
Menghindar, itu yang Zaya lakukan sejak dua tahun setelah malam itu, berlari menjauh seakan ingin tenggelam sendiri, namun kehadirannya pada salah satu majalah fashion muslim dan beberapa poster iklan, membuat ku mengetahui keberadaan Zaya.
Terlalu mudah mencari tau Zaya berada sekarang, bisa saja aku mendatanginya dan langsung meminta maaf, namun jika ku lakukan Zaya akan lebih terluka, aku tau tatapannya yang merasa jijik jika seorang pria menyentuh tangannya, aku tau sorot matanya saat memandang lawan jenis, dan air matanya yang jatuh saat kepergian seorang pria di rumah sakit beberapa bulan lalu, membuat ku sadar, Zaya tidak akan menerima ku.
Bagi ku bersembunyi untuk menikmati senyumnya adalah hal yang satu-satunya bisa ku lakukan, setiap kali pemotretan aku selalu berada di dekat Zaya tanpa satu orangpun yang tau, aku selalu memandangi senyum dan wajahnya yang selalu natural.
Tak mau tenggelam dalam rasa bersalah yang semakin membelenggu sampai rasanya nyaris ingin mati, satu tahun lalu, aku memberanikan diri untuk datang menemui bapak dan ibu dari Zaya, aku ingin menceritakan semuanya mendapatkan maaf dengan apapun konsekuensinya, semua akan ku jalani asal maaf ku dapat.
"Pak, Bu, kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf." ucap ku dengan rasa bersalah, mereka semua kebingungan, kakak laki-laki Zaya yang bernama Fahri pun ikut bingung dan menatap ke arah ku tidak suka.
"Ada apa nak Ares, kenapa meminta maaf." ucap pak Rudi, selaku orang tua Zaya.
Aku berlutut dihadapan kedua orang tua Zaya, sumpah air mata ku tak dapat ku bendung.
"Perceraian saya dan Aisyah bersangkutan dengan kepergian Zaya yang tiba-tiba."
"Hem? bagaimana? adik ku pergi karena mendapat pekerjaan di Jakarta, bukan karena kalian, memangnya ada apa dengan kalian? kalian bukan siapa-siapa untuk adik ku." ucap bang Fahri.
"Pak, Bu, saya sudah menodai Zaya." semua mata tertuju pada pengakuan ku, mereka semua penuh tanya dan amarah.
"Apa kata mu?" ucap bang Fahri lagi.
"Bang, dengarkan pengakuan saya sampai selesai, karena saya tidak bisa menyimpan semuanya lagi." mereka hanya diam sambil mengepal tangan, tanda amarah sudah memuncak.
__ADS_1
"Malam di sebelum Zaya pergi, saya telah menyentuh Zaya, saya hampir memperkosa Zaya."
buk...
"Apa kata mu?" bogem matang dari tangan berotot Fahri menghajar rahang ku, denyut sakitnya sampai mata ku menggelap, namun aku terus menjelaskan.
"Saya dalam keadaan mabuk saat itu, saya menyesal melakukan hal itu, maka dari itu saya menceraikan Aisyah di usia pernikahan saya yang baru 1 Minggu, saya tidak sanggup menanggung semuanya sendiri, rasa bersalah itu selalu muncul, bayangan Zaya yang menangis terus membayangi saya sampai rasanya mati pun lebih baik, sekarang saya serahkan semuanya pada kalian diri saya seutuhnya, matikan saya saja bang." ucap ku dengan tangis yang benar-benar ingin ku tumpahkan, semua yang ku rahasiakan akhirnya bisa ku bagi dengan orang lain, sedikit beban ku hilang, dan aku sudah menerima apapun konsekuensinya, jika harus mati malam ini juga aku tidak apa, asal jangan terbayang lagi tangis Zaya.
"Nak Ares bangun." ucap pak Rudi.
aku tak beralih sedikitpun, pak Rudi menyuruh Fahri dan istrinya masuk kedalam kamar untuk menenangkan diri.
"Biar saya di sini saja pak, saya ingin meminta ampun pada bapak, maafkan kesalahan saya yang sudah menghancurkan putri bapak."
"Nak Ares, sejauh mana kamu menyentuh putri saya, apakah saat itu putri saya terluka? apakah saat itu kamu sudah merenggut mahkotanya?"
"Kenapa tidak kamu teruskan?"
"Saya sadar, saat Zaya menangis dan menampar saya, saat saya hendak mengejar, kepala saya sakit dan setelahnya saya tidak tahu lagi."
"Jika di pagi hari kamu menemui Zaya dengan keadaan berbeda, jika kamu benar-benar melakukannya apa yang akan kamu lakukan?"
"maksudnya?"
__ADS_1
Tatapan mata pak Rudi menerawang jauh ke depan tanpa ku tau maksudnya.
"Jawab saja pertanyaan saya."
"Mungkin saya yang akan bunuh diri pak, sungguh saya menyesal, menyentuh Aisyah pun saya selalu teringat jeritan Zaya dan air matanya yang tumpah, sejak ijab kabul saya menyentuh tangan Aisyah sampai seminggu saya menikah, Aisyah tidak pernah mendapat sentuhan lagi dari saya, setiap Aisyah mendekat saya menghindar, saya tidak bisa melakukannya."
"Nak, kamu mencintai putri ku?" aku hanya bisa diam mendapatkan pertanyaan pak Rudi.
"Apakah bapak akan percaya jika saya bilang, saya tidak pernah memiliki perasaan cinta pada Aisyah, apakah bapak percaya jika pernikahan saya hanya kemauan kedua keluarga? lantas apakah bapak percaya jika putri bapak telah mengambil kewarasan saya di hari menjelang pernikahan?" tanya ku berulang pada pak Rudi, mencari satu kepercayaan dan pemikirannya.
"Kamu tau kamu mencintai putri saya, mengapa terus menjalankan pernikahan yang kamu akan tau akhirnya."
"Disanalah kesalahan saya, saya terlalu pengecut di saat Zaya tiba-tiba datang dan mengisi segala hal yang kosong, saya pikir bisa terus berpura-pura, nyatanya saya tidak bisa lebih lama lagi begini."
"Baiklah saya sudah tau, kemana saya harus mengambil jalan." ucap pak Rudi.
"Bagaimana pak, bapak akan menghukum saya dengan apa? saya akan sanggupi, jika bapak mau membunuh saya tidak papa saya rela asal maaf bisa saya dapatkan dari bapak dan keluarga."
Pak Rudi tersenyum menatap ku.
"Jika membunuh hanya mengotori tangan saya, jika menyuruh mu mati, terlalu singkat hukuman mu."
"Jadi?"
__ADS_1
"Nikahi Zayana, buat dia bahagia, buat dia melupakan semua rasa sakitnya, mintalah maaf darinya, itu sudah cukup untuk menghukum mu, Zaya putri ku yang keras dan akan susah membujuknya, lakukan maka maaf akan terbuka lebar untuk mu."
Pak Rudi berdiri dan menyuruh ku pergi, dan malam itu usai, aku terus memantau setiap gerak Zaya, sampai kami bertemu untuk pertama kalinya dan Zaya kembali di rundung emosi.