
Cinta adalah satu makna dari ikhlas, jika kita mencintai sesuatu ada kalanya kita harus mengikhlaskannya terlebih dahulu, memaksa hanya akan membuat cinta itu terluka.
Aisyah Maharani, mereka biasa memanggil ku kak Aish, usia ku 26 tahun, menjadi janda di usia pernikahan yang baru satu Minggu adalah pilihan ku, bagaimana bisa hidup dengan laki-laki yang sebenarnya hanya berpura-pura mencintai ku, padahal ia menginginkan anak didik ku.
Pada awalnya memang aku yang jatuh hati pada mahluk paling pengertian bernama Areska Bagaskara, pertama kali bertemu dalam waktu lima menit aku langsung bisa mengenali karakternya, kemudian di lima menit berikutnya hati ku tertambat padanya.
Perjodohan antara ibu dan kedua orangtuanya membuat ku bahagia, terutama saat iya mengatakan bersedia menikahi ku, kebahagian ku bertambah ketika semua mimpiku tentangnya terwujud, kata sah terucap dan kami menjadi halal, namun setelah pernikahan tidak ada kegiatan saling menyentuh seperti pernikahan pada umumnya, semua membuat ku bertanya-tanya mengapa?
Awalnya ku pikir mungkin ia lelah karena sebelum pesta pernikahan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, sampai malam itu aku mengajaknya untuk berhubungan dan dia menolak serta mengatakan alasnya.
"Mas, kenapa? ada apa? kenapa mas menolak Aisyah, jika Aisyah ada salah tolong katakan mas," pertanyaan demi pertanyaan ku lontarkan saat berhadapan dengannya, matanya yang menatap ku membuat aku tau ada hal yang dia sembunyikan.
"Kamu gak salah Syah, aku yang salah, aku gak bisa memberikan nafkah batin untuk mu, selamanya mungkin."
Air mata ku turun tak terbendung lagi, mengapa? mengapa tidak bisa, kita halal secara ikatan, ada apa ini, gelombang emosi menjatuhkan diri ku sampai terduduk di atas ranjang, diambilnya tangan ku untuk di genggam.
__ADS_1
"Syah, kamu tau hal yang tidak bisa ku ungkapkan dan ku wujudkan adalah cinta dan perasaan ku sendiri, memendamnya bertahun tahun karena tak ada satu orang wanita pun yang dapat mengambilnya dari ku, namun ketika ku temukan indah nya perasaan itu, aku malah menikah dengan mu."
"Ini salah ku mas, salah ku yang memaksa mu."
"Bukan Syah ini salah ku, salah ku yang tak bisa mengontrol nafsu, salah ku yang tidak menghalalkan cinta ini dulu, aku hampir menyentuh dan membuat masa depan wanita yang ku cintai hancur."
Aku menatap matanya dengan amarah, bagaimana bisa pria yang seperti ini bisa melakukan hal laknat tersebut.
"Syah, aku di gerogoti rasa bersalah, maafkan aku yang tidak bisa menyentuh perempuan lain selain dia, aku masih membenci diriku sampai kini, karena perbuatan ku harus melukai wanita lainnya, maafkan aku Syah."
"Zayana Muzza, murid mu."
Air mata ku berhenti, ku hapus dan ku pusatkan sejenak pendengaran ku, menatap matanya dengan kebisuan.
"Kenapa harus Zayana mas? kenapa harus dia! kamu tau lukanya belum sembuh, dia wanita yang sedang rapuh, kamu menidurinya?!" teriakan ku dengan emosi yang benar-benar tersulut, itulah sebabnya dia tak membawa gaun pengantin ku, itulah sebabnya pagi itu dia tak datang, itulah sebabnya dia tak menghadiri pernikahan ku.
__ADS_1
"Aku tidak menidurinya Aisyah! aku mencumbunya karena mabuk!" penekanan di setiap perkataannya membuat ku bertanya.
"kamu tidak seperti yang ku kira mas, ku pikir kamu berbeda, ku pikir tidak akan pernah kamu menyentuh hal haram itu, ternyata... Talak aku sekarang juga!" ucap ku penuh yakin.
"Aisyah!" ucapnya tak percaya.
"Apa lagi? apalagi yang harus ku harapkan dari cinta sepihak ini, jika hanya membuat kamu tersiksa, aku tidak bisa hidup seperti ini, hidup dengan orang yang tidak mencintai ku, hidup dengan orang yang memiliki rasa bersalah yang tidak bisa termaafkan, seumur hidup kamu akan berada di dalam rasa bersalah itu, lebih baik sekarang kita bercerai itu lebih baik dibandingkan nanti disaat pernikahan ini berlanjut tapi kau malah menzinahi hati mu dengan rasa cinta mu pada Zayana, Aku ikhlas lilahita ala, jika kamu menalak ku sekarang dan mengejar Zayana, untuk alasan lainnya biarkan aku yang mencari dan meyakinkan ibu dan abi, talak aku mas."
Dua hari kemudian kami berdiskusi sampai pada akhirnya ibu dan abi, mengerti dengan alasan kami berdua, Abi menerima semuanya dengan baik dan kami pun berpisah dengan baik-baik.
Untuk menutup luka dan kesedihan ini, aku memantapkan diri untuk pergi ke Madinah, tinggal bersama dengan beberapa teman disana, dan berharap Allah menghapus semua rasa cinta ku untuk mantan suami yang kini tidak lagi memberikan senyuman penuh percayanya.
Areska, jika suatu hari nanti ada pertemuan diantara kita, aku ingin pertemuan itu adalah titik temu dimana aku sudah ikhlas dan kamu sudah bahagia, karena hanya dengan kebahagiaan mu aku bisa tenang, karena setidaknya semua usaha ku untuk berpisah tidak sia-sia, selamat menemukan kebahagiaan masing-masing.
Empat bulan selama di Madinah, aku pun menemukan seorang pria yang ingin menikah dengan ku, dan tanpa sadar aku pun telah terikat olehnya, dia pria yang dulu pernah menjadi cinta pertama ku, pria yang dulu sempat di gantikan oleh Ares, Aku menceritakan semua hal tentang diri ku padanya, tak ku sangka ternyata selama ini dia masih menunggu ku, pergi dan menghilang memang pengecut, tapi kembali untuk memantapkan hati adalah sebuah pilihan.
__ADS_1
Terimakasih ya Allah kau memisahkan ku dengan Ares dan menyatukan Aku dengan Rahdian adalah jalan gelap yang kau beri cahaya, sehingga aku bisa berjalan dengan tenang, tanpa menduga-duga apa yang harus ku pijaki.