Pacarku Adalah Idolaku

Pacarku Adalah Idolaku
Pertemuan


__ADS_3

Pagi itu salju mulai turun di depan rumah seorang gadis berambut ikal dengan poni yang menghiasi wajahnya. Matanya menatap sebuah jendela kaca besar di dalam kamarnya. Perlahan membukanya dan mengeluarkan tangan kanannya keluar jendela sembari berusaha menggapai salju yang indah itu. Gadis itu tersenyum gembira sambil memainkan salju yang turun. Namanya adalah Kim Yuna. Ia lahir di Daegu, Korea. Keluarganya memiliki kekayaan yang lumayan banyak. Karena ayahnya memiliki sebuah bisnis kuliner di Gangnam. Namun akhir-akhir ini bisnis ayahnya tidak berjalan dengan lancar. Akhirnya pendapatan keluarga Yuna pun mulai menurun dan sekarang mereka hidup dengan sederhana. Sang ayah mulai mengelola bisnis kecil-kecilan toko kue di depan rumahnya. Appa Yuna memang jago memasak, ia di kandidatkan sebagai chef di rumah keluarga Yuna. Sementara sang eomma melakukan pekerjaan rumah tangga. Yuna juga memiliki kakak yang sedikit menyebalkan ia kelas 3 SMA satu sekolah dengan Yuna dan hanya beda 1 tahun. Walau begitu hubungan mereka seperti anjing dan kucing yang hobinya bertengkar.


Yuna sangat menyukai Idol, terutama BTS. Biasnya adalah Kim Taehyung yang super duper tampan yang sering melemahkan hati wanita. Setiap BTS comeback ia pasti akan berusaha untuk mendapatkan album dan menonton konser mereka. Tapi kali ini karena hidupnya sederhana dan tidak semudah dulu, ia harus banting tulang untuk membeli berbagai merchandise kpop dan juga tiket konser yang tentu saja tidak murah. Eomma selalu memarahi Yuna tiap kali Yuna menonton kpop dan hanya menikmati rebahan di ranjang sambil memakan cemilan, seperti tidak punya beban hidup.


"Yuuunaaaaaaa, kerjaanmu hanya seperti ini setiap libur sekolah, bukannya bantu appa mu di toko, malah asik nonton beginian yang jelas engga berguna" Omel Eomma gregetan.


Yuna hanya nyengir ketakutan. "Eo...mma, maafin Yuna, tapi eomma bisa geser dikit ga? Yuna gabisa liat bias Yuna di tv" celetuk Yuna menunjuk Tv yang telah di halangi oleh badan eommanya.


Eomma tampak sangat emosi setiap lihat Yuna yang seperti tidak punya masa depan. "Dasar anak nakal, jangan harap eomma bakal ngebiarin kamu membeli lagi barang-barang kpop itu" eomma menunjuk merchandise yang Yuna pajang di dinding kamar.


"Harusnya kau lebih rajin belajar, jangan mengikuti jejak oppa mu yang malas itu." jelas eomma sambil berjalan keluar kamar. Eomma sangat gregetan melihat kelakuan Yuna yang hanya rebahan.


Yuna terdiam kaku menatap kepergian eommanya yang memarahinya dengan mengerikan.


Seperti itulah kehidupan keluarga Yuna, namun Yuna tetap menyayangi keluarganya mau semengerikan apa juga, keluarga tetaplah keluarga.


'Besok udah masuk sekolah lagi' batinnya sedih. Padahal ia masih mau libur dan rebah-rebahan dikamar sambil menonton drama korea kesukaannya.


Tak lama Yohan masuk ke kamar Yuna dan berbaring di ranjangnya sambil terus berkutat memainkan game di ponselnya. Yuna sedikit kesal melihat kelakukan oppa nya yang masuk tanpa izin. "Heyyyy..." teriak Yuna memukul oppa nya dengan bantal.


Yohan menatap Yuna sinis.  “Wae?” tanyanya menyenggol bahu Yuna.


"Kenapa kau dikamarku? kau kan punya kamar sendiri, pergi sana." usir Yuna mendorong oppanya sambil cemberut. "Kau menganggu waktu santaiku tahu." teriak Yuna. Ia sangat kesal dengan tingkah random oppa nya itu yang terus menganggu waktu liburnya. seperti waktu itu ketika sedang jalan bareng keluarga, mereka mengunjungi sebuah toko pakaian, disitu Yohan mengusili Yuna dengan mendorongnya kearah seorang laki-laki muda yang tengah memilih pakaian. Yuna yang tidak siap dengan keadaan itu menjadi terdorong dan kehilangan keseimbangan. Alhasil Yuna menabrak laki-laki itu sampai mereka berdua terjatuh, ia tampak sangat malu, rasanya ia ingin membuang muka jauh-jauh dari laki-laki itu. Ia menundukkan kepalanya dan meminta maaf atas perilaku yang bukan perbuatannya. Untungnya laki-laki itu tidak banyak berdebat dengannya, ia hanya berkata "Lain kali lihat-lihat kalau jalan, kau kan punya mata kan?" ucap lak-laki itu dengan nada dingin. sampai detik ini pun ia tidak bisa melupakan moment memalukan itu, bahkan ia masih kesal dengan oppanya. Yuna sudah bertekad kalau keluarganya mengajak jalan lagi, ia merasa lebih baik jaga rumah atau pergi bersama teman daripada harus berurusan dengan oppanya yang paling menyebalkan.


Yuna pun akhirnya mengabaikan Yohan karena sudah capek berdebat dengannya. Ia kembali menatap salju yang baru saja turun di jendela kamarnya.


"Oppa, ini beneran salju?" Tanya Yuna meyakinkan kakaknya yang bernama Kim Yohan yang masih sibuk bermain game di kamar Yuna. Walau ia sebal dengan oppa nya, tapi tetap saja ia adalah seorang kakak baginya, sejujurnya Yuna tidak suka jika kamarnya dipakai oppa nya yang selalu numpang ngegame di kamarnya. Padahal Yuna selalu menyuruhnya untuk membawa gamenya kekamarnya, tapi oppa tidak pernah mau. Hobinya mengganggu ketenangan adiknya itu. Cukup menyebalkan memang.


"Apa kau bilang?" Tanya oppa tidak mendengarkan karena sibuk berkutat pada gamenya.


Yuna mendesah. "Gajadi" jawab Yuna malas. Yuna berjalan menuju tempat tidurnya dan membuka ponselnya. 'Hari ini ada info apa ya' batinnya menerka-nerka.


"Oh My God" Yuna loncat dari tempat tidurnya membuat Oppa terkejut. "Heyy, ada apa sih?" tanyanya kesal karena menganggu ketenangannya bermain.


"Oppa oppa" teriak Yuna masih lompat diatas ranjangnya. "Apaan" Tanya oppa kesal.


"Lihat, please" pinta Yuna menunjukkan ponselnya. "Apaan sih?" Tanya oppa lagi.


"BTS bakal mengeluarkan album baru, Huuaaaaaaaa senang banget, aku harus beli pokoknya" jelas Yuna bertekad sembari mengangkat tangan kanannya keatas.


"Sepertinya aku harus mencari part time untuk membeli album BTS" ucap Yuna masih menatap ponselnya.

__ADS_1


"Halah kirain apaan, Kpop mulu pikiranmu."


"Kau pikir mudah mencari part time, apa lagi kau masih SMA. Fokus belajar saja sana" terang Yohan mengingatkan.


"Ihh....terserah padaku dong, kenapa oppa yang repot" jelas Yuna memandang sinis Yohan.


"Sudah sana ke mini market belikan aku cola, bir dan ramen" suruh Kim Yohan selaku oppanya.


Yohan emang selalu ngerjain Yuna dan nyuruh Yuna untuk membelikannya sesuatu. Tapi Yuna pasti selalu minta imbalan dari Yohan karena dirinya tidak mau rugi juga.


Yuna terbelalak kaget. "Bir? Seriusan mau minum itu? kalo eomma tahu bisa habis kau." ucap Yuna meninggikan suaranya.


Yohan segera menutup mulut Yuna dengan tangannya. "Heyy...jangan kencang-kencang ngomongnya, kalo eomma dengar gimana?" balas Yohan sembari menengok pintu kamar waspada takut ada yang membuka.


Yuna menepis tangan Yohan. "Santai aja kali, eomma juga paling di dapur engga akan dengar. Yauda mana sini uangnya, tapi aku punya permintaan, oppa please jangan kasih tau eomma oke? Aku akan mengumpulkan uang buat beli album BTS. Kumohon" pinta Yuna memelas sembari mengusap-usap kedua tangannya.


"Engga, lagi pula kerjaanmu cuma nontonin kpop mulu yang jelas-jelas ga berguna," bantah oppa.


"Heyy" teriaknya.


"Oppa menyebalkan, haruskah aku kasih tau eomma kalau oppa udah punya pacar?" ancam Yuna menatap oppanya sambil tersenyum misterius. "Kau pasti habis kalau ketauan." ancam Yuna lagi tersenyum nakal.


Yohan langsung melepas gamenya. "Tau dari mana kau?" tanya Yohan kaget. Pasalnya ia tidak pernah memberitahu Yuna soal pacar barunya itu.


"Kepo banget, yang jelas cantikan dia daripada kau" Yohan menaikkan satu alisnya.


Yuna mengernyitkan dahinya. "Yaudah sana buruan ke mini market belikan pesananku, aku tidak akan memberitahu eomma" luluh oppa.


"Soal apa?" tanya Yuna lagi. Yohan menatap Yuna kesal. "Tentu saja perkpopan mu" balasnya ketus sembari menyuruh Yuna keluar.


Yuna tersenyum simpul. "Hey, oppa baik sekali. Akan aku belikan pesananmu tuan raja" jelas Yuna menggoda.


Oppa hanya mengernyitkan dahinya. 'Dasar bocah licik' batinnya.


Yuna membuka pintu gerbang dan bergegas menuju minimarket terdekat. Salju yang turun cukup lebat membuat Yuna kedinginan. Namun hatinya sangat senang bisa membujuk oppanya dengan kekuatan rayuannya. 'Yeyyy, sepertinya aku harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang, tapi dimana aku harus bekerja? Aku saja belum pernah membuat surat lamaran pekerjaan.' batin Yuna menerka-nerka.


Akhirnya ia telah sampai di minimarket dan segera mencari pesanan oppanya. 'Haruskah aku habiskan uangnya?' pikirnya nakal.


Yuna yang cukup nakal mencoba mengambil beberapa snack, minuman, dan juga mie instant. 'Kapan lagi coba bisa jajan banyak, kalau bukan uang sendiri rasanya sangat puas' batinnya tertawa jahat.


"Selamat sore, silahkan taruh disini belanjaannya" ucap penjaga kasir.

__ADS_1


Yuna segera mengeluarkan belanjaan yang dia taruh di keranjang. 'Ternyata banyak juga ya, waduh kalau uangnya kurang gimana nih' pikirnya khawatir.


Eonni penjaga kasirnya mulai menghitung belanjaan Yuna.


"Eh eonni stop stop" Yuna memperlihatkan gigi kelincinya. "Ini gausah deh" ucap Yuna menyingkirkan minuman kalengan yang dia sempat taruh di keranjang. "Yang ini juga gausah deh" ucapnya lagi.


Eonni penjaga kasir sepertinya sedikit bingung dan kesal dengan tingkah Yuna yang banyak mengurungkan beberapa barang yang mau di bayar.


"Totalnya jadi 20.000 won" jelas eonni penjaga kasir.


Yuna mengambil dompetnya dan menghitung uang yang diberikan oppanya.


'Hah, uangnya kurang?' batin Yuna panik.


"Permisi, Eonni boleh aku balikin beberapa barang?" Tanya Yuna sangat malu sembari membuang wajahnya. Bahkan ia gamau menatap wajah eonni itu.


"Ye? Maksudnya mau dibalikin? Tapi sudah dibayar kan, tidak bisa dikembalikan" ujar eonni itu sedikit menaikkan nada suaranya.


'Harus bagaimana ini? Aku tidak membawa uang cadangan lagi' batinnya panik.


Yuna masih senyum senyum malu dan panik setengah mati. Keringetnya mengucur deras di wajahnya.


"Eonni, uangku kurang jadi bagaimana ya?" Tanya Yuna bingung.


Eonni itu memasang wajah yang memerah dan cukup emosi menanggapi Yuna. "Jangan Tanya aku, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa belanja banyak kalau uangnya enggak ada, hadeuh anak zaman sekarang banyak gaya emang" Eonni itu tampak kesal dan berkacak pinggang. Yuna jadi ngeri melihatnya. Antrian di belakang cukup banyak lagi. Waduh gawat banget deh.


"Dik, kalau gapunya uang jangan main ambil aja, ini toko bukan rumah sendiri" jelas salah satu pembeli.


Yuna memegangi kepalanya. 'Ia ingin menelpon oppanya tapi ternyata ia lupa membawa ponselnya' Kesialan yang terus menghampiri.


Ditengah kebingungannya, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berambut hitam menghampiri kasir dan menanyakan soal total belanjaan yang Yuna beli.


Yuna melongo kebingungan melihat laki-laki itu membayarkan kekurangan belanjanya.


"Oh....Terima...kasih" ucap Yuna sedikit heran sekaligus terpesona.


Laki-laki itu segera keluar dari minimarket disusul Yuna yang ingin mengucapkan terimakasih yang lebih dalam kepada laki-laki baik hati itu.


"Permisi, hey" teriak Yuna. Laki-laki itu menengok lalu berpaling lagi. "Hey, iya kamu" Yuna tergopoh-gopoh mengejarnya sambil membawa belanjaannya yang cukup banyak itu.


"Heyy" Yuna kembali berteriak karena lelaki itu tidak kunjung menengok. Lalu tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah taman. Menengok ke belakang memandang wajah Yuna yang hampir membeku kedinginan karena mengejarnya.

__ADS_1


Laki-laki itu menghampiri Yuna yang tengah kewalahan membawa belanjaan sambil berlari ditengah salju yang cukup lebat itu. Akhirnya Yuna bisa berhenti mengejar laki-laki itu. Ia kembali berkata.


"Permisi, a...aku ing...in ber...ter...ima..ka..si....h" ucap Yuna terbata-bata. Tepat saat itu badan Yuna mengingil kedinginan, bola matanya berputar seperti orang bingung lalu kepalanya pusing. Ia memegangi kepalanya dengan erat, lalu tiba-tiba pandangan matanya buram. Gelap. BRUKK...Yuna pingsan.


__ADS_2