Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Perkenalan


__ADS_3

Paginya seperti biasa mereka menyantap makanan di meja makan. “Kok bangunnya pada kesiangan.” Pak Bondan menggeleng-geleng.


“Iya, biasanya kalian rajin loh.”


“Semalem kita kecapean jadi baru mandi.”


“Emang kalian semalem ke mana?” tanya Bu Bondan.


“Kita, kita ketiduran kok mah, pah.” Jun membantu Shelly menjawab.


“Kamu mau gak aku bantu berangkat sekolah?” perempuan lukisan semalam sudah berada di samping Jun.


“Biasanya juga sendiri. Makasih ya.”


“Ngomong apasih sih kamu? Kamu mau berangkat sendiri maksudnya?” Bu Bondan menaikan sebelah alisnya.


“Papah gak ngasih kamu ijin. Kalian kan baru tinggal di daerah sini, mending berangkat sama papa ya!”


Sepulang sekolah Jun jalan kaki sendirian. Dikejauhan perempuan itu mengikutinya. Dan kembali bertanya. “Kok aku gak liat sado atau bendi ya? Sepi banget jalannya.”


“Jaman sekarang manusia udah gak butuh itu lagi. Kita sekarang makenya mobil.”


“Oh iya! Aku sampe lupa. Aku di lukisan itu hampir empat ratus tahun lamanya.”


“Kamu berarti adanya di jaman apa dong?”


“Seingatku, orangtuaku pedagang di jaman dinasti Tudor, kamu tahu raja Henry? Aku pernah ada di jaman itu.”


“Berarti kamu udah tua banget dong.”


“Iya, aku kabur dari pernikahan dan raja mengurungku ke dalam lukisan, kamu pasti tahu di jaman itu banyak penyihir dan dukun.”


“Kenapa kamu masih muda sepertiku?”


“Mungkin karena lukisan itu gak pernah dibuka. Jadi aku awet sama lukisannya.”


“Kamu mau jalan-jalan?”


“Mau banget!”


“Kamu siapa namanya?”


“Cathrine Copernicus Howard.”


“Susah banget namanya. Gimana kalo aku panggil kamu Jinny aja?”

__ADS_1


“Oke bos!” Jinny membentuk donat dengan satu tangannya.


“Katanya kamu bisa bawa saya cepet balik ke rumah?”


“Iya dong, Jinny punya sesuatu buat kamu Jun!” Jinny membuka telapak tangannya dan muncul kerang mungil, kerang itu membesar seukuran piring. “Sekarang kita masuk ke sana!”


“Mana mungkin muat!”


“Beres deh buat kamu Jun, kamu pegang aja jempol tanganku.”


Jun memegang jempol tangan Jinny, mereka berpindah ke dalam kerang terbang, dalam perjalanan Jun mengagumi kerang itu bisa terbang. Mereka sampai ke dalam kamar Jun, Jun keluar membesar ke atas ranjang. “Kamu keluar dulu ya, aku mau mandi udah gerah nih.”


Jinny hanya mengikuti perintahnya dan muncul di pekarangan depan. Bi Iyem sedang menyapu luruhan daun, Jinny menyulap seluruh kotoran daun ke dalam tampah tempat sampah. Bi Iyem terkejut mendapatkan itu. “Perasaan sampah ini belum aku beresin deh, kok udah ada di dalem tempat sampah.”


Bi Iyem meninggalkan tempat. Jinny terbahak mendapati Bi Iyem pergi meninggalkan dirinya ke dalam dapur.


“Kamu ke mana aja. Aku kira kamu balik lagi ke dalem kerang.”


“Jinny gak biasa di dalem sana. Tuan Jun mau gak kita jalan-jalan sore? Bosen Jinny di rumah mulu.”


“Sayang banget Jun punya janji sama Shelly. Pasti orangnya dateng bentar lagi.”


Shelly sudah siap dengan baju lengan panjang. “Ayo kita jalan sekarang.”


“Iya soalnya kita emang latihan di sini Jun.”


Keduanya memasuki pintu masuk sampai sosok laki-laki dalam celana pinsil mendatangi mereka. “Kenalin ini Jun, dia cuma nganter aja.”


“Saya liat kamu bisa jadi aktor. Ayo sekalian ajak dia.”


“Gimana Jun? Kamu mau gak?”


“Wah mau banget mbak!”


“Kamu mau apa Jun?” Jinny muncul di depan barisan anak teater yang lagi santai.


“Ini aku mau latihan buat pentas beneran.”


“Apa yang kamu maksud itu hiburan rakyat ya Jun?”


“Iya tapi sekarang orang yang main teater, kalo punya bakat bisa jadi aktor.”


“Jinny tahunya bos main di lapangan terus orang-orang pada nonton gitu.”


“Kamu boleh main-main deh tapi awas, jangan usil lagi.”

__ADS_1


“Siap bos!” Jinny hilang menjadi cahaya.


Junaedi dan Shelly mulai beradu dialog dengan pemain lain, sedangkan diluar sana Jinny melihat orang-orang memasuki swalayan. Ia menemukan es krim yang begitu nikmat di dalam lemari es, Jinny mengecil dan memasuki kulkas itu. Ia mengambil es con dan memakannya di food court sendirian. Pelayan pengantar Dunkin Donat melihat es melayang-layang dan berteriak menjatuhkan nampan pelanggan. “Hantu!”


Orang-orang melihat eskrim itu pun ketakutan dan berebutan lari dari sana, Jinny langsung lenyap dan kembali ke dalam gedong komidi. “Bos bisa marah nih, aduh aku kudu gimana kalo ditangkap dan dibakar di kota?”


Jun selesai latihan bersama Shelly yang ingin keluar membeli makan dengan Ringo. “Kita mau cari makan nih Jun, lo mau makan apa?”


“Pizza kayaknya enak deh mbak. Sama minumanya stroberi es!”


“Iya-iya udah kaya Bi Iyem aja gue!” mereka pergi dan Jun melihat gambar atau film-film yang sedang populer sekarang.


“Jun!” Jinny muncul ke depannya.


“Kamu habis dari mana? Kok baju kamu kotor gitu? Jangan-jangan kena tai burung ya?”


“Yah si bos, aku kan barusan makan air yang dingin banget bos.”


“Oh maksud kamu es batu?”


“Es batu?” Jinny berpikir sejenak. “Es yang ada batunya ya bos?”


“Ah udah-udah, kamu pasti bikin keributan ya?”


“Kok bos tahu? Jangan laporin ke raja ya bos. Jinny gak mau dibakar terus ditonton orang di lapangan!”


Jun terbahak-bahak mendengar itu. Menghentikan suaranya Jun berkata pelan. “Aduh Jinny, kamu itu ngawur aja, jaman sekarang kerajaan udah gada. Kita sekarang hidup di jaman demokrasi, jadi kita bebas memilih siapa yang bakal jadi presiden.”


“Oh gitu ya bos. Aku kira hukuman bakar masih ada.”


“Daripada mikirin itu, mending kita tunggu Mbak Shelly beli makan.”


Shelly membawakan pizza nikmat dan minuman stroberi lezat di dalam gelas kertas. Ringo memakan hidangan junk food dengan Jun, Shelly. Tanpa mereka tahu, Jinny mengambil diam-diam satu potongan pizza milik Ringo. “Duh kok pizza gue gak ada sih!”


“Jun! Kalo lo laper bilang dong! Gue kan malu.” Shelly menegurnya dengan tatapan mendelik.


“Kok jadi Jun yang salah sih. Itu kan salah Jinny!” Jun segera menutup mulutnya.


“Jinny? Siapa Jun? Cewe lo ya?” Shelly menyikut pinggang adiknya.


“Bukan kok, tadi gue kenal cewe yang nyasar ke sini, dia ngira kalo gedung ini tuh bioskop. Habis mirip sih!”


“Alah alasan!” Shelly menyedot minuman stroberi miliknya dan melet meledek Jun.


Jinny tersenyum menatap ketiganya. Ia melayang dan hilang entah ke mana.

__ADS_1


__ADS_2