
Bandar udara internasional Hamad....
Qatar, akhirnya setalah menempuh perjalanan udara yang melelahkan aku dan team sudah mendarat dengan selamat di negara pengekspor minyak bumi terbesar di dunia.
Doha, kami akan singgah di kota itu sampai akhir pekan, dua tau tiga hari, setelah hari ini, disini akhir pekan jatuh pada hari Jumat dan Sabtu, Doha merupakan kota kedua teraman di dunia, jadilah aku mungkin akan merasa nyaman saat berada di sini sampai ke pulangan ku nanti.
Setelah keluar dari airport, aku dan crew menuju hotel, hotel bintang empat yang kami dapatkan, terkesan begitu mewah, aku jadi berfikir bagaimana hotel bintang limanya.
"Zana, Gadis, dan team kita hanya punya waktu 4 jam untuk istirahat, setelah itu kita akan melakukan pemotretan di rooftop gedung di tengah kota." ucap seseorang yang menjadi penanggung jawab tour ini.
Kami semua hanya mengiyakan dan menuju kamar masing-masing.
Aku dan Gadis memilih untuk segera bersih-bersih dan istirahat sampai tepatnya pukul satu siang nanti.
Alarm yang membangunkan tidur ku berbunyi, sudah saatnya kami bersiap dan melakukan pekerjaan dengan semestinya.
Mereka semua sudah menunggu di lobby hotel dengan sebuah mobil mini bus, crew yang kita bawa memang tak seberapa, tapi peralatan dan beberapa produk yang akan kami iklankan itu sangatlah banyak, sampai di sebuah gedung tertinggi di pusat kota, crew mempersiapkan segala sesuatunya, sementara aku dan Gadis mempersiapkan diri.
Sesi pertama adalah iklan untuk sebuah produk makeup, jujur saja aku suka dengan warna dan tekstur yang diberikan makeup ini, jadi di awal kontrak dengan produk ini aku begitu antusias, cukup 3 kali mengulang pose dan pengenalan karakter make up, pekerjaan ku selesai.
Sesi ke dua memakan waktu sekitar 2 jam, karena ini adalah merek dagang berlabel perhiasan, padahal hanya untuk poster karena aku adalah salah satu brand ambassadornya, tetapi di pemilik brand ini sedikit ribet.
Sesi terakhir adalah sebuah label busana muslim, aku selalu berhati-hati di tahap ini, takut takut aku malah memperlihatkan aurat ku, atau malah menjerumuskan mereka.
Jam sudah menunjukan waktu untuk kembali ke hotel, sudah larut malam, tetapi seakan kota ini tidak pernah tidur, Setelah sampai di hotel aku meminta ponsel ku yang masih berada di tangan Gadis.
"Dis, ponsel ku?" tanya ku.
__ADS_1
"Oh iya, maaf aku lupa." dia segera mencarinya di dalam tas. "Ini." sambil menyodorkan ponsel ke hadapan ku.
"Makasih." ucap ku.
Dua puluh dua panggilan tak terjawab dari nomer ibu, dan beberapa pesan dari nya.
"Zana, bisa kamu pulang sekarang, ibu mu, sedang berada di rumah sakit."
"Za, angkat telponnya, bapak butuh kamu."
"Za sesibuk itu sampai tidak perduli dengan ibu mu?"
"Zana, ibu mu kritis, tekanan darahnya terlalu tinggi, menyebabkan pembuluh darah di otaknya pecah, dan kami akan melakukan tindakan operasi secepatnya."
"Zana, bapak harap kamu bisa pulang segera nak."
Air mata ku lolos, aku tak tahan, aku tidak bisa, aku harus pulang.
"Dis, ibu ku di larikan ke rumah sakit, ibu ku hipertensi dan ada pembuluh darah di otaknya yang pecah, aku harus pulang." Mungkin ini kali pertama Gadis terlihat ku seperti ini, ketakutan dan tak tau arah.
"Tarik nafas dulu Za, tenang."
aku menurutinya, aku melakukan apa yang di suruh oleh Gadis.
"Sudah lebih tenang?" aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
"Sekarang telpon bapak mu, minta maaf dan dengarkan apa yang ia sampaikan." aku mengangguk dan menelpon bapak.
__ADS_1
Dua kali sambungan di matikan, namun tak jera aku terus menghubunginya.
Kali ke 4 barulah panggilan ku di jawab.
"Assalamualaikum, bapak? bagaimana keadaan ibu, maafkan Za pa, ponsel Za mati,..
"Ibu mu sudah berada di ruang perwakilan, jangan khawatir." Suara seorang laki-laki terdengar dari ponsel itu, bukan bapak, tapi suara yang begitu aku benci.
"Dimana bapak? kenapa...
"Tenang dulu Za, bapak mu sedang solat, semua ponsel di tinggal bersama saya, sedari tadi ponsel ini berbunyi dan karena takut penting jadinya saya angkat, dan ternyata kamu, Za nanti akan saya beri tahu pada bapak kalau kamu menelepon."
"Baiklah..." Dari kejauhan aku mendengar, suara bapak.
"Siapa nak Ares?"
"Zaya Pak."
"Mana, saya perlu bicara." ponsel pun beralih.
"Za, kamu gak bisa pulang?" tanya bapak, suara serak akibat menangis, membuatnya sumbang.
"Maafin Za pak, Za benar-benar tidak tau, maaf pak."
"Tidak apa, nak, cepat selesaikan pekerjaan mu, lalu kembali, kasian ibu mu dia terlalu memikirkan kamu."
"Pak, jaga ibu sampai Za kembali ya, Za janji akan selesaikan semua tepat waktu." ucap ku dengan suara serak karena air mata ku runtuh tak terbendung.
__ADS_1
"Bapak dan ibu menunggu mu nak, bapak tutup ya."
Setelah sambungan terputus, aku menangis sejadi-jadinya, tanpa perduli siapa orang yanga ada di dekat ku.