
Keluarga Pak Bondan adalah keluarga romantis dan rukun, mereka telah menetap kurang lebih lima belas tahun di Sunter Agung, sekarang Bi Iyem pembantu mereka sedang memindahkan barang-barang pindahan ke dalam bagasi mobil. “Tolong, sekalian kamu bangunin si Shelly sama Jun ya.” Bu Bondan menyuruh Bi Iyem untuk kembali masuk ke rumah mereka.
“Tapi air di panci belum mateng bu. Masa saya tinggalin gitu aja.”
“Aduh kamu ini gimana sih. Masa orang kamu samain sama air.” Pak Bondan muncul menggelengkan kepalanya.
“Iya nih Bi Iyem ini ada-ada aja.” Shelly justru muncul duluan.
“Loh kamu udah bangun?”
“Iya dong Ma, malah Shelly baru aja mandi.”
“Kalo gitu kita sekarang ke meja makan. Tunggu Jun bangun.” Pak Bondan menutup bagasi mobil dan melenggang masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Bi Iyem menempelkan kuping di pintu kamar Jun. “Mas bangun papa sama mbak Shelly sama ibu udah nungguin tuh!”
“Iya Bi!” Jun mengeraskan suaranya. Di dalam sana Jun sedang menyiapkan jaket dan baju-baju yang baru dia beli sewaktu ke Australia setahun lamanya. “Ini kan udah tahun baru 1990, masa iya gue belum punya pacar sih. Ah, gak penting, gue kan harusnya mikir pelajaran. Pacaran kayaknya belum waktunya deh.”
Jun sudah kenakan topi merah dengan tulisan ET sebuah film ngetop beberapa tahun lamanya karya Stephen King. “Pagi semua! Gimana? Jun udah mirip penulis terkenal itu belum ma, pa?”
“Yang ada lu mirip pelawak Tanah Abang kali Jun.”
“Resek lu! Gue gak minta pendapat lo lagi.”
“Kalian ini sudah besar, jangan sering berantem. Malu tahu sama mama.”
__ADS_1
“Emang Mama sama Papa gak pernah berantem?” Shelly bertanya sambil mengiris potongan roti lapis.
“Kamu ini kaya baru kenal orangtuamu aja. Di dalam rumahtangga mana pun, berantem atau apa pun itu wajar saja. Selama kita masih setia sama pasangan kita.”
“Apa setia itu harus selalu mengalah ya pa?” tanya Jun yang menatap makanan miliknya di piring.
“Tugas kamu itu belajar. Buat apa mesti tahu urusannya orang dewasa ya pah?” Bu Bondan menasehati.
“Iya Jun, mbakmu bisa kamu contoh, dia gak pernah merah nilainya. Kecuali masak aja yang belum bisa.”
“Shelly kan emang gasuka masak pa.” Shelly memandang jengkel ketiganya. Mereka menertawakan Shelly sambil meringis satu sama lain.
Mobil Keluarga Pak Bondan sudah dalam perjalanan panjang, mobil ceper dengan penumpang satu keluarga itu telah melintasi Jakarta. Keadaan lengang untuk sementara waktu, keadaan jalan pantura tiba-tiba telah begitu banyak mobil meluncur begitu pun sepeda sampai bemo dan oplet memenuhi jalanan mana pun.
“Kok mama bisa tahu?” Jun penasaran.
“Iya Jun, kebetulan kampung itu gak jauh sama kantor papa, dulunya mamamu pernah kecil di sana.”
“Kalo gitu Jun bakal gada kenalan dong di sana.”
“Siapa bilang?” Pak Bondan tertawa sesaat. “Banyak kok yang mau berteman sama kamu.”
“Abisnya si Jun jahil sih.” Shelly mencampuri obrolan.
“Sok tahu lu. Bilang aja lu iri sama gue kan?”
__ADS_1
“Ih gada lagi gue cemburu sama lo!”
Malam mulai datang menyambangi langit yang semula oranye sekarang kemerahan muda, mobil Keluarga Pak Bondan menyeberangi jembatan dan di bawah jembatan muncul sungai sejuk. Mereka meneruskan perjalanan sampai kampung mendadak hilang ke dalam kabut dan kesunyian. Mobil Pak Bondan berhenti di depan halaman rumah besar dan pekarangan itu menghadap kota di kejauhan. Lampu-lampu di bawah bukit mulai menyala, mereka menurunkan kopor dengan menyaksikan rumah besar di atas bukit. “Papa baru tahu kalau di sini ada rumah sebesar ini Jun.”
“Lagian kenapa kita gak tinggal ditempat biasa aja sih pa, kok malah di sini. Nanti kalo temen-temen Jun susah nyari alamatnya gimana?”
“Kamu ini kebanyakan protes aja. Udah sana masuk, kamu besok masih sekolah.” Bu Bondan menyuruh anak-anaknya untuk istirahat.
Jun memasuki rumah barunya yang jauh lebih luas dari sebelumnya.
“Mah, Pah. Shelly mau telpon sebentar bisa gak?”
“Papa minta maaf ya Shel. Kami belum pasang telpon baru di rumah ini. Mungkin besok pagi petugas telkom baru mau ke sini.”
“Kamu mau nelpon siapa malem-malem begini?” tanya ibunya Bu Bondan.
“Ada deh pokoknya! Urusan anak muda.” Shelly pergi membawa kopor miliknya.
“Awas loh nanti kalo nilai sekolah kamu jeblos.”
“Gak nyangka ya Ma, anak-anak kita udah pada gede.”
“Iya Pah, perasaan baru belasan tahun kamu kerja, sekarang kita menikmati hasilnya.”
Mereka tertawa diiringi Bi Iyem yang meringis gembira menatap mereka diam-diam.
__ADS_1