Pacarku Adalah Idolaku

Pacarku Adalah Idolaku
Kalung


__ADS_3

30 menit kemudian mereka telah selesai menghabiskan makanan.


"Setelah ini mau kemana?" Tanya Soobin sembari menyeruput es


Americano.


"Sebenarnya aku ditawari part time oleh oppa. Bagaimana menurut


kalian?" Tanya Yuna memastikan.


Lucas terlihat berpikir. "Sebaiknya terima saja tawaran itu, lumayan


dapat uang buat jajan" Lucas mengacungkan jempolnya.


"Memangnya kau butuh uang untuk apa?" Tanya Soobin. "Kalian


kan tahu aku suka sekali BTS seperti yang aku ceritakan tadi, aku harus membeli


album BTS yang baru supaya bisa ikut fansign. Kalau minta sama Eomma


beuhhh....bisa diomelin habis-habisan" cerita Yuna menggidik membayangkan


Eommanya yang mengomelinya.


"Ikut fansign itu untung-untungan, tidak semudah itu. Kau juga harus


rela menghabiskan banyak uang untuk membeli album mereka" jelas soobin.


"Huh, memang benar sih" Yuna mendesah sedih.


"Iya juga sih, tapi kau harus mencobanya siapa tau keberuntungan ada


padamu" ucap Lucas menyemangati Yuna.


"Aaaaa....kau memang yang terbaik, aku akan berusaha" Yuna


mengedikan mata kanannya pada Lucas.


"Fighting" tekad Yuna mengangkat kedua tangannya keatas. Soobin


hanya diam melihat Yuna dan Lucas.


'Sebaiknya aku tanya oppa lagi deh buat mastiin' batinnya.


Siang itu anggota BTS tengah berada di acara S-net Ncountdown untuk comeback


sekalian promosi album baru mereka The map of the smart 7


Jungkook tengah bersiap comeback dengan lagu baru dipanggung Ncountdown


bersama anggota BTS lainnya. Ia menggerak gerakkan tangan dan kakinya untuk


latihan pemanasan. Ia sungguh tidak sabar untuk memberikan perform terbaiknya


untuk fansnya ARMY.


"Lihat-lihat Jungkook bersemangat sekali" Jimin menunjuk Jungkook


pada member lain. "Ia memang maknae aktif kan" balas Taehyung.


Tinggal beberapa menit lagi mereka akan tampil membawakan lagu On yang baru


saja dirilis.


"Semuanya, ayo bersiap-siap" perintah Namjoon sang leader.


Semua anggota BTS bersiap menaiki panggung. Saat itu juga terdengar teriakan


ARMY yang menyemangati mereka. "Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung


Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook BTS" suara fanchart nya.


BTS memposisikan bagian masing-masing, lalu musik segera di nyalakan.


Perform pun dimulai.


Mereka pun selesai membawakan lagu baru mereka dan kembali turun dari


panggung.


"Huuaaaa, aku lelah" ujar Taehyung mengulet. "Hey lihat itu


kita" tunjuk Jimin ke layar televisi.


"Jungkook-ah, high note mu kerenn" puji Jhope memegang pundak


Jungkook. Jungkook hanya tersenyum.


Setelah aktvitas mereka selesai. Semua member bersiap untuk pulang karena


tidak ada lagi yang harus dikerjakan.


"Aku pulang duluan ya" Jungkook melambaikan tangan pada semua


member.


Sesampainya di apartement.


"Huaaaa..." Jungkook membaringkan badannya di ranjang.


"Ngantuk banget hari ini" ucapnya.


Tenggorokannya tiba-tiba kering. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk meminum


segelas air putih.


Tak sengaja ia menengok ke bawah dan mendapati sebuah kalung emas berwarna


putih terjatuh di dekat kulkas.

__ADS_1


'Kalung siapa ini ya' pikir Jungkook bingung. Jungkook memutar-mutar kalung


tersebut dan menemukan tulisan seperti sebuah nama. 'Y U N A'


"YUNA?" Tanya Jungkook pada dirinya. 'Siapa gadis itu? Memangnya


aku pernah membawa seorang gadis ke apartementku?" Tanya Jungkook lagi.


Jungkook mencoba mengingat kejadian yang telah lalu, agar bisa menemukan


jawabannya. Namun ia masih belum menemukan apapun. 'Ah gatau ah' Jungkook


segera berjalan menuju ruang tengah dan melempar kalung itu ke sofa tanpa


berfikir panjang. Lalu ia berbalik lagi dan kembali berjalan kearah sofa dan


mengambil kalung itu kembali. Jungkook masih sangat penasaran. Ia menatap lekat


kalung itu dan terus membaca nama yang ada di kalung itu. 'Oh' tiba-tiba


Jungkook teringat sesuatu. Gadis yang waktu itu mengejarnya saat ia ke mini market.


Jungkook sedikit terkejut. 'Jangan-jangan kalung ini punya gadis itu' terkanya


masih menatap kalung bertuliskan 'YUNA'. Jungkook berniat untuk menyimpan


kalung itu di sebuah kotak berbentuk hati dan menaruhnya di lemari kaca dekat


kamarnya.


Jungkook berniat ingin memberikan kalung itu ketika ia bertemu dengan gadis


bernama Yuna itu.


Yuna membuka pintu kamar oppanya. Namun ia tidak menemukan dimana oppanya


berada. 'Dimana sih dia berada, padahal lagi dibutuhkan bukannya muncul'


Seketika eomma mengagetkan Yuna yang tengah berada dikamar Yohan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya eomma heran. "Bukannya


kau habis keluar rumah?" Tanya eomma lagi pada Yuna yang terkejut.


"Ah....tadi aku habis bertemu teman di café lalu aku langsung pulang


lagi" jelas Yuna pada eomma yang tampak tidak percaya. Eomma tampak


menatap tajam Yuna. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Yuna.


"Kau menghabiskan uang berapa bersama temanmu itu?" Tanya eomma


mengecilkan suaranya.


Yuna tampak ngeri mendengar ucapan eommanya. Sepertinya dikit lagi eomma


akan mengamuk. Huaaaa membayangkannya saja sudah mengerikan.


minuman" balas Yuna berbohong. Ia tau banget kalau eomma engga suka kalau


Yuna menghabiskan uang hanya untuk hal yang tidak berguna, karena kehidupan


mereka sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga eomma selalu mengatakan


'berhematlah' tapi tetap saja kami tidak mendengarkan, sehingga selalu kena


omelan.


"Jangan berbohong kau ya, eomma sudah tau apa yang ada dipikiranmu.


Dasar anak nakal" eomma memukul pundak Yuna menggunakan bantal saking


kesalnya.


"Aaaa....eomma sakit, tolong hentikan" teriak Yuna berusaha


membujuk eomma untuk berhenti memukulnya.


"Hey, ada apa ini ribut-ribut?" Tanya appa yang baru saja sampai


dirumah. Ia segera menghentikan pukulan eomma dan memeluk Yuna erat.


"Ada apa ini?" Tanya appa kebingungan.


"Tanyakan saja sana sama anakmu itu" jelas eomma sebal lalu segera


keluar dari kamar oppa.


Appa heran melihat situasi yang tidak ia ketahui.


"Yuna ada apa ini sebenarnya? Kenapa eomma memukulmu?" Tanya appa


butuh penjelasan.


Yuna menarik nafasnya pelan. "Appa, aku takut" Yuna kembali


memeluk erat appa.


Bagi Yuna appanya lah yang terbaik ketika eomma terus memarahinya, tapi appa


selalu melindungi Yuna. Bahkan Yuna lebih merasa dekat dengan appa dibanding


eomma. Karena appa selalu tau apa yang Yuna suka dan tidak suka. Appa juga


selalu mendukung keputusan Yuna. Makanya Yuna selalu nyaman berada di samping


appanya.


Tidak beberapa lama kemudian Yohan telah pulang dan sampai di kamarnya. Ia

__ADS_1


memiringkan kepalanya heran dengan situasi tegang yang terjadi di kamarnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Yohan bingung melihat kamarnya


berantakan. Lalu Yohan menatap Appa yang masih memegang erat Yuna.


Yohan kemudian membuka mulutnya sembari mengomel.


"Yunaaaa....rapikan kembali bantal dan gulingku, cepat" perintah


Yohan menatap tajam Yuna yang masih berada dalam pelukan appa.


Appa kemudian berdiri menatap Yohan kesal. "Kau baru saja melihat Yuna


dimarahi eomma dan ketakutan, sementara kau menyuruhnya dan mengomelinya


seperti itu, berhentilah melakukan hal itu, Yuna adalah adikmu, cobalah untuk


menjadi kakak yang baik baginya" jelas Appa. Kemudian meninggalkan Yohan


yang tampak bengong diam seperti patung.


Yuna kemudian berdiri dan melihat Yohan yang masih terdiam.


"Sekali-kali kau harus mendengarkan perkataan appa juga, jadilah oppa yang


baik untukku dan juga keluarga" ucap Yuna menasihati Yohan lalu ia segera


keluar kamar Yohan.


Yohan sungguh heran dengan keluarganya yang bertindak aneh. Padahal ini


bukan salahnya, tapi kenapa malah ia yang jadi sasarannya.


"Hadeuuhhh" desisnya bingung.


Besok paginya, Yuna bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Ia tengah memakai seragam


sekolahnya, lalu ia menguncir rambutnya menggunakan kunciran dan menghias


rambut depannya menggunakan jepitan bunga yang lucu. Kini Yuna telah siap untuk


berangkat sekolah.


Yuna menuruni anak tangga menuju dapur untuk melihat menu apa yang sudah


disiapkan oleh eomma.


"O.... Yuna, kau sudah rapi," ucap appa tersenyum. Melihat


penampilan Yuna yang tampak berbeda membuat appa membelalakan matanya.


"Ini sungguh kau? Kau tampak berbeda. Sungguh cantik" puji appa


kagum. Membuat pipi Yuna memerah.


"Ah appa bisa aja deh" balas Yuna masih tersipu.


Yohan menatap heran Yuna sembari nyeletuk. "Cantik apanya, make up nya


ketebelan tuh, mana boleh ke sekolah dandan begitu, kalau kau ketahuan


bagaimana hah?"


Yuna mengernyitkan dahinya. "Hey, suka-sukaku dong, memangnya siapa kau


melarangku melakukan apa yang ku suka? Dasar bisanya Cuma komen aja" Yuna


emosi.


"Memang benar kok, Tanya saja pada teman mu nanti" balas Yohan


sembari meledek.


"Hey....sudah-sudah" Teriak eomma sembari membawa sarapan pagi.


"Tiap pagi pada berantem aja kerjaannya. Eomma pusing denger kalian


mengoceh tiada henti" jelas eomma.


Yuna yang memang cukup takut dengan eomma menundukkan kepalanya. Sementara


Yohan yang tampak santai malah membalas ucapan eomma dengan berani.


"Eomma harus lihat Yuna baru saja mendandani dirinya dengan make up


yang cukup tebal" tunjuk Yohan kearah wajah Yuna.


"Heyyy" teriak Yuna kesal. "Yunaaa...kenapa kau menggunakan


make up ke sekolah, cepat hapus sekarang juga" teriak eomma marah dengan


wajah yang mengerikan.


Yuna yang tampak terkejut segera berlari menuju kamar untuk menghapus make


up yang baru saja dia poles.


Yohan tampaknya cukup puas dengan menggoda adiknya itu.


"Sayang, kenapa kau menyuruh Yuna menghapusnya? Yuna tampak cantik


dengan make up itu" jelas appa menjelaskan.


Eomma hanya diam tidak membalas ucapan appa. "Sayang" jelas appa


memanggil eomma.


"Apaa? Apa kau mau mati?" jelas eomma emosi.

__ADS_1


Appa langsung terdiam seperti patung lalu segera menyelesaikan makanannya.


__ADS_2