
Pagi hari pukul 09.00 setelah aku selesai mandi
dan ingin bersiap ke kampus untuk menemui dosen dan menyerahkan hasil revisian
nya. Aku pun menunggu di bawah pohon sambil ngadem karena dibawah pohon itu
sangat sejuk. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 namun aku belum mendapatkan
kabar dari Pak Putra. Sudah 1 jam aku menunggu, beliau kemana ya, mana perutku
sangat lapar, aku sengaja tidak sarapan karena takut terlambat, namun akhirnya
aku menunggu juga. Huuh
“Pagi Andini.” Sapa Erik tiba-tiba datang
Aku langsung menengok ke depan dan sangat terkejut
melihat Erik dengan setelan Jas berwarna abu-abu dan celana jean membuat
penampilan sangat keren sekali. Aku sangat terbengong-bengong melihat Erik
sangat tampan banget. Sampai-sampai membuatku bingung sendiri
“Nunggu Pak Putra ya? Sama aku juga sedang nunggu
beliau. Kamu sudah sarapan?” bertanya kepada Andini
Aku hanya geleng-geleng kepala saking terpesonanya
Erik pun senyum-senyum melihat tingkahku yang
luguh
“Bagaimana kalau aku ajak kamu ke cafe yang dekat
disini?” ajak Erik ke Andini
“Ah.. tidak usah pak. Aku takut Pak Putra
tiba-tiba ngabarin aku” jawabku dengan cepat
“Aku juga kan akan bertemu dengan Pak Putra. Kita
akan bareng nanti bertemu dengan Pak Putra” jawabnya sambil merayu ku hingga
aku mau diajak nya ke cafe. Iya sih aku
juga lapar sekali. Yaudah deh aku ikut saja. Pintaku dalam hati. Erik
berjalan didepanku dan sambil melihat ponsel miliknya. Erik terdiam tiba-tiba
dan membuat aku menabrak punggungnya “aduh.. “ jerit ku sambil memegang dahiku
yang sakit
“Kamu ngga papa Andin?” tanya Erik langsung
berbalik kepadaku
“Ngga papa apanya sakit tau. Kenapa berdiri
tiba-tiba sih ?” tanyaku sedikit kesal
“Sorry Andin tadi aku mendapat kabar dari Pak
Putra katanya beliau tidak bisa hadir hari ini dikarenakan sakit.” Jalasnya
“Yah. Cancel lagi deh.” Gerutuku
“Yaudah bagaimana kalau kita abis dari cafe terus
jalan-jalan.” Ajak Erik kepadaku.
“HHmm.. giamana yah padahal hari ini aku kan mau
ngorder Rik” jawabku dengan suara pelan
“Hari ini saja boleh?” rayu Erik dengan wajah
tersenyum manis
“Yasudah deh aku ikut” jawabku luluh.
Erik pun tersenyum dan melanjutkan langkah kami
menuju cafe tetapi kini Erik disampingku bukan didepanku lagi. Entah mengapa
jalan disamping Erik membuat dadaku sedikit deg-degan tapi bahagia. Sesekali
aku melirik kearahnya walaupun dia sedang melihat ponselnya tapi dilihat dari
__ADS_1
samping wajahnya sangat manis dan senyumnya yang menawan. Tiba di penyebrangan jalan aku terkejut tangan
ku digenggam oleh Erik dan menyeberang sangat hati-hati. Entah kenapa hatiku
berdegup sangat bahagia bisa di gandeng oleh cowok yang sangat tampan. Tiba di
cafe Erik mengambil buku menu lalu mengantar nya ke meja aku dengannya. Dan wah
menu nya sangat menggungah selera banget apalagi lagi keadaan lapar-laparnya.
“Kamu mau pesan apa Ndin?” tanya nya sambil
memandangiku
“Rice with Chiken Sauce Black Paper aja Rik.
Minumnya Chocolate Milkshake kalau kamu apa?” tanyaku sambil menyerahkan buku
menu lagi ke Erik.
“Samain aja deh kebetulan aku juga ingin makan
yang itu, tapi aku minumnya Soda aja”
“jangan Soda Rik minumnya, ngga baik untuk
kesehatan lebih enak teh manis atau jus jeruk aja deh”
“kenapa emangnya? Tanya Erik penasaran
“Ya takutnya gak bisa singkron aja sama makananya
gitu Rik, eh tapi terserah deh kan kamu yang pengen minum soda, aku sih hanya
menyarankan saja” jelasku
Erik mencoret pesanan minuman yg dia inginkan dan
menggantinya dengan jus jeruk. Aku yang melihatpun merasa senang karena saranku
bisa diterima olehnya. Tak menunggu waktu lama pesananku dan pesanan Erik
datang. Kami menghabiskan waktu untuk makan sekitar 45 menit sambil
berbincang-bincang tentang hal pribadi.
“Erik, kamu punya pacar nggak untuk
sekarang-sekarang ini?” tanyaku yang sudah tak malu lagi dengan nya
pacar aku 2 bulan yang lalu.” Jawabnya dengan santai. Aku terkejut seketika
mendengar Erik ditinggal nikah. Siapa yang menolak Erik. Wajah nya yang tampan
dan manis. Memiliki tubuh yang sempurna tinggi putih dan bersih, mata nya yang
sedang dan hidungnya yang mancung. Cewek mana yang idak tergila-gila dengan
pesona Erik. Aku pun sangat terkejut mendengarnya.
“Hah? Ko bisa ditinggal nikah?” tanyaku dengan
penasaran.
“Eh Andin kamu udah belum makan nya, antar aku ke
toko kue ya abis ini, aku sudah selesai makan nya.” Erik memotong pembicaraan
ku.
Yasudahdeh aku segera menghabiskan makananku dan
Erik pergi ke kasir untuk membayar makanan nya lalu menghampiriku dan
melanjutkan perjalanan ke toko kue.
“Erik, kita mau naik apa? Motorku ada di kampus
loh, ngga naik motor aku aja?” tanya ku
“Engga. Kamu ngga liat cuaca hari ini sepertinya
mau hujan. Kita pesan taxi online saja ya” jawabnya
Tak menunggu waktu lama taxi online yang dipesan
Erik datang dan mengantarkan kita ke toko kue. Tak butuh waktu lama hujan pun
turun sangat derasnya. Erik perhatian
banget sih tidak ingin aku kebasahan. Aku senyum-senyum sendiri. Karena
__ADS_1
perjalanan macet menuju toko kue aku merasa sangat nyaman duduk di samping Erik
melihat rintik hujan turun dan memandangi suasana kota yang ramai padat
penduduk.
Sekitar 20 menit didalam taxi, akhirnya sampailah
tempat tujuan kita yaitu toko kue. Walau hujan masih mengguyur Erik turun
duluan dan melarangku untuk turun. Aku pun nurut saja. Dan Erik membukakan
pintu sambil memayungkan jas miliknya agar aku tidak kebasahan sama sekali. Aduh romantis banget si Erik. Gerutu
batinku
Setelah selesai membayar tagihan taxi online Erik
pun memakaikan jas miliknya ke tubuhku padahal bajunya Erik setengah basah
karena hujan. Tapi masih saja memakaikan jasnya untukku. Lalu kami masuk ke
toko kue itu.
“Andin. Tolong pilihkan kue yang bagus ya “ pinta
Erik
“Kue untuk apa ini Rik?” tanyaku kepada Erik
“Untuk ulang tahun ibuku” jawabnya dengan
tersenyum
“Oh. Baik aku akan pilihkan kue yang terbaik.”
Jawabku
Aku melihat-lihat sekeliling dari pojok kanan
hingga pojok kiri memandangi bentuk kue ulang tahun. Mataku terpikat oleh kue
cokelat berlapis coklat cair dan bertoping batangan cokelat yang siapapun yang
melihat akan tergoda oleh bentuknya. Setelah kue sudah dipesan Erik pun
membayar ke kasir dan membawa nya untuk pulang. Aku melihat sepertinya Erik
kedinginan karena menggesek gesekan telapak tangan nya dari tadi. Apa Erik kedinginan ya karena kebasahan
tadi. Lalu kenapa dia memberikan jas nya untuk ku. Aku harus berbuat apa? Apa
genggam tangan nya aja ya? Tanya ku
dalam hati
Setelah keluar dari toko tersebut hujan masih
turun walau tidak sederas tadi. Kami pun duduk di depan toko sambil menunggu
hujan turun. Aku berinisiatif untuk menghangatkan telapak tanganya dengan
menggengam tangan ku ke tangan nya. Tapi ada rasa malu tersendiri. Tapi aku
tidak tega melihat Erik kedinginan. Aku paksakan saja menggenggam tangan nya
dan membuat Erik sontak terkejut.
“Maaf aku lancang” aku terkejut melihat reaksi
Erik kaget melihat tangannya digenggam oleh ku
“Tidak apa-apa Ndin santai aja” Erik tersenyum dan
sekarang Erik yang menggenggam tanganku dengan erat.
Oohh Tuhan aku senang sekali digenggam oleh Erik rasanya gak mau lepas. Sahut batinku yang sangat kegirangan
ini.
“Makasih ya Andini kamu sudah menemani aku
memilihkan kue untuk Ibuku.” Sapa Erik dengan tersenyum dan memegang tanganku
lebih erat lagi
“Iya sama-sama makasih juga udah mengajakku
kemari” balasku dengan senyum
Biarlah hujan ini menjadi saksi bahwa dibawah
__ADS_1
derasnya hujan ini ada cerita yang sangat membahagiakan antara aku dengan Erik.
Dosen di kampusku.