
Jungkook sudah tiba di gedung tempat latihannya dan segera memasuki ruangan
latihan yang cukup besar itu, dimana ruangan tersebut dikelilingi oleh kaca-kaca
besar khusus untuk dance practice. Disana terlihat para hyungnya yang
tengah duduk melingkar dilantai sambil berdiskusi serius.
Jungkook yang tampak tidak enak karena telah mengacaukan semuanya seakan
tidak ingin menatap para hyungnya. Ia berjalan lurus dengan tangan kanan
memegang tas besar berisi baju ganti dan peralatan olahraganya sembari
menundukkan kepalanya yang tertutup topi.
“Hey, Jungkook-ah.” Teriak salah satu member yang ternyata adalah Jimin.
Jungkook mengangkat kepalanya melihat Jimin segera bangun menghampirinya.
“Kau gapapa?” tanyanya khawatir sambil memegang bahu Jungkook. Jungkook
menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, ayo mulai latihannya sekarang.”
Ujar Jungkook berjalan menaruh tasnya dan mengambil baju gantinya. Ia pun segera
keruang ganti pakaian dan kembali dalam beberapa menit.
“Oke, baiklah kalau semua sudah komplit kita mulai saja sesi latihan ini ya,
karena 1 minggu lagi kalian akan tampil di Music Bang dan dalam waktu dekat
kalian akan mengadakan tour konser, jadi persiapkan diri masing-masing,
berlatih yang cukup jangan sampai terlalu memaksakan diri sampai jatuh sakit,
jaga kesehatan kalian karena itu adalah hal yang utama.” Nasihat couch yang
melatih para member BTS.
Para member pun mengangguk mengerti. Disusul Jungkook melakukan hal yang
sama. Mereka pun segera memulai sesi latihan dance untuk beberapa lagu utama
yang membutuhkan dance.
“One….two….three…four…five….six….seven…..eight.” teriak couch dengan
lantang. Para member menari dengan sangat gigih dan serius karena mereka ingin
tampil se perfect mungkin untuk ARMY.
Setelah selesai menari, dilanjutkan dengan melatih vocal dengan bernyanyi
sesuai bagian part yang didapat, mereka menghabiskan waktu diruang latihan
sampai seharian penuh. Sampai tiba mereka untuk istirahat dahulu karena capek
dan letih seharian menari dan menyanyi tanpa henti.
Jungkook menyenderkan badannya di kaca besar ruang latihan. “Haaaahh, lelah
sekali.” Ucapnya sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk
menghilangkan pegal.
Taehyung join duduk di samping Jungkook. “Hey, darimana kau? Sampai
telat begitu. Gak biasanya kau se ngaret itu, setau ku cuma Jimin si manusia
paling ngaret diantara kita.” kata Taehyung memulai obrolan.
“Oh…aku ada urusan mendadak yang harus ku kerjakan lebih dulu, jadi aku
telat banget datangnya.” Jelas Jungkook berbohong. Padahal ia mengalami momen
yang cukup menegangkan tapi ia urungkan niat untuk mengatakannya.
“Masa? Kau kan selalu cerita kalau ada apa-apa, tapi kali ini sepertinya
berbeda.” Ujar Taehyung curiga ia mengernyitkan dahinya penasaran. Jungkook
jadi bingung harus berkata apa, ia berasa diteror oleh hyungnya itu.
“Apa sih hyung, gaada apapun yang disembunyikan kok. Semua yang kukatakan
itu benar.” Bela Jungkook.
Taehyung mengangguk angguk antara percaya dan tidak, lalu ia berdiri untuk
mengambil minum. Jungkook sedikit lega dengan kepergian hyungnya, ia sangat
tahu dirinya itu tidak bisa berbohong sama sekali. Pernah sewaktu-waktu ia
berbohong tapi langsung ketauan karena mimik wajahnya yang tampak innocent seperti
bayi. Ia sebenarnya tidak suka berbohong, tapi demi kebaikannya ia akan coba
menyimpannya sendiri.
Mereka pun menyelesaikan latihan sampai tengah malam, dimana Jungkook sudah
sangat lelah untuk balik ke apartementnya. Ia pun memutuskan untuk tidur di
ruang latihan saja daripada ia harus balik dengan keadaan mata sudah sangat
mengantuk.
“Jungkook-ah, kau tidur disini malam ini?” tanya Suga menatap Jungkook yang
merebahkan posisinya dilantai. “Ah….iya, aku malas pulang jadi aku tidur disini
saja sampai besok, baru aku balik.” Jelas Jungkook. Suga mengangguk. “Kalau
begitu hyung pulang dulu, karena yang lain sudah pulang jadi kau disini sendiri
bersama para staff yang lembur sampai besok pagi.” Ujar Suga menjelaskan.
__ADS_1
Jungkook mengangguk mengiyakan sambil memejamkan matanya ia menjadikan
tangannya sebagai sandaran kepalanya. Ia pun bersiap untuk tidur.
Yuna berlari menuju kelas karena dirinya memang sudah sangat telat.
‘Sepertinya pelajaran pertama sudah mulai nih’ batin Yuna menerka-nerka masih
sambil berlari sekencang angin.
Ia pun menghentikan langkahnya sambil berdiri didepan pintu kelas. Ia sangat
takut untuk masuk karena sebelumnya ia belum pernah datang terlambat seperti
ini. ‘Gimana kalu dapat hukuman karena ia telat?’ gumam Yuna panik. Namun ia
tetap berusaha memasang wajah datar dan membuang kepanikannya. Ia pun membuka
pintu berjalan menuju mejanya dengan anggunly. Seisi kelas menatapnya dan
mengikuti langkah Yuna sampai menuju mejanya. Soobin yang tadi tertidur segera
bangun mendongakkan kepalanya menatap Yuna yang tengah dimarahi miss Yuri.
“Yuuunaaaa..” teriak Miss Lee Yuri. Yuna yang bersiap duduk kembali berdiri
tegak menghadap gurunya itu. “Kenapa datang terlambar? Memangnya kau tidak bisa
melihat jam? Sekarang jam berapa hah? Ckckck…anak ini benar-benar ya tidak
disiplin datang tepat waktu. Sekarang cepat kamu berdiri di luar ruang kelas
mengangkat satu kaki dan kedua tangan memegang telinga.” Perintah miss Lee Yuri
dengan ketus. Ia menatap tajam Yuna yang berdiri mematung masih belum bergerak.
“Kenapa kau diam saja? Cepat lakukan perintah miss.” Jelasnya lagi dengan
nada marah.
Yuna terkejut dengan nada suara miss Lee Yuri yang seram dan mengerikan itu.
Ia pun segera mengangguk berjalan menuju luar kelas menuruti ucapan miss Yuri.
Soobin yang merasa kasihan hanya bisa menatap Yuna yang akan menjalani
hukumannya diluar kelas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena miss Yuri memang
terkenal galak dan tidak ada ampun.
Yuna merasa dirinya sial banget harus berhadapan dengan miss Lee Yuri pada
jam pertama dimana dirinya telat datang. “Hadeuhhhh sial banget sih, coba aja
ga telat.” Ucapnya mengoceh tanpa henti diluar kelas.
“Eh tapi….aku beruntung sih, walau telat dan hampir ketabrak mobil oleh
idola sendiri, tapi ketemu Jungkook untuk kedua kalinya itu anugerah terindah
kecuali hanya Yuna seorang.” Ucapnya lagi mengoceh sendiri sambil melamun membayangkan
hal itu terjadi lagi untuk ketiga kalinya, karena ia punya senjata untuk
mengajak Jungkook bertemu, itu adalah kalungnya yang disimpan oleh Jungkook.
Sebenarnya kalau kalung itu disimpan oleh Jungkook dan enggak dibalikin pun
ia akan ikhlas dan senang karena Jungkook pasti nanti akan terus mengingatnya,
tapi kalung itu pemberian dari neneknya yang sudah meninggal. Dimana sang nenek
berpesan agar Yuna terus menggunakan kalung itu karena ia terlihat sangat
cantik ketika memakainya. Dulu Yuna memang sangat dekat dengan neneknya, bisa
dibilang Yuna keseharian tinggal bersama neneknya sebelum keluarganya tidak
semapan dulu lagi dan mengharuskan mereka berpisah kota karena appa Yuna
mencoba membuka bisnis di Gangnam. Yuna jadi jarang menengok nenek di Daegu,
hingga mendapat kabar kalau nenek kritis karena sakit. Keluarga Yuna pun
kembali ke Daegu untuk melihat keadaan nenek yang tengah kritis. Disitu Yuna
menangis tiada henti, ia mengingat setiap momen berharganya dimana dirinya
sangat bahagia tinggal bersama neneknya yang sangat ia sayangi.
Hingga akhirnya sebelum neneknya meninggal, ia menitip pesan kepada Yuna
‘Carilah pasangan yang membuatmu bahagia, nenek ingin melihatmu selalu
tersenyum sepanjang hari karena senyuman Yuna adalah senyuman terindah bagi nenek,
nenek akan selalu mengawasimu dari atas, semoga Yuna mendapatkan laki-laki yang
selalu mencintai dan menyayangi Yuna dengan tulus.” titah nenek diakhir
hidupnya. Itu adalah pesan terakhir yang masih terngiang-ngiang dipikiran Yuna
bahkan sampai sekarang. Ia juga heran kenapa nenek memberinya pesan seperti
itu, padahal waktu itu umurnya masih sangat muda dan belum mengerti tentang
pacaran apalagi menuju jenjang yang serius dengan laki-laki manapun. Semakin
memikirkannya semakin membuat Yuna bingung maksud dari perkataan neneknya itu.
Ia jadi tidak terlalu menggubris perkataan neneknya itu. Lalu nenek juga
memberikan Yuna sebuah kalung bertuliskan namanya sendiri yaitu ‘YUNA’ dan
memakaikannya dileher Yuna. Itu adalah momen yang mengharukan bagi Yuna. Ia
berjanji akan terus memakai kalung itu dan menyimpannya sebagai sebuah kenangan
__ADS_1
indah bersama neneknya yang tidak akan pernah terlupakan.
Seseorang menjentikkan jarinya didepan wajah Yuna. Yuna segera membuyarkan
lamunannya. “Ehh…loh, kau kok disini?” tanya Yuna masih mengangkat satu kaki
dan tangannya memegang telinga. “Aku habis dari toilet, by the way kauu…kau
dihukum?” kata Lucas tertawa puas. “Heyy, kenapa kau malah tertawa? Senang
melihat aku dihukum?” balas Yuna kesal, ia memanyunkan bibirnya. “Kok bisa?
Memang kau melakukan apa?” tanya Lucas masih sedikit tertawa. “Bukan urusan mu,
aku ini kok yang dihukum kenapa kau kepo sekali si urusan orang
ckckck….menyebalkan.” teriak Yuna tanpa sadar ia membuat keributan di sekitar
lorong kelas. Lucas menatap sekitar. “Kau berisik banget tahu, orang-orang jadi
pada dengar kau teriak.” Bisik Lucas ditelinga Yuna. Yuna membelalakkan
matanya. “Ehh…apa iya? Perasaan tadi aku ngomongnya ga kencang banget deh.”
Jelas Yuna mengingat perkataannya barusan.
Miss Lee Yuri yang sepertinya mendengar teriakan Yuna segera menghampiri
Yuna dan memarahinya. “Yunaaa, sudah aku kasih hukuman tapi kau sepertinya
tidak jera ya. Habis bel istirahat kau segera keruangan miss, karena miss akan
kasih hukuman lagi untuk anak sepertimu.” Jelasnya menatap tajam Yuna dengan
sangat ketus. Yuna jadi ngeri melihatnya. Ia tidak menduga akan jadi seperti
ini. Yuna segera menatap tajam Lucas. “Heyy, ini semua karenamu, aku jadi kena
hukuman lagi,” desis Yuna emosi, ia berusaha memukul Lucas tapi Lucas
menghindari serangannya. Lucas menunjukkan giginya tersenyum canggung.
“Sebaiknya aku pergi dulu ya.” balasnya melambaikan tangan pada Yuna.
“Lucasssssss……awas kau yaa, akan kuhabisi kau saat bel isirahat nantii.”
Omel Yuna kesal. Terlihat Lucas yang sudah lari kabur karena situasinya yang
tegang dan tidak bersahabat sedikit pun. Yuna yang masih sangat emosi mencoba
menenangkan dirinya. ‘Akan kubunuh kau Lucas’ ancam Yuna bertekad dalam hati.
Bel istirahat berbunyi, Yuna segera menurunkan satu kakinya dan tangannya
yang pegal dan kaku karena dihukum selama 3 jam pelajaran miss Lee Yuri.
“Aduhh….sakit banget pegel.” Ucapnya mencoba mereggangkan otot tangan dan
kakinya. Ia segera duduk dibangku.
“Yunaaa, ayo kita ke kantin.” Teriak Mijoo dari luar kelas. Mijoo memang
tidak sekelas dengan Yuna tapi mereka jadi dekat karena satu frekuensi.
“Oh…Mijoo, kau duluan saja. Aku ada urusan lain.”
“Urusan apa? Ayo biar kutemani.” Ucapnya meyakinkan.
“Aku bisa sendiri, nanti kau kuhubungi kalau sudah selesai.” Balas Yuna
menolak.
Mijoo pun mengangguk mengerti. Ia segera berjalan keluar kelas menuju kantin
dengan anak-anak yang lain.
Soobin segera menghampiri Yuna. “Kau gapapa? Pasti melelahkan berdiri disana
sampai pelajaran miss Yuri selesai.” Kata Soobin menatap Yuna yang masih
memegang tangannya yang pegal.
“Sangat melelahkan,” balas Yuna. “Oh iya, kalau kau melihat Lucas tolong
katakana padanya aku akan membunuhnya” desis Yuna serius. Soobin yang tidak
tahu menahu cukup terkejut dengan ucapan Yuna. “Untuk apa kau membunuh Lucas?
Ia tidak berharga untuk kau bunuh, tidak menguntungkan.” Terang Soobin dengan
mimik meledek. “Benar juga kau, kalau begitu biar ku pukul saja dia.” Yuna
menunjukkan kepalan tangan kanannya dihadapan Soobin, ia seperti bersiap akan
memukul habis Lucas. Soobin memegang tangan Yuna dan menurunkannya.
“HAHAHA….Sudahlah, ayo kita ke kantin untuk mencari Lucas.” Jelas Soobin
menarik tangan Yuna. Yuna menahan tarikan Soobin. “Aku harus ke ruang guru
dulu, ada urusan dengan miss Yuri.” Terang Yuna melepaskan genggaman Soobin.
“Oh begitu, yasudah aku kekantin duluan ya, kalau kau sudah selesai disana,
cepat menyusul.” Jelasnya segera berjalan menuju kantin.
Setelah Soobin pergi, ia mencoba meluruskan badannya yang pegal dan kaku, ia
pun bertekad menuju ruang guru menemui miss Lee Yuri yang sedang menunggunya.
Ia harus mencoba rileks dan tenang.
Yuna memasuki ruang guru, berjalan menuju meja miss Lee Yuri, terlihat miss
Yuri yang duduk di bangkunya sembari melipat kedua tangan dimeja seperti
menunggu kehadiran Yuna.
__ADS_1