
Yuna yang menyadari sikap miss Yuri sangat disiplin dan galak. Ia segera
jalan cepat menuju mejanya. Yuna segera membungkukkan badannya dihadapan miss
Yuri. Ia mencoba tersenyum ramah. Miss Yuri menatap Yuna dengan malas. “Aku
akan memberikanmu hukuman lagi karena telah mengacaukan pembelajaran, jadi kau
harus membuat essai 100 halaman ditulis tangan kumpulkan dalam waktu 3 hari.
Yuna membelalakkan matanya kaget. ‘Hah buat essai 100 halaman dalam waktu 3
hari? Udah gila kali ya, sehari aja gaakan nyampe 20 halaman, tangan udah pasti
mau patah rasanya’ batin Yuna ngedumel.
“Tapi miss, bukankah itu terlalu cepat waktunya?” bantah Yuna menatap ngeri
miss Yuri. “Jadi kau mau membantah perintah saya? Kau itu kan hanya murid yang
menuruti perintah guru, kalau kau melakukan kesalahan sudah seharusnya saya
memberikan kamu hukuman yang sesuai dengan perbuatanmu.” Jelas miss Yuri dengan
nada ketus.
“Ta..tapi saya tidak melakukan perbuatan yang merugikan sekolah dan hanya
bersuara dengan kencang, kenapa hukumannya berat seperti ini?” Yuna tidak
berhenti membantah ucapan miss Yuri hingga membuat miss Yuri meledakkan
emosinya.
“Kau membantah terus ya perintah saya, keliling lapangan sekarang 50
putaran, jangan balik kalau kau belum selesai, miss akan mengawasimu dari
sini.” teriaknya mengeluarkan nada emosi. Yuna mendesah. Ia merasa bodoh segala
membantah perintah miss Yuri, dengan berat hati ia segera meninggalkan ruang
guru dan berlari menuju lapangan untuk menerima hukuman.
‘Seharusnya aku diam saja gausa terlalu banyak adu mulut’ pikirnya menyesali
ucapannya yang membuatnya menderita seperti ini. Yuna pun segera berlari menuju
lapangan dimana cuaca sedang terik-teriknya, matahari bersinar sangat terang
membuat Yuna kepanasan dan gerah. ‘Aduh panas banget’ keluh Yuna masih berlari
sendirian dilapangan. Terlihat banyak siswa dan siswi dari atas dan bawah
menonton Yuna yang tengah berlari sendirian di lapangan. Sejujurnya itu
adalah momen yang sangat memalukan untuknya. Dalam sekejap dirinya menjadi pusat
perhatian semua orang dimana itu adalah waktu istirahat bagi para siswa dan
siswi.
Yuna tidak peduli dan tetap melanjutkan hukumannya yang sangat melelahkan
itu. Yuna ngos-ngosan berlari cukup lama, ia baru mencapai 10 putaran, tapi
badannya sudah tidak kuat lagi. Yuna memang memiliki fisik yang cukup lemah dan
ia mudah lelah dalam situasi yang membuatnya terlalu banyak mengeluarkan
tenaga.
Saat itu Soobin melihat Yuna dari kejauhan. ‘Oh….itu Yuna kan? Ngapain dia
disitu lari-lari sendirian? Cuaca juga panas banget, cari mati apa dia ya’
batin Soobin heran. Soobin segera menghampiri Yuna yang masih berlari pelan.
__ADS_1
“Yunaaa” teriak Soobin menghampirinya. Yuna yang seluruh badan dan wajahnya
basah dipenuhi keringat menengok kearah Soobin. “Oh…hey Soobin.” Ucapnya lemah.
“Kau ngapain panas-panasan disini? Udah makan siang belum?” tanya Soobin
menatap khawatir Yuna. “Ah….aku belum nih, aku dapat hukuman dari miss Yuri
jadi aku harus melakukannya.” Jelas Yuna tersenyum lemas. “Hah? Kau mendapat
hukuman? Bukankah tadi miss Yuri hanya menghukummu di luar kelas? Kok sekarang
sampai seperti ini? Berarti tadi kau ke ruang guru mendapat hukuman lagi dari
dia?" tanya Soobin bertubi-tubi, ia tidak berhenti bertanya dan
mengkhawatirkan kondisi Yuna..
“Aku juga tidak tahu, mungkin ini kesalahanku karena terus membantah
perintahnya.”
“Soobin, aku lanjut lari lagi ya, soalnya aku harus segera menyelesaikan 50
putaran, sekarang tinggal 38 putaran lagi.” Ucapnya lirih sambil berjalan pelan
mengelilingi lapangan.
Soobin membelalakkan matanya. “Apa? 50 putaran? Sudah gila ya, itu kan
banyak banget, mana mungkin kau bisa nyelesain putaran itu sampai 50.” Soobin
yang tidak percaya dan kesal dengan hukuman yang miss Yuri berikan pada Yuna
membuatnya jadi emosi tapi disatu sisi ia sangat khawatir kalau Yuna akan
kecapean dan sakit karena melakukannya terlalu keras seperti itu.
Soobin pun segera berlari mengejar Yuna dan menemaninya berlari bersama.
Soobin mengejar Yuna hingga mereka berlari sejajar. Yuna menengok kesamping
lakukan?” tanya Yuna bingung.
“Aku akan menemanimu menjalani hukuman.” Jelasnya tersenyum simpul. Yuna
memukul pundaknya. “Hey, gak usahh, kau kan enggak bersalah, untuk apa
membantuku?”
“Hmm….gaada, cuma gabut sih.” Ucap Soobin mengedipkan sebelah matanya. Yuna
pun tertawa geli melihat tingkah random Soobin. Berkat kehadiran Soobin ia jadi
tidak merasa lelah dan capek karena ada teman untuk berbincang.
“Oh iya, mengenai Lucas, aku sudah bertemu dengannya, tapi ia gak tau kalau
kau sedang menjalani hukuman.” jelas Soobin.
“Ah….bocah itu menyebalkan, semua karena dia aku jadi seperti ini, setelah
hukumanku selesai aku akan langsung menemuinya untuk membantuku menyelesaikan
essai yang miss Yuri perintahkan padaku.” Tekad Yuna serius.
Soobin mengangguk mengerti. “ Aku akan membantumu juga menyelesaikan hukuman
essai mu.”
“Kauu…kau terlalu banyak membantuku, sebaiknya aku dan Lucas saja yang
mengerjakannya, kau kan tidak melakukan kesalahan apapun.” Tatap Yuna pada
Soobin. Ia merasa tidak enak kalau Soobin terus membantunya. Ia jadi merasa
berhutang banyak padanya.
__ADS_1
“Memangnya apa salahnya? Aku khawatir padamu, aku tidak mau kau kecapean dan
aku ingin kau tahu bahwa aku….” Belum selesai Soobin berbicara terlihat Mijoo
dan Jeno menghampiri Yuna dengan tergesa-gesa.
“Yunaaaaaaaaaa” teriak Mijoo memeluk Yuna yang sudah bermandikan keringat.
“Badanmu basah dan wajahmu berkeringat, sudah ayo cepat ke toilet ganti
baju.” Mijoo menatap Yuna khawatir kalau bestienya itu kecapean karena terlalu
lelah.
“Engga bisa Mijoo, aku harus melakukannya, miss Yuri sedang mengawasiku dari
ruang guru.” Jelas Yuna menatap gedung ruang guru.
“Ih apa-apaan sih dia itu, aku kesal sekali dengannya seenak jidat
memberikan hukuman pada cewe baik seperti mu.” ujar Mijoo tidak terima.
“Ngomong-ngomong, Soobin kau ngapain disini? kau juga dihukum?” tanya Mijoo
menatap Soobin yang berdiri dibelakang Yuna.
“Ah….enggak, aku hanya menemani Yuna.” Jelasnya menatap kearah Yuna. Yuna
mengernyitkan dahinya menatap Soobin. Mijoo menatap curiga pada keduanya.
“Yunaa, kau sebaiknya udahan saja, tadi miss Yuri ada dibawah, sepertinya
dia mau pergi kesuatu tempat ada urusan lain.” Ujar Jeno meyakinkan Yuna.
“Tahu darimana kau?” tanya Yuna gak percaya. “Tentu saja Lucas, dia lagi
pantengin pergerakan miss Yuri.” Balas Jeno lagi. Yuna bingung dan heran
ngapain si Lucas mantau miss Yuri, padahal gaada hubungannya sama dia. ‘Setelah
dipikir-pikir mungkin Lucas ingin membantuku dan meminta maaf atas apa yang
terjadi, kita lihat saja kelanjutannya’ batin Yuna menerka-nerka.
Karena teman-temannya menyuruhnya berhenti, ia pun menurut dan langsung
keluar dari lapangan menuju loker tempat Yuna menyimpan baju cadangan
kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti sekarang ini. Bisa
gawat kalau ia tidak menyimpannya, nanti satu kelas akan menghirup aroma
menyengat keringat Yuna yang harum semerbak. Yuna pun segera berlari menuju
toilet untuk mengganti bajunya.
Setelah selesai ia segera menuju kelas dan merebahkan tubuhnya di meja. Ia
sudah tidak konsentrasi untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Bahkan perutnya
kosong dan ia tidak bertenaga. Bel istirahat telah berakhir dengan perut Yuna
yang masih kosong.
Yuna tidak bergairah dan ia sudah terlalu capek untuk mengikuti pelajaran.
Ia pun izin kepada ketua kelas untuk ke uks, rencananya ia ingin merebahkan
otot lengan dan kakinya di ranjang uks.
Yuna celingak celinguk membuka pintu uks. ‘Tidak ada orang’ batinnya menatap
sekitar. Ia pun mencoba berjalan mendekati ranjang uks dan bersiap untuk
merebahkan badannya yang sudah sangat penat itu. Ahhh....pegal, capek, lelah,
letih itulah yang dirasakan Yuna saat ini. rasanya ia ingin rebahan seharian
__ADS_1
penuh untuk menghilangkan rasa lelahnya.