
Dreettt dreeett drettt...
Duh siapa sih yang nelfon gerutuku yang sedang
membawa motor mengantarkan orderan pesanan orang. Ia langsung menepikan
kendaraan nya dipinggir trotoar dan menjatuhkan standar nya.
“Hallo? Ada apa Osu? Lu tuh ya gue lagi ngojek
pake nelfon segala” omelku
“Andin, lo dimana? Tolong gue Ndin, gue di jalan
Tirtayasa samping toko buku gramedia” ucap Joshua disebrang telfon sana dengan
suara merintih.
“apa? Lo kenapa? Yaudah tunggu disana, gue
sebentar lagi kesana” ucapku yang langsung mematikan telepon dan menaruh lagi
disaku celana. Aku yang saat itu tidak memperdulikan orderan pesanan milik
customer dan langsung tancap gas menuju lokasi Joshua sekarang. 15 menit aku
telah sampai di tempat lokasi yang Joshua bilang. Dan banyak sekali orang-orang
yang berkerumun disekitar membuat ku makin panik. Motor telah ku parkirkan
sembarangan karena melihat kondisi yang kurang kondusif, setibanya di tempat
kerumunan itu aku melihat Joshua duduk lemas dengan tubuh penuh luka terutama
dibagian siku dan telapak tangan.
“Astaga Joshua, lo gapapa kan? Apa yang terjadi,
kenapa lo bisa kecelakaan?” tanya Andin panik dan merangkul pundak kakanya itu.
“bentar, gue telpon ambulance dulu” seraya
mengambil hp di celananya dan segera membuka panggilan darurat.
“udah ga usah, ini Cuma luka ringan aja” bantah
Joshua menahan sakit di tangannya.
“gue udah nelfon Kevin suruh jemput gue” timpal
Joshua menatap adiknya yang sedang mengkhawatirkannya
Seketika akupun menarik nafas panjang karena
akhirnya Joshua tidak terlalu kesakitan, namun dada ku kini sesak melihat kakak
kesayangannya terluka seperti itu. “Osu, kalau lo ada apa-apa bilang ke gue ya,
lo itu kakak gue satu-satunya, gue ga mau lo kenapa-kenapa” isak ku sedikit
menahan air mata yang keluar. Tak menunggu waktu lama, Kevin datang dengan
membawa mobil Kijang Inova beserta temannya.
“Jo, lo gapapa, ayo gue anter pulang” pinta Kevin
dengan membangunkan Joshua yang sedikit lemas.
Kini Joshua sudah berada di mobil Kevin dan akan
mengantarkannya ke rumah. Seketika itu aku baru ingat kalau aku belum
mengantarkan orderan pesanan milik customer. “Astaga Andin, kenapa lo bisa lupa
kalau lo belum nganterin pesanan, aduh gimana ini, mana makanan nya sudah
dingin lagi” ucap ku dengan suara pelan sambil membayangkan reaksi apa yang
klienku terima saat aku mengantarkannya telat dan sudah dingin. Pasti orangnya marah nih, terus kasih
bintang 1 nih, haduh semoga aja dia mau berbaik hati dan nerima penjelasan gue
__ADS_1
nanti. Seru ku dalam hati sambil menjalankan motor dengan kecepatan
60km/jam
Setibanya didepan rumah customerku, ku telefon
orangnya, dan beruntungnya diangkat olehnya “Hallo mba, mohon maaf saya telat
nganterinnya, ini saya udah didepan rumah mba.” Semoga aja orangnya tidak marah
dan mau mengerti. Terdengar suara pintu telah dibuka dan terlihat ternyata yang
keluar dari rumah itu bukan perempuan, melainkan laki-laki.
“eh mas, maaf saya ga tau kalau yang pesan cowok,
mana tadi saya manggilnya mba lagi. Duh mas saya mohon maaf lagi nih tadi saya
ada urusan darurat makanya nganterin pesanan nya agak terlambat.” Memohon untuk
dimaafkan
“iyah mba gapapa, tadi saya pesan pake hp adik
saya.” Jawab nya ramah.
Cuaca saat itu panas sekali dan spontan ku lepas
helm ku dan kubuka maskerku. “Loh Andin? Kamu Andin kan adiknya Joshua?” tanya
pemuda itu spontan mengagetkanku.
Aku hanya berlagak bengong dan tidak tau kalau
pemuda itu mengenaliku. “iya benar saya Andin, apa mas nya kenal baik dengan
Joshua?” tanyaku memastikan
“ya jelaslah kami teman dekat di kampus, Joshua
sering membicarakan adik perempuannya dan diruangan pribadinya terlihat foto
kamu, dan ternyata ini toh adiknya, ko adiknya kerjanya ojol sih” ujar pemuda
cantik, tadinya kalau adiknya seperti itu mau ku jadikan pacar, tapi malah jadi
ojol. Ga level”
“Berani sekali kamu menghina pekerjaanku, emang
kalau aku ini ojol lalu kenapa? Harusnya kamu bersyukur masih untung ketika
kamu pesan makanan ada ojol yang nganter, jadi jangan se enaknya merendahkan
pekerjaan orang” timpah ku dengan kesal “lagian ya mas, kalaupun saya jadi
model atau mahasiswa yang cantik pun ogah pacaran sama mas, sifatnya sombong,
angkuh, sok kecakepan” tanpa berpikir
panjang lagi aku segera pergi dari tempat itu, dan untungnya orderan itiu sudah
dibayar lewat aplikasi, jadi ga usah nunggu lama-lama untuk menerima bayaran
dari orang aneh itu. Saat berkendara pun tak henti-hentinya aku menggerutu dalam
hati dan bisa-bisanya Joshua berteman
dengan orang seperti itu. Belum tau aja sifat Joshua ketika sedang marah paling
juga ga mau lagi berteman dengan orang seperti itu. Gerutuku dalam hati
Setelah lelah mengantarkan orderan, ku langsung
menancapkan gas dan pulang untuk melihat keadaan Joshua. Jalanan saat ini
sedang ramai dan sering macet ditambah cuaca siang ini sangat terik. Tapi tidak
menyulutkan tekadku ini demi membantu banyak orang. Banyak sekali orang-orang
yang merendahkan pekerjaan sebagai ojek online ini, padahal dengan adanya
__ADS_1
aplikasi ojek online ini banyak membantu semua keringanan manusia, mulai dari
menagntar makanan, bersih-bersih, belanja, mengantarkan barang, tetapi masih
aja yang menganggap remeh pekerjaan ini. Inilah yang membuatku makin jatuh
cinta terhadap pekerjaan ini, walaupun terik nya panas, dinginnya hujan, itulah
nikmat nya mencari rupiah di Jakarta ini.
Sesampainya dirumah, aku telah dismabut dengan
banyaknya saudara yang sudah berkumpul de depan rumah, ada Micky sepupu ku yang
paling cerewet dan menggemaskan, ada Olla adiknya Micky yang sangat imut baru
bisa belajar jalan. “tante jelek, abis dari mana? Ih tante bau” ucap Micky yang
sangat menjengkelkan itu “apa kamu bilang? Tante jelek? Tante bau? Ku potong
nanti bibir mu yang jelek” ucapku kesal dan sedikit tersenyum kecil.
“tante dari dulu memang jelek.. bleee” menjulurkan
lidahnya dan telunjuk kecilnya itu menyentuh hidungnya sendiri
“awas kamu ya Micky, ku tarik hidungmu itu” dan ku
kejar sepupu ku yang menjengkelkan itu lalu ku gelitiki dia sampe mau nangis.
“ampun tante jelek” rengeknya, tapi aku masa bodo dengan rengeknya itu dan
datanglah maminya Micky melerai perkelahian kecil kami.
“Andin, sempat-sempatnya ya kamu ngojek disaat
kakak kamu kena musibah” dumel maminya Micky, aku sering panggil dia dengan
sebutan Mami. (Mama Micky) “aku udah tau mami, tadi orang pertama yang Joshua
hubungi adalah aku. Tadinya mau ikut pulang mami, tapi aku masih anterin
pesanan customerku, jadinya aku anterin dulu baru abis itu aku pulang, dan
kebetulan tadi jalanan macet jadinya agak sedikit terlambat.” Jelasku sambil
menunduk. Mami hanya menggeleng-geleng saja melihatku masih makai jaket ojol.
Tak memperdulikan ocehan mami, aku bergegas menuju kamar Joshua, setibanya
disana, Osu tampak di obati oleh beberapa dokter. Aku pun dilarang masuk sama
ibu katanya biar Joshua di obati dulu.
Nampak dahi Joshua diperban dan beberapa perban
lagi di tangan dan sikunya. Aku yang melihat keadaan Joshua pun nampak sangat
sedih dan ingin memeluk Joshua, namun ibu selalu menguatkan aku agar aku tidak
sedih didepan Johsua. Hanya ibulah yang dapat aku peluk saat ini dan
mengeluarkan air mata kesedihan ini.
Ceklek. Pintu kamar Joshua terbuka “Joshua gapapa
bu, hanya luka luar aja, untungnya ga ada luka dalam yang serius, ini untuk
resepnya bu, Joshua tidak boleh makan yang amis-amis dulu ya bu.” Ucap dokter
tampan itu dengan ramah dan memberikan sepucuk kertas yang berisikan resep obat
yang harus ditebus di apotek. Tak pikir panjang aku segera melesat memasuki
kamar Joshua dan memeluk Joshua. “Osu, lo gapapa kan? Gue panik dan sedih liat
lo kaya gini” rengek ku di pelukan dada bidang Joshua. “dasar cengeng, gue
gapapa, dah jangan nangis lagi ya” ucapnya yang membelai rambutku dan memelukku
dengan lembut. “lo kalau ga bisa bawa motor jangan bawa motor” ledekku dengan
__ADS_1
tertawa kecil. Seketika Joshua mencubit pinggang aku dengan spontan. Aku hanya
mengerut kesakitan walaupun tidak sesakit seperti di cubit beneran