
Jun tidak mengira kalau lukisan itu angker, anehnya sikap hantu itu begitu baik padanya. Mungkin semasa Jinny atau Cathrine hidup, perempuan itu tidak pernah punya dendam atau sakit hati yang begitu besar. Jadi perasaan tulusnya sebagai perempuan masih begitu melekat padanya.
Jinny mulai bekerja di kantor Pak Bondan harini. Ia sibuk menghitung pengeluaran perusahaan, perempuan itu menjumlah semua hasil properti yang laku terjual dan sisanya yang belum laku. Masih mengetik di atas mesin olympic, Jinny sudah kedatangan tamu.
“Saya diberikan tugas Pak Bondan untuk meneliti kembali laporan. Bisa ibu berikan kertas dokumen itu?”
“Maaf, bapak tidak punya ijin, kecuali atas perintah Pak Bondan.”
“Kalo begitu kita bagi imbalannya. Kamu boleh ambil lima puluh persen dari penjualan. Saya empat puluh persen dari barang yang belum laku. Nanti saya jual lagi dengan harga tinggi.”
“Maaf Pak. Saya tetap gak mau!” Jinny kesal.
Lelaki itu justru tertawa dan mengeluarkan pestol api dari saku celananya. “Ayo serahkan! Apa ibu lebih memilih pestol daripada nyawa?”
“Saya kan emang bukan manusia. Bapak gimana sih?” Jinny tertawa menunduk menatap lelaki itu. Jinny melepaskan kepalanya dan meletakan kepalanya yang tertawa kencang ke atas meja.
“Ha! Hantu!” lelaki itu kabur terbirit-birit dan sesampainya di luar ruangan kerja seluruh bajunya mendadak hilang! Tubuhnya hanya bercelana dalam dan bersepatu.
Semua pegawai melihatnya tertawa-tawa. Jinny melongok melalui pintu kerjanya hanya dengan sepotong kepalanya. “Mampus! Makanya jangan korupsi!”
***
Dalam suatu malam yang tenang Pak Bondan berencana mengundang Cathrine untuk makan malam bersama keluarga. Mereka telah mengelilingi meja makan, Jun sudah memberitahu Jinny, bahwa sikapnya harus sopan kali ini dan jangan takabur.
“Papa seneng banget, masalah keuangan sudah beres.”
“Emang apa yang Cathrine lakuin, Pa?” tanya Shelly.
“Dalam seminggu, papa udah nangkep pelaku yang mencuri uang perusahaan, semuanya berkat bantuan Cathrine.”
“Kalo begitu. Si Cathrine biar kerja terus aja sama papa.” Bu Bondan menyarankan.
__ADS_1
“Wah sayang banget, Ma. Cathrine besok mau berhenti, katanya dia mau lanjut kuliah.”
“Kok Cathrine cepet banget nangkep malingnya? Apa dia bukan manusia ya?” Shelly mencurigai perempuan kantor itu.
“Kamu gak salah Shel, papa juga denger, katanya Cathrine suka ngilang pas istirahat, dia gak pernah makan di kantin tapi anehnya di ruang kerjanya, selalu ada makanan.”
“Jun, tumben lo diem, biasanya lo paling demen nih sama yang bening-bening.”
“Mbak Shelly resek banget sih! Jun kan mau fokus belajar. Soal pacaran enggak dulu deh.”
“Alah, kalo lo ketemu Cathrine juga naksir, ya gak pa? Ma?”
“Cathrine kayaknya cocok sama kamu Jun.” Pak Bondan menggoda putranya.
Bel rumah bunyi berulang-ulang. “Tuh kayaknya Cathrine udah dateng.”
“Tolong kamu bukain pintunya, ya Yem!” Bu Bondan menyuruh pembantunya.
“Kok baju kamu gak ganti? Ini baju yang tadi pagi kan?”
“Iya Pak! Saya gak ada waktu buat nyuci baju. Jadi saya pake aja bajunya.”
“Kok jorok banget sih.” Shelly menggerutu diam-diam.
“Ayo! Silakan kamu boleh makan apa saja.” Pak Bondan menyilakan tamu seperti kebiasannya.
Cathrine dengan ragu-ragu menatap Jun dan mengambil satu porsi makanan kepiting rebus besar. Cathrine memakan seluruhnya tanpa menyisakan tulang sama sekali. “Sorry pak, saya kebetulan laper banget.” Cathrine meminum minuman panas dari tremos. Dan meletakan gelas bekas air panas itu di atas meja. “Kok panas banget ya airnya pak, bu. Tapi gak papa deh, rasanya tetep seger kok.”
Pak Bondan, Bu Bondan dan Shelly menatap tercengang Cathrine.
“Ayo dong kalian makan juga. Masa aku aja yang ngabisin makanan ini.”
__ADS_1
“Makasih! Kami kebetulan udah makan kok! Ya kan Pah?” Bu Bondan ketakutan menatap Cathrine.
Mereka bertiga tiba-tiba lari dari meja makan. Jun menggelengkan kepalanya. “Aduh Jinny. Kamu kalo makan kira-kira dong, orangtua saya jadi ketakutan tuh.”
“Sorry bos, habisnya Jinny aus nih, mana laper lagi. Yuk bos makan juga.”
“Kamu harus kembalikan keadaan seperti semula. Pokoknya Jun gak mau tahu!”
“Okedeh bos!” Jinny membuka kedua telapak tangannya dan secara ajaib Pak Bondan dan Bu Bondan sudah duduk kembali. Shelly juga sedang meminum minuman kaleng.
“Cathrine? Kok kamu cepet banget datengnya.”
“Iya Pak, kebetulan saya barusan terbang, jadi cepet sampainya.”
“Hah! Terbang?” Shelly keheranan.
“Maksudnya saya naik pesawat pribadi ke sini.”
“Wah kamu hebat dong kalo gitu. Boleh tahu siapa orang tua kamu?”
“Ibu saya cuma pelayan biasa. Papa saya sudah pergi, om. Tante.”
“Kok kamu bisa punya private jet? Kamu kerja di mana?”
“Saya kerja di Canterbury om, pernah melayani Cathrine of Aragon,”
“Hah? Siapa Cathrine?”
“Istri raja Henry om, masa gak tahu sih.”
Ketiganya kebingunan namun meneruskan makan. Jun menggelengkan kepalanya. Cathrine mengedipkan satu matanya ke arahnya.
__ADS_1