
Bukan hanya karena ego ku yang ingin bekerja di Jakarta, aku meninggalkan rumah dan orang tua ku di Surabaya memiliki alasan yang amat sangat logis, aku ingin melarikan diri sejauh-jauhnya dari Areska Bagaskara.
Setelah wisuda, aku kembali ke rumah orang tua ku, ke Surabaya tentunya, setelah luka ku yang hebat karena Zafran dan Ruhi yang membuat ku sakit bukan main karena patah hati, aku bertemu dengan pria itu, dia yang ku pikir akan menjadi teman baru yang akan membimbing ku, tiga bulan lamanya kami saling mengenal, aku tau dia akan segera menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya yaitu Aisyah.
Aisyah adalah seorang ustadzah, semua keluh kesah ku, ku sampaikan padanya, tentang aku yang sedang hancur karena kecewa akan cinta pertama ku, dari Aisyah, aku belajar banyak, sampai aku benar-benar mencintai gelap, saat itu aku mulai bangkit mencari pekerjaan dan menyibukkan diri, sampai akhir aku bertemu Areska Bagaskara, pria santun yang selalu menatap Aisyah penuh cinta, aku pun ingin sekali menjadi Aisyah tentunya bukan dengan Areska.
Seminggu lagi mereka akan menikah, aku sibuk membantu Aisyah untuk persiapan pernikahannya, aku ikut bahagia, sampai tiba di suatu malam, aku bertemu dengan Areska, dia meminta ku datang untuk mengambil gaun pernikahan mereka yang seharusnya di kirim langsung ke rumah Aisyah tapi malah di kirim ke rumah Areska, aku menyanggupi untuk datang, niat ku memang baik, tapi nasib ku yang tak baik.
"Bang Ares, Za sudah ada di depan pintu gerbang." pesan ku melalui WhatsApp.
"Ya sebentar."
Kemudian Areska membukakan pintu gerbang dan membawa ku masuk kedalam rumah itu, rumah yang tidak aku tau bahwa di dalamnya tidak ada manusia selain aku dan Ares.
__ADS_1
Bau alkohol menyeruak memenuhi indera penciuman ku, naluri ku menolak, aku tetap berfikir jika Ares adalah laki-laki baik, ternyata aku tak mengenalnya dengan baik.
Ares memaksa ku, menarik ku menuju kamarnya, dia mencumbu dan menjamahi hal yang seharusnya di haramkan, aku tak berkutik, namun semua berhenti saat aku menamparnya dan menendangnya. Setelah semua itu aku membencinya, aku tidak mau melihatnya.
Pagi setelah kejadian, aku berpamitan kepada bapak dan ibu untuk pergi, kembali ke Jakarta hanya dengan modal nekat dan sisa tabungan beasiswa ku yang tak seberapa sampai dua tahun berlalu aku tak kembali ke Surabaya, jika bang Fahri mencari atau ibu dan bapak rindu merekalah yang datang kepada ku, karena aku tak mau kembali lagi mengenang kota ini.
Diantara luka yang paling perih, yang terperih adalah luka yang di sebabkan Areska, lelaki biadab itu adalah lelaki yang paling ku benci, sampai rasanya nyaris mati jika aku menatapnya.
Malam ini Aku sudah membenahi pakaian dan beberapa barang yang harus kembali ku bawa, besok pesawat paling pagi sudah ku pilih, Gadis juga sudah ku hubungi agar bertemu langsung saja di bandara.
"Ya Rabb, mengapa engkau mempertemukan kembali hamba dengannya, Ya Rabb, aku sudah mulai sembuh dari rasa takut yang menggerogoti ku, namun mengapa, lagi dan lagi kau menguji ku..."
"Apakah semua ini adalah jawaban dari segala doa ku, yang pernah menginginkan pria seperti Ares? tapi itu semua dulu, sebelum semua itu terjadi, sekarang aku hanya ingin menjauh darinya, aku membenci dengan segala hal yang manusia itu lakukan terhadap ku."
__ADS_1
Lagi dan lagi solat malam ku penuh dengan rasa muak yang selalu ku keluhkan pada tuhan ku, ampuni mahluk pembenci ini ya Allah.
Pagi-pagi sekali bang Fahri sudah siap dengan mobil yang akan mengantarkan ku ke bandara, Gadis sudah menatap ku dengan mata berbinar.
"Bagaimana? sudah selesai?" tanya Gadis yang juga menatap bang Fahri dengan heran.
"Dia Abang ku, Fahri namanya." ucap ku saat ku tau arti dari tatapannya.
"Gadis Mas, Asisten pribadi Zayana." Gadis membungkuk memberi rasa hormat.
"Loh, kenapa Za tidak memberi tau bahwa ada orang lain yang ikut bersamanya? kenapa gak kamu ajak kerumah aja Za?" sambut bang Fahri yang hanya sekedar basa-basi.
"Lebih nyaman hotel mas." ucap Gadis."
__ADS_1
"Baiklah, sudah saatnya, Za pamit Bang." ucap ku setelah jam di tangan menunjukan bahwa kami harus berangkat.
"Hati-hati." ujar bang Fahri.