Pacarku Adalah Idolaku

Pacarku Adalah Idolaku
Prolog


__ADS_3

Ia terbangun dari tidurnya. 'Perasaan apa ini?'.  Ia merasa seolah ada bayangan seseorang didepannya. Namun bayangan itu seakan-akan semakin dekat. 'Tunggu dulu bayangan itu adalah seorang gadis. Siapa gadis itu? Sepertinya ia pernah bertemu dengannya, tapi dimana.....' ia tidak ingat sama sekali.


Gadis itu menghampiri dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak khawatir, poninya menutupi air mata yang membanjiri wajahnya. Ia menangis sembari menatap laki-laki yang kini terbaring tidak berdaya di ranjang. "Kau sudah siuman? a....aku sa..ngat le..ga." ucapnya terbata-bata.


'Kenapa gadis itu menangis? Apa ia pikir diriku tidak akan bangun lagi?' Pikiran-pikiran itu terus menerus menggrogoti otaknya. Ia terdiam memandang gadis mungil itu. Gadis itu tersenyum ramah padanya sembari mengusap air matanya. Ia memberi secangkir cokelat panas. Katanya cuaca hari ini kurang bersahabat.


Cuaca di luar sangat dingin, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Angin dingin yang menusuk tulang seakan menyuruhnya untuk meminum cokelat panas yang telah dihidangkan gadis itu. Ia meniupnya lalu meneguk hingga memasukkannya kedalam tenggorokan. Hangat. Perutnya jadi terasa hangat dan badannya menjadi lebih 'fresh'.


Tapi siapa gadis yang perhatian itu sampai ia rela merawatnya? Kenapa ia mau membantunya? Apa kami punya hubungan? Tapi hubungan seperti apa? Kalau iya benar. Ia akan berusaha menjadi partner yang baik untuknya. Ia ingin sekali mengingat kenangannya dengan gadis itu, tapi semuanya nihil. Ia hanya mengingat sedikit rekaman kecelakaan yang menimpa dirinya. Kembali mengingat membuat otaknya menjadi sakit. Gadis itu melihat dan mencoba menenangkan sambil berkata "Kau tidak apa-apa? Tidak usah memaksa mengingat apapun. Tenangkan dirimu dan istirahat saja." Gadis itu menatap dengan senyum manisnya. Ia tampak bahagia mengetahui bahwa laki-laki di hadapannya itu telah sadar sepenuhnya.


Seandainya ingatannya bisa kembali pulih. Ia ingin mencari tahu siapa gadis baik hati yang merawatnya ini.  Mungkin ia hanya harus berusaha mengingat kebaikan gadis ini.


“Jungkook Oppa” ucap gadis itu lirih. Ia kembali mengulang ucapannya. “Maksudku Jungkook-ah.” ucapnya lagi mengoreksi perkataannya.


Ia menatap laki-laki itu dengan penuh cinta. Laki-laki itu heran. ‘Apa benar namaku adalah Jungkook? Tapi aku bahkan tidak tau namaku sendiri’ batinnya menerka-nerka.


“A…pa na..ma..ku Jung..kook?” tanya laki-laki itu terbata-bata. Gadis itu mengangguk. “Iya kamu Jungkook, laki-laki yang aku cintai” balasnya sembari memeluk Jungkook yang masih berbaring di ranjang. Jungkook membalas pelukan gadis itu. ‘Hangat, pelukannya menghangatkan tubuhku’ ucapnya dalam hati.


Gadis itu segera melepaskan pelukannya. “Apa kau tau siapa aku?” tanyanya penasaran. Jungkook menatap gadis itu dan mencoba mengingat momen dimana ia pernah bertemu dan menjadi sangat dekat dengannya. Tapi semuanya sirna karena ia tidak mengingat apapun.


Jungkook menggelengkan kepalanya. “Maaf, aku tidak bisa mengingat apapun” jelasnya menundukkan kepala. Gadis itu tampak sedih tapi ia kemudian tersenyum. “Tidak apa, kau sudah sadar pun adalah hal terindah bagiku” ucap gadis itu mengedipkan sebelah matanya.  Jungkook pun jadi tidak merasa begitu bersalah karena gadis itu tampak tulus dan sayang padanya.


“Kalau nanti kau sudah pulih, dokter akan mengizinkanmu pulang” ucap gadis itu tampak riang. Ia tampak sangat senang mengetahui laki-laki yang sangat dicintainya itu bisa pulang kerumah.


Malam harinya gadis itu menatap Jungkook dan melambaikan tangannya. “Besok aku akan datang lagi. Kau tidur ya sekarang ,mimpi indah, besok kita akan bersenang-senang.” Pesan gadis itu sambil menyelimuti Jungkook agar tetap hangat.  Jungkook menatap kepergian gadis itu sampai pintu ruangan tertutup kembali.


Esok harinya


Jungkook membuka matanya. Ia mendapati gadis yang telah merawatnya itu sudah berada di ruangan ia dirawat. Ia menepati janjinya dan kembali mendatangi Jungkook lagi. Jungkook merasa lebih semangat dalam menjalani hari karena ia bersama seseorang yang tampak peduli dan perhatian padanya.

__ADS_1


“Hey, kau sudah bangun” sapanya sembari menyodorkan sarapan untuk Jungkook. “Apa kau mau aku suapin?” tawar gadis itu. Jungkook tampak malu tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun menyuapi makanan ke mulut Jungkook dengan lahap. Jungkook menatap gadis itu. “Terimakasih ya, telah merawatku.” Ucap Jungkook sambil mengunyah makanannya. Gadis itu menyingkirkan nasi yang ada dimulut Jungkook. “Aku senang bisa menjagamu seperti ini, tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku ingin terus melihatmu.” Ia memegang wajah Jungkook sembari tersenyum manis dan hangat. Jungkook menjadi salah tingkah. “A..a..ku udah selesai makannya.” Ucapnya sedikit terbata-bata. Jantungnya berdebar tak karuan karena tingkah gadis itu yang membuatnya gugup.


Gadis itu tertawa melihat tingkah Jungkook yang gugup dan malu-malu kucing.


“Apa kau mau keluar?” ajaknya sembari mengangkat kedua alisnya. “Sepertinya cuacanya lebih baik dari kemarin.” Ia menatap jendela ruangan tersebut.


Jungkook mengangguk mengiyakan. Dirinya juga sepertinya sudah bosan berada dalam ruangan yang hanya dipenuhi ac. Ia ingin menghirup udara segar diluar siapa tau ia bisa mengingat sedikit mengenai apa yang telah terjadi pada dirinya.


Gadis itu menggandeng Jungkook menuju kursi taman rumah sakit. “Apa kau merasa lebih baik? Sejujurnya aku memang ingin mengajakmu keluar karena aku ingin menghirup udara luar” ucapnya sembari menghela nafas panjang.


Jungkook menatap gadis itu yang tengah menikmati udara luar. “Apa kau menyukainya?” tanya Jungkook.


“Ne?” tanya gadis itu bingung. “Disini dari pada didalam” balas Jungkook. Gadis itu mengangguk. “Tentu saja, asal kau tau aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar daripada dirumah, karena kalau dirumah bisa gawat, aku pasti akan diomelin eomma setiap hari, beuhh….ngeri banget” ucapnya menggidik membayangkan eomma yang tampak mengerikan ketika marah.


Jungkook tertawa melihat gadis itu mengekspresikan kemarahan eommanya. “Tapi ia baik padamu kan?” tanya Jungkook. “Iya, tapi aku beneran gakuat kalau liat eomma marah-marah, apalagi ke aku atau oppa” balasnya lagi.


Jungkook tampak heran. “Oh…kau punya oppa?” tanyanya.


“Tapi…Jungkook-ah apa kau tau kalau kau adalah orang yang paling famous di negeri ini.” Kata gadis itu tiba-tiba. Jungkook mengernyitkan dahinya. “Maksudmu?” tanyanya bingung.


“Aku termasuk fansmu, sejujurnya fansmu sangatlah banyak dan kau tergabung dalam sebuah grup. Kau adalah orang yang berpengaruh dinegeri ini.”


Jungkook tambah heran ia tidak mengerti apa maksud gadis itu. ‘aku famous? Memangnya siapa aku sampai aku memiliki banyak fans.’ Tuturnya dalam hati.


“BTS, itu nama grupmu, kalian memiliki 7 member salah satunya adalah kau yang tidak lain adalah maknae dalam grup.” Jelas gadis itu menunjuk Jungkook yang masih bingung dan linglung.


Jungkook menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” tanyanya. Gadis itu mengangguk. “Kalau kau sudah sepenuhnya pulih dan bisa mengingat kembali, kau pasti akan terkejut dan senang mengetahui hal itu.” terangnya sembari tersenyum.


Jungkook masih tidak percaya. Masa iya ia orang yang terkenal, apa ia termasuk dalam tokoh masyarakat seperti Albert Einstein atau Yoo Jae Suk. Hmmm…kalau iya keren juga perjalanan hidupnya. Jungkook membayangkan dirinya yang dulu jika memang ia seberpengaruh itu untuk masyarakat.

__ADS_1


Gadis itu berdiri. “Jungkook-ah, aku ingin ke toilet sebentar, apa kau tidak apa aku tinggal disini dulu?” tanyanya memastikan.


“Silahkan, aku akan menunggumu disini.” balas Jungkook. Gadis itu tak lama segera berjalan keluar dari taman mencari toilet yang berada dalam gedung rumah sakit.


1 jam kemudian


Sudah 1 jam lebih gadis itu tidak kembali. ‘Kemana gadis itu?’ terka Jungkook heran, padahal ia bilang hanya sebentar. ‘Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Atau bagaimana kalau diculik? Tapi mana mungkin, ini kan rumah sakit pasti penjagaannya ketat dan untuk apa menculik gadis itu.’ pikiran-pikiran buruk mulai menguasai pikirannya.


‘Aku bahkan tidak tau namanya, bagaimana aku bisa mencarinya. Kenapa diriku bodoh sekali tidak menanyakan namanya.’ Jungkook menyesal dan menjambak rambutnya sendiri.


Ia bingung apa dirinya harus stay disini atau pergi mencari gadis itu. ‘Tapi bagaimana kalau ia datang kembali kesini dan aku tidak ada disini?’ Jungkook menjadi galau dan memutuskan untuk stay di taman sampai gadis itu kembali.


Jungkook menunggu gadis itu sampai malam hari dimana udara menjadi sangat dingin dan tiba-tiba rintik hujan turun. Jungkook mengangkat tangannya dan menadang hujan. Ia tiba-tiba merasa kecewa. ‘Kenapa gadis itu tak kunjung datang? Apa ia mencoba menghilang dari hadapannya secara misterius?’ Jungkook menatap rintik hujan yang semakin banyak. Ia tidak ada niat berjalan kembali ke ruangannya. Ia merasa lebih baik dirinya kehujanan saja dan menunggu sampai gadis itu datang. ‘Sudah gila memang, untuk apa menunggu hal yang tidak pasti seperti ini’ batinnya sedikit kesal dan sangat kecewa. Ia merasa sudah di perhatikan, di khawatirkan, di buat berdebar oleh gadis itu, dispesialkan layaknya seorang pangeran lalu tiba-tiba semua itu sirna karena gadis yang ia tunggu-tunggu menghilang entah kemana.’ Ia seperti dipermainkan.


‘Apa lebih baik tidak usah berharap? Harusnya tidak usah ku simpan perasaan ini untuknya, apa lebih baik membuangnya saja, supaya tidak usah menunggu hal yang tidak pasti seperti ini.‘


Jungkook yang tengah menadang hujan tiba-tiba dikagetkan oleh seseorang yang mengarahkan payung kebadannya. Jungkook spontan membalik badannya. Ia melihat gadis itu. Gadis yang membuatnya menunggu seharian ini sampai membuat dirinya basah terkena air hujan.


Mata mereka berdua bertemu. Jungkook terkejut karena tampak mata gadis itu lesu dan tidak bergairah, rambutnya sedikit acak-acakan. “Kau…kau kenapa?’ tanya Jungkook yang segera berdiri menatap gadis itu.


“Ayo masuk” ucapnya tidak menghiraukan pertanyaan Jungkook.


Jungkook heran dan merasa aneh, ia seperti bukan melihat gadis yang selama ini menjaganya dan membuatnya nyaman. Ia pun memberanikan diri bertanya. “Kenapa kau mengabaikan perkataanku? Apa yang terjadi? Kenapa kau tampak berantakan?” tanya Jungkook sembari menolak ajakan gadis itu yang menyuruhnya masuk. Jungkook mendorong payung itu sehingga hanya gadis itu yang memakai payungnya. “Apa yang kau lakukan? Nanti kau sakit.” Teriaknya menatap Jungkook sedikit kesal. “Kau yang membuatku menunggu seharian seperti ini, kemana saja kau?” tanya Jungkook meluapkan emosinya.


Gadis itu terdiam tidak mengatakan apapun. “Terserah padamu, ini kuberikan payungnya untukmu, aku akan pulang.” Gadis itu menaruh payung di hadapan Jungkook dan segera berjalan pulang sambil kehujanan.


Sontak Jungkook kaget dengan sikap gadis itu yang berubah menjadi dingin sedingin es batu. Ia bahkan heran ngapain gadis itu pulang hujan-hujanan dan malah membiarkan dirinya kebasahan.


Jungkook segera berlari mengejar gadis itu namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Ia kembali mengingat sebuah kejadian dimana ia melihat gadis itu disebuah ruang latihan bersama dirinya yang tengah asik latihan dance. Tiba-tiba seseorang ber jas hitam tampak membawa gadis itu dan menyeretnya keluar. Pria itu tampak kasar dan tidak suka dengan kehadiran gadis itu. Lalu beberapa ingatan lain muncul dimana gadis itu tampak sedang jalan dan diikuti oleh seseorang dari belakang dimana Jungkook tidak tau siapa orang itu. Tapi ia bingung kenapa ia bisa mengingat hal ini. Jungkook mencoba kembali mengingat dimana tempat latihan yang biasa ia datangi dan orang-orang misterius yang berada di sekeliling gadis itu, namun sepertinya kapasitas ingatannya hanya sampai disitu.

__ADS_1


Jungkook masih memegang kepalanya yang terasa sakit. Tak lama kemudian ia pun pingsan ditengah hujan yang semakin deras.


__ADS_2