
30 menit kemudian mereka telah selesai menghabiskan makanan.
"Setelah ini mau kemana?" Tanya Soobin sembari menyeruput es
Americano.
"Sebenarnya aku ditawari part time oleh oppa. Bagaimana menurut
kalian?" Tanya Yuna memastikan.
Lucas terlihat berpikir. "Sebaiknya terima saja tawaran itu, lumayan
dapat uang buat jajan" Lucas mengacungkan jempolnya.
"Memangnya kau butuh uang untuk apa?" Tanya Soobin. "Kalian
kan tahu aku suka sekali BTS seperti yang aku ceritakan tadi, aku harus membeli
album BTS yang baru supaya bisa ikut fansign. Kalau minta sama Eomma
beuhhh....bisa diomelin habis-habisan" cerita Yuna menggidik membayangkan
Eommanya yang mengomelinya.
"Ikut fansign itu untung-untungan, tidak semudah itu. Kau juga harus
rela menghabiskan banyak uang untuk membeli album mereka" jelas soobin.
"Huh, memang benar sih" Yuna mendesah sedih.
"Iya juga sih, tapi kau harus mencobanya siapa tau keberuntungan ada
padamu" ucap Lucas menyemangati Yuna.
"Aaaaa....kau memang yang terbaik, aku akan berusaha" Yuna
mengedikan mata kanannya pada Lucas.
"Fighting" tekad Yuna mengangkat kedua tangannya keatas. Soobin
hanya diam melihat Yuna dan Lucas.
'Sebaiknya aku tanya oppa lagi deh buat mastiin' batinnya.
Siang itu anggota BTS tengah berada di acara S-net Ncountdown untuk comeback
sekalian promosi album baru mereka The map of the smart 7
Jungkook tengah bersiap comeback dengan lagu baru dipanggung Ncountdown
bersama anggota BTS lainnya. Ia menggerak gerakkan tangan dan kakinya untuk
latihan pemanasan. Ia sungguh tidak sabar untuk memberikan perform terbaiknya
untuk fansnya ARMY.
"Lihat-lihat Jungkook bersemangat sekali" Jimin menunjuk Jungkook
pada member lain. "Ia memang maknae aktif kan" balas Taehyung.
Tinggal beberapa menit lagi mereka akan tampil membawakan lagu On yang baru
saja dirilis.
"Semuanya, ayo bersiap-siap" perintah Namjoon sang leader.
Semua anggota BTS bersiap menaiki panggung. Saat itu juga terdengar teriakan
ARMY yang menyemangati mereka. "Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung
Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook BTS" suara fanchart nya.
BTS memposisikan bagian masing-masing, lalu musik segera di nyalakan.
Perform pun dimulai.
Mereka pun selesai membawakan lagu baru mereka dan kembali turun dari
panggung.
"Huuaaaa, aku lelah" ujar Taehyung mengulet. "Hey lihat itu
kita" tunjuk Jimin ke layar televisi.
"Jungkook-ah, high note mu kerenn" puji Jhope memegang pundak
Jungkook. Jungkook hanya tersenyum.
Setelah aktvitas mereka selesai. Semua member bersiap untuk pulang karena
tidak ada lagi yang harus dikerjakan.
"Aku pulang duluan ya" Jungkook melambaikan tangan pada semua
member.
Sesampainya di apartement.
"Huaaaa..." Jungkook membaringkan badannya di ranjang.
"Ngantuk banget hari ini" ucapnya.
Tenggorokannya tiba-tiba kering. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk meminum
segelas air putih.
Tak sengaja ia menengok ke bawah dan mendapati sebuah kalung emas berwarna
putih terjatuh di dekat kulkas.
__ADS_1
'Kalung siapa ini ya' pikir Jungkook bingung. Jungkook memutar-mutar kalung
tersebut dan menemukan tulisan seperti sebuah nama. 'Y U N A'
"YUNA?" Tanya Jungkook pada dirinya. 'Siapa gadis itu? Memangnya
aku pernah membawa seorang gadis ke apartementku?" Tanya Jungkook lagi.
Jungkook mencoba mengingat kejadian yang telah lalu, agar bisa menemukan
jawabannya. Namun ia masih belum menemukan apapun. 'Ah gatau ah' Jungkook
segera berjalan menuju ruang tengah dan melempar kalung itu ke sofa tanpa
berfikir panjang. Lalu ia berbalik lagi dan kembali berjalan kearah sofa dan
mengambil kalung itu kembali. Jungkook masih sangat penasaran. Ia menatap lekat
kalung itu dan terus membaca nama yang ada di kalung itu. 'Oh' tiba-tiba
Jungkook teringat sesuatu. Gadis yang waktu itu mengejarnya saat ia ke mini market.
Jungkook sedikit terkejut. 'Jangan-jangan kalung ini punya gadis itu' terkanya
masih menatap kalung bertuliskan 'YUNA'. Jungkook berniat untuk menyimpan
kalung itu di sebuah kotak berbentuk hati dan menaruhnya di lemari kaca dekat
kamarnya.
Jungkook berniat ingin memberikan kalung itu ketika ia bertemu dengan gadis
bernama Yuna itu.
Yuna membuka pintu kamar oppanya. Namun ia tidak menemukan dimana oppanya
berada. 'Dimana sih dia berada, padahal lagi dibutuhkan bukannya muncul'
Seketika eomma mengagetkan Yuna yang tengah berada dikamar Yohan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya eomma heran. "Bukannya
kau habis keluar rumah?" Tanya eomma lagi pada Yuna yang terkejut.
"Ah....tadi aku habis bertemu teman di café lalu aku langsung pulang
lagi" jelas Yuna pada eomma yang tampak tidak percaya. Eomma tampak
menatap tajam Yuna. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Yuna.
"Kau menghabiskan uang berapa bersama temanmu itu?" Tanya eomma
mengecilkan suaranya.
Yuna tampak ngeri mendengar ucapan eommanya. Sepertinya dikit lagi eomma
akan mengamuk. Huaaaa membayangkannya saja sudah mengerikan.
minuman" balas Yuna berbohong. Ia tau banget kalau eomma engga suka kalau
Yuna menghabiskan uang hanya untuk hal yang tidak berguna, karena kehidupan
mereka sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga eomma selalu mengatakan
'berhematlah' tapi tetap saja kami tidak mendengarkan, sehingga selalu kena
omelan.
"Jangan berbohong kau ya, eomma sudah tau apa yang ada dipikiranmu.
Dasar anak nakal" eomma memukul pundak Yuna menggunakan bantal saking
kesalnya.
"Aaaa....eomma sakit, tolong hentikan" teriak Yuna berusaha
membujuk eomma untuk berhenti memukulnya.
"Hey, ada apa ini ribut-ribut?" Tanya appa yang baru saja sampai
dirumah. Ia segera menghentikan pukulan eomma dan memeluk Yuna erat.
"Ada apa ini?" Tanya appa kebingungan.
"Tanyakan saja sana sama anakmu itu" jelas eomma sebal lalu segera
keluar dari kamar oppa.
Appa heran melihat situasi yang tidak ia ketahui.
"Yuna ada apa ini sebenarnya? Kenapa eomma memukulmu?" Tanya appa
butuh penjelasan.
Yuna menarik nafasnya pelan. "Appa, aku takut" Yuna kembali
memeluk erat appa.
Bagi Yuna appanya lah yang terbaik ketika eomma terus memarahinya, tapi appa
selalu melindungi Yuna. Bahkan Yuna lebih merasa dekat dengan appa dibanding
eomma. Karena appa selalu tau apa yang Yuna suka dan tidak suka. Appa juga
selalu mendukung keputusan Yuna. Makanya Yuna selalu nyaman berada di samping
appanya.
Tidak beberapa lama kemudian Yohan telah pulang dan sampai di kamarnya. Ia
__ADS_1
memiringkan kepalanya heran dengan situasi tegang yang terjadi di kamarnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yohan bingung melihat kamarnya
berantakan. Lalu Yohan menatap Appa yang masih memegang erat Yuna.
Yohan kemudian membuka mulutnya sembari mengomel.
"Yunaaaa....rapikan kembali bantal dan gulingku, cepat" perintah
Yohan menatap tajam Yuna yang masih berada dalam pelukan appa.
Appa kemudian berdiri menatap Yohan kesal. "Kau baru saja melihat Yuna
dimarahi eomma dan ketakutan, sementara kau menyuruhnya dan mengomelinya
seperti itu, berhentilah melakukan hal itu, Yuna adalah adikmu, cobalah untuk
menjadi kakak yang baik baginya" jelas Appa. Kemudian meninggalkan Yohan
yang tampak bengong diam seperti patung.
Yuna kemudian berdiri dan melihat Yohan yang masih terdiam.
"Sekali-kali kau harus mendengarkan perkataan appa juga, jadilah oppa yang
baik untukku dan juga keluarga" ucap Yuna menasihati Yohan lalu ia segera
keluar kamar Yohan.
Yohan sungguh heran dengan keluarganya yang bertindak aneh. Padahal ini
bukan salahnya, tapi kenapa malah ia yang jadi sasarannya.
"Hadeuuhhh" desisnya bingung.
Besok paginya, Yuna bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Ia tengah memakai seragam
sekolahnya, lalu ia menguncir rambutnya menggunakan kunciran dan menghias
rambut depannya menggunakan jepitan bunga yang lucu. Kini Yuna telah siap untuk
berangkat sekolah.
Yuna menuruni anak tangga menuju dapur untuk melihat menu apa yang sudah
disiapkan oleh eomma.
"O.... Yuna, kau sudah rapi," ucap appa tersenyum. Melihat
penampilan Yuna yang tampak berbeda membuat appa membelalakan matanya.
"Ini sungguh kau? Kau tampak berbeda. Sungguh cantik" puji appa
kagum. Membuat pipi Yuna memerah.
"Ah appa bisa aja deh" balas Yuna masih tersipu.
Yohan menatap heran Yuna sembari nyeletuk. "Cantik apanya, make up nya
ketebelan tuh, mana boleh ke sekolah dandan begitu, kalau kau ketahuan
bagaimana hah?"
Yuna mengernyitkan dahinya. "Hey, suka-sukaku dong, memangnya siapa kau
melarangku melakukan apa yang ku suka? Dasar bisanya Cuma komen aja" Yuna
emosi.
"Memang benar kok, Tanya saja pada teman mu nanti" balas Yohan
sembari meledek.
"Hey....sudah-sudah" Teriak eomma sembari membawa sarapan pagi.
"Tiap pagi pada berantem aja kerjaannya. Eomma pusing denger kalian
mengoceh tiada henti" jelas eomma.
Yuna yang memang cukup takut dengan eomma menundukkan kepalanya. Sementara
Yohan yang tampak santai malah membalas ucapan eomma dengan berani.
"Eomma harus lihat Yuna baru saja mendandani dirinya dengan make up
yang cukup tebal" tunjuk Yohan kearah wajah Yuna.
"Heyyy" teriak Yuna kesal. "Yunaaa...kenapa kau menggunakan
make up ke sekolah, cepat hapus sekarang juga" teriak eomma marah dengan
wajah yang mengerikan.
Yuna yang tampak terkejut segera berlari menuju kamar untuk menghapus make
up yang baru saja dia poles.
Yohan tampaknya cukup puas dengan menggoda adiknya itu.
"Sayang, kenapa kau menyuruh Yuna menghapusnya? Yuna tampak cantik
dengan make up itu" jelas appa menjelaskan.
Eomma hanya diam tidak membalas ucapan appa. "Sayang" jelas appa
memanggil eomma.
"Apaa? Apa kau mau mati?" jelas eomma emosi.
__ADS_1
Appa langsung terdiam seperti patung lalu segera menyelesaikan makanannya.