Nycthophile

Nycthophile
Kejujuran ku


__ADS_3

Kamar yang telah aku tempati beberapa bulan ini, menjadi saksi bisu dimana teriakan ku menggema, tangis ku menyeruak, aku benci Ares aku benci hidup ku, aku benci pernikahan ini, dan aku benci semuanya!!!


Teriak ku hanya bisa ku ucapkan dalam dada yang semakin hari semakin sesak, menuntut bercerai hanya akan menambah masalah baru, bapak akan marah besar, terlebih kesehatan ibu yang masih selalu ku pantau, Ya Allah aku butuh bantuan mu, tolong lepaskan hamba mu dari jerat ini.


Tok... tok... tok...


"Zayana, Zayana saya minta maaf, bisa buka pintunya sebentar? Zayana." ketukan pintu bersamaan dengan suara Ares yang memanggil nama ku, berserta kata maaf membuat ku muak, aku tidak butuh kata maaf atau penyesalan, aku hanya butuh bebas tanpa dia disini.


"Zayana, saya perlu bicara dengan kamu."


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu, terlihat Ares dengan wajahnya kusut nya, setelah pertengkaran tadi dan berakibat dia mencium ku, aku mau mendengar apa alasannya.


Tatapan matanya menghunus manik ku, mungkin dia melihat binar takut dimata ku, rasa kecewa yang begitu dalam, mungkin dia merasakan itu.


"Mau bicara dimana? " tanya ku.


"Terserah, teras belakang mungkin? "


aku beranjak, setelah menutup pintu kamar ku, jangan sampai Ares melihat kamar yang ku tempati berantakan karena amukan ku, jangan di pikir seorang mantan model, wanita berhijab seperti ku tidak bisa mengamuk dan marah, cover ku memang indah, tapi ketika mulai hancur aku pun juga berantakan.


langkah kami berhenti di teras belakang, susana malam sepi, dingin dan temaram lampu hias taman dan satu penerangan dari lampu teras cukup sunyi untuk kami berdiskusi.


"Saya akan bicara lebih dahulu. " ucap Ares mendahului, sementara itu aku hanya mengangguk.


"Kamu ingin kembali ke dunia model? kembali bekerja sama dengan Aditya? kamu ingin Photografer itu kembali memandang dan mengusik mu dengan tatapan menjijikannya?" tanyanya runtut.


"Apa maksud mu dengan tatapan menjijikkan? "

__ADS_1


"Siapa lagi? pria yang bersama mu di cafe dan menyatakan cintanya."


"Robert?"


"Entahlah, tidak penting."


"Kau menguntit ku? sejak kapan?" tanya ku kembali yang tidak habis pikir.


"Sudahlah, itu juga tidak penting, kau mau kembali ke dunia modeling? "


"Jika aku ingin, apakah bisa? " tanya ku kembali.


"kau ingin? " tanyanya lagi, sekarang sedikit memaksa.


"Ya, aku ingin kembali, tapi tidak mungkin, semua hal sudah kau renggut."


"Aku sungguh menjaga harga diri dan batasan ku tuan! " tegas ku.


"Aku mengizinkan mu, jika ingin kembali berinteraksi dengan kamera, hanya untuk busana muslim, tidak ada partner pria, dan satu hal lagi, satu kamar dengan ku."


Terkejut dengan kata-kata terakhirnya,


"Satu Kamar" gila satu rumah dengannya saja aku muak.


"Jangan mencari alasan agar bisa menjamah ku lebih tuan, aku tidak begitu ingin dengan pekerjaan itu. "


"Zayana, tadi mama ku telpon, dia mendengar kabar Aisyah yang sudah melahirkan, dia bertanya kapan giliran mu, pikirkan tenang satu hal, kita tidak bisa terus menerus seperti ini, aku ingin dekat dengan mu, aku ingin mendapatkan hati yang sudah terlalu lama aku impikan." ucapnya, dia hendak berdiri dan ingin kembali meninggalkan ku.

__ADS_1


"Tunggu." ucap ku.


Dia melirik ku dengan wajahnya yang paling aku benci, dia tau kelemahan ku ada pada Aisyah.


"Kamu bilang apa? " tanya ku.


"Pada mama?" dia bertanya dan aku mengangguk.


"Aku bilang, kita sedang berusaha, mungkin setelah tahun ini jika kamu tidak kunjung hamil maka kita berdua akan memeriksakan diri ke dokter." jawabnya.


" Bilang pada mama mu, bilang saja jika aku yang bermasalah. " mungkin jawaban ku di luar logikanya, tapi itu yang memang tidak bisa aku lakukan.


" Kau gila? "


"Kamu tau, betapa gilanya aku sejak malam itu, dua bulan lamanya aku hanya bisa tidur di jam delapan sampai jam sembilan pagi, setiap hari, bagaimana aku bertarung dengan perasaan ku sendiri, aku menyesal pernah mengagumi mu, aku menyesal pernah berfikir bahwa suatu saat aku akan mendapat pria seperti mu, pria yang saat itu dimiliki Aisyah, pria tatapan matanya selalu penuh cinta pada Aisyah, dan kamu tau aku pergi, bukan karena aku ingin, tapi aku tidak bisa melihat semuanya sakan akan sama seperti harapan ku, dua tahun aku menyembuhkan luka ku, luka yang bahkan ibu dan bapak ku tidak pernah tau, aku membenci mu dengan luka yang tidak akan bisa sembuh. "


kali ini aku benar-benar hancur, kali ini air mata yang selalu ku tahan meluap bersama emosi ku.


Mata nanar itu menatap ku dengan penuh keterkejutan.


"Zayana, kamu pernah mengagumi ku? kamu pernah meminta pria seperti ku?"


"Dulu sebelum aku tau siapa kamu, sekarang perasaan itu luntur, tidak ada sisa, jika kamu sekarang memiliki ku pun, bukanlah aku seutuhnya, hidup ku, diri ku tidak akan pernah utuh, katakan pada ibu mu apa yang aku katakan tadi, satu hal yang perlu kamu tau, hati ini tidak akan pernah jadi milik siapapun, kamu ataupun orang lain, bahkan Zafran pria yang dulu begitu aku cintai, ikut luruh bersama malam itu, kamu inginkan apalagi dari ku, tubuh? kau siap bercinta tanpa cinta? kau siap bercinta dengan ku dengan rasa takut ku yang selalu menghantui, jika kau siap silahkan, tapi selanjutnya kamu hanya akan membuat ku semakin tersiksa dan gila."


"Zayana, beri aku kesempatan, untuk membuat mu kembali, Zayana, aku tidak mungkin melepas mu, aku begitu mencintai mu, tidak apa jika kamu tidak bisa melakukan semuanya, tapi berikan percaya mu pada ku, mulai semuanya dari awal, Terima semua kenyataan ini, aku mencintai mu, dan malam itu adalah kesalahan ku, maafkan aku."


Ares berlutut di hadapan ku, mengecup punggung tangan ku, anehnya biasanya ada rasa jijik, tapi kenapa sekarang malah rasanya tenang, ya Allah aku tidak bisa begini.

__ADS_1


__ADS_2