Pacarku Adalah Idolaku

Pacarku Adalah Idolaku
Mimpi atau Kenyataan?


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang cukup luas. Yuna tengah tertidur di sofa dengan selimut yang tebal.


Perlahan Yuna membuka matanya. Beberapa detail ruangan yang terlihat di depan matanya. Ruangan yang asing bahkan Yuna tidak pernah melihat ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan lukisan dan beberapa pajangan yang tertata rapih di sebuah lemari kaca.


'Dimana aku? Apa aku dibawa oleh orang jahat? Apa aku diculik? Apa aku akan dibunuh? Oh tidak.... Eomma aku bahkan belum membahagiakanmu, aku minta maaf' batin Yuna memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi. Perasaannya kini campur aduk. Cemas, takut, gelisah, panik, ingin segera pulang dari sana.


Yuna kemudian mencoba bangun dari sofa yang ia tiduri. Yuna masih melihat sekeliling ruangan itu. 'Apa yang telah terjadi? Aku sungguh tidak mengingat kejadian yang telah terjadi padaku, bagaimana ini? Apa aku bisa pulang kerumah? Oh iya, belanjaan oppa. Aduh aku lupa taruh dimana' Yuna berkomat kamit sendirian di ruangan yang cukup luas itu.


"Oh, kau sudah bangun?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari ruangan depan yang gelap, sepertinya ia tidak menyalakan lampunya. Sesosok bayangan hitam yang berbicara pada Yuna mulai mendekat.


Yuna terkejut melihat bayangan gelap seorang laki-laki di ruangan depan sambil membawa sesuatu ditangannya.


'OMG, somebody help me"


Yuna takut laki-laki itu akan berbuat macam-macam dan melakukan hal yang buruk padanya. Yuna kemudian bersiap mencari sebuah alat yang bisa membantunya jikalau laki-laki itu akan berbuat hal yang mengerikan. Yuna buru-buru mencari dan menemukan sebuah benda seperti pemukul tongkat baseball di dekat meja televisi. Yuna mengambilnya dan bersiap mengayunkan tongkatnya pada laki-laki itu. Yuna sudah memasang gaya ala pemain baseball yang sedang bersiap memukul bola baseball.


Laki-laki itu perlahan mulai terlihat dari tempat Yuna berdiri. Tanpa basa basi Yuna langsung mengeluarkan jurus andalannya dan memukul laki-laki itu menggunakan tongkat baseball, dengan cukup kencang. Yuna sungguh tidak memperhatikan wajah laki-laki itu. Pikirannya hanyalah ia sangat takut berada di tempat asing.


"Aw....hey hey, tolong hentikan" ucap laki-laki itu. Suranya sedikit serak. Barang yang tengah dipegang oleh laki-laki itu adalah sebuah gelas yang berisi cokelat panas, yang tiba-tiba tumpah dan pecah menimbulkan suara bising yang cukup keras.


Yuna segera menghentikan perbuatannya. "Oh, maafkan aku" ucap Yuna menundukkan kepalanya. Gelas yang dipegang laki-laki itu sekarang hanya tinggal retakan yang berserakan di lantai.


"A...aku akan bersihkan lantainya" Yuna kemudian bergegas ingin mencari lap dan juga pel untuk membersihkan lantai.


Laki-laki itu menahan lengan Yuna dan menariknya mendekati wajah laki-laki itu. Saat itu juga Yuna sungguh terkejut melihat wajah laki-laki itu.


"Astaga" Yuna membelalakan matanya begitu lebar. Mulutnya mangap dan kedua tangannya menyentuh bibir.


"Je..on...ju..ng...kook?" ucap Yuna tidak percaya. Laki-laki yang ada dihadapannya itu adalah Jeon Jungkook member BTS. Walau itu bukan biasnya, tapi Yuna tetap menyukainya karena ia menyukai ketujuh member BTS walau baginya Kim Taehyung yang pertama.


'Apa ini mimpi atau kenyataan? tolong katakan padaku kalau ini bukan mimpi. Kenapa bisa ada sosok seorang bintang yang berkilau dihadapanku? Kumohon jika ini mimpi jangan bangunkan aku, aku ingin terus berada disini menatap wajah seorang selebritis yang tampan dan rupawan ini' batin Yuna berusaha menepuk-nepuk pipinya sambil mematung melamunkan hayalannya.

__ADS_1


"Kenapa kau memukulku?" Tanya laki-laki itu sembari mengernyitkan dahinya sedikit kesal pada Yuna.


Yuna masih terdiam seribu bahasa. Melamun memandang wajah laki-laki itu yang ada dihadapannya.


Laki-laki yang bernama Jungkook itu segera menjentikkan jarinya dihadapan Yuna untuk membuyarkan lamunannya.


"Hey apa kau baik-baik saja?" tanyanya dingin.


Yuna menggelengkan kepalanya. "Ten..tu saja tidak" balas Yuna. Bagaimana dia bisa baik-baik saja. Ini adalah sebuah kehaluan sekaligus hal yang tidak mungkin pernah terjadi di kehidupan nyata. Tapi bagaimana bisa seorang Jeon Jungkook muncul dihadapannya seperti ini. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.


'Yuna tolong sadarlah' pikirnya. Ia segera menepuk kedua pipinya untuk menyadarkannya dari dunia khayalnya.


"Sepertinya kau sudah tak waras ya" celetuk Jungkook memandang Yuna yang masih kaku berdiri.


"Lebih baik cepat bersihkan lantainnya, lengket tahu" perintah Jungkook lagi. "Dan setelah ini sebaiknya kau cepat pulang, aku harus tidur besok ada jadwal yang cukup padat" ucapnya. Jungkook segera berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu segera setelah berbicara pada Yuna.


Yuna masih keheranan melihat idolanya yang jelas terlihat langsung di depan mata kepalanya sendiri.


'Apakah ini takdir dari Tuhan? Tolong berikan aku kesempatan untuk bisa bertemu terus dengannya'


Yuna kemudian menepuk dahinya. "Bodoh sekali aku, kenapa harus memukulnya. Aku harus minta maaf dengan benar padanya" gumam Yuna sendirian.


Setelah ia membersihkan lantainya hingga menjadi seperti sedia kala. Yuna kemudian memberanikan diri mengetuk pintu kamar Jungkook.


"Permisi" ucap Yuna sedikit takut. Ia takut akan membuat biasnya kesal karena menganggunya.


Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Yuna kembali bersuara cukup keras. "Permisiii" sembari mengetuk pintu kamar.


"Heyy, apalagi?" omelnya sembari membuka pintu. "Kau ganggu waktu tidur ku tahu" Jungkook menatap sebal Yuna.


Yuna menundukkan kepalanya cemas. "A...aku sudah membersihkan lantainya, apa sekarang aku boleh pulang?" Tanya Yuna mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Pulang saja, lagipula kau sudah sehat sepertinya"


"Ah begitu ya, tapi aku punya sedikit masalah" balas Yuna lagi.


Jungkook terihat mulai hilang kesabaran. "Apalagi?" tanyanya sedikit ketus.


Yuna menatap ngeri. Namun ia masih berusaha agar Jungkook merespon pembicaraannya.


"Aku tidak punya uang untuk naik taksi, apa aku boleh pinjam uangmu dulu? Nanti pasti akan aku bayar jika kita bertemu lagi" Yuna tersenyum sembari memelas padanya.


Jungkook mendesah. "Huaah....berapa yang kau butuhkan?" tanyanya sedikit tenang.


Yuna menatap Jungkook tajam, namun Jungkook memalingkan wajahnya seolah tidak ingin dilihat Yuna.


"Terserah oppa saja, yang penting aku bisa pulang" jelas Yuna sungguh berterima kasih.


"O...oppa?" kata Jungkook tidak percaya. "Bukankah ini kali pertama kita bertemu? Bisa-bisanya kau memanggilku oppa"


Yuna tersenyum bingung. "Terus aku harus memanggilmu apa? Ahjussi?" tanyanya polos.


Jungkook menghela nafas panjang. Ia sebal dengan jawaban sembrono Yuna, bisa-bisanya dirinya yang masih muda di panggil Ahjussi.


"Hey....kau pikir aku sudah tua? Jangan memanggilku seperti itu." ucap Jungkook menatap tajam Yuna.


Yuna menundukkan kepalanya. "Baik kalo gitu aku akan memanggilmu Jungkook-ssi"


Jungkook menggelengkan kepalanya. "Panggil saja oppa biar cepat kelar urusannya" ucap Jungkook.


Yuna mengangguk mengerti. "Baik oppa"


Yuna kemudian berjalan menuju ruangan depan, menatap Jungkook yang tengah berdiri melihat Yuna pulang. "Terimakasih ya, oppa sangat baik" Yuna melambaikan tangannya pada Jungkook.

__ADS_1


"Hey hey, ini bawa barangmu, sepertinya kau lupa" tahan Jungkook menunjukkan sesuatu.


Yuna sedikit terkejut. Ia hampir lupa kalau habis berbelanja di mini market. Lalu Yuna segera bergegas untuk pulang kerumahnya dengan hati riang gembira seperti habis dapat jackpot.


__ADS_2