
Pagi ini sebelum aku berangkat ngojek, seperti biasa, aku selalu nonton film kartun
kesukaan ku. Yah Spongebob. Itu kartun yang paling aku suka dari dulu, walau
aku sudah dewasa tapi yang namanya film kesukaan pasti tidak akan pernah lupa.
Waktu sudah menunjukan pukul set Sembilan dan aku langsung membuka Hp dan
mengaktifkan aplikasi Online ku. Baru beberapa menit sudah ada orderan beli
makanan di rumah makan XXX, karena ayah ibuku sudah berangkat duluan dan Joshua
juga sudah pergi dari pagi, aku yang bertugas menutup rumah dan menguncinya,
langsung ku tancapkan gas motorku.
Sesudah mengantarkan makanan aku mampir ke kedai kopi untuk sekedar istirahat sambil
membuka Hp ku. Lumayan lama aku istirahat sampai menunjukan pukul set 11, aku
lupa bahwa hari ini ada jadwal bimbingan skripsi pukul 1 siang. Aku kembali
pulang untuk menyiapkan file ke dosen pembimbing. Saat mau memasukan kunci motor,
hp ku berdering ada orderan ngojek, tak menunggu lama akupun menghampiri
penumpangku.
“Dimana mas, saya di depan halte.” Tanyaku lewat telepon
“loh ko cewe..?” tanyanya balik
“ya saya cewe, memangnya kenapa ?”
“ngga… tunggu sebentar lagi saya ke halte” jawabnya dengan nada terburu-buru
5 menit kemudian.. “maaf mba sudah menunggu lama” hampir saja aku terkejut dengan
kedatangan penumpangku yang tiba-tiba
“ya gapapa.. ini pakai helmnya mas” sambil menyerahkan helm dan langsung dikenakannya. “biar
__ADS_1
saya aja mba yang bawa motornya” langsung menyuruhku turun dari possisi depan.
“Eh.. jangan, saya kan drivernya berarti saya yang bawa motor nya, mas duduk aja di belakang”
mempertahankan posisiku
“saya ga suka bila saya di bonceng oleh cewe, harga diri saya dimana sebagai laki-laki
apabila di bonceng oleh cewe, ya walaupun mba adalah driver ojek tetapi mba kan
cewe, saya ga mau apabila dibonceng” jelasnya panjang lebar.
Perasaanku takut bercampur kesel dengar ucapan penumpangku seperti itu, dan dijalan itu
kami hanya rebut mempertahankan posisi sebagai driver. Sampai dilihatin banyak
orang dan akhirnya akupun mengalah saja biar dia yang bawa motorku.
Kami melaju dengan sedang, tidak ada obrolah selama perjalanan dan aku selalu melihat kaca
spion, wajah penumpangku itu sangat manis apalagi kalau senyum akupun ikutan
Tak disangka semakin asik melihat wajahnya tiba-tiba perjalanan kami telah sampai tujuan,
tetapi motorku malah diajak masuk ke salah satu Mall dan menuju gerbang tiket
masuk. “Eh.. ko malah dibawa masuk mas?” tanyaku dengan reaksi kaget
“gapapa..” simple
Akupun hanya bengong dan mengikutinya saja. Lalu sampailah diparkiran dan menyuruhku turun,
akhirnya sampai juga “sini mas kembalikan kunci motorku dan karcisnya” pintaku
dengan ramah dan tersenyum lebar. “ini kuncinya” hanya memberikan kuncinya
saja. “mas, mana karcisnya, tanpa karcis akupun tidak bisa keluar” tanyaku
dengan kesal.
“mau karcis.?” Jawabnya dengan tersenyum kecil sambil melambaikan karcis ke atas. Tanpa banyak
__ADS_1
bicara aku langsung mengambil karcis nya dan dia malah meninggi-ninggiin
tangannya membuat aku tidak sampai menjangkau karcis itu. “Duh mas, jangan
bercanda ya, aku mau pulang, kembalikan kercisnya sekarang.” Pintaku dengan
tegas.
“ada syaratnya” dengan tersenyum kecil lagi dan membuatku semakin kesal
“apa” singkat
“Temani aku “ tanpa melanjutkan kata-katanya dia langsung bergegas jalan dan membuat ku harus
mengikutinya. Sialan. Laki-laki itu telah
mengerjaiku, aku harus bagaimana, kalau pulang tanpa karcis pasti ditanyai SIM
dan STNKnya sedangkan itu semua ada di Joshua, karena ini motor Joshua, dengan
rasa kesalku akupun mengikutinya dari belakang.
“Eh, ngikutin juga akhirnya, hihi..” tertawa kecil.
Jangan senang dulu kamu mas, saya begini agar tidak dipersulit oleh penjaga karcisnya nanti, “Sebenarnya mas mau apa? Kenapa menyuruh saya ikut denganmu?” tanyaku dengan kesal. Dia hanya
tersenyum kecil sambil meliriku sedikit lalu kembali berjalan. Setelah masuk
pintu Mall dia menarik tanganku untuk duduk di kursi Mall itu.
“Aku tidak mengerti ya mas, kenapa anda..” tiba-tiba terhenti karena dia menatapku dengan
tatapan tajam
“Temani aku untuk bertemu dengan temanku.” Jawabnya sambil tersenyum. Melihat senyumnya itu
membuat aku tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa bengong dan ikuti saja
kemauannya walaupun hati ini selalu waspada, untung aku dibekali ilmu bela diri
semenjak di SMA, jadi kalau ada apa-apa aku bisa terhindar dari bahaya apapun.
__ADS_1