
Teriknya matahari kini berubah menjadi teduhnya sore, dan sore ini hujan turun cukup deras, sehingga membuat kami harus menunggu tetesannya sedikit berhenti, kios tukang bakso lah yang menjadi tempat kami berteduh, meski pakaian kami nyaris kuyup.
"Bang Fahri, kenapa?" ujar ku, mendapati sendu pada air wajah kakak ku ini.
"Tidak," jawabnya singkat sambil kembali memandangi hujan yang turun semakin deras.
"Rindu atau masih belum ikhlas emm?" ujar ku kembali.
"Hanya rindu, Za kalau Abang nanti pergi, kemana pun itu, Abang titip bapak dan ibu ya."
"Maksud Abang?" aku panik karena tak biasanya Abang ku ini seserius ini.
"Bulan depan Abang mau perjalanan dinas ke Padang, mungkin akan menetap disana, sampai masa kedinasan Abang habis, Abang takut kalau bapak dan ibu hanya berdua saja."
"Tak bisa diundur? sampai pekerjaan Za selesai, Abang beberapa bulan lagi Za ada perjalanan ke Qatar sebagai tanggung jawab terakhir dalam kontrak kerja Za."
"Ajak mereka ke Jakarta, apartemen mu cukup luas Za."
"Lalu? saat Za ke Qatar?"
Wajah bang Fahri berubah menjadi lesu ia menarik nafasnya dan tersenyum.
"Mungkin setelah kembali dari Qatar saja Za, untuk beberapa bulan Abang yakin bapak dan ibu tidak papa, tapi nanti yang Abang takutkan."
"Oh, setelah Za kembali dari Qatar, Za memang berniat ingin satu rumah lagi bersama bapak dan ibu, memperhatikan mereka berdua, Za hanya takut, tidak bisa membuktikan bakti Za pada bapak dan ibu, terlebih Abang tau Za dulu seperti apa, Perempuan galak yang tidak mau menurut, perempuan yang hijabnya hanya kamuflase."
"Tapi sekarang kamu berubahkan? sekarang Za yang Abang kenal adalah perempuan cantik dengan tutur kata lembut, perempuan pendiam dan tak banyak mau, terimakasih sudah mau berubah."
"Abang tidak menyebutkan kata Solehah di dalamnya?"
__ADS_1
"Tidak Za, Soleha mu masih terlalu jauh, masih sering mengundur waktu solat? masih sering berekspektasi kepada selain Allah dan masih suka sombong? Solehah itu masih jauh."
"Abang benar, terimakasih Abang sudah mengingatkan Za."
"Sama-sama, ayo kita pulang, sudah hampir magrib juga, hujan juga sudah mereda."
Ku lihat ke luar kios bakso, memang sudah berubah menjadi gerimis ringan dengan angin sedang.
Sesampainya di gerbang rumah ku yang tak seberapa, aku melirik Abang ku yang juga menatap ku sambil menggaruk kepalanya.
"Siapa?" tanya ku kepada bang Fahri mengenai sebuah mobil Honda Jazz biru yang terparkir di halaman rumah ku.
"Masuk, nanti Abang jelaskan." Abang menarik tangan ku, tapi aku bersih keras tidak mau masuk kedalam rumah.
"Jelaskan atau detik ini juga Za kembali ke Jakarta!" tegas ku.
"Bapak yang memintanya datang."
"Abang juga tidak tau Zana." jelasnya lalu melangkahkan kaki ke dalam.
Aku mengikuti Abang ku, menundukkan kepala saat memasuki ruang tamu, aku enggan bertemu pria ini, entahlah nanti akan ku jelaskan mengapa, siapa dia dan kenapa aku begitu membencinya.
"Assalamualaikum." Aku segera pergi menuju kamar ku di lantai dua, namun bapak mencegah ku dengan perkataannya.
"Zana, nak Ares datang untuk bertemu dan bicara dengan mu." ucapan bapak yang satu itu membuat ku menatap laki-laki berkacamata itu.
"Duduklah sebentar bapak akan kedalam." ucap bapak meninggalkan ku yang masih mematung di bawah tangga dengan tatapan benci, lambat laun dengan perasaan kesal aku duduk di hadapan pria berkacamata itu.
"Jangan membuat alinea baru, silahkan masuk ke topik utama!" geram ku.
__ADS_1
"Bahkan topik utama juga akan membentuk alinea." jawabnya.
Aku terdiam menatap meja, aku tak mau menatap pria itu, karena setiap kali mengingat nama atau wajahnya, rasanya aku ingin menusuknya dengan pisau.
"Sepulangnya nanti kamu dari Qatar, saya mau menikahi mu." ujarnya.
Mata ku memanas, hati ku sakit.
"Saya tidak mau." ucap ku menolak.
"Tapi bapak mu yang menginginkannya!" ujarnya.
"Anda tau saya seorang pembangkangan, lantas kenapa jika sekali lagi saya melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah saya lakukan dulu?" tatapan ku tajam menghujam wajahnya.
"Tidak bisakah melupakan semuanya dan kita berteman?"
"Semua hanya dalam ilusi mu, saya tidak akan pernah jatuh kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, anda paham bukan? apa yang saya inginkan sekarang? jadi untuk apa masih ada di hadapan saya lebih baik pergi dan menjauh." ucap ku.
"Zana, maafkan saya atas segala sesuatunya, lupakan semuanya Zana, saya menyesal."
"Menyesal? baru sekarang? kemana rasa sesal mu itu? kenapa tidak meminta maaf dan memberanikan diri untuk datang saat saya hancur! bahkan lebih tepatnya kenapa kamu melakukan semuanya tanpa berfikir dua kali?"
"Zana..."
"Cukup! lebih baik kamu pergi sekarang sebelum bapak dan ibu tau siapa kamu! pergi!"
"Mereka sudah tau, bahkan saya sudah menceritakan semuanya tentang kita, dan atas itu saya mau menikahi kamu untuk bertanggung jawab, menebus segala kesalahan saya."
"Saya tidak mau tanggung jawab itu, saya sudah sembuh, dan saya tidak mau kembali merobek luka."
__ADS_1
"Zana, kamu tau bagaimana saya melewati hari sejak saat itu? saya juga hancur sama seperti kamu, saya bercerai dengan Aisyah yang baru saya nikahi satu Minggu, saya menyesal, saya mencari kamu, sampai saya melihat kamu dalam sebuah poster di majalah makeup, saya mencari tau kamu tinggal dimana, apakah kamu baik-baik saja, saya juga ingin menemui kamu, tapi baru sekarang saya memiliki keberanian."
"Pergi!" ujar ku, air mata ku hampir tumpah, tapi tidak akan ku perlihatkan pada manusia ini, tidak akan pernah!