Nycthophile

Nycthophile
Rasa Takut


__ADS_3

Malam bukan tentang sunyi dan gelap, tapi malam tentang hati yang bermunajat pada sang pencipta. Dari miliaran manusia hanya beberapa diantaranya yang merasakan dekapan lembut di malam yang sepi, yaitu saat dimana, hati, jiwa dan raga sepenuhnya terfokus pada sang pencipta.


Malam dengan hujan lebat dan kegelapan yang kini menemani ku, di rumah masa kecil ku, air mata dan rangkaian kata maaf ku ucapkan bersama doa untuk meminta ampunan, suara petir di luar menggelegar memadamkan lampu di rumah ini, namun tak ada sedikitpun rasa takut, mungkinkah rasa takut ku sudah menghilang seiring berjalannya waktu.


Tok... Tok... Tok....


Pintu utama rumah ini di ketuk, aku sudah menduga pasti Ares, benar saja, Ares dengan baju yang benar-benar kuyup dan kedinginan berdiri tegak di hadapan ku, mata ku seolah bertanya dan ia segera memberikan pernyataan.


"Mobil saya mogok karena banjir, dan saya naik ojek untuk sampai ke sini." ucapnya masih berdiri karena tak ku persilahkan masuk.


"Lalu kemana tukang ojek itu?" tanya ku.


"Kenapa malah mencari tukang ojek?' tanyanya heran.


"Hujan selebat ini, dan kamu malah menyusahkan orang lain? luar biasa sisi kemanusiaan mu tuan." sindir ku halus.


"Lebih baik jangan membahas tukang ojek itu, saya sudah memberikan apa yang harus di berikan, dan lebih baik sekarang buatkan minuman hangat atau apapun yang dapat menghangatkan tubuh saya., saya mau mandi dan mengganti pakaian, kalau kamu mau ngajak ribut, nanti setelah saya selesai mandi." ucapnya, dengan nada yang tak seperti biasa..


Baru selangkah dia memasuki rumah dia kembali bersuara.


"Gelap sekali? kamu sedang uji nyali?" ucapnya asal, dia menatap ku.

__ADS_1


"Listriknya padam sejak jam sembilan tadi, mungkin akan menyala besok pagi saat teknisi dari PLN datang." jelas ku.


"Punya senter?" dia bertanya lagi, namun malah ku diamkan, aku bergerak ke arah lemari yang biasa menyimpan alat perkakas.


"ini, hanya ada senter kecil ini." ucap ku sambil mengarahkan sinar senter kesana-kemari.


"Sebenarnya perempuan jenis apa sih kamu?" tanyanya, baru saja dia bilang untuk tidak mengajaknya ribut tapi malah dia sendiri yang mengibarkan bendera perang.


Aku hanya diam, melangkah pergi tanpa menghiraukan ucapannya, lebih baik begitu dari pada terus bicara dan akan menarik urat.


Aku memilih untuk berdiam diri di kamar, dengan sebuah lilin yang menyala, di temani kesunyian dan dinginnya malam yang di sebabkan derasnya hujan yang masih berlanjut, melirik jam di meja, ternyata sudah pukul dua dini hari, berarti tadi Ares kembali pukul satu, kenapa pula dia tidak kembali kerumahnya saja, padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya dan tentunya itu lebih baik.


tok... tok .. tok....


"Cobalah keluar sebentar." jawabannya sedikit keras karena terhalang pintu, aku beralih dari duduk ku, membukakan pintu yang tadi sempat ku kunci.


"Ada apa?" tanya ku.


"Bisa membantu saya sebentar?" pintanya.


"Apa?" tanya ku lagi.

__ADS_1


"Tolong buatkan saya mie instan."


"Saya tidak punya mie instan tuan." ucap ku dengan nada malas.


"Benarkah?" tanyanya lagi dengan wajah menyebalkan.


"Ya..."


"Kalau begitu, tolong buatkan saya makanan apapun, saya sangat lapar dan harus segera minum obat."


Aku bukan manusia yang begitu keras, aku masih punya hati, meski hanya sedikit, akhirnya mau tidak mau aku membuatkannya soup daging kepiting dari kepiting kaleng sisa tadi siang.


Saat menghidangkan makanan untuknya, wajah dan tatapan mata itu meneliti setiap gerak ku.


" Benar ya, dalam kegelapan pun, saya masih bisa melihat pancaran cahaya dari kamu." ucapnya.


"Zayana, kenapa begitu berani, listrik padam, tak ada lampu yang menyala sedikit pun, di luar hujan deras dengan petir, anginnya pun juga kencang, kamu di rumah ini hanya sendiri, tapi tidak menghubungi siapapun, kenapa begitu berani? ini sangat gelap tanpa cahaya seperti ini, hanya lilin kecil itu yang menemani mu di kamar, apakah tidak takut?"


" mengapa harus takut? di dalam kubur pun suasananya lebih mencekam dari ini." Ares pun terdiam sesaat, ia mengalihkan pembicaraan dan menyantap makanannya.


"Rasa takut ku sudah lama mati, dan kamulah yang sudah mengambil rasa takut itu, kamu mengajarkan ku untuk tidak percaya lagi kepada siapapun, sejak hari itu aku sudah berteman dekat dengan gelap, kesendirian dan malam... Aku lebih takut kepada kaum mu, dibandingkan dengan semua ini."

__ADS_1


Aku pun meninggalkan Ares sendiri di meja makan dan memilih untuk masuk kedalam kamar, meraih keheningan yang sempat hilang tadi, berikan aku kedamaian ya Allah.


__ADS_2