
Besoknya~~
Hari itu sangat dingin karena turun salju. Jungkook baru saja pulang setelah press conference album baru.
'Huh....sungguh melelahkan' batinnya sembari melemparkan badannya ke ranjang.
"Kruyuuk" bunyi suara perut Jungkook terdengar cukup nyaring. Jungkook memegangi kepalanya, ia baru sadar sedari tadi ia belum makan, perutnya terasa sangat lapar.
Jungkook segera membuka kulkas berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Ternyata nihil. Tidak ada apapun disana. 'Apa sebaiknya ke mini market?' gumamnya. Tapi ia cukup lelah. Tapi tetap harus terlihat sehat di depan fans. 'Aku akan segera berganti baju menuju mini market'
Jungkook mencari mantel hangat dan topi serta masker untuk berjaga-jaga jikalau ada yang mengenalinya sebagai anggota BTS. Walau hanya sebentar, tapi anginnya sangat dingin. Jungkook segera mengunci pintu kamarnya dan bergegas turun menggunakan lift.
Jungkook berlari di tengah salju yang mulai berjatuhan. 'Huaahh...dingin banget, aku harus cepat-cepat balik lagi ke apartement, ayo kita membeli ramen dan susu pisang' pikir Jungkook sembari masih berlari.
Jungkook membuka pintu mini market. Lalu ia langsung buru-buru mencari ramen dan susu pisang kesukaannya. Tapi ia bimbang ketika melihat tteokpokki dan odeng berjejer di kemasan dekat ramen. Ia juga hampir lupa membeli nasi kemasan.
'Sebaiknya beli saja semua deh' pikir Jungkook. Lalu ia segera berjalan menuju kasir untuk cepat-cepat membayar.
"Ye? Maksudnya mau dibalikin? Tapi sudah dibayar kan, tidak bisa dikembalikan" ujar eonni itu sedikit menaikkan nada suaranya.
"Eonni, uangku kurang jadi bagaimana ya?" Tanya Yuna bingung.
'
Aduh, ada apa lagi ini. Kenapa gadis itu merepotkan sekali sih' Jungkook yang masih menunggu antrian menjadi tidak sabar karena perutnya sudah sangat lapar. 'Apa sebaiknya aku saja yang membayar kekurangannya biar masalahnya cepat selesai dan segera kembali ke apartemen' usul Jungkook dalam hati.
"Biar saya saja yang membayar kekurangannya" tiba-tiba Jungkook berjalan kedepan kasir dan memberikan sejumlah uang kepada penjaga kasir.
"Oh....Terima...kasih" ucap gadis itu sedikit heran sekaligus terpesona.
Jungkook segera berjalan menuju pintu sembari tergesa-gesa. 'Haduh, aku sudah sangat lapar, bagaimana ini?' Jungkook berjalan dengan cukup cepat di tengah salju yang menghalangi jalannya.
Samar-samar Jungkook mendengar suara teriakan. Tapi ia abaikan, lalu suara itu terdengar lagi memanggil seseorang, tapi siapa orangnya? Akhirnya Jungkook memalingkan wajahnya ke belakang.
__ADS_1
Ia melihat seorang gadis tengah mengejarnya. 'Bukankah ia gadis yang di mini market itu' terka Jungkook bingung. 'Ngapain segala mengejarnya' batin Jungkook heran.
Ia pun segera berjalan menghampiri gadis itu dan menanyakan apa maunya. Namun tiba-tiba gadis itu pingsan di tengah salju yang cukup lebat. Jungkook terkejut, ia langsung berlari mendekati gadis itu dan mencoba mengangkatnya, namun ia bingung harus membawa gadis ini kemana karena ia tidak tahu dimana rumah gadis ini berada.
Setelah dipikir-pikir akhirnya Jungkook pun memutuskan untuk menggendongnya menuju apartementnya. 'Aduh gawat nih, semoga tidak ada yang melihat hal ini' pikirnya sedikit takut, karena ia adalah seorang idol yang jelas-jelas dipantau 24/7 oleh banyak orang terutama sasaeng yang banyak menguntit kehidupannya.
Jungkook membawa gadis itu ke sofa ruang tengah. Berharap gadis itu segera bangun agar Jungkook bisa bebas melakukan apapun.
'Aku harus buat ramen dan tteokpokki' Jungkook segera membuka bungkus ramen daan tteokpokki.
Ia memasaknya dan segera memakannya di ruang tengah sembari menyalakan televisi. "Akhirnya perut ku sudah kembali tidak keroncongan lagi" ucap Jungkook berbicara sendiri.
Jungkook menatap wajah gadis yang tengah tertidur di sofanya. "Kenapa ia mengikutiku ya?" Tanya Jungkook bingung. Jungkook melihat barang-barang yang dibeli gadis itu di mini market tadi.
Gadis itu membeli banyak sekali makanan dan minuman. 'Memangnya ia mau pesta apa? Segala membeli bir" dengus Jungkook sebal. Lalu ia kembali membereskannya kedalam plastik.
Sudah hampir 1 jam, Jungkook menunggu gadis itu bangun. Tapi entah kenapa ia tidak kunjung bangun. 'Bagaimana kalau ia punya penyakit lain? Bagaimana kalau ia mati? Aku sudah membawanya kesini lagi, seharusnya aku tidak melakukannya' sesal Jungkook kemudian.
Ia memegang tangan gadis itu, masih dingin. Jungkook segera mengambilkan selimut untuk menghangatkannya.
Beberapa menit kemudian Jungkook kembali ke ruang tengah untuk melihat keadaan gadis itu. Kondisi ruang depan yang Jungkook lewati gelap dan ia lupa menyalakan lampunya. Saat itu gadis yang tertidur di sofa perlahan terbangun dan tengah terduduk di sofa. Matanya melihat sekeliling seperti orang kebingungan.
Saat itu gadis itu menatap kearah Jungkook dengan sangat terkejut. Jungkook yang sedang membawa secangkir cokelat panas segera menghampiri gadis itu. Tiba-tiba gadis itu tengah mengayunkan sebuah tongkat kearah Jungkook. Iya, gadis itu memukul Jungkook dengan pemukul baseball miliknya. Jungkook yang tidak siap harus menerima pukulan yang cukup keras dari gadis itu.
"Hey hentikan" Jungkook berteriak. Dan"Praangg" gelas yang Jungkook pegang terjatuh dan pecah menimbulkan kebisingan. Gadis itu terkejut dan menghentikan perbuatannya.
Jungkook menatap tajam gadis itu. Gadis itu menundukkan kepalanya meminta maaf karena telah memukul Jungkook.
Jungkook yang berniat ingin memberikan cokelat panas kembali mengurungkan niatnya, ia menjadi tidak nyaman dan ingin gadis itu segera keluar dari tempatnya.
Gadis itu menatap Jungkook dan terkejut, karena Jungkook lupa memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
"Je...on....Ju...ng...kook?" teriaknya terkejut.
__ADS_1
Jungkook menjadi salah tingkah dan takut gadis itu akan membeberkan kehidupannya.
"Sebaiknya kau cepat pulang dan bereskan ini semua" Jungkook mengingatkannya.
"Dan satu lagi, tolong jaga rahasia ini" jelas Jungkook kepada gadis yang masih terdiam kaku menatap Jungkook.
Itulah awal pertemuan Jungkook dengan gadis itu. Bahkan ia tidak tahu namanya dan tempat tinggalnya. Tapi Jungkook dengan berani membawanya ke apartemenya. 'Kalau di pikir-pikir aku sudah gila sepertinya' batin Jungkook sembari mulai tertidur diranjang empuknya.
Hari itu Yuna tidak bisa melupakan moment yang sangat berharga baginya, walaupun hanya sebentar tapi rasanya sangat menyenangkan. Ini seperti berkah dari Tuhan yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan dua kali.
'Seandainya saja Jungkook menjadi temanku, pasti aku akan menjadi fans yang paling beruntung' batin Yuna menghayal.
"Yuna bangunnnn" teriak Eomma melempar guling ke wajah Yuna yang masih terbungkus selimut.
"Lihat sudah jam berapa, cepat rapi-rapi, kau harus sekolah" teriak Eomma lagi. Yuna membuka selimutnya dan menatap jam dinding dihadapannya.
"Waduhh, aku kesiangan" teriaknya terkejut.
Yuna kemudian beranjak bangun dari ranjangnya dan segera berlari mencari handuk lalu menuju kamar mandi. Buru-buru ia dandan seadanya.
Ia lalu turun kebawah melihat oppanya masih belum berangkat ke Sekolah.
"Oppaa....aku nebeng dong, aku sudah kesiangan" teriak Yuna mengejarnya menuju gerbang rumah. Kim Yohan memasang wajah pasrah.
"Hey, mana pesananku yang semalam" tagihnya.
"Tenang aja, ada di kamarku. Nanti ku ambilkan setelah pulang" balas Yuna tergesa-gesa. “Sekarang ayo cepat berangkat, nanti kesiangan.” Suruh Yuna menepuk bahu Yohan.
Yohan menatap Yuna curiga. "Semalam kau pulang larut banget, padahal aku hanya menyuruhmu membeli apa yang kusuruh, apa yang kau lakukan hah sampai pulang larut begitu?" tanyanya penasaran sekaligus curiga. Yuna kembali mengingat kejadian semalam yang membuat jantungnya berdegup kencang... wajahnya kini menjadi merah padam bagai terbakar api.
"Hey, wajahmu merah tuh, pasti kau melakukan sesuatu yang aneh kan, dasar nakal kau, aku akan mengatakannya pada eomma" terang oppa.
"Hey, hentikan. Udah mending cepatan kita berangkat" Yuna memalingkan wajahnya yang sudah terbakar itu. Hatinya kini masih saja berdegup walau hanya bertemu sekali pada malam itu.
__ADS_1
Yuna menatap eomma dari luar gerbang. "Eomma, aku jalan ya"
"Eh, gak sarapan?" tanyanya. Yuna menggelengkan kepalanya. Lalu melambaikan tangan.