya bicara bukan untuk meremehkan kamu, saya tau kamu bisa menjaga diri tapi saya khawatir kalau kamu sendiri, ingat satu hal Za kamu istri saya saat ini."


"Jangan mengingatkan hal yang Za tidak mau ingat."


"Mau sampai kapanpun kamu mengelak, kamu tetap istri saya, saya mencintai kamu Za."


Mata ku nanar menatapnya ucapan yang tak pernah ku dengar dari siapapun, bahakan Zafran pun tak membalas ku waktu itu.


"Tidak usah mengada-ngada tentang perasaan."


"Tapi semua itu benar, mangkanya saya mengambil jalan seperti ini." ucapnya sambil menatap ku, air mata ku nyaris tumpah, sungguh aku tak bisa di hadapkan pada situasi seperti ini.


"Pembohong." ucap ku, lalu beralih menuju dapur untuk mengambil minum.


Nafas ku tak teratur air mata ku benar-benar jatuh, hal yang tidak mungkin tentang aku dan Ares, semua tidak mungkin, tatapan Ares pada Aisyah begitu nyata.


Ku hamparan sajadah dengan penuh hikmat ku jalankan sunah yang membuat seluruh dunia ku damai, di sana di dalam padamnya lampu, air mata dan semua keluh ku sampaikan pada sang pemilik dunia dan seisinya.

__ADS_1


__ADS_2