
Malam pun tiba, Yuna sudah pulang dari kerja part timenya. Ia segera berbaring diranjangnya yang sangat ia rindukan. Ia sangat lelah hari ini, bayangkan saja seharian ia diberikan hukuman yang menguras tenaga dan ia harus pulang melompati dinding sekolah, terakhir ia melakukan kerja part timenya yang mengharuskannya berdiri sampai malam melayani pelanggan. Yuna sangat lelah dan rasanya ia sangat mengantuk. “Hooaamm” Ia menguap dengan lebar. Matanya sayup-sayup mengantuk, tapi ia harus menyelesaikan satu hukuman lagi. ‘Aku malas banget ngerjain essai, tanganku sudah tak berenergi untuk menulis, bahkan mataku sudah gakuat untuk melek’ batinnya menatap sekitar yang perlahan membuat matanya menutup perlahan. “Cobaan apalagi ini, membuat stress saja” teriak Yuna berbicara setengah tertidur.
Tok…tok…tok. Suara pintu kamar dibuka.
“Yunaa, kau sudah makan malam?” teriak eomma dari luar pintu. “Ng?” tanya Yuna masih setengah tidur. “Kau….kau tidur?” tanya eomma memastikan. “Hmmmm” balas Yuna setengah sadar.
“Buka dulu pintunya, eomma mau bicara” jelas eomma mengetuk pintu dengan lebih keras, membuat Yuna kaget dan terbangun. “Ne?” tanyanya mencoba berdiri sambil sempoyongan untuk membukakan pintu. Yuna menatap eomma dengan mata sayupnya. “Kenapa matamu itu? kantung matamu hitam begitu, kau pasti begadang terus kan” omel eomma. Yuna tidak terlalu memperdulikan omongan eommanya karena ia hanya ingin kembali melanjutkan tidurnya.
“Eomma…kenapa kesini?” tanya Yuna kembali menuju ranjangnya. Ia kembali tertidur. “Heyy, kau jangan tidur dulu, eomma mau bicara” ucapnya lagi.
“Hmmm….bicaralah eomma” kata Yuna masih berbaring diranjangnya. “Kau bangun dulu, baru eomma bicara” eomma segera mengangkat badan Yuna yang terbaring diranjang. “Eommaaa….hentikan, aku mengantuk, seharian ini aku sangat lelah” jelas Yuna kesal karena waktu tidurnya terganggu.
“Lelah apa sih, kau hanya sekolah seharian saja sudah lelah begitu, ingat kau masih muda, perjalananmu masih panjang, jangan gampang lelah kalau mau sukses” nasihat eomma sedikit ketus. Yuna merasa sebal. ‘Kenapa sih malam-malam malah dinasihatin, udah tau Yuna engga suka di nasihatin’ gumamnya ngedumel. Ia merasa dirinya sudah paham mengenai dunia ini dan lagi ia sedang mengantuk dan tidak konsentrasi mengenai apa yang eomma ucapkan.
“Kenapa kau akhir-akhir ini pulang larut terus? Apa yang kau lakukan?” tanya eomma menatap Yuna tajam. Yuna yang masih setengah mengantuk tidak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa kau diam hah? Perlu eomma siram air supaya kau bangun?” eomma segera bangun untuk berjalan mengambil air namun Yuna mencegahnya. Sejujurnya Yuna tidak pandai berbohong kepada siapapun, ia tidak berani berbohong pada eomma, is takut kalau ketahuan resikonya lebih berat.
“Ah….eomma, kenapa sih gabisa sekali aja enggak ganggu Yuna dulu, Yuna capek banget, mata udah ngantuk, besok harus sekolah, eomma ngertiin kondisi Yuna dong” dengus Yuna kesal. Ia berusaha untuk mengabaikan ucapan eomma.
“Ohh jadi sekarang kau ngelawan sama eomma hah? Berani ya kamu, eomma tanya kamu kemana tapi malah diam. Kau pikir kau bisa seenaknya pulang sampai larut malam? Kau merasa bebas karena orang-orang dirumah sudah tidur duluan dan kau pulang diam-diam tanpa ketahuan begitu?” teriak eomma dengan nada marah.
Yuna yang tadinya mengantuk menjadi sadar, matanya sudah melek. Ia tidak tahu harus menjawab apa, rasanya ia ingin menangis saja dipojokan.
Saat itu Yohan datang ke kamar Yuna karena ia mendengar suara ribut-ribut dari kamar Yuna. “Ada apa ini eomma?” tanyanya bingung. Yohan juga masih setengah sadar karena ia saat itu tengah tertidur.
__ADS_1
“Kau tanyakan saja pada adikmu itu, kenapa ia pulang larut malam terus akhir-akhir ini” omel eomma menatap tajam Yuna yang terdiam kaku.
Yohan bingung harus melakukan apa, pasalnya ia hanya berusaha membantu Yuna mendapatkan pekerjaan tapi kenapa sekarang jadi begini? Eomma bahkan jadi mencurigai Yuna. Yuna menatap Yohan memelas, wajahnya ketakutan, ia tidak berani menatap eomma.
Yohan jadi merasa kasihan pada Yuna. “Ah…eomma, kenapa eomma meributkan hal seperti ini sih? Mungkin Yuna ada kerja kelompok dengan temannya tapi ia gabisa cerita karena Yuna pasti lelah dan ingin segera tidur, jadi eomma maklumin aja” terang Yohan mencoba menenangkan situasi.
Eomma sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yohan. “Kau bela saja terus adikmu itu, kau sama saja dengan adikmu tidak ada bedanya, kalian saling menutupi kekurangan masing-masing, memangnya eomma gatau, kau bahkan pernah minum dengan teman-temanmu diam-diam, kau pikir eomma bodoh? kalian lebih baik berhati-hati, kalau sampai eomma tahu kelakukan buruk kalian, eomma akan kasih hukuman yang berat agar kalian tidak akan pernah mengulanginya lagi” jelas eomma dengan nada emosi sembari menatap tajam Yuna dan Yohan yang terdiam kaku tak berbicara sedikitpun. Eomma segera keluar dari kamar Yuna dengan langkah besar.
Yuna menghela nafas panjang. Badannya gemetaran, ia tidak bisa berkata apa-apa mulutnya terkunci karena ia sangat takut dengan omelan eommanya yang membuat seisi rumah bergetar dahsyat.
“Hey, kau gapapa?” tanya Yohan mendekati Yuna yang masih syok berat. “Udah kau gausa memikirkan eomma, besok juga ia sudah kembali normal lagi” jelas Yohan menatap adiknya yang mulai mengeluarkan air mata.
Walaupun Yohan sering mengusili dan menjahili Yuna, tapi ia tidak tega melihat adiknya menangis sesenggukkan seperti itu.
“Ap…pa…di…mana?” ucap Yuna terbata-bata.
Ia mencoba menenangkan Yuna yang masih terduduk lemas menundukkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata. “Jangan menangis Yuna, kau bukan anak yang cengeng, kau harus bisa menghadapi kerasnya dunia, aku tau eomma sangat keras pada kita, tapi dia sebetulnya sayang sama kita, tapi caranya salah, ia hanya tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa kasih sayang kepada kedua anaknya” Yohan menatap wajah Yuna yang bergelimang air mata. “Kau harus tegar” ucap Yohan tegas. “Besok kau gausa part time dulu, biar aku gantikan habis pulang sekolah, kau besok langsung pulang saja kerumah, jangan cari masalah dulu” nasihat Yohan tegas.
“Oppa” ucap Yuna lirih.
“Oppa…serius mau gantiin dulu?” tanya Yuna sambil mengusap kedua air matanya. Yohan mengangguk. “Untuk sementara aku akan menggantikanmu dulu sampai eomma mereda, untuk gajinya kalau sudah satu bulan kau boleh ambil untuk membeli album idol mu itu” jelas Yohan.
Yuna tidak percaya, ini pertama kalinya ia melihat sosok oppanya yang sangat bijak dan berwibawa. Yohan terlihat berbeda dari Yohan yang ia kenal, ia terlihat sangat dewasa sesuai dengan umurnya.
Yuna tersenyum mengangguk. “Oppa, terimakasih ya sudah membantuku dan memberiku support, aku seperti melihat oppa yang berbeda dari biasanya, kau keren sekali” Yuna mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
“Kau baru pertama kan melihatku seperti ini, jarang-jarang kau mendapatkan kehangatan dariku kan” ledeknya. Yuna memukul bahu Yohan. “Apaan sih kau, pede banget, aku ga butuh kehangatanmu, aku sudah punya selimut yang memberiku kehangatan”
“Ckckck….dasar kau memang masih bocah yang menyebalkan” dengus Yohan.
“Tapi sayang kan?” ucap Yuna mengangkat kedua alisnya keatas dan kebawah. Yohan mendesis. “Cih, enggak sama sekali” Yohan segera keluar dari kamar Yuna. “Kau tidur saja sekarang, besok kalau gamau ketemu eomma, berangkat lebih pagi saja, biar aku yang jelaskan ke eomma nanti” terangnya. Ia segera menutup pintu kamar Yuna dengan pelan.
Yuna pun mencoba untuk tidur kembali, rasanya ia jadi tidak begitu mengantuk dan badannya yang terasa pegal menjadi lebih kaku dan tegang. ‘Apa ini karena efek amarah eomma, semua badanku yang pegal menjadi pulih kembali, omelan yang mengerikan’ ucap Yuna membayangkan omelan eommanya yang tadi baru saja terjadi. Ia berharap kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi karena ia memang sangat takut dengan amarah eommanya yang membuatnya diam mematung bagai patung.
Besoknya Yuna bangun lebih pagi sesuai perkataan Yohan. Ia langsung buru-buru mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, ia segera memakai bedak tipis dan lipstick nudenya agar terlihat natural, ia menutupi matanya yang bengkak karena menangis semalam dengan softlens agar tidak ada yang tahu kalau dirinya habis menangis, tak lupa ia semprotkan parfum ke seragam SMA nya. “Hmmm…wanginya” gumam Yuna mencium aroma parfumnya sendiri. Yuna pun bersiap untuk berangkat. Walau ia masih trauma dengan kejadian semalam, ia mencoba untuk melupakannya dan berusaha tegar walaupun hatinya retak.
Yuna mengintip melalui pintu. Ia celingak celinguk melihat sekeliling. “Sepertinya aman, semuanya masih pada tidur” ucap Yuna sambil berbisik pada dirinya sendiri. Yuna melangkahkan kaki keluar pintu. Ia segera menutup pintu pelan-pelan takut terdengar oleh eommanya. Lalu bergegas turun ke lantai bawah. Yuna berjalan dengan langkah kecil-kecil agar tidak menimbulkan suara bising. Ia sudah bisa merasakan udara luar dari balik pintu yang akan membawanya keluar dari rumah ini. ‘Sedikit lagi’ batinnya gregetan.
Segera saat itu ia mencoba membuka gagang pintu, namun “Brak” seseorang menutup pintu itu kembali.
Yuna terkejut. Ia sampai melompat kaget. Ia tidak berani nengok kebelakang, ia yakin itu pasti eommanya. ‘Apa aku ketahuan ya?’ batinnya ketakutan.
Yuna masih berdiri kaku di depan pintu dengan tangan seseorang yang menahan pintu itu.
“Kau…” ucapnya dengan nada berat. Yuna tidak berani menoleh ke belakang, lebih baik ia mati daripada harus mengalami hal yang sama seperti semalam. Ia masih berdiri kaku dengan kaki yang gemeteran.
“Kau kenapa masih disini? Cepat pergi sebelum eomma tahu” jelas suara berat itu. Yuna membelalakkan matanya. “Ne?” tanyanya bingung. Yuna segera menoleh kebelakang, ia mendapati Yohan yang tengah berdiri dibelakangnya sambil tersenyum usil. Ia iseng mengerjai adiknya yang super penakut itu.
“Hahaha…kau mudah sekali di tipu ya” tawanya geli. Yuna menggertakkan giginya, rasanya ia ingin memukul tingkah Yohan aja, bisa-bisanya ia tidak memahami perasaan adiknya itu bahkan setelah kejadian semalam. Padahal semalam sifatnya sangat dewasa, sekarang sifatnya sudah kembali kekanak-kanakan. ‘Mungkin itu yang dinamakan muka dua atau sifat dua ya” batin Yuna heran.
"Aku sudah berusaha supaya engga berisik, tapi kau hampir mengacaukan rencanaku, kalau eomma bangun karena suara pintu itu awas aja kau ya, aku akan membunuhmu" Yuna menunjukkan kepalan tangannya dihadapan wajah Yohan.
__ADS_1
Yohan bergidik pura-pura ketakutan. "Hiiiii....takutt" ucapnya meledek.
“Udah ah, lelah aku berbicara sama oppa, aku mau langsung berangkat, nanti eomma muncul bisa gawat” Yuna langsung buru-buru berlari menuju pagar rumah dan bersiap menaiki bus seperti biasanya.