
Pagi ini aku bangun lebih siang dari biasanya, jam di dinding menunjukkan pukul 09.00 bude Ros baru saja menghubungi ku jika hari ini dia ingin datang ke rumah bersama anaknya yang terakhir bernama Ani.
Pukul dua belas lebih lima belas menit, akhirnya bude datang bersama Ani dengan sepeda motornya, Ani si gadis remaja berusia 15 tahun itu terlihat manis dengan perawakan mungilnya.
"Assalamualaikum Za, gimana kabar mu, baik-baik saja kan selama disini." tanya bude Ros yang baru ku temui lagi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya.
"Waalaikum salam, Alhamdulillah bude Za baik, Ani apa kabar? gimana sekolah mu?" tanya ku kembali.
"Baik mbak, sekolah ku juga Alhamdulillah." jawab Ani.
Setelah mempersilakan mereka masuk dan duduk, aku pun menyiapkan minuman dan cemilan ringan.
"Mbak Za, juga suka nyemil ini?" tanya Ani.
"Itu punya suami mbak, mbak gak suka ciki-ciki kaya gitu, tenggorokan mbak bisa sakit." jawab ku.
"Mbak Za sudah menikah?" tanya Ani, maklum tak semua keluarga besar tau dengan pernikahan ku.
"Sudah." jawab ku singkat sambil merapihkan beberapa buku yang tercecer di meja, ulah Ares, siapa lagi yang membaca buku sebanyak ini sampai pagi, setelah listrik kembali menyala pukul tiga dini hari.
"Za, Ares kemana? ada di rumah kan?" tanya bude yang melihat sepatu kerja Ares di halaman namun tak terlihat batang hidung manusia itu.
"Ares ada di kamar bude." beberapa menit setelah aku menjawab, Ares keluar dari kamar tamu menuju dapur, mungkin ia haus ingin minum.
"Eh, nak Ares..." Sapa bude setelah Ares selesai dari dapur.
"Eh, Ada bude, sudah lama ?" tanya Ares sambil menyalami bude.
__ADS_1
"Baru sekitar dua puluh menitan lah, Loh wajah mu pucat nak? kamu sakit?" tanya bude serius sambil mengecek suhu tubuh Ares dengan tangannya.
"Cuma kurang enak badan bude, semalam kehujanan, tapi udah minum obat, ini juga sudah mendingan." jawabnya.
"Za, kamu punya jahe?" tanya bude.
"Jahe? sepertinya ada bude, untuk apa?"
"bude mau buatkan obat untuk suami mu, ini demamnya lumayan loh Za, coba kamu periksa, Ares kamu di kamar aja, Za temani Ares, bude mau buatkan obat dulu, sediakan dia makan juga, kamu sudah makan belum Res?" Bude memang seperti ini panikan, dan cepat mengambil keputusan.
"Belum bude, ini saja baru bangun." jawab Ares dengan nada yang entah disengaja atau tidak, tapi terlihat lesu.
Aku mengantar Ares menuju kamar, Ares langsung merebahkan diri di kasur.
"Terimakasih ya Sayang." ucapnya dengan nada lembut yang mungkin sedang mengejek ku.
"Za, saya tidak tau mau sampai kapan kamu begini, tapi cepat atau lambat seharusnya kamu sudah menerima saya menjadi suami mu."
"Jangan membicarakan hubungan yang sedang kita jalani, pernikahan hanya sebuah status, hati dan jiwa saya menolak logikanya secara bersamaan, mau seperti apapun status kita, mau seperti apapun yang terjadi saat ini, rasanya hanya tubuh saya yang berada di sini, tanpa jiwa, tanpa perasaan." ucap ku dengan penuh penekanan, aku lelah dengan segala hal yang menyiksa nurani ku.
Setelah pembicaraan yang berujung menyiksa, bude menyuruh Ares untuk meminum jamu buatannya, katanya untuk menghilangkan efek demam dan pusingnya.
"Mbak Za, mas Ares itu bukannya calon suaminya Kak Aish ya?" Ani bicara dengan lugunya tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi, Ani benar.
Aku tersenyum menanggapi Ani.
"Benarkan mbak Za?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya, Ani benar." ucap Ares yang tiba-tiba ada di belakang ku, yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama Ani dan bude Ros, Ares memeluk ku dari belakang serta mengecup kepala ku dengan mesra, aku memaksa supaya Ares melepas pelukan dan tangannya dari tubuh ku, namun Ares semakin keras menahannya.
Semua perlakuan Ares membuat bude Ros penuh tanda tanya.
"Maaf, mungkin bude dan Ani bertanya-tanya tentang hal ini, Ares akan jelaskan semuanya." sejenak hening menyapa, Ares melepas pelukannya dan duduk di samping ku.
"Jadi begini bude, Ares mencintai Zayana saat Ares dan Aisyah sudah bercerai, Ares menikah dengan Aisyah sebab paksaan dari kedua orang tua kami, namun segala sesuatu yang di paksa tidak akan baik pada akhirnya, seminggu setelah pernikahan, Aisyah dan Ares memutuskan untuk bercerai secara baik-baik, agar Aisyah dapat menemukan pria yang benar-benar mencintai dirinya tanpa berpura-pura seperti Ares."
Pembohong yang ulung, sampai kapan Ares? sampai kapan kita harus membohongi semua orang kecuali ibu dan bapak, bahkan orang tua mu saja tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi sekarang kak Aisyah tinggal di Jeddah, kata remaja masjid yang mengaji di majelis pak Bukhari, kak Aisyah akan pulang di tahun-tahun ini, sebab ia sedang hamil dan akan melahirkan di Indonesia." Ani kembali menceritakan Aisyah.
"Benarkah, Aisyah tengah mengandung?" Ares kembali mengurai kata.
"Iya mas Ares, Ani kira kak Aisyah tinggal di Jeddah bersama suaminya yaitu mas Ares, soalnya kabar perceraian kak Aisyah dan Mas Ares tidak pernah terdengar." ucap Ani, Ani memang tahu semua tentang perkembangan Aisyah, kecuali perceraian itu, sebab Ani merupakan salah satu anak didik pak Bukhari ayah dari Aisyah.
"Ani, mbak boleh minta tolong?" tanya ku, entah hati ku ingin apa, tapi kurasa ini yang terbaik.
"Iya ada apa mbak?"
"Nanti setelah Asar, bisa antar mbak ke rumah Abi Bukhari." pinta ku.
"Mbak mau apa?" tanya Ani.
"silaturahmi." ucap ku singkat, dan segera pergi dari hadapan mereka semua.
Di dalam kamar, air mata ku kembali luruh, ya Allah bagaimana jika Abi Bukhari marah pada ku, apa yang akan ku lakukan, tapi aku akan memperjelas semuanya, sampai rasa bersalah ini termaafkan, aku yang telah membuat nama anak perempuannya rusak.
__ADS_1